Putri Kurir

Putri Kurir
37


__ADS_3

Chat di Grup HR Bersama Kita Bisa


(Grup Whatsapp Putri dan tim HR kantor)


Putri : Gaes udah paham kan penjelasan saya di telp tadi?


Wijay : Insha Alloh di Gass lah besok biar sukses.


Fian : Yoi Wi, pokoknya mah Mbak ga usah khawatir, istirahat aja biar cepet sembuh. Percayain sama kita.


Wijay : Iya bener Mbak, lo mah santai dulu aja biar cepet sembuh.


Putri : Kalau ada kendala kordinasi ya gaes sama saya.


Wijay : Pastilah, slow Mbak.


Fian : Siap Mbak.


Putri : Oke..makasih ya gaes.. Selamat tidur semua.


Wijay : sami-sami Mbak.. Selamat beristirahat


Fian : sama-sama Mbak. Sweet dream Wi


Wijay : Anzaaay najong luh Ya.


Putri terenyum sambil tertawa kecil melihat chat bertingkah dari bawahannya itu.


Ia merasa sangat bersyukur karena memiliki tim yang bisa diandalkan dan selalu mendukungnya. Putri merasa bodoh karena sudah melupakan fungsinya dan juga peran timnya.


"Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah memudahkan urusanku" ucap sambil memeluk ponselnya.


Ia meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu perlahan merebahkan tubuhnya yang masih terasa nyeri di beberapa tempat akibat jatuh tadi.


Ia mencoba memejamkan mata, lalu tak lama kemudiam kesadarannya makin menurun dan mulai ia pun terlelap.


...----------------...


Satu minggu kemudian


Seorang gadis berambut lurus yang dibuat sedikit bergelombang dengan bantuan rol rambut sebelum bekerja, bibir merah alami yang dibuat sedikit shining dengan bantuan lip balm, mata hitam dengan kelopak yang kecil namun memberi kesan imut disetiap tatapannya.


Sang gadis itu kini sedang serius menatap monitor yang terkadang terlihat berhenti untuk berfikir sejenak mengamati setiap tulisan yang sudah muncul di depan monitor.


Terkadang tulisan itu ia hapus lagi untuk diganti dengan rangkaian kata-kata yang ia yakini lebih pantas untuk nampak pada layar di hadapannya itu.


*treeet treeet


Pesawat telepon kantor berdering


Putri merenggangkan tangan kemudian meraih telepon yang berada di samping mejanya.


"Halo, Iya baik Pak" suara Putri yang terdengar saat menjawab si penelepon.


tok tok tok


"Assalamua'alaikum, permisi Pak Dadang" ucap Putri saat akan memasuki ruangan kepala cabang.


"Wa'alaikumsalam, ya masuk Mbak" ucap Pak Dadang yang sedang duduk di kursi singgasananya.


Putri masuk ke dalam ruangan pimpinan cabang, kemudian duduk di sofa yang memang tersedia untuk tamu di sana.


"Mbak Putri, sekali lagi saya berikan kamu apresiasi atas kontribusi yang kamu berikan untuk cabang ini" ucap Pak Dadang yang kini sudah berada di sofa dengan dudukan single samping kanan Putri.


"Sama-sama Pak, itu semua tak lepas dari bantuan dan dukungan Bapak, teman-teman operasional, dan tim internal saya juga" ucap Putri sambil tersenyum.


"Apresiasi yang akan saya berikan adalah promosi jabatan untuk ke level sepervisor, namun tidak di posisi HR" ucap Pa Dadang dengan posisi duduk yang masih terlihat santai.


"Ya Allah, tantangan apa lagi ini. Aku bakal mutasi kemana" ucap Putri dalam hati.


"Saya akan promosi mutasi kamu ke posisi Branch Performance Support" ucap lagi Pak Dadang.


"Maaf Pak, itu posisi apa ya? karena selama ini belum ada posisi itu di struktur organisasi" ucap Putri yang masih merasa asing dengan istilah posisi baru itu.


"Terus terang dengan kondisi cabang yang sudah semakin besar saya juga memerlukan sekretaris yang bisa membantu saya dalam.hal administrasi dan monitoring. Saya orangnya gak mudah percaya karena saya khawatir akan adanya spionase dari kompetitor. Saya sangat selektif dan sebisa mungkin saya nggak mau rekrut sekretaris dari external untuk posisi ini"


"Selain itu, mulai minggu depan sampai 6 bulan ke depan juga perusahaan kita akan menangani project besar dari MP. Ini bukan project biasa, butuh penanganan dan report yang sifatnya prioritas dengan beberapa perlakuan khusus yang berbeda dengan kiriman-kiriman regular kita" ucap Pak Dadang dengan mimik yang lebih serius dan posisi duduk yang sudah tegak.


