
"Ya ampun Bu sakit banget diurutnya" ucap Putri yang masih terduduk dan bersandar pada tembok di atas tempat tidurnya.
"Gak apa-apa sakit di awal, daripada didiemin nanti lama kelamaan malah jadi parah" ucap Ibu yang duduk dipinggir tempat tidur.
"Oh ya Bu, tadi Mas Bima langsung pulang pas teteh lagi diurut di kamar?" tanya Putri.
"Iya dia katanya mau langsung ngurir lagi abis nganter kamu" ucap Ibu yang berdiri untuk menutup jendela kamar Putri.
"Besok teteh udah bisa kerja lagi kan Bu" tanya Putri pada Ibu.
"Ya belum lah, jumat aja kamu harus diurut lagi. Nanti aja sekalian senin masuknya. Kamu harus istirahat dulu" Perintah Ibu yang memang mengkhawatirkan putrinya.
"Tapi kan teteh ada kerjaan sampe jumat Bu, gak bisa ditinggalin" ucap Putri dengan nada memohon.
"Itu pantat kamu memar, paha sama betis kamu keseleo, belum ankle kamu juga belok. Kalau kamu parah malah tambah nyusahin orang-orang kantor teh. Udah izin aja dulu sana" ucap Ibu kemudian keluar kamar karena tak mau dibantah Putri lagi.
"Aduh gimana ini, pasti gagal rencana aku" ucap Putri sambil menggigit telunjuknya dan berfikir sejenak.
drrttt
Notifikasi whatsapp Putri berbunyi, menandakan pesan masuk
Yudhis : Put kamu dimana?
Putri : Di rumah
Yudhis : Udah beres ngurirnya?
Putri : Belum
Yudhis : Lho koq udah di rumah?
Putri : Aku jatuh dari motor
Panggilan masuk dari Yudhis
Yudhis : Kondisi kamu gimana sekarang?
Putri : Aku udah gak kenapa-kenapa, tapi.... (seketika Putri ingin menangis karena teringat tugas misi di operasional belum selesai, ia pasti akan menjadi bahan cemoohan dari orang-orang yang merasa terganggu akan kehadirannya).
Yudhis : Tapi apa Put?
Putri : Yudhis...hiks..tolong aku....hiks...hiksss...
Putri sudah putus asa dan tak kuasa berkata-kata lagi, hanya suara tangisan yang bisa keluar dari mulutnya.
Yudhis : Ya sudah, kamu istirahat ya.. coba relax, nanti pulang kerja aku mampir ke rumah kamu.
Putri : Iya.. hiks... makasih Yudhis.
Yudhis : Iya sama-sama.
__ADS_1
......................
Yudhis tiba di rumah Putri sekitar pukul 7 malam.
Yudhis memasuki kamar Putri yang diantar oleh Ibu.
Yudhis meraih bangku kecil depan meja rias Putri dan duduk dihadapan tempat tidur tempat Putri terduduk saat ini.
"Kenapa bisa sampe gini Put?" Yudhis dengan sorot mata sayunya menatap Putri.
Putri menceritakan semua pada Yudhis, bermula dari hari pertama di operasional inbound hingga kejadian musibahnya tadi.
Yudhis dengan seksama mendengarkan setiap perkataan Putri tanpa ada celaan, kecuali ibu yang memasuki kamar Putri mengantarkan suguhan sirup jeruk dan camilan.
"Yudhis sudah makan malam?" tanya Ibu
"Sudah Bu, tadi sebelum pulang kebetulan makan bareng client" ucap Yudhis dengan sopan.
"Ibu tinggal dulu ya, pastikan pintu kamar ini terbuka lebar" ucap Ibu tegas pada mereka berdua, kemudian berlalu keluar dari kamar.
"Pasti Bu" ucap Putri dengan sedikit sebal.
"Gak boleh gitu Put. Wajar seorang ibu khawatir sama kita yang bukan pasangan sah kalau berduaan di kamar. Malah kamu harusnya khawatir kalau ibu kamu biarin kita berduaan di kamar" ucap Yudhis dengan tersenyum jail.
"Khawatir kenapa? kan kita gak akan ngapa-ngapain kali! kita juga cuma bahas kerjaan" ucap Putri dengan tegas sambil melipat tangannya depan dada.
"Kalau ibu kamu ga bilang gitu, khawatir aku ga bisa tahan lho" ucap Yudhis sambil tertawa jail.
"Itu mah kamu weh yang omes" ucap Putri sambil memonyongkan bibirnya.
"Udah ah kalau kamu ngomong gitu lagi aku usir nih" ucap Putri dengan mimik yang gusar.
"Ha..ha..ha... Iya Put, nah tadi kamu mau minta tolong apa?" tanya Yudhis yg teringat tangisan Putri tadi di telepon.
Putri terdiam sejenak, lalu berkata
"Kondisi aku gak bisa banyak jalan, apalagi bawa motor. Terus observasi besok gimana? kasih aku masukan Yud" ucap Putri sambil menunduk dan memijat keningnya.
"Kalau investigasi kamu ketunda emangnya kenapa?" tanya Yudhis pada Putri.
"Kredibilitas unit aku dipertaruhkan. Kamu tahulah kalau teman-teman operasional punya insight yang berbeda sama tim aku" jawab Putri dengan suara lesu.
"Putri.. Putri... coba deh cara berfikir kamu itu diperluas. Keberadaan unit kamu itu support untuk siapa?" Tanya Yudhis sambil melipat tangannya di depan dada dengan posisi kaki kiri yang menopang kaki kanan diatasnya.
"Support untuk semua departemenlah" jawab Putri enteng.
