
Bukannya takut Jayden malah semakin merasa kesal sendiri mendengar perkataan Lucifer yang terus menilai dirinya sangat bodoh, hingga mudah di permainkan olehnya. Jayden sudah tidak peduli lagi siapa Lucifer dan terus memarahinya, meluapkan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya.
“Hahahaa, … Kau tanya padaku kenapa? Tentu saja, karena aku sedang merasa bosan. Jika kau sudah tidak bisa di permainkan lagi atau tidak menarik lagi, maka saat itu juga aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” ujar Lucifer yang terlihat sangat serius pada kalimat terakhirnya.
“Sampai di sini saja pertemuan kali ini. Sampai nanti, saat aku benar-benar akan membunuhmu,” lanjutnya yang kemudian langsung menghilang.
Saat itu juga, Jayden ikut terbangun dai mimpinya. Begitu melihat jam yang masih menunjukan dini hari, Jayden pun tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi.
Jayden terus memikirkan mimpi atau pertemuannya dengan Lucifer dan alasan mengapa Lucifer menunjukan mimpi mengerikan itu. Terlebih lagi kenapa di dalam mimpi itu terlihat sosok yang sangat persis dengan dirinya.
“Sebenarnya mimpi macam apa ini? Jika ini bukan mimpi, lalu apakah yang aku lihat barusan? Benarkah kejadian itu sebagai salah satu bukti dari masa laluku?” gumam Jayden seraya memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
“Sebenarnya rahasia apa yang tersimpan di dalam pedang itu dan di dalam hidupku ini,” teriak Jayden dengan frustasi.
“Astaga, hidupku menjadi semakin berantakan sekarang!” Jayden kembali menggerutu.
...****************...
Beberapa hari pun berlalu, terkadang Jayden masih mendapatkan sebuah mimpi yang sangat persis seperti sebelumnya. Seolah mimpi itu terus berulang setiap kali Jayden menutup matanya.
Namun anehnya, terkadang Jayden sekilas melihat keberadaan kedua sahabatnya di dalam mimpi tersebut. Meskipun begitu, Jayden tak terlalu memperdulikannya. Sebab Jayden mengira bahwa mimpi itu adalah perbuatan Lucifer yang ingin mengacaukan pikiran dan hidupnya lagi.
Jayden akhirnya semakin menutup diri, bahkan kini Jayden tidak pernah lagi menghadiri mata kuliahnya. Disisi lain, Jayden perlahan sudah mulai terbiasa dan mulai bisa mengontrol kemampuannya yang dapat melihat dan mendengar mahluk astral.
Hal itu pun membuat Ansel dan Kaison menjadi sangat khawatir dengan keadaan salah satu sahabat terbaiknya itu. Karena setelah kejadian Jayden ditemukan di dalam hutan mereka belum mendengar kabar tentangnya lagi.
Kaison dan Ansel akhirnya memutuskan untuk menemui Jayden di rumahnya, meskipun sebenarnya mereka sangat takut bertemu dengan Kakek Jhon.
“Kai, apakah kau sudah bisa menghubungi Jayden?” tanya Ansel yang menemui Kaison di kelasnya.
“Belum, aku sudah mencoba menelpon dan mengirim beberapa pesan. Namun, tidak ada tanggapan sama sekali darinya,” jawab Kaison.
“Apakah telah terjadi sesuatu hal buruk padanya? Ini sudah hampir dua minggi setelah kejadian hilangnya Jayden di dalam hutan, tapi Jayden tidak terlihat seperti Jayden yang sebelumnya,” ujar Ansel yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
__ADS_1
“Kau benar! Bahkan terakhir kita melihatnya, dia sudah seperti orang gila. Dia terlihat sangat ketakutan pada sesuatu yang sepertinya tidak bisa kita lihat,” ucap Kaison menimpali.
“Bagaimana kalau kita datangi saja dia di rumahnya?” usul Ansel yang tidak bisa menahan rasa khawatirnya lebih lama lagi.