"Jadi kurang lebih posisi kamu nanti akan membantu saya sebagai sekretaris sekaligus memonitoring report dan performance projec**t itu di cabang kita".


Pak Dadang mengeluarkan ponselnya kemudian ia melakukan sesuatu pada ponselnya dan berkata "saya sudah kirim kamu working instruction serta hal-hal yang berkenaan dengan project ini ke email kamu dan besok kamu akan mewakili cabang kita untuk mengikuti sosialisasi project ini di kantor pusat. Undangan sosialisasinya juga sudah saya email ya".


Putri hanya bisa mengangguk pasrah.


Bos nya ini memang punya jurus maut dalam hal komunikasi, agar bawahannya terkesan pasrah dan tidak bisa melakukan penolakan saat sang Raja Cabang sudah punya keputusan.


"Maaf Pak, per tanggal berapa saya efektif mutasinya?" tanya Putri yang teringat akan keharusan handover segala sesuatunya di HR kepada bawahannya nanti.


"Tanggal SK mengikuti periode absensi saja, tapi teknisnya per besok kamu sudah mulai transisi" ucap Pak Dadang santai


Putri hanya bisa bernafas panjang saking pasrahnya dengan kenyataan mutasi yang ia rasa jauh lebih menegangkan jika dibandingkan dengan mutasinya dulu. Tegang karena kenyataan tantangannya jauh lebih besar.


"Baik Pak, Terima kasih atas kepercayaan yang Bapak berikan pada saya. Saya akan mencoba untuk melaksanakannya dengan baik. Saya permisi dulu. Assalamua'alaikum" setelah berucap pamit, Putri pun keluar dari ruangan kepala cabang.


Dilihatnya Wijaya dan Alfian sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

__ADS_1


Terpikir olehnya siapa yang akan ia pilih untuk menggantikan posisi yang dia tinggalkan nanti.


"Gaes saya minta waktunya sebentar" ucap Putri yang menatap kearah kedua bawahannya.


Wijay dan Fian menarik kursi kerjanya hingga tepat di depan meja Putri


"Gaes, mulai besok saya nggak di HR lagi, Pak Dadang mutasiin saya di posisi Branch Performance Support" ucap Putri dengan masih menatap yakin ke arah keduanya.


Putri menjelaskan timing proses perpindahannya dan kepergian sosialisasinya untuk 2 hari ke depan.


"Kalian udah terbiasa auto pilot.. saya yakin kalian bisa. Sampai 2 minggu ke depan akan ada probation, yang diakhiri dengan presentasi ke Pak Dadang nanti untuk memilih yang menggantikan saya diantara kalian berdua. Saya mohon berikan yang terbaik yang bisa kalian lakukan" ucap Putri memberi semangat.


"Siap Mbak, semoga sukses di posisi barunya" ucap Alfian.


"Selamat ya Mbak kalau masih butuh bantuan kita jangan sungkan-sungkan" ucap Wijaya menambahkan.


" Makasih ya kalian udah kayak teman dan keluarga saya sendiri. Saya mohon maaf kalau selama kepemimpinan saya ada salah atau kekurangan" ucap Putri dengan terharu.


"Sama-sama Mbak. Kita juga mohon maaf kalau selama ini masih banyak kekurangan" ucap Alfian.


"Kita saling ya gaes" ucap Putri sambil tersenyum. " Dah sekarang kita balik ke kerjaan masing-masing lagi".


Putri membuka pesan masuk dari Pak Dadang tadi pada ms. outlook.


Ia membaca dengan seksama lampiran demi lampiran tentang project tersebut. Yah ini project yang bernilai besar dengan pertaruhan nama besar perusahaan juga sebagai ajang unjuk gigi di kancah ekspedisi dalam negeri.


Selesai membaca lampiran-lampiran mengenai project, ia melanjutkan dengan membuka email undangan sosialisasi di sana. Sosialisasi dilaksanakan selama dua hari di kantor pusat Jakarta.


Selain cabang Bogor, beberapa cabang di bawah DGM Yudhistira juga diundang. Karena hampir semua wilayah pulau Jawa dan Sumatera masuk ke area destinasi yang disepakati dalam project tersebut.


"Yes kamis dan jumat aku ke Jakarta. Ketemu Aldi nih..bikin kejutan aaah. Kalau gitu besok pulang kerja langsung ke Jakarta aja check in ny" ucap Putri dalam hati yang bahagia bisa bertemu Aldi.


"Kebetulan bahan bikin cupcakes masih ada nih di rumah. Bikin cupcakes buat Aldi ah" gumam Putri lagi.


