Putri Kurir

Putri Kurir
40


__ADS_3

*ringtone alarm


Putri terbangun saat dering alarm harian pada ponselnya berbunyi dan mengusik ketenangan tidurnya.


"Duh masih ngantuk" ucap Putri sambil masih setengah terpejam.


Ia sejenak masih bergeliat di atas tempat tidur namun teringat.


"Ah ya hari ini harus mandi besar, kayaknya semalam menstruasi sudah beres" Putri beranjak dari tempat tidur untuk langsung menuju ke kamar mandi.


Setelah Putri selesai dengan urusan mandi dan berwudhu, ia berjalan mengambil mukena dan sajadah yang tersimpan di atas meja sudut ruangan.


Ia menggelarkan sajadah dan mulai sholat subuhnya.


Selepas sholat ia mengangkat tangan seraya memanjaatkan do'anya untuk kebaikan dirinya, kedua orang tuanya, serta seluruh teman dan keluarganya. Ia menumpahkan kesedihannya dalam tangisan kepada Sang Pencipta. Ia merasa mungkin selama ini ia banyak salah dan sedang dalam arahan ataupun teguran dari Sang Pemilik Kehidupan.


Putri merapihkan alat sholatnya dan menaruhnya di tempat semula. Kemudian ia berjalan ke arah cermin dan menatap dirinya


"Ya ampun ini mata aku udah kayak jengkol aja. Aduh malu banget kalau di liat orang-orang kantor pusat" ucap Putri sambil menyentuh kedua pipinya dengan telapak tangan.


"Eh iya Yudhistira. Semalam kan aku ketiduran dan dia masih nonton di sini. Ya ampun aku belum bilang makasih" gumam Putri dalam hati kemudian berjalan menuju ponsel yang masih dalam posisi charging.


Menulis pesan whatsap****p


Putri : Yudhis, makasih ya semalam. Maaf bener-bener gak sadar kamu pulang. Maaf banget ya kamu jadi pulang malam.


Setelah mengirim pesan pada Yudhis, dilihatnya banyak pesan dan telepon masuk dari Aldi.


"Hufh pengen aku block tapi nanti repot kalau masalah kerjaan" ucap Putri yang dengan tidak mengacuhkan pesan maupun panggilan dari Aldi.


Putri menaruh kembali ponselnya di tempat semula


Tak lama kemudian terdengar suara bel dari pintu kamarnya


ting nong


Putri berjalan menuju pintu kamar, lalu mengintip dari lubang dan dilihatnya Yudhistira diseberang sana.


ceklek


"Ya ampun Yudhis kamu dari Bogor jam berapa? pagi-pagi udah di sini aja" ucap Putri sambil membuka pintunya lebar.


"Aku boleh masuk ga?" Tanya Yudhis.


"Ah ya silahkan" ucap Putri.


"Sorry dari pada balas whatsapp kamu, lebih baik aku langsung cek kondisi kamu. Udah baikan? Eh mata kamu" ucap Yudhis sambil menahan tawa.


"Ih rese deh malah ngetawain! Aku juga lagi bingung harus gimana, kan malu kalau ke kantor matanya kyak abis tawuran gini" ucap Putri sambil menatap kembali dirinya pada cermin.


"Ha..ha..ha... Ya cuek aja, namanya juga habis nangis" ucap Yudhis santai.


"Gak bisa gitu dong, aku malu banget ini bengkaknya parah Yudhis!" ucap Putri sambil memajukan bibirnya.


"Ya udah kamu istirahat dulu aja, hari ini biar Arif kirim handout sosialisasi ke email kamu. Dia pilot project regional kita, kalau ada yang masih kamu tanyakan tinggal japri dia aja" ucap Yudhis sambil duduk di atas tempat tidur.


"Beneran aku diizinin?" tanya Putri lagi.


"Iya, asal kamu tetep bisa paham aja working instruction project itu"


"Siap Bos! Oh ya kamu teh dari Bogor jam berapa? ini masih jam 6 pagi udah nongol di sini" ucap Putri sambil menarik kursi untuk duduk tak jauh dari Yudhis.


"Aku nginep di sini" jawab Yudhis.


"Koq ga bilang dari kemarin kalau nginep di sini?"


