Putri Kurir

Putri Kurir
20


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.20. Terdengar suara tepuk tangan dari seluruh peserta meeting sebagai tanda diakhirinya presentasi mengenai program-program kerja yang sudah berjalan dan juga penerapan strategi baru sebagai perbaikan dari program kerja yang sudah ada demi  pencapaian target di tahun ini.


Acara selanjutnya adalah makan siang di tempat yang sudah di reservasi sebelumnya. Tempat makan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor hanya sekitar 2 km saja. Selain tempatnya yang nyaman dan kekinian, menu yang disuguhkan pun variatif namun harganya mungkin akan membuat Putri berfikir ulang walau hanya untuk sekedar berkunjung sebulan jika lebih dari satu kali.


Putri maju ke depan untuk mengumumkan agenda makan siang kepada semua peserta di ruangan "Perhatian semua, untuk makan siang sudah saya lakukan reservasi di lemongrass. Mungkin kita sudah bisa bersiap-siap berangkat menuju lokasi terima kasih".


"Nanti bagi-bagi saja, ada yang ikut di mobil saya dan ada yang bawa motor sendiri. Gak akan cukup kalau semua ikut di mobil saya" ucap Pak Dadang kepada Peserta. Kendaraan pribadi Pak Dadang adalah mobi jenis MPV Honda Mobilio Tahun 2017 berwarna silver, sudah dipastikan hanya muat membawa maximal 7 penumpang".


"Sandy, kamu bawa mobil saya" perintah Pak Dadang sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Sandy. "Badan dia paling bongsor biar duduk di depan" ucap Pak Dadang sambil menepuk bahu Sandy dan melihat ke arah peserta lainnya.


"Siap Bos" jawab sandy sambil menapilkan acungan jempolnya.


"Pak, saya bawa kendaraan sendiri. Saya juga tau Resto nya" Yudhis berucap sambil tersenyum.


"Oh baik Pak Yudhis nanti biar ditemani sama.." belum selesai Pak Dadang mengucapkan kata-katanya.


"Sama Putri, nanti saya ditemani Ibu HR saja Pak" terang Yudhis yang membuat Pak Dadang sungkan untuk melanjutkan kata-katanya.


Tadinya Pak Dadang bermaksud meminta Iman untuk menemani dan menjadi supir di mobil sang DGM, namun sang DGM sudah tidak tahan ingin berbicara empat mata dengan mantan kekasihnya itu.


"Whaaaat, Yudhis gila!! Apa tanggapan yang lain kalau dia bersikap nekat kayak gini" Putri berumpat dalam hati dengan perasaan cemas hingga ia merasakan debaran di dadanya disertai keringat dingin menyelimuti telapak tangannya.


"Gak usah sama saya Pak, sama Mas Iman aja biar nanti dia bantu supirin Bapak" Putri secara spontan berucap kepada Yudhis.


"Saya gak perlu disupirin, dah sama kamu aja karena saya juga mau menanyakan perihal Man Power di sini" jawab Yudhis sambil tersenyum licik dan memandang ke arah Pimpinan Cabang yang telihat menganggukan setengah kepalanya tanda bahwa Putri tak bisa menghindarinya lagi kali ini.


"Yudhis keterlaluan!!! menyebalkan! sebel...sebel...sebel..." racau Putri dalam hati.


"Ayo mari kita lekas berangkat" ajak pak Dadang yang menempatkan tangannya di belakang pundak Yudhis tanda mempersilahkan tamu yang juga atasannya ini untuk keluar ruangan.


"Put kayaknya bos baru ini naksir kamu deh, keliatan banget" bisik Cindy pada Putri saat mereka menuruni tangga dari ruang meeting menuju lahan parkiran ruko.


"Hush, ga mungkin lah. Dia kan bilang tadi mau nanya masalah SDM aja  koq" sanggah Putri yang dia sendiri tidak begitu yakin akan membuat Cindy percaya.


"Kalian tuh aneh kayak orang yang udah kenal lama. Lo boong kan ama gw Put?" CIndy kali ini dengan ekspresi menggodanya.


