
“Nggak usah dianterin nanti mereka heran kalau aku datengnya sama kamu” cegah Putri sambil berjalan dengan Yudhis menuju kasir.
“Nggak apa-apa bilang aja teman lama terus ngobrol sambil makan bareng, kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kita alumni SMP dan SMA yang sama” jawab Yudhis dengan tersenyum menoleh lalu mengocek dompetnya seraya meraih kartu debit sambil mengantre untuk bayar.
“Gak usah, ini Cuma kecelakaan karyawan nanti bisa aneh kalau sampai levelan kamu nungguin, sedangkan Kacab aja belum tahu” kilah Putri
“Lah koq bisa belum tahu Kacab kamu? Approval biayanya gimana tuh” tanya Yudhis menyelidik.
“Semua dicover asuransi. Aku kesana untuk cek kondisi dan menemui keluarga karyawan aja untuk mewakili perusahaan, sekaligus ngisi laporan kecelakaan kerja ke BPJS, karena rumah sakitnya ada fasilitas Trauma Center yang Kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan” jelas Putri.
“Di sana kamu sendiri?”
“Nggak koq, kan ada korwil dan Wijaya juga admin aku” jawab Putri yang berharap Yudhis tidak perlu ikut karena pasti akan menjadi trending topic baru dikalangan anak-anak operasional. Jangankan kejadian langsung dengan saksi mata, tembok pun bisa bicara kalau di kantor.
“Baiklah, aku antar kamu aja sampai Rumah Sakit” ucap Yudhis yang sudah berdiri tepat di depan meja kasir.
“Baik” jawab Putri pasrah.
......................
“Nanti kamu pulang sama siapa?” tanya Yudhis sambil membelokkan mobilnya masuk ke gerbang utama Rumah Sakit.
“Pulang sama Wijaya kayaknya” jawab Putri.
“Kalau mau aku anter bilang aja, nanti aku tungguin di sini. Tenang aja aku gak akan turun nemenin kamu, palingan nunggu di mobil atau sekitaran Rumah Sakit”.
“Jangan Yud, kamu kan besok kerja. Di Jakarta pula kan lumayan perjalanannya” jawab Putri yang meyakinkan bahwa Yudhis bisa segera pulang saja.
“Okelah, hati-hati nanti kabari aku kalau sudah sampai rumah ya. Jangan sungkan kalau perlu bantuan hubungi aku aja” ucap Yudhis sambal menoleh Putri dimana mobil sudah tepat berada di depan pintu IGD.
“Makasih ya Yudhis, salam buat Mama” ucap Putri sambal tersenyum sebelum turun.
“Sama-sama, Insha Allah disalamin. Salam juga untuk Ibu dan Bika. Oh ya, kamu jangan lupa kabarin ibu kalau akan pulang malam karena ada urusan kecelakaan kerja ini” jawab Yudhis yang di jawab anggukan oleh Putri.
Putri melambaikan tangan saat mobil Pajero sport hitam itu sudah berjalan dihadapannya.
Putri meraih ponsel yang ada di dalam tasnya kemudian mengetik pesan whatsapp kepada Ibu dan Bika untuk mengabarkan hal ini. Setelah selesai mengirim pesan, ia masuk ke dalam ruang IGD dan menghampiri meja peerawat di depan.
“Permisi Mas, mau tanya pasien Ardy Kusumah yang tadi masuk karena kecelakaan” Ucap Putri pada seorang perawat pria yang sedang berjaga.
“Oh yang dari ZEN Express ya Mba? Ada di bed 5 sudah ditemani ibunya. Nanti maksimal 2 orang ya Mbak untuk di dalam” perawat itu berkata sambal menunjuk ke arah bed yang dimaksudnya.
“Baik mas, terima kasih” Putri tersenyum sopan kepada perawat itu, kemudian berjalan kearah bed yang dimaksud tadi.
“Permisi Ibu saya Putri bagian HRD dari Kantor ZEN Express” Putri menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di samping bed pasien.
“Iya neng, saya Ibunya Ardy. Makasih ya udah datang ke sini liat Ardy” ucap wanita tersebut dengan wajah yang masih terlihat sedih namun ketegaran terlihat pada sikapnya.