"Aku baru pesen kemarin malam" jawab yudhis.


"Emang bisa dadakan gitu biasanya suka ditolak"


"Temanku manajer di sini" jawab Yudhis lagi.

__ADS_1


"Oh pantes, tapi semalam di sini kan lumayan mahal banget buat aku sih. Jangan buang-buang duit gitu lah sayang banget. Kalau maunikut breakfast juga kan bisa pake jatah kamar aku" ucap Putri sambil meletakkan satu tangannya dipinggang.


"Kalau tau kamu bolehin aku pake jatah kamar kamu sih ya aku ga akan pesen kamar. Emangnya kamu bolehin aku tidur di sini?" ucap Yudhis dengan mimik jailnya.


"Ya tidur sih gak boleh sekamar dong! ah tau lah kamu" ucap Putri sambil mengibaskan tangannya ke udara.


"Ha..ha..haa.. Oh ya Put, nanti jam7 kita turun sarapan. Nanti aku jemput kamu di sini" Pinta Yudhis


"Oke" ucap Putri sambil tersenyum kemudian mengantar Yudhis keluar kamar.


......................


Putri dan Yudhis sedang menyantap sarapan di resto Hotel.


"Yud, aku udah tenang sekarang. Rasanya beban berat itu sudah banyak terangkat. Aku ikhlas mungkin ini kesalahanku yang telah menempatkan cinta pada tempat yang salah" ucap Putri sambil menatap ke arah jendela luar.


"Maksudnya?" tanya Yudhis.


"Bukankah kepemilikan sesungguhnya adalah menunaikan kewajiban sesuai kontrak dengan Pencipta agar Cinta terjaga kesuciannya kan? Bukan kepemilikan yang berasal dari ego atau perspektif kita semata kan?" ucap Putri masih dengan pandangan yang sama.


"Menjalani peran tanpa komitmen pernikahan maksudmu?" tanya Yudhis yang masih bingung dengan arah pandangan Putri.


"Iya, aku lelah berpacaran" jawab Putri sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu menikahlah denganku" ucap Yudhis sambil menegakkan posisi duduknya kemudian menatap Putri, seakan ia sedang menunjukan bahwa tak ada keraguan dari ucapannya.


"Kami serius?"


"Aku serius"


"Kenapa mendadak?"


"Kamu bilang kan udah lelah berpacaran"


"Maksudnya?" tanya Putri sambil mengerutkan dahinya.


"Aku ataupun kamu tak pernah mengatakan atau menyepakati bahwa kita berpisah, dan aku tak pernah melepaskanmu hingga kamu bahagia. Bukankah aku pernah bilang kalau kau harus minta restu dariku dulu?"


"Iya kamu bilang sewaktu kita bertemu lagi" jawab Putri.


"Ih apa sih ngaco kamu mah. Kamu pikir aku ngeduain kamu gitu kemarin?" tanya Putri.


"Iyalah, kita gak pernah putus kan?" ucap Yudhis dengan Yakin.


"Kamu pergi tanpa penjelasan, bertahun-tahun gantungin aku!" ucap Putri dengan nada penekanan pada akhir kalimatnya.


"Aku gantung tapi tak aku lepaskan. Kita sudah bahas ini dan itu kebodohanku" ucap Yudhis tegas.


"Okey, bagaimana kalau lamaranmu ku tolak?"


"Aku akan tetap datang menemui Ibu dan Adikmu untuk mengungkapkan keseriusanku melamarmu. Setelah itu silahkan kamu pikirkan jawabannya untukku" jawab Yudhis sambil tersenyum lalu menyeruput kopinya.


"Sudah jam 8, sebaiknya kamu segera bersiap untuk ke kantor. Aku akan kembali ke kamar" ucap Putri sambil tersenyum lalu berdiri meninggalkan Yudhis yang masih menikmati kopinya.


......................


Putri menghabiskan waktunya di kamar dengan mencoba memahami Working Instruction project yang sudah dikirimkan oleh sekretaris Yudhis.


"Haduh ini mesti sering-sering main sama anak operasional nih" ucap Putri sambil membuat catata-catatan pada notebooknya.


ting nong


"Duh siapa yang dateng siang gini" ucap Putri kemudian berjalan untuk membukakan pintu.