"Ih apaan sih, nggaklah Mbak" wajab Putri sambil melotot ke arah Cindy.


"Ga percaya gw, awas aja ntar juga lama-lama ketauan. Pokoknya kalau ketauan lo kudu tlaktir gw makan steak" ucap Cindy dengan suara rendah namun suara cekikikannya sedikit terdengar lebih keras daripada ucapannya tadi.


Putri hanya menanggapi dengan menggelengkan kepala.


Setibanya di area pakiran ruko rombongan terbagi menjadi dua. Enam orang menuju sisi kanan area ruko yang bertuliskan parking lot - Kacab, kemudian menaiki mobilio silver yang sudah terparkir dibawah terik matahari Kota Bogor siang ini sepanas hati Putri yang terpaksa menemani sang mantan menaiki Mobilnya yang terparkir di area umum sisi kiri ruko.


Yudhis mendahului Putri untuk membukakan pintu yang akan dinaiki oleh Putri.

__ADS_1


Putri sedikit terkejut namun ia menahan untuk tidak berkomentar karena terik matahari sangat panas di luar.


Yudhis sudah duduk di depan kemudinya dan bersegera menyalakan mesin, kemudian mobil melaju perlahan.


"Put gak pengen ngomong gitu sama aku?" tanya Yudhis sambil melirik Putri sesaat sebelum mobil meluncur keluar ruko dan masuk ke area lampu merah jalan raya.


"Masih jam kerja ga perlu ngomongin urusan pribadi" ucap Putri datar dengan tatapan lurus ke depan.


"Kan lagi break, bisa dong sebentar kita bicara".


"Aku nggak udah gak mau bicarain tentang masa lalu kita. Biarlah semua sudah berlalu".


"Yakin? Gak akan lega lho kalau kamu cuma menghindar dan gak mau mencoba untuk mendengar penjelasanku"


"Penjelasan atau pembelaan dari kamu Yudhistira? ini sudah lima tahun dan kemana saja kamu dulu? meninggalkan aku begitu saja tanpa ada kejelasan! ini sangat tidak adil bagiku! Dan sekarang kamu baru ingin menjelaskan semua nya? Untuk apa? gak berguna lagi untuk saat ini!" Ucap Putri yang tanpa dia sadari ia bisa berucap dengan lantang dan cepat, seolah semua kata-kata itu tumpah ruah begitu saja setelah sekian tahun tertahan di dadanya.


Mobil masih melaju dengan kecepatan yang cukup lambat karena jalanan masih sangat padat.


"Maafkan aku Putri. Itu semua salahku dan juga kebodohanku. Penyesalan ini setiap hari selalu menyiksaku. Bisa kah kita bicara sepulang kerja nanti?" pinta Yudhis sabil menatap Putri sesaat dengan tatapan sayu.


"Untuk apa dibicarakan? toh sudah seperti ini. Sekarang kita sudah masing-masing". ucap Putri sambil menunduk kemudian memalingkan wajahnya ke arah kaca luar di samping.


"Tidakkah kamu ingin mendengar penjelasanku? Bukankah hatimu sebenarnya ingin mengetahuinya? Tolong jujur Putri" suara Yudhis terdengar frustasi.


Yudhis memejamkan mata sesaat dan bernafas berat sambil menekan dahinya pada stir mobil didepannya. Untung saja mobil sedang memasuki area lampu merah kedua di daerah Warung Jambu-Padjajaran.


"Apa kamu bahagia? apa hatimu sudah melupakan aku?" tanya Yudhis sambil menatap Putri.


Putri tak menjawab apapun hanya menatap sesaat mata Yudhis yang menggelap dan rapuh kemudian mengangguk.


"Tenang saja, aku tak akan menganggu kamu dengan kekasihmu asalkan kamu bahagia dengan pilihanmu itu" ucap Yudhis sambil tersenyum palsu yang dipaksakan.


Entah mengapa dengan mendengar ucapan Yudhis, hati Putri merasa kecewa.


"Sebaiknya memang seperti itu Yudhis" jawab Putri sambil tersenyum kecil pada Yudhis.


