
“Seperti biasanya, setiap ritual yang kalian lakukan. Maka saat itu juga apa yang kalian inginkan menjadi kenyataan.”
Lucas menambahkan dengan menjanjikan sebuah kekayaan dan kekuasan yang sudah pasti menjadi keinginan dari orang-orang itu.
“Berapa banyak yang anda butuhkan untuk ritual kali ini, Tuanku?”
Austin langsung menyanggupinya tanpa ragu, sebab dia menginginkan kekuasaan yang lebih besar lagi.
“Benar! Kami akan mempersiapkan berapapun korban persembahkan yang di butuhkan untuk ritual kali ini.” Pengikut lainnya pun ikut menyanggupinya.
“Tujuh perawan dan tujuh anak-anak! Ritual akan berlangsung bertepatan dengan munculnya bulan purnama. Siapkan korban persembahannya dengan baik! Jika terjadi kesalahan dalam persiapannya, kalian pasti sudah tahu sendiri bagaimana akibatnya,” ujar Lucas mengingatkan.
“Baik, Tuan!” Mereka semua menyahut secara serentak.
“Kalian hanya memiliki waktu satu minggu sampai bulan purnama itu muncul, maka lakukan dengan hati-hati.” Lunar mengingatkan batas waktunya.
“Baik!” sahut mereka lagi.
...****************...
Selepas pertemuan itu selesai di lakukan, Lucas dan Lunar segera menghadap Lucifer di istananya untuk melaporkan hasil dari pertemuan itu.
Kesombongan, Keserakahan, Kemurkaan, Kemalahan, hawa nafsu dan Iri hati yang di miliki manusia membuat pengikut Lucifer semakin hari semakin bertambah.
“Yang mulia, kami ijin menghadap!” Lucas dan Lunar segera berlutut kepada Lucifer, Tuan yang selama ini mereka layani.
“Apa yang terjadi? Apakah mereka bersedia melakukan ritual persembahan itu untukku?” Lucifer langsung menanyakan pada intinya.
“Tentu, Yang Mulia! Mereka adalah para manusia berhati kotor yang penuh dengan kesombongan, kerserakahan, kemurkaan, kemalasan, kerakusan, hawa nafsu dan iri hati. Hanya menjanjikan apa yang ingin mereka dapatkan, mereka pasti sanggup melakukan apapun. Meskipun membunuh manusia lainnya,” jelas Lucas menjawab pertanyaan Lucifer.
“Bahkan pertemua kali ini, kami melihat semakin banyak manusia yang menjadi pengikut anda, Yang Mulia!” imbuh Lunar yang membuat Lucifer tersenyum puas.
“Semakin banyak yang mereka inginkan, maka semakin jauh juga mereka dai jalan kebenaran. Dengan begitu kekuasaan dan kekuatanku di dunia ini akan semakin besar dan teka terkalahkan,” ujar Lucifer dengan kesombongannya.
“Yang Mulia, bagaimana dengan Luzark? Apakah anda akan menghidupkannya kembali?” tanya Lunar yang penasaran dengan nasib Luzark selanjutnya, mengingat dia di tusuk oleh tujuh mata pedang.
Meski belum sempurna, tapi bisa mereka rasakan kekuatan Luzark terus menyeruak keluar dari raganya.
“Tentu saja! Selagi dia masih bisa di gunakan, maka aku akan menghidupkannya lagi. Meski kali ini pasti akan menjadi barang cacat, tapi setidaknya masih bisa di gunakan sebagi umpan.” Jawaban Lucifer menyiratkan sesuatu.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu selesai, mereka pun kembali pada kesibukan masing-masing.
Namun, di tengah kesibukan mereka masih menyempatkan waktu untuk melakukan pertemuan secara pribadi untuk membahas terkait korban persembahan yang harus mereka persiapkan.
“Tuan Austin, bagaimana cara kita mendapatkan korban persembahan itu?” tanya seorang pria yang terlihat lebih muda dari Austin.
Vicky Leandro, seorang kepala sekolah menengah atas yang terpilih karena mengorbankan beberapa anak muridnya sebagai persembahan untuk Lucifer.
Semenjak menjadi pengikut Lucifer, Vicky yang pada dasarnya seorang pemalas hanya duduk santai menikmati kerja keras para guru dan muridnya yang bekerja keras mengharumkan nama sekolah mereka.