"Selamat siang, ini ada pesanan untuk Anda" ucap seorang pegawai hotel yang membawakan makan siang.


"Hm.. saya ga pesan Mas" ucap Putri dengan ke khawatiran akan tagihannya nanti melebih budget dinas luar.


"Haduh kalau makan siang di sini sih bakal gak di acc Om Romdoy klaim dinas luar aku"ucap Putri dalam hati.


"Maaf Bu, ini masuk ke bill kamar no 715" pegawai itu menjelaskan.

__ADS_1


"715? Yudhistira?" tanya Putri pada pegawai itu.


"Mohon maaf Bu, saya kurang tahu namanya. Ibu bisa bertanya ke resepsionis saja" ucap karyawan tersebut dengan sopan.


"Baiklah, taruh saja makanannya di situ Mas" ucap Putri yang akhirnya membiarkan karyawan itu mengantarkan makan siangnya.


"Baik saya permisi dulu Bu" ucap Karyawan itu sambil sedikit menunduk.


"Baik, terima kasih" jawab Putri.


"Sama-sama Ibu" jawab si karyawan lalu keluar dan menutup pintu kamar.


"Sebaiknya aku tanya respsionis dulu nih, apa betul ini Yudhis yang pesan" ucap Putri dalam hati kemudian meraih telepon kamar untuk menghubungi resepsionis.


Telepon sudah ditutup dan benar itu Yudhis yang memesan.


"Baiklah sudah dipesan, mubazir kalau nggak dimakan" ujar Putri kemudian berdoa dan mulai makan.


drrttt


Panggilan masuk nomor tak dikenal


"Siapa? ini kyak nomor kantor pusat deh" batin Putri saat melihat nomor yang memanggil.


"Ya Halo"Putri terdiam sejenak.


"Astagfirullah, Aldi pake telepon kantor" ucap Putri dalam hati.


"Mohon maaf aku tak akan membalas pesan atau telepon darimu jika hanya akan membahas tentang kita. Hubungan kita sudah selesai, tak perlu dibahas lagi. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi. Tolong jangan ganggu aku. Kita hanya sebatas pekerjaan. Maaf aku tutup teleponmu ya" ucap Putri sambil bernafas dengan sedikit terengah-engah karena masih ada luapan emosinya.


Putri masih terduduk dengan memijit keningnya yang tidak pusing.


"Ya Tuhan, aku mencoba untuk ikhlas. Tapi kenapa sakit ini masih juga ada" batin Putri.


Putri merasakan nafsu makannya menguap entah kemana. Namun dengan memaksakan diri ia mencoba menghabiskannya perlahan.


......................


Hari sudah gelap, lampu-lampu ibu kota sudah nampak indah yang terlihat dari jendela kaca kamar hotel.


ting nong


Suara bel kamar berbunyi.


Putri yang baru selesai menunaikan sholat isya berdiri dengan masih mengenakan mukena.


ceklek


"Hey, udah pulang?" tanya Putri pria tampan di depannya.


"Udah. Mau temenin aku keluar?" tanya Yudhis.


"Boleh, aku ganti baju dulu ya. Nanti tunggu aja di lobby"


"Oke" jawab Yudhis tersenyum lalu berjalan ke koridor.


"Hufh baiklah dari pada bosen di hotel mulu" batin Putri sambil meraih bajunya yang tergantung di lemari kamar hotel.



Putri sudah siap mengenakan baju berwarna peach berlengan panjang dipadukan dengan celana denim biru. Ia tak banyak memoleskan make up, hanya bedak dan lipbalm yang dipolesnya.


Yudhis terlihat sudah duduk di sofa coklat lobby.


Putri berjalan ke arah Yudhis yang masih terduduk sambil memandang ponselnya.


"Hei aku sudah siap" sapa Putri


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Berjalan kaki nggak apa-apa kan?" tanya Yudhis.


"Nggak masalah, memang kita mau kemana sih?" Putri yang masih bingung karena Yudhis belum memberi tahu lokasi tujuannya.

__ADS_1


"Ada lah, nanti juga kamu tahu" ucap Yudhis dengan senyum yang manis membuat ketampanannya nampak semakin terpatri di sana.


Bersambung,


__ADS_2