Putri Kurir

Putri Kurir
59


__ADS_3

"Teh udah salat subuh kan?" tanya Ibu pada Putrinya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Udah Bu, Teh Neni udah datang?" Putri menanyakan periasnya yang masih kerabat jauh dari Ibu.


"Udah baru aja sampai, sana kamu masuk kamar buat dirias" Perintah Ibu.


"Iya Bu" Putri menjawab sambil berlalu menuju kamarnya.


"Teh Neni" sapa Putri lalu mencium tangannya.


"Hei Putri sayang, hayu duduk di sini kita langsung mulai" Teh Neni menunjuk pasa bangku kecil depan beraneka maca peralatan riasnya.


"Ini Teh Mutia yang bantuin ngerias yang lain" Teh Neni mengenalkan asistennya pada Putri, lalu bersalaman dengannya.


Butuh waktu lebih dari satu setengah jam untuk merias Putri dan menata rambutnya. Selesai itu, ia mengenakan kebaya Putih yang sudah dibawa oleh Teh Neni.



"Geulis-na Neng Putri" Teh Neni memuji Putri yang sudah siap.


"Riasan Teh Neni nu sae Teh" Putri balik memuji hasil kerja Teh Neni.


*) Riasan Teh Neni yang bagus


"Bentar Neng, di fototo dulu ini hasil riasnya" Teh Neni mengambil ponselnya lalu memfoto Putri beberapa kali.


"Mau difotoin pake Hp Neng ga?" Teh Neni menawarkan.


"Gak usah Teh, nanti minta dikirim dari WA Teh Neni aja" jawab Putri.


Ceklek


Pintu kamar terbuka


"Udah beres Teh" tanya seorang yang baru datang.


"Bi Yati!" Putri berdiri dan memeluk Bibi kesayangannya.


"Gak telat kan Bibi?"Bi Yati bertanya sambil mengelus punggung keponakannya.


"Hatur nuhun Bi udah datang, Echa gimana?" Putri bertanya balik sambil melepas pelukannya.


"Alhamdulillah Echa udah baikan, jadi bisa Bibi tinggal. Cuma maaf nanti siang Bibi udah pulang lagi ke Ciranjang ya Teh"


"Iya Bi, semoga lekas sembuh Echa" do'a Putri


"Aamiin" jawab Bi Yati


"Teh yuk siap-siap, keluarga Arjuna udah mau sampai di mesjid" Ibu berkata saat masuk ke dalam kamar.


"Duh geulisna putri ibu" Puji Ibu sambil memeluk putrinya.


"Bu.." jawab Putri yang menahan keharuannya, bagaimana tidak selepas ijab qabul ia akan menjadi milik orang lain setelah 23 tahun bersama ibunya.


"Udah yuk kita ke mesjid" Ibu berkata sambil mengusap air mata di wajah putrinya.


"Iya Bu. Teteh sayang Ibu. Maafin Teteh ya Bu" ucap Putri yang kembali memeluk ibunya.

__ADS_1


"Sudah.. sudah Teh.. Ibu juga sayang Teteh" ucap Ibu sambil mengelus punggung Putri, lalu mereka keluar kamar.


"Ya ampun Putri cantik banget!" ucap Vera yang sedang duduk di ruang TV bersama Bi Yati.


"Iya lo cantik banget" Hani menambahkan.


"Betul. Kece badai sis" Jihan mengacungkan kedua jempolnya.


"Gaes!" ucap Putri sambil membuka lebar lengannya seraya memeluk sahabat-sahabatnya. "Makasih ya udah dateng" Putri berkata sambil memeluk ketiganya yang saling berpelukan.


"Iyalah, ga mungkin kita lewatin detik-detik sakral lo" jawab Jihan mewakili yang lain.


"Makasih ya" ucap Putri saat pelukan mereka terurai.


"Sama-sama" jawan ketiganya bersamaan.


"Neng keluarga Arjuna udah sampe" ucap Bi Yati yg berjalan dari arah depan rumah.


Putri beserta rombongan keluarga dan kerabat dekat yang hadir pada hari ini, mulai berjalan menuju mesjid tempat diselenggarakannya akad nikah. Kebetulan, jarak antara rumah dan mesjid hanya berkisar 20 meter saja.


Putri telah tiba, kemudian dipersilakan duduk di samping Arjuna. Mang Iyus dari pihak Putri dan Om Hardi dari pihak Arjuna yang menjadi saksi acara sakral ini, tentunya Bika juga berada di sana menjadi wali Putri.


Putri memejamkan mata saat ijab qabul dilaksanakan. Arjuna melakukannya dengan satu tarikan nafas dan terdengar penuh keyakinan. Sampai Putri mendengar jelas kata


"SAH"


"SAH"


"SAH"


Arjuna memberikan cincin pernikahan yang sudah dibeli oleh Yudhistira sebelumnya seperti yang Putri inginkan. Putri hanya menyayangkan jika harus membeli cincin lagi dan ia pun sangat menyukai bentuk cincin pilihannya.


Arjuna menyematkan cincin dengan hati-hati, kemudian dilanjutkan dengan Putri yang menyematkan cincin pada jari manis Arjuna. Selanjutkan pembawa acara memberikan instruksi pada Putri untuk mencium tangan Arjuna. Saat Putri beranjak menegakkan kepala, Arjuna menahannya lalu mencium kening isterinya sambil membacakan do'a.


"Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi"


"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


Acara akad nikah diakhiri dengan pengambilan foto kedua mempelai, keluarga, serta kerabat lainnya. Saat selesai berfoto, majulah seorang pria yang Putri kenal dan memberikan selamat kepada kedua mempelai.


"Putri selamat menempuh hidup baru dan semoga kau bahagia. Maafkan aku" Aldi berucap dengan tatapan yang sendu, hatinya masih mencintai Putri dan gejolak penyesalannya belum kunjung hilang. Ia masih berharap Putri mau menerimanya kembali, namun hari ini harapannya terbukti sirna.


"Aamiin, terima kasih Mas" jawab Putri sambil tersenyum.


Aldi beranjak menyalami pria yang tak lain suami Putri "Selamat ya Bro!" ucap Aldi sambil memeluk Arjuna, sementara Arjuna menjawab dengan mengucapkan terima kasih.


Seluruh peserta yang hadir sudah bubar dan acara dilanjutkan dengan syukuran, yakni makan bersama di restoran yang letaknya hanya beberapa meter dari gang depan rumah Putri. Beberapa santapan pagi, kue-kue, serta minuman tersedia dalam bentuk buffet.


Putri, Arjuna, serta kedua Ibu mereka duduk di satu meja yang sama.


"Putri kamu ambil cuti nggak?" tanya Mama Julie.


"Nggak Ma, kemarin aku baru cuti tiga hari. Besok juga ada pekerjaan yang ga bisa aku tinggal Ma" jawab Putri.


"Kalau kamu Juna?" tanya Mama pada Anaknya dengan pertanyaan yang sama.


"Aku cuti tiga hari Ma" jawab Arjuna.

__ADS_1


"Ah ya A, ada yang mau aku bicarakan sama kamu" ucap Putri dengan pelan dan mendekatkan wajahnya pada telinga sang suami. "Tapi nanti aja deh kalau kita lagi berdua".


"Oke" jawab Arjuna singkat.


......................


Putri sedang berganti pakaian dan menghapus make up di dalam kamar, sedangkan Arjuna masih mengobrol dengan keluarga di ruang tamu. Hingga Putri keluar kamar dan menarik suaminya.


"Punten diganggu ngobrolnya, aku ada perlu bentar sama A Juna dulu ya" ucap Putri yang meminta Arjuna untuk ikut dengannya ke kamar.


"Cie Neng udah kebelet ya? masih siang yeuh" goda Mang Yana adik Bapak.


"Ih bukan Mamang, ada yang mau Neng obrolin sebentar ama A Juna" Putri berucap sambil memanyunkan bibirnya.


"Ha..haa.. Ya sok lah" jawab Mang Yana.


"Punten ya Mang" Arjuna mengucapkan permisi dengan sopan, lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar Putri.


ceklek


Pintu ditutup


"A, ada yang mau aku bicarakan. Duduk di situ yuk" Putri mengajak duduk di sisi ranjang.


"A, maaf kalau aku telat ngomongnya. Besok sampai 1,5 bulan ke depan, aku ikut lisensi trainer di kantor pusat. Acara di mulai besok jam 9 pagi" Putri berkata sambil menunduk karena merasa tidak enak pada suaminya.


Arjuna masih terdiam beberapa saat, ia hanya menatap isterinya dengan tatapan yang sulit Putri artikan.


"Nanti kamu tinggal dimana selama lisensi?" Arjuna mulai bersuara.


"Minggu pertama di hotel, selanjutnya disediakan kost oleh perusahaan. A juna bolehin gak?" Akhirnya Putri mengucapkan permohonan yang sedari tadi sulit ia ungkapkan.


Arjuna masih diam, entah sedang berfikir atau sedang menahan kesal. Namun raut wajahnya terlihat tenang seperti biasanya.


"Aku akan menemanimu sampai hari Rabu" ucap Arjuna.


"Maksud Aa nemenin di Jakarta? Tapi aku kan udah dapat roomate yang diatur sama panitia A" tanggap Putri yang menjelaskan pada Arjuna.


"Kita booking room lain. Aku yang akan membayarnya. Kamu bisa menjelaskan dulu pada roomate-mu untuk tiga malam" ucap Arjuna yang masih menatap Putri dengan ekspresi datarnya.


"Duh sayang uang A kalau semalamnya 500-600ribuan" ujar Putri sambil menempelkan tangannya pada dahi.


"Kita baru menikah, tapi aku juga berusaha memahami kondisi pekerjaanmu. Jadi biarkan aku melakukan ini" Arjuna sedikit mengulas senyum pada sudut bibirnya.


"Baik A, kita akan check in kapan?" Tanya Putri.


"Hari ini, jam 4 sore kita berangkat. Mulailah berkemas, karena selepas zuhur aku harus menyiapkan bawaan dari rumah Mama." perintah Arjuna.


"Nanti Aa langsung balik ke Singapura setelah menemani aku?" tanya Putri lagi.


"Iya"


"Duh mulai balik lagi deh ke irit ngomongnya, apa A Juna marah ya? Tapi keliatannya biasa aja" batin Putri.


"Baik A, nanti aku bantu berkemas bawaan kamu ya. Terima kasih A" jawab Putri yang merasa lega atas pengertian suaminya.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2