"Tapi aku sendiri yang harus memastikan bahwa kamu benar-benar bahagia tanpa aku. Baru aku akan memberikanmu restu untuk melanjutkan hubunganmu dengan kekasihmu itu" Yudhis menegakkan kembali duduknya sambil menggeser persneling di tangan kirinya lalu mobil kembali melaju perlahan.


"Maksud kamu apa?? aku bukan anakmu atau adikmu Yudhistira!" Putri menekan nama Yudhistira pada akhir kalimatnya.


"Tapi kamu pemilik hatiku, jadi aku harus memastikan kalau kamu berpindah ke tempat yang tepat" Yudhis menoleh sesaat sambil tersenyum dengan tampan.


"Menganggap sikap posesif sebagai bukti cinta merupakan kebodohan totalku dulu" jawab Putri.


"I used to be a possesive man. Makanya aku mau jelasin sama kamu kondisiku saat itu dan beberapa tahun yang ku lalui sampai saat ini. Only listen babe, please" harap Yudhis.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kamu harus menjaga sikap terutama di depan orang kantor. Aku nggak mau ada gosip karena mereka berfikir yang macam-macam tentang kita. Hanya sebatas bawahan di cabang dengan pimpinan kantor pusat. okey?" pinta Putri seperti seseorang yang butuh orang dihadapannya berkata "deal".


"Tak perlu takut gosip, kenyataannya aku memang mencintaimu" jawab Yudhis enteng sambil menyalakan lampu sein kiri pertanda mobil akan memasuki area parkir resto yang berada di sisi kiri jalan raya Padjajaran.


"Kamu enteng banget sih ngomong gitu! Ada perasaan yang harus aku jaga Yudhis!" jawab Putri sambil menatap kesal pada Yudhis.


"Oh jadi pacar kamu sekantor, siapa?" tanya Yudhis melihat ke spion untuk memarkirkan mobilnya.


"Emangnya penting buat kamu?" tanya Putri.


"Ya pentinglah, dia kan butuh restu aku buat jadi pacar kamu" Yudhis berkata sambil menaik-naikan alisnya.


"Aturan apaan itu! Nggak ah"


"Tadi udah deal sama kamu" Yudhis berkata sambil tangan kirinya bergerak akan mengelus ujung kepala Putri, namun Putri segera menepis lengan di atas kepalanya itu.


"Jangan" ucapnya tegas sambil menatap pria di sampingnya.


"i'm sorry Putri. Oh ya sepulang kerja aku tunggu kamu nanti bareng aja dari kantor sekalian makan malam ya" Ucap Yudhis mengalihkan pembicaraan sambil mengingatkan Putri bahwa pembicaraan akan diteruskan nanti sepulang kerja.


"Jangan barengan, nanti ketahuan yang lain. Janjian di lokasinya aja ya" pinta Putri sambil dengan tatapan penuh harapan.


"Nggak boleh" jawab Yudhis tegas


"Kenapa sih nih orang dari dulu selalu aja banyak larang-larang, tapi bodohnya kenapa sampai sekarang aku nggak bisa untuk nggak mematuhinya ya" batin putri dalam hati.


Ringtone ponsel putri beerdering dan terlihat tulisan Cindy memanggil


Putri : Iya mbak.


Cindy : Lo dimana? kita udah di bangku 10 nih tinggal nunggu kalian.


Putri : Ini udah diparkiran, sorry tadi 2x kena lampu merah Mbak.


Cindy : Oke


Lalu Cindy mematikan telepon duluan.


"Siapa?" tanya Yudhis.


"Mbak Cindy nanyain kita udah sampe mana, Ya sudah kita turun yuk" ajak Putri sambil membuka handle dalam mobil dan berjalan ke luar, diikuti oleh Yudhis. Mereka berjalan berdampingan menuju ke dalam restaurant.


Bersambung


^_^ Mohon dukungannya untuk memberikan, like dan comment ya.. kalau suka silahkan klik favorit dan berikan vote ya reader

__ADS_1


__ADS_2