“Tapi aku sedikit sungkan dnegan Kakeknya. Bagaimana kalau beliau menyalahkan kita atas kejadian jelajah alam sebelumnya,” ujar Kaison yang langsung merinding ketika membayangkan raut wajah malah Kakek Jhon.
“Aku yakin beliau tidak berpikiran sempit seperti itu. Bagaimana pun juga kita berdua juga tidak pernah menginginkan kejadian buruk itu terjadi pada Jayden,” jelas Ansel berusaha sedikit menenangkan Kaison.
“Baiklah, kita coba saja datang ke sana! Semoga saja tidak bertemu dengan Kakeknya, beliau ‘kan orang sibuk.” Akhirnya Kaison pun menyetujui usulan Ansel.
“Lebih baik kita pergi ke sana sekarang, jika tidak ingin bertemu dengan Kakeknya Jayden,” ujar Ansel.
“Ayo!” sahut Kaison dengan cepat.
Kaison dan Ansel pun langsung menuju ke rumah Jayden saat itu juga. Sesampainya di sana, benar saja mereka tidak bertemu dengan Kakek Jhon karena beliau sedang bekerja di perusahannya.
Mereka hanya bertemu dengan para pelayan yang bekerja di rumah itu. Tanpa membuang waktu, Kaison dan Ansel pun langsung meminta ijin untuk menemui Jayden.
“Permisi!” seru Kaison yang berusaha memanggil penjaga gerbang kediaman Felix.
“Hehehee, … Iya, Pak Anton! Jayden-nya ada di dalam ‘kan?” balas Ansel, tidak lupa dia juga membalas senyuman ramah dari Pak Anton.
“Tuan muda selalu ada di kamarnya, Tuan! Silahkan masuk saja,” ujar Pak Anton yang langsung mempersilahkan mereka untuk masuk, sebab Kai dan Ansel memang sudah biasa berkunjung bahkan sejak ketiga masih belia.
“Kakek Jhon tidak sedang di rumah ‘kan?” tanya Kaison sebagai persiapan mentalnya.
“Tuan besar saat ini sedang bekerja di kantornya. Biasanya beliau akan kembali sebelum jam makan malam,” jelas Pak Anton yang tahu persis jadwal tuan yang selama ini di layani nya itu.
“Syukurlah kalau begitu, aku bisa bernapas dengan tenang sekarang,” gumam Kaison.
“Kalau begitu sampai nanti, Pak Anton! Kami akan menemui Jay dulu,” ujar Ansel yang langsung masuk saja menuju rumah utama, lalu Kai mengikutinya di belakang.
Tidak ada yang berubah di kediaman Felix, semuanya masih tampak sama. Namun, Ansel sedikit merasakan perubahan aura di sekitarnya tapi itu tidak masalah.
__ADS_1
Sebab perubahan itu malah semakin baik untuk tempat itu. Saat sedang menuju ke kamar Jayden, mereka tidak sengaja bertemu dengan salah satu pelayan yang bekerja di sana.
“Apakah kami boleh menemui Jayden sekarang?” tanya Ansel kepada salah satu pelayan yang ada di rumah Jayden.
“Silahkan masuk, Tuan! Tuan muda sedang berada di dalam kamarnya,” jawab Pelayan itu dengan sopan mempersilahkan Ansel dan kaison untuk masuk ke kamarnya Jayden.
“Terima kasih,” ucap Ansel yang memang sangat ramah kepada semua orang.
Ansel dan Kaison kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar Jayden. Ansel dan Kaison memang sudah biasa bermain di rumah Jayden karena memang mereka bertiga merupakan sahabat semenjak mereka kecil.
Begitu mulai memasuki kamar Jayden, mereka sangat terkejut saat melihat banyak buku yan berserakan di kamar itu dengan Jayden yang sedang membaca sebuah buku ditangannya.
Dan anehnya lagi semua buku itu menceritakan tentang mahluk mitologi dan mahluk astral, buku-buku paling di benci oleh Jayden.
“Ans, apakah kita sudah salah masuk kamar yah?” ujar Kaison yang memperhatikan sekelilingnya terdapat banyak buku berserakan dimana-mana.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari pukul 13.00 pm....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...