Putri Kurir

Putri Kurir
55


__ADS_3

"Selamat malam" ucap Arjuna pada Putri dan teman-teman.


"Selamat malam A" jawab Putri dan yang lainnya.


"Permisi, Putri bisa ikut saya? Saya perlu bicara denganmu malam ini" pinta Arjuna pada Putri dihadapan ketiga sahabatnya.


Putri menoleh ke arah teman-temannya.


"Enjoy your time Put" ucap Vera sambil menepuk bahu Putri.


Vera, Hani, serta Jihan sudah masuk ke dalam, sedangkan Putri dan Arjuna masih berdiri saling berhadap-hadapan.


"Maaf ini sudah malam, tapi aku perlu bicara sama kamu. Bisakah kita bicara di tempat lain?" tanya Arjuna.


"Kenapa nggak besok saja?" Putri merasa lelah, namun ia sebisa mungkin tidak mengucapkannya pada Arjuna.


"Besok aku dinas ke Tokyo sampai hari Jumat. Apa kamu kelelahan?" Arjuna memandang Putri dengan tatapan hangat, seakan ia juga tahu bahwa gadis dihadapannya ini sedang lelah.


"Nggak koq, yuk kita mau kemana?" tanya Putri dengan suara yang dibuat antusias.


Terlihat senyum merekah di wajah Arjuna "Terima kasih, sebuah tempat yang indah pada malam hari" Arjuna hendak merangkul pundak Putri, namun ia tarik kembali.


Putri sudah berada di dalam mobil Arjuna. Sebuah mobil hybrid dari salah satu brand Jepang yang diberikan sebagai fasilitas oleh perusahaan tempat Arjuna bekerja. Tak lama kemudian Arjuna melajukan kendaraannya menuju jalanan.


"A, koq bisa tahu kalau aku lagi di sini?" tanya Putri yang sudah penasaran sedari tadi.


"Aku pencipta aplikasi yang sudah tertanam pada sistem ponselmu" jelas Arjuna, sementara Putri yang mengangguk sambil berkata " Oh iya aku paham! aku kira kamu cuma bisa cek dari nomor ponsel yang dicari, karena kartu SIM aku kan ga aktif. Aku lupa kalau kamu adalah creator-nya" Putri berucap sambil mengusap dahi yang tidak gatal.


"Kamu datang ke seminar?" tanya Arjuna lagi.


Putri yang terkejut langsung menolehkan kepalanya dan bertanya "Kamu koq tahu?".


"Bukankah kamu tadi sudah paham bahwa aku si creator?" timpal Arjuna.


"History perjalanan?" tanya Putri yang dijawab anggukan pria di sebelahnya. "Ya ampun secanggih itu ya. Kamu hebat banget A" kagum Putri sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Kamu nggak marah kan Putri?"


"Marah karena apa?" tanya Putri dengan raut wajah heran.


"Karena mengecek beradaanmu. Aku hanya merasa khawatir, tapi aku sangat senang ketika tahu kalau kamu ada disekitarku saat ini" jawab Arjuna sambil tersenyum sedikit.


"Buat apa aku marah cuma karena di cek keberadaannya? Mungkin untuk sebagian orang itu merupakan privasi. Tapi buat aku, selama memang yang kulakukan adalah yang yang benar, ya nggak akan jadi masalah sih" jawab Putri santai.


"Thank you dear" Arjuna berucap sambil memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, Putri sekilas melihat bahwa pria yang terpaut usia tujuh tahun dengannya ini sedang tersipu malu.


"Ya ampun ini sisi manis dari seorang CIO yang kesehariannya sangat berwibawa! Ya Tuhan mudahkanlah urusan kami jikalau dia memang jodohku" pinta Putri dalam hati.


"Kita sudah sampai" ucap Arjuna, kemudian melepaskan safety belt yang melingkar di tubuhnya. Ia melihat Putri yang sedang kesusahan dengan sabuk pengamannya, seketika Arjuna mendekatkan tubuhnya untuk membantu Putri melepaskan sabuk pengamannya.

