
...Yuhistira- Saat setelah chat Putri...
Yudhis : Kamu besok yang wakilin bogor?
Putri : Iya
Yudhis : Besok mau berangkat bareng ga?
Putri : Nggak usah, aku berangkat sore ini pulang kerja langsung pake kereta ke sana.
Yudhis : Oke, biar ga buru-buru ya besok paginya?
Putri : Bukan, aku mau kasih kejutan buat Aldi malam ini.
Yudhis : Kejutan?
Putri : Iya aku buatin cupcakes kesukaannya. Nanti sebelum ke hotel aku anterin dulu ke apartemennya.
Yudhis : Oke hati-hati.
Putri : thanks tawarannya.
Yudhis : you're welcome
"Ah Shit, ******** itu!" ucap Yudhis sambil menggenggam erat ponselnya. Rahangnya mengeras dan matanya terpejam menahan emosi yang tiba-tiba saja meletup, mengingat perlakuan Aldi pada wanita yang sampai sekarang selalu ia cintai.
"Gw harus kasih tau Putri, tapi... aarghhh... Putri bakal terluka. Nggak nanti aja gw harus cari moment" batin Yudhis dengan menengadahkan kepalanya ke atas dengan punggung yang bersandar di kursi kerjanya.
tok tok tok
"Ya masuk" ucap Yudhis dari dalam ruangan.
"Bro, ente ga ikut meeting lagi ama marketing buat bahas project MT?" ucap Nandar seorang Senior Manajer Sales.
"Nggak, diwakilin ama Arif aja" ucap Yudhis ringan.
__ADS_1
"Gw juga tadi dateng cuma ampe makan siang sih" ucap Nandar yang kini sudah duduk di depan meja Yudhis.
"Dari MT siapa yang dateng?" tanya Yudhis.
"Biasa si imut Zianina, napa lo naksir dia?" tanya Nandar dengan mimik jailnya.
"Kagaklah, bukan selera gw" sanggah Yudhis dengan cepat.
"Muke aje lo ganteng, selera lo kacau. Dah ah gw cabut dulu" ucap Nandar sambil berjalan ke luar ruangan Yudhis.
"Zia..bisa jadi mereka... Nggak.. Putri gak boleh berangkat sendiri" Yudhis berpikir keras sejenak untuk memikirkan bagaimana agar Putri tidak menemui Aldi sendiri. Ia sangat mengkhawatirkan sesuatu yang tidak diinginkan mungkin saja terjadi.
" Putri punya sahabat cowok waktu SMA, dia pasti punya mobil.. yah.. namanya siapa ya..." Yudhis mengetuk meja dengan jarinya sambil berfikir.
Seketika Yudhis menghadapkan tubuhnya di depan Laptop, membuka aplikasi Arjuna dan mulai meretas ponsel Putri.
"Yukito iya ini sahabatnya.. si bocah yang naksir Putri dulu" Yudhis teringat nama Yuki setelah melihat history chat di ponsel Putri.
Memanggil Yukito
Yudhis mengakhiri panggilannya
......................
Waktu sudah menunjukkan Pukul 19.30, namun sang DGM yang tampan masih berkutat dengan pekerjaan di ruang kerjanya.
Sebenarnya ini bukan pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini, namun ia belum bisa pulang sebelum menunggu kabar tentang wanita yang dicintainya.
Yudhis membuka aplikasi Arjuna untuk melihat keberadaan Putri saat ini. Kemudian dia beralih dengan nomor ponsel Aldi dan Zia untuk melihat keberadaan mereka berdua.
Yudhis terkejut dan membelalakan matanya melihat lokasi mereka bertiga berada di tempat yang sama. Ia segera menghubungi Yukito.
Memanggil Yukito
"Halo, Yukito tetap ditempatmu, antar Putri ke hotel... Iya saya segera ke sana".
__ADS_1
Yudhis segera merapihkan bekas pekerjaannya dan berlari kecil keluar ruangan untuk bergegas ke hotel tempat Putri akan menginap malam ini.
...****************...
Plak plok plak plok
"Aaaaaah"
Deg
Putri merasakan sekujur tubuhnya seperti lumpuh, jantungnya meronta dengan degupan kencang tak berarturan. Ia merasakan telapak tangannya berkeringat dingin saat ini, dan tenggorokannya seakan lupa cara bicara.
"Suara ini! Aku harus maju, aku gak boleh lari aku harus lihat apa benar ini...."
Suara makin terdengar nyaring dan intens seiring langkah Putri yang semakin dekat.
"Eehhmm aaaahhh faster deeper baby"
Putri sejenak terpatung dengan apa yang nampak pada pandangannya saat ini.
Brug
Suara paperbag yang dipegang Putri terjatuh.
Kedua pasangan tidak sah yang sedang bergumul dalam gelora hasratnya pun berhenti, seketika merek menoleh ke arah Putri mematung.
Putri berjalan mundur dengan tangan menutup mulut dan matanya sudah penuh dengan cucuran air mata. Tenggorokan Putri terasa terkunci sampai ia tidak bisa berkata-kata.
Aldi terlihat sangat terkejut.
"Putri! Ini bisa aku jelaskan.. aku hanya mencintaimu.. dia tak ada hubungan dengan aku" ucap Aldi sambil menunjuk zia yang terduduk dengan wajah yang menunjukkan rasa tak bersalah.
"DIAM!" akhirnya Putri bisa mengeluarkan suaranya dengan upaya.
"Hubungan kita berkhir. Aku tak butuh penjelasan dari apa yang aku saksikan sendiri. Bernafaslah bersama dengan penyesalanmu. Selamat Tinggal" ucap Putri yang kemudian berjalan mundur dan berlari keluar dengan lelehan air mata yang tak kunjung mereda.
__ADS_1
Ia sudah tak peduli lagi dengan tatapn orang-orang yang berpapasan dengannya. Hatinya telalu sakit, raganya serasa hancur melihat orang yang selama ini dia kagumi sikap dewasanya ternyata hanya sebuah ******** yang membodohinya.