__ADS_1
“Sama-sama Ibu sudah semestinya saya hadir disini untuk mewakili pihak perusahaan. Gimana kondisi Ardy bu? Betulkah harus di operasi?” tanya Putri sambil melihat kea rah Ardy yang masih terlihat sangat lemah. Terlihat luka memar di sekitar pipi dan dahinya, ada berbagai besetan di bagian pipi kanan dan yang terparah luka sobek yang sudah dijahit di sepanjang lengan kanan dari siku hingga ke punggung telapak tangannya. Sedangkan bagian perut ke bawahnya tertutup selimut.
“Semoga gak usah operasi neng, ibu malah takut kenapa-kenapa kalau Ardy di operasi. Tadi kata suster, masih nunggu informasi dari Dokter syaraf apa harus di operasi atau nggak. Di bagian kepala samping kanannya ada benturan keras jadi itu yang mesti nunggu hasil pemeriksaan dokternya” ucap sang Ibu sambil menatap layu Putranya.
“Kita doakan yang terbaik aja ya bu. Memang dokter syarafnya belum periksa bu?”
“Belum neng, katanya lagi di jalan. Aamiin makasih doanya neng”
“Sama-sama Ibu, oh ya Pak Ali atasannya Ardy dimana bu?” tanya Putri yang sedari tadi belum melihat rekan operasionalnya.
“Tadi mah ada di sini neng. Tapi karena ada beberapa teman kerja Ardy yang datang juga, jadi pak Ali ngajak teman-teman Ardy buat ngobrol diluar”
“Iya bu kan di batasi yang nunggu pasien hanya boleh 2 orang ya”
“Iya neng”
“Bu, punten saya permisi ke meja perawat depan dulu karena harus mengurus beberapa berkas asuransinya Ardy ya bu, kalau ada apa-apa nanti bisa hubungin saya” ucap Putri sambil memberikan kartu namanya kepada Ibu Ardy.
“Iya neng gak apa-apa, nanti juga Adiknya Ardy ke sini temenin Ibu”
“Baik Ibu, punten saya permisi dulu” pamit Putri pada Ibu Ardy sambil menutup gorden pembatas bed dengan ruang IGD.
Saat Putri memutar badan untuk membalik, di lihatnya Wijaya dan Ali sudah di depan meja perawat sedang menulis sesuautu pada kertas. Putri berjalan menghampiri mereka.
“Eh Mbak Putri dari tempat Ardy?” tanya Ali
“Iya Pak Ali, tadi udah ketemu sama Ibunya” jawab Putri pada Ali kemudian mengalihkan pembicaraannya pada Wijaya yang duduk disebelah Ali. “Wi, udah ngisi laporannya?”
“Udah Mbak, ini tinggal diserahin ke BPJS TK aja” jawab Wijaya sambil menyerahkan Form Laporan yang sudah diisinya kepada Putri.
Putri meraih kertas itu lalu membacanya dengan teliti “Ini udah oke, tinggal kamu urus aja ke BPJS nya” kemudian menyerahkan form itu lagi pada Wijaya.
“Siap Mbak” jawab Wijaya yang kemudian berdiri dan pergi ke tempat administrasi untuk mengurus pertanggungannya.
“Pak Ali, itu gimana kronologis kecelakaan Ardy teh?” tanya Putri pada Ali.
"Sekitar jam 19.30 tadi Ardy masih ngurir di daerah Sentul, dia ga sadar ketiduran di motor tau-tau bangun udah kecelakaan nabrak ke trotoar lagi ditolongin warga" ujar Ali sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Astagfirullah, itu bahaya banget Pak Ali! Dia kurang tidur atau kecapean tuh sampai bisa kena microsleep saat bawa motor gitu" ucap Putri sambil mengurut pelan dahinya dengan telapak tangan.
"Ya bu udah hampir setiap hari anak-anak kurir masuk pagi pulang malam terus Mbak" terang Ali kepada Putri yang kemudian mereka berjalan ke luar ruangan IGD. Mereka memilih untuk duduk di bangku tunggu yang berada di samping kiri pintu IGD.