__ADS_1


Cup


Putri tidak sengaja mencium pipi Arjuna saat menoleh. Sontak Putri memundurkan kepalanya namun tertahan headrest. "Maaf A, maaf ga sengaja" ucap Putri lirih, sementara Pria dihadapannya itu tak bergeming. Putri dapat merasakan hembusan nafas hangat dan berat dari pria di hadapannya, terlihat jakun yang naik turun akibat menelan liur didalamnya.


Arjuna segera tersadar lalu melepaskan sabuk pengaman dan berkata "Maaf, ayo kita turun".


"Ya Tuhan apa yang kulakukan!" ucap Putri dalam hati. Ia merasa malu dan tubuhnya menghangat oleh ulah aliran darahnya yang mulai kacau akibat kejadian tadi.


Mereka tiba di seberang sebuah sungai kecil, kemudian nampak lampu-lampu warna warni nan indah menghiasi restoran serta kios di sana.



"Wah indah banget! Makasih ya A udah ajak aku ke sini" Putri berterima kasih karena ini salah satu tempat yang tidak masuk ke dalam daftar perjalanannya.


"Sama-sama Putri. Di seberang sana adalah kehidupan malam di Singapura, kita sebaiknya duduk di sini saja" Arjuna menunjuk pada undakan yang bisa mereka duduki di tepi sungai.


"Tempat mana saja yang mau kamu kunjungi besok?" tanya Arjuna pada gadis di sampingnya.


"Besok kami mau ke Chinese and Japanese Garden, lalu ke Sentosa Island" jawab Putri.


"Masuk USS?" tanya Arjuna lagi.


"Nggak, gak bakal keburu kalau masuk ke USS. Maybe next time. Oh ya, Aa mau ngomongin apa ngajak aku ke sini?"


"Ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan sebelum kita menikah. Maaf sepertinya aku terlalu percaya diri untuk merasa bahwa kamu akan memilihku" Arjuna berucap lalu tersenyum miring ke arah lampu warna-warni di seberang.


"Sebulan yang lalu, dia menyatakan cinta padaku. Aku tidak bisa menerimanya karena kami berbeda prinsip yang tidak mungkin dicoba untuk disatukan. Hari Sabtu lalu dia datang ke rumah Mama, dia mengatakan bahwa dia akan selalu ada dalam hubungan kita. Sebisa mungkin aku yakini dia bahwa aku punya batasan dengannya terlebih saat aku sudah menikah nanti" Arjuna tertunduk lalu memejamkan matanya sesaat. Kedua lengannya bertumpu pada tembok yang didudukinya.


"Apakah ini wanita yang dibicarakan Mama dan tante Norma saat aku mengunjungi apartemennya?" tanya Putri dalam hati.


"Aku tidak ingin kamu akan salah paham kemudian. Apapun kelak yang diucapkan atau dilakukan Lindsay pada kita, tolong bicarakan padaku. Percayalah padaku Putri" Putri menatap mata coklat gelap nan pekat milik Arjuna, sorot matanya seakan memohon bahwa tidak ada kebohongan di sana.


"Baik A Juna" Putri menampilkan senyum manisnya.


"Terima kasih" jawab Arjuna yang membalas dengan senyuman menawan.


"A, kalau kita menikah nanti, apakah aku diizinkan untuk tetap bekerja? Mmm.. mungkin kita akan ya ...mm... LDR-an" tanya Putri yang meragu.


"Ini cukup berat di saat kita belum lama mengenal, kemudian kita hanya bisa bertemu paling sering seminggu sekali ya. Aku cukup takut hubungan kita tidak berkembang" Arjuna menatap Putri lagi dengan tatapan yang sayu.


"Namun, jika kamu tetap ingin bekerja tidak ada salahnya kita mencoba dulu untuk LDR. Aku juga memahami pernikahan mendadak ini tidak mungkin diiringi dengan mengajuan pengunduran diri kepada perusahaan yang tiba-tiba. Tapi jika suatu saat nanti aku meminta kamu untuk selalu dekat denganku, apakah kamu tidak keberatan?" tanya Arjuna dengan penuh harap.