......................


keesokan harinya


drrrt


Notifasi pesan masuk di whatsapp


Yudhis : Kamu besok yang wakilin bogor?


Putri : Iya


Yudhis : Besok mau berangkat bareng ga?


Putri : Nggak usah, aku berangkat sore ini pulang kerja langsung pake kereta ke sana.


Putri : Bukan, aku mau kasih kejutan buat Aldi malam ini.


Yudhis : Kejutan?


Putri : Iya aku buatin cupcakes kesukaannya. Nanti sebelum ke hotel aku anterin dulu ke apartemennya.


Yudhis : Oke hati-hati.


Putri : thanks tawarannya.


Yudhis : you're welcome


Putri meletakkan kembali ponselnya di atas meja, kemudian ia melanjutkan membuat daftar serah terima pekerjaan dengan bawahannya nanti.


Panggilan telepon masuk


Yukito


" Assalamua'alaikum, hi tumben ada apa? hmm.. Jam 5 sore udah harus cabut langsung. Dari kantor sini lah....Kenapa? serius? ya udah boleh deh kalau gitu... Makasih bangeeeet ya... Wa'alaikumsalam" ucap Putri dalam teleponnya.


"Wah kebeneran banget Yuki mau ke Jakarta, jadi bisa bareng deh gak perlu bawa-bawa cupackes sambil desek-desekan dalam kereta, bisa rusak duluan ntar" ucap Putri dengan bahagia.


"Wah Mbak bahagia banget yang mau ke Jakarta, ketemu siapa sih?" ucap Alfian dengan senyum jailnya.


"Nasib LDR begini, tapi seneng juga sih LDR gak seserem yang orang-orang bilang koq" ucap Putri dengan senyum tipisnya.


"Asiklah Mbak... gass terus" ucap Wijaya dengan dengan meninjukan ke udara dengan lengannya yang terkepal.


"Ha...ha...ha.. hadeeuh kalian ini" ucap Putri sambil menggelengkan kepala.


"Dah lanjut lagi nih masih banyak lho yang kudu kalian pindahin data-datanya" ucap Putri sambil menatap monitornya kembali.


"Mbak mah nanti pulang aja, biar kita yang kelarin" ucap Wijaya sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Iyes gaes thanks a lot yaaa"


Tak terasa dengan banyaknya pekerjaan yang harus diserah terimakan dalam waktu satu hari, waktu pada jam dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Putri merapihkan kembali sisa pekerjaannya dan beberapa peralatan yang harus ia masukkan ke dalam ranselnya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia pun berpamitan dengan kedua stafnya.


Sesampainya di depan kantor ia melihat Yukito yang sudah berada di bangku kemudi dengan kaca mobil yang terbuka penuh.


Putri menghampiri mobil Yuki.


"Buka pintu belakang Yuki" pinta Putri sambil menunjukkan ke arah dus kue yang dia bawa.

__ADS_1


Putri membuka pintu belakang kemudian menaruh dus kuenya yang terbungkus paper bag di atas bangku penumpang belakang, lalu menutup kembali pintunya dan naik ke bangku penumpang di samping kemudi.


"Yuki.. emang lo mau ke Jakarta mana?" tanya Putri yang masih belum paham ketidakbiasaan Yuki keluar kota tanpa tujuan.


"Cuma mau mastiin princess gw tiba di lokasi dengan selamat" ucap Yuki sambil menaikkan satu alisnya.


"Lebay amat sih" ucap Putri sambil mengibaskan tangannya dan tersenyum.


"Gak suka nih? kan jarang-jarang kita jalan bareng lagi. Gw lagi balik aja jarang banget ketemu. Mumpung bisa ya udahlah, minggu depan juga udah balik ke Singapura" ucap Yuki sambil melajukan mobilnya.


"Cepet ya udah mau balik lagi. Kapan-kapan gw main ah ke sana ama anak-anak. Temenin kita ya" ucap Putri yang menoleh tersenyum kepada Yuki


"So Pasti ditemenin mah gampang. Perlu pake penyambutan karpet merah ga? apa karpet hijau kuning merah aja biar kayak lampu lalu lintas?" tanya Yuki sambil melirik pada Putri.


"Yee... mentang-mentang lagi berenti di lampu merah jadi warna karpetnya kayak lampu lalu lintas. ha..ha...ha.. ada-ada aja kamu mah Yuki" ucap Putri sambil tertawa.


" Ya gw kan emang kaya lampu lalu lintas. Keberadaannya dibutuhkan, tapi ia hanya disinggahi untuk kemudian ditinggalkan" ucap Yuki dengan senyum namun ada guratan sedih di wajahnya.


"Filosofi apaan sih maksa ih kamu mah" ucap Putri yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Tak terasa mereka sudah melaju di jalan Tol Jagorawi.