" So?" ucap Yudhis lagi sambil menaikan satu alisnya seakan menyudutkan Putri untuk bisa menjelaskan lebih banyak lagi.
"Aku bingung nih jadinya" ucap Putri sambil menggelengkan kepala.
"Luruskan niatmu dan tetapkan tujuan untuk kepentingan semua, seperti fungsi dari unitmu sebenarnya. Suka tidak suka, kamulah pimpinan unit kamu itu" ucap Yudhis dengan tatapan yang semakin menagih Putri untuk bisa berfikir lebih lagi.
__ADS_1
"Kamu benar. Kenapa kamu nggak kasih tau aku dari awal supaya aku tidak telat menyadarinya?" tanya Putri sambil mengerutkan dahinya.
"Kadang kita butuh tau letak kesalahan kita saat sudah merasakannya. So, dengan situasi sekarang apa yang akan kamu lakukan sebagai leader dari HR?" tanya Yudhis yang kali ini ada sedikit senyum terulas dari wajah tampannya.
"Aku harus menggerakan orang lain untuk melakukannya" ucap Putri dengan menaikan sedikit wajahnya.
"That's what I meant. Kamu bisa bayangkan kalau pelatih sepak bola adalah pemainnya juga? Bagaimana taktik permainan bisa berjalan dengan baik dilapangan? Bahkan pelatih legendaris AC Milan, Arrigo Sacchi pernah berkata bahwa dia tidak mengerti kenapa public masih berpikir untuk menjadi seorang joki maka harus lebih dulu menjadi kuda" Yudhis berkata sambil berdiri dan memasukannya salah satu tangannya ke dalam saku. Satu tangan lagi melambai bebas di udara seakan menjadi ungkapan pendukung dari setiap ucapannya.
Putri menatap Yudhis dengan rasa kagum yang terancar dari sorot matanya. Bagaimana bisa seorang Yudhis dulu yang posesif dan impulsif, bisa menjadi seorang seperti saat ini. Apa saja yang sudah dilaluinya sejak mereka berpisah?
"Kamu paham Putri?" tanya Yudhis yang sedikit membungkuk ke arah Putri.
"Iya aku paham. Tapi bagaimana cara agar aku bisa menjadi leader yang kuat? apa yang aku butuhkan?" tanya Putri pada Yudhis.
"Kamu harus memiliki kepemimpinan yang berkarakter. Jadi modal utama kamu adalah kepribadian" ucap Yudhis dengan posisi duduk seperti posisi sebelumnya.
"Maksudnya kepribadian seperti apa?" tanya Putri dengan nada yang sedikit tidak sabar.
"Kepribadian adalah hal dasar yang membentuk kamu menjadi diri kamu yang berprilaku seperti saat ini. Misalnya, motivasi kamu jadi pemipin, nilai-nilai yang kamu junjung, komunikasi, dan pengalaman-pengalaman. Hal itu yang membentuk kepribadian kamu dalam memimpin" ucap Yudhis
"Baik aku mulai paham" jawab Putri sambil mengangguk.
"Semangatlah! Kamu wanita yang cerdas" ucap Yudhis dengan tatapan hangatnya.
"Terima kasih sudah percaya padaku" ucap Putri dengan tersenyum hangat.
"Aku selalu mempercayaimu Putri" Yudhis menatap lekat mata Putri, terlihat sorot mata menggelap yang Putri rasa membuatnya terlihat lebih berkharisma.
"Jadi sudah tahu apa yang akan kamu lakukan untuk besok?" ucapan Yudhis sedikit mengejutkan Putri yang terpaku oleh tatapan Yudhis tadi.
" Aku akan meminta Alfian dan Wijaya besok mengikuti kurir di ring 2 dan 3. Pekerjaan HR akan aku alihkan ke layanan online untuk sementara, dan akan aku siapkan log book di security untuk karyawan yang datang berkunjung" ucap Putri dengan bersemangat.
"Apa kira-kira masalah yang akan timbul dengan perubahan strategi kamu?" ucap Yuhis sambil melipat kedua tangannya depan dada.
"Para korwil akan bersikap skeptis terhadap kami di HR dan bisa saja tak mengacuhkan instruksi atau ucapan dari staf aku" ucap Putri sambil memicingkan mata sambil mengangkat bahu.
"Dan apa yang akan kamu lakukan jika hal itu terjadi?" ucap Yudhis dengan tatapan yang lebih serius dari pembicaraan sebelumnya.
"Aku besok akan menelepon Pak Dadang dan meminta dukungannya" ucap Putri yang diakhiri anggukkan.
"Persiapkan pelaksanaannya, pastikan kamu melakukan pengawasan yang baik dari sini. Gunakan sumber daya apa pun yang bisa kamu manfaatkan" ucap Yudhis kemudian ia langsung berdiri.
"Aku rasa sudah cukup diskusinya Ibu Putri, semoga lekas sembuh dan tetap optimis" ucap Yudhis sambil mengedipkan satu matanya.
"Terima kasih banyak Yudhis, aku gak tahu lagi seberapa berarti bimbinganmu tadi untukku. Oh ya tolong minumlah dulu suguhan dari Ibu" Putri berucap sambil menunjuk suguhan yang tadi Ibu simpan.
"Baiklah" Yudhis kemudian menengguk habis sirupnya.
"Beristirahatlah, aku pulang dulu" ucap Yudhis sambil melambai di ambang pintu kamar Putri.
"Hati-hati ya, salam buat Mama" ucap Putri yang tersenyum dan melambaikan lima jarinya ke arah Yudhis.
__ADS_1
Putri segera meraih ponselnya untuk menelepon Wijaya dan Alfian secara bergantian.
Bersambung,