"Setiap hari? anak-anak ga libur juga Pak?"
"Iya Mbak mereka kalau libur tetap masuk dihutung piket. Sekarang barang lagi banyak banget jadi anak-anak tiap hari masuk jam8 pagi pulang jam10 malam paling cepet"
"Emang sekarang rata-rata bawa berapa Pak?"
"Ya 2x lipat dari biasanya" jawab Ali.
"Ya ampun kalau gini terus ga sehat buat mereka" ucap Putri yg kemudian melihat Wijaya sudah kembali dari ruang administrasi asuransi.
"Wi, udah kelar?" tanya Putri dengan tangan sebelahnya menepuk bangku kosong disebelahnya seraya memberi isyarat pada Wijay untuk duduk di sana.
Wijaya duduk tepat di sebelah Putri "Iya udah Mbak, sekarang udah malam Mbak pulang aja".
"Iya Wi, saya mau balik dulu" ucap putri sambil melihat ke arah jam tangan di lengan kirinya.
__ADS_1
"Barengan saya aja Mbak, udah malam jangan pulang sendiri" Wijaya menawarkan tebengan yang dijawab anggukan kepala oleh Putri.
"Pak Ali juga pulang aja, besok kita jenguk lagi agak siangan. Sekarang kita pamit dulu sama Ibunya Ardi dan kabarin kalau semua tindakan udah di cover asuransi" ucap Putri, kemudian mereka bertiga berjalan kembali ke dalam ruang IGD untuk berpamitan dengan Ibunya Ardi.
......................
"Wi, makasih ya. Hati-hati di Jalan" ucap Putri pada Wijaya yang sudah mengantarkannya sampai depan Pagar rumah.
"Iya sama-sama Mbak, saya cabut ya" ucap Wijaya yang kemudian langsung melajukan motornya menuju ke jalan raya.
Putri membuka selotan pagarnya, kemudian masuk kedalam dan menyelotnya kembali sebelum berjalan ke depan pintu rumah.
"Assalamua'alaikum"
tok tok tok
"Wa'alaikumsalam" jawab Ibu dari dalam rumah, kemudian pintu terbuka.
Putri segera masuk ke dalam dan mencium tangan Ibu.
"Teh udah beres urusannya? Gimana sekarang karyawannya?" tanya Ibu
"Alhamdulillah udah ditanggung asuransi dan karyawannya juga selamat ga perlu di operasi, hanya butuh terapi untuk beberapa bulan ke depan" ucap Putri kemudian mendudukan bokongnya di sofa ruang tamu.
Ibu duduk tepat di samping Putri.
"Alhamdulillah selamat. Kamu pulang malam dapat uang lembur dong? Kalau gak dapat lembur ngapai mesti capek-capek pulang kaya sekarang kan?" ucap Ibu
Putri hanya menggelengkan kepalanya karena sudah tubuhnya sudah lelah untuk menjelaskan perihal jobdesc, integritas, maupun loyalitas kepada Ibunya yang Putri juga tidak yakin bahwa Ibu akan paham atau tidak.
"Ya ngapain atuh kamu sampe mau pulang malam kayak gini, udah nanti mah biar orang aja yang ngerjain jangan kamu" ucap Ibu dengan tatapan sinisnya.
"Kan teteh HRD bu, ini juga urusan karyawan Bu" harap Putri minimal agar ibunya bisa mengerti sedikit dari resiko pekerjaannya.
"Ah kamu sama aja dengan Bapak kamu. Mau-mau nya kerja sampe malam tapi duid nya ga ada! Atau sengaja kamu simpen sendiri supaya gak diminta sama Ibu?" ucap Ibu dengan nada tinggi.
"Nggak gitu bu, emang betul ini bagian dari resiko pekerjaan dan loyalitas"
"Sok pinter kamu, Ibu tuh nggak bisa kamu bodohin. Ibu minta buat beli tas aja kamu bilang gak ada uang. Tuh ibu liat di dompet kamu banyak banget duidnya" ucap ibu yang masih ngambek karena Putri tidak memenuhi keinginannya untuk membeli tas baru.