"Tentu saja, bukankah kewajiban isteri itu untuk patuh pada suaminya?" jawab Putri dengan yakin.


"Terima kasih" ucap Arjuna yang setengah mati menahan untuk tidak memeluk wanita di sampingnya. "Kamu sangat sexy saat mengucapkan hal itu, membuatku ingin berijab qabul saat ini juga. Am i insane? Yes I am" racau Arjuna dalam hatinya.


"Rencana hari terakhir, akan jalan ke mana saja?" tanya Arjuna yang mencoba mengendalikan gelora di tubuhnya.


"Merlion, Marina Bay Sands dan sekitar sana saja lalu pulang" jawab Putri.

__ADS_1


"Besok nginap di tempatku saja. Sangat dekat untuk ke sana. Di sana juga ada 3 kamar, jadi cukup nyaman untuk kalian berempat" pinta Arjuna.


"Aku akan bicarakan dengan teman-temanku dulu" ucap Putri.


"Baik, nanti aku berikan password aksesnya. Nanti pulang naik pesawat jam berapa?"


"Jam 7 waktu Singapura" jawab Putri sambil merapikan rambut yang beterbangan disapu oleh angin.


"Dari bandara di jemput oleh siapa?" tanya Arjuna lagi yang menahan diri untuk tidak membantu Putri menjinakkan rambutnya.


"Kami dijemput sopir Vera, nanti aku kabari kalau sudah di Soeta ya" jawab Putri.


"Iya terima kasih sudah bersedia memberi kabar padaku. Sudah malam, aku antar kamu pulang"


"Baik"


"Kamu menginap di flat sahabatmu itu?" tanya Arjuna memecah keheningan di dalam mobil.


"Iya, tapi kamu tenang saja. Yukito menginap di flat temannya. Jadi hanya kami berempat di sana" jelas Putri yang sepertinya tahu kegelisahan pria di sebelahnya.


"Terima kasih" Arjuna tersenyum seakan menyukai insiatif Putri yang menjelaskan untuk meredam kecemasannya.


Putri tersenyum melihat tingkah calon suaminya ini. Terlihat berwibawa saat di depan public, namun saat dengannya seakan seperti anak remaja puber.


"A, aku boleh minta wifi sebentar? Buat cek pesan WA" pinta Putri pada Arjuna.


"Boleh, sebentar" Arjuna menekan salah satu tombol pada head units. "Passwordnya.." ia terdiam sejenak "Nama kamu".


Putri terkejut namun mencoba mewaraskan pikirannya "Mungkin saja maksudnya benar-benar tulisan namakamu" batin Putri.


"Kecil semua atau kapital?" tanya Putri yang mencoba berbicara dengan suara yang terdengar biasa.


"Kecil semua tanpa spasi" jawab Arjuna.


"Incorrect nih A" ucap Putri saat gagal memasukkan kata sandi.


"Kamu nulisnya kecil semua dan tanpa spasi kan?" tanya Arjuna lagi dan kini menepikan mobilnya di sisi kiri jalan.


"Coba sini aku lihat" ucap Arjuna yang kini sudah menyentuh layar ponsel Putri.


"Done" Arjuna berkata sambil memberikan ponselnya pada Putri lagi.


"Koq bisa? tadi aku nulisnya bener lho" ucap Putri dengan dahi yang mengerut keheranan.


"Kamu lupa sama tulisan namamu sendiri? putribellaatmamihardja tanpa spasi" Arjuna berkata sambil melajukan kembali kendaraannya.


"Oh iya A" Putri berkata sambil merasakan isi dalam dadanya seakan mau melompat keluar, seketika perutnya terasa mulas. Entah sensasi ini terasa menyenangkan atau menyiksa. "Sesuka itukah Arjuna sama aku?" suara batin Putri.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2