“Itu mudah! Gunakan saja beberapa anak muridmu seperti sebelumnya,” jawab Austin dengan santainya.
“Apa kau sudah gila! Kau ingin aku mengorbankan tujuh muridku sekaligus, Hah? Kau ingin aku di penjara begitu?” cecar Vicky yang tidak ingin mengorbankan kehidupan santai yang saat ini dia miliki.
“Hay, tenanglah dulu! Aku juga akan menggunakan anak-anak di panti asuhan yang aku bantu sebagai persembahan! Tenang saja, kita akan tetap aman selama ada Oliver di sisi kita,” ujar Austin dengan santainya, padahal saat ini mereka sedang merencanakan pembunuhan berantai sekaligus berencana.
“Benar, kalian tentukan saja target yang sesuai untuk persembahan kepada Tuan Lucifer. Sisanya aku yang akan mengurus semuanya,” ujar Oliver yang mulai ikut bicara.
Christian Oliver, seorang pria yang sudah menempati posisi jenderal bintang dua dalam pasukan kepolisian.
Posisi yang dia raih tentunya berkat kesepakatan dan janji setia sebagai pengikut Lucifer yang dia buat.
“Kau yakin kali ini semuanya akan aman? Aku sungguh tidak ingin kehilangan semua yang aku miliki saat ini.” Vicky menuntut kepastian dari kedua orang paling berpengaruh itu.
“Tenang saja! Selama kita berada di bawah perlindungan Tuan Lucifer, maka kejayaan yang kita miliki saat ini tidak akan pernah hilang,” ujar Austin dengan sombongnya.
“Baiklah, aku akan memilih beberapa murid! Kau selesaikan saja sisanya.”
Akhirnya Vicky pun menyetujui ide dari Austin, karena percaya pada kekuasaan Lucifer disertai adanya jenderal bintang dua kepolisian yang akan selalu membantunya.
Rencana pun selesai di buat, kemudian mereka membicarakan dengan yang lainnya untuk ikut membantu membuat scenario terbaik untuk menutupi kejahatan mereka nantinya.
...****************...
Berbeda dengan Jayden yang kini sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ternyata Jayden tidak sendirian, Kai dan Ansel sepakat untuk tidak membiarkan Jayden berada sendirian dimana pun.
Alhasil, mereka memutuskan untuk tinggal saja di rumah mewah milik Jayden. Tentunya setelah mereka mendapatkan ijin dari orang tua masing-masing dan persetujuan dari Jayden.
Yah, … Walaupun terdapat banyak desakan dan paksaan untuk Jayden membiarkan dua sahabatnya itu tinggal bersamanya.
__ADS_1
“Hay, apa kau sedang menangis lagi?” tanya Ansel pada Jayden yang tidak bergerak sama sekali dalam posisi tidurnya.
“Tidak! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang mengusik pikiranku beberapa waktu ini,” jawab Jayden tanpa mengalihkan tatapannya pada langit-langit di kamarnya itu.
“Baguslah, kalau kau tidak begitu larut dalam kesedihan karena kepergian Kakek,” ujar Ansel yang merasa lega saat mendengarnya.
“Haish, … Kai! Apa yang sedang kau lihat di komputer sampai terlihat sangat serius begitu!” seru Ansel yang kini beralih pada Kai yang tak berkutik di depan layar komputer milik Jayden.
“Coba kalian lihat ini!”
Bukannya menjawab pertanyaan Ansel, Kai malah menyuruh kedua sahabatnya itu mendekat padanya. Sebab dia ingin menunjukan sesuatu yang sangat penting.
Baik Jayden dan Ansel pun segera mendekat, apalagi Kai terlihat sangat serius tidak seperti biasanya.
“Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Ansel sembari memperhatikan layar computer yang sedang di lihat oleh Kai.
“Sepertinya akan muncul masalah baru yang harus kita hadapi,” ujar Kai menyiratkan sesuatu.
“Apa maksudmu?” tanya Ansel yang masih tidak mengerti maksud perkataan Kai.
Sedangkan Jayden sedang berusaha memahami apa yang sedang ingin Kai sampaikan dengan data yang ada di layar komputernya saat itu.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...