"Yuk, gw ngantuk banget. Nanti kalau udah nyampe tol dalem kota bagunin ya" ucap Putri sambil menahan mulutnya saat menguap.


"Iya udah tidur sana" ucap Yuki yang tatapannya tetap fokus ke jalan.


Jalanan di kawasan Ibu Kota sangat padat karena bertepatan dengan jam bubar kantoran.


"Put, Putri.."ucap Yuki yang sedang mencoba membangunkan gadis di sampingnya.


"Hmm.. udah sampe mana?" ucap Putri dengan mata yang masih terpejam dan kepala masih bersandar pada headrest.


"Udah lewat UKI" jawab Yuki.


"Kita nanti keluar di Slipi" ucap Putri


"Oke, bisa kasih gw maps nya aja Put" pinta Yuki.


"Oke siap" Putri mensetting maps pada layar di dashboard mobil Yuki.


Setelah itu ia meraih ponselnya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 19.15.


Ia membuka aplikasi Arjuna, kemudian memasukkan nomor Aldi. Beberapa detik kemudian terlihat posisi Aldi sudah ada di area apartemennya.


"Yes, Aldi udah pulang" ucap Putri dalam hati namun terpancar kebahagiaan dalam senyumannya.


50 menit kemudian, mobil Yuki sudah memasuki kawasan parkiran apartemen Aldi.


"Lo seriusan ga ikut turun?" tanya Putri lagi sebelum turun dari mobil.


"Nggak, gw tunggu di sini aja. Nanti lo kabari aja kalau lo bakal lama di sana yah gw cabut. Lo bisa dianter dia kan ke hotelnya?" ucap Yuki dengan tatapan keraguan yang entah sulit diartikan oleh Putri.


"Iya, klo lo mau langsung cabut sekarang juga nggak apa-apa koq" ucap Putri lagi.


"Gampanglah, pokoknya gw tungguin di sini sampe lo ngabarin gw aja" ucap Yuki lagi.


"Fine , gw turun ya" ucap Putri yang turun dari mobil kemudian meraih paper bag berisi cupcakesnya di bangku belakang.


Putri mengecek dahulu kunci apartemen yang pernah Aldi berikan dan kemarin malam ia simpan di resleting luar ranselnya. Setelah memastikan ada, ia langsung ke arah lobby dan naik ke atas.


Entah mengapa perasaan bahagia ini bercampur dengan rasa cemas yang sulit Putri jelaskan dengan kata-kata. Ia menenangkan diri sejenak dengan mengecek kembali aplikasi Arjuna untuk memastikan bahwa Aldi memang ada di kamarnya.


Putri merasakan keraguan saat tiba di depan pintu apartemen Aldi dan akan memasukkan kuncinya pada lubang pintu. Ia berhenti sejenak dengan hanya menatap pintu.


"Udah sejauh ini masa kejutannya nggak jadi" suara batin Putri sambil menoleh ke arah paperbag di tangan kirinya.


Putri memasukkan kunci dengan sangat perlahan pada lubangnya, kemudian ia putar sampai suara ceklekannya ia buat seminimal mungkin terdengar, kecuali si penghuni sedang berada dekat dengan pintunya.


Putri mengintip sedikit dari pintu yang sudah sedikit terbuka, dilihatnya suasana yang gelap namun ada sedikit penerangan dari arah ujung sebelah kanan yang tidak terlihat dari pintu.


"Sepertinya itu lampu tidur, oh mungkin Aldi sudah tidur nih" gumam putri dalam hati sambil mengigit bawah bibirnya karena sedikit gugup.


Putri masuk dengan perlahan, kemudian melepas sandal. Ia sengaja tidak menutup rapat pintunya agar sang penghuni tidak mendengar decitan suara pintu yang tertutup.


Terdengar suara samar-samar dari arah ruang utama yang menyatu dengan kamar tidur.


3 langkah lagi Putri akan melalui lorong mini kitchen yang menghubungkan pintu dengan bagian kamar tidur.


Plak plok plak plok


"Aaaaaah"


Deg


Putri merasakan sekujur tubuhnya seperti lumpuh, jantungnya meronta dengan degupan kencang tak berarturan. Ia merasakan telapak tangannya berkeringat dingin saat ini, dan tenggorokannya seakan lupa cara bicara.


"Suara ini! Aku harus maju, aku gak boleh lari aku harus lihat apa benar ini...."


Suara makin terdengar nyaring dan intens seiring langkah Putri yang semakin dekat.


"Eehhmm aaaahhh faster deeper baby"


Putri sejenak terpatung dengan apa yang nampak pada pandangannya saat ini.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2