Rahasia 7 Mata Pedang

Rahasia 7 Mata Pedang
Korban Persembahan


__ADS_3

“Pergi ke ruangan Jayden sekarang!”


Ansel langsung saja menarik tubuh Kai untukk ikut masuk ke dalam ruangan Ceo. Sontak kedatangan keduanya mengejutkan Jayden yang tengah membahas masalah perusahaan dengan Dylan. Jayden hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


“Apa lagi yang kalian berdua lakukan?” tanya Jayden yang sudah bisa menebak kalau Kai dan Ansel pasti telah melakukan sesuatu.


Baik Kai maupun Ansel menanggapi pertanyaan Jayden dengan kekehan dan raut wajah tak merasa bersalahnya. Dylan hanya diam memperhatikan kelakuan Kai dan Ansel serta Jayden yang tampak pasrah dengan kelakuan kedua sahabatnya itu.


“Jay, aku berhasil menemukan sesuatu!” seru Ansel tampak bersemangat sembari mengatur deru napasnya.


Namun, belum sempat Jayden bereaksi pintu ruangan itu kembali terbuka. Edwin masuk ke dalam ruangan Ceo tanpa meminta ijin lebih dulu, bahkan tidak mengetuk pintunya sebelum masuk.


Tatapan tajam Jayden dan Dylan pun langsung tertuju pada Edwin yang langsung berusaha mengejar Ansel. Akan tetapi, Ansel sudah lebih cepat bersembunyi di belakang kursi kebesaran Jayden.


“Sikap tidak sopan apa ini yang sedang kau tunjukan padaku!” Suara tinggi Jayden menginterupsi Edwin untuk berhenti.


“Tuan Edwin, apa yang anda lakukan di sini? Bahkan anda sama sekali mengetuk pintunya sebelum masuk.”


Dylan ikut menegur, sebab dia juga merasa bahwa Edwin selaku Directur Utama di perusahaan yang kini Jayden pimpin sangatlah tidak sopan. Edwin segera membungkuk dan meminta maaf kepada Jayden begitu mendapat teguran keras dari Dylan.


“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Jayden!” ucap Edwin sembari membungkuk