Sebenarnya Putri punya simpanan uang yang jumlah tidak banyak. Ia juga punya prioritas untuk kebutuhan bulanan rumah tangga, sekolah Bika dan biaya kuliahnya. Mungkin jika sesekali Ibu meminta tidak akan masalah baginya, tapi Ibu selalu menggampangkan segalanya untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan atau bisa ditunda.
"Uang banyak yang mana Bu?" tanya Putri yang merasa bahwa dia tidak pernah menyimpan uang tunai yg banyak di dompet.
"Itu dompet pouch kamu" jawab Ibu sambil menunjuk ke arah tas Putri.
"Oh itu mah uang kantor bu, petty cash karena ada beberapa kegiatan yang memang teteh pegang. Nanti sisanya dikembalikan ke bagian kasir dan harus ada laporan pertanggungjawabannya juga" Putri masih mencoba untuk berbicara dengan baik dan sopan kepada Ibunya, walau hatinya sebenarnya sakit dan ingin marah.
"Alah alasan aja kamu sama kayak Bapak kamu bisanya cuma bilang uang kantor padahal cuma akal-akal buat bohongin Ibu" Ibu dengan marahnya berdiri dan menunjuk-nunjuk putri dengan tatapan tak terima, kemudian pergi ke dalam kamarnya.
"Astagfirullah, Ya Allah kuatkan hambamu" Putri masih terduduk pada posisi sedikit membungkuk dengan siku di atas paha dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
drrrttt
Getaran pada ponselnya membangunkan lamunan Putri.
Disentuhnya layar ponsel, kemudian terlihat dua pesan masuk dari Aldi dan Yudhis.
Aldi : Sayang lagi apa? koq hari ini ga ada kabar dari kamu? Besok aku ada meeting sama DGM baru kamu. Gimana first impression sama bos baru?
"Hadeuh gimana ya mesti jawabnya" gumam putri dengan suara rendah. Putri memutuskan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu mengganti baju, mandi, sholat isya, dan melakukan rutinitas skincare wajibnya lalu membalas pesan Aldi dan Yudhis sambil bersantai di tempat tidur.
Ya sejenak pesan itu bisa membuat Putri teralihkan dengan sikap Ibu. Sejatinya dia sudah terbiasa dengan sikap Ibu, namun tetap saja apabila sedang diposisi yang sama kembali ia akan sangat sedih dan terluka. Ia hanya mencoba untuk tegar karena bagaimana pun buruknya seorang Ibu tetap sangat mulia posisinya di mata Tuhan.
Membalas pesan Aldi
Putri : Maaf banget baru jawab, tadi abis ngurusin karyawan yang kecelakaan kerja, tapi semua udah beres koq sekarang. Aku baru sampai rumah tadi jam9. Sekarang sudah siap-siap mau tidur. First impressionnya nanti aja deh cerita langsung sama kamu.
Membuka pesan Yudhis
Yudhis : belum pulang?
Putri : Udah tadi jam9
Yudhis : Pulang sama siapa?
Putri : Wijaya
Yudhis : Oke, Good night..
Putri : Good night
Tak lama setelah Putri meletakkan ponselnya di meja, notifikasi whatsapp terdengar lagi.
Aldi : Yang pasti nggak killer kan? hehee.. Ya udah kamu tidur sana, pasti capek banget kamu hari ini. Aku juga mau tidur nih. Good Night. I love u 😘
Putri : Hahaha.. kamu liat aja sendiri besok, orangnya killer apa nggak. Good Night, i love you too 😘
Putri merasakan lelah dan mengantuk karena seharian ini aktifitasnya lebih padat dari biasanya. Sampai kantor jam 7 pagi kemudian pulang jam 9 malam. Ia teringat akan pembicaraannya tadi dengan Ali. Ia harus mencari tahu kondisi operasional besok.
Putri mengubah mode pesawat pada ponselnya kemudian meletakannya di meja samping tempat tidur. Kemudian ia merebahkan badannya dengan nyaman, meraih gulingnya, lalu memejamkan mata berharap segera bisa masuk ke alam tidur.
Bersambung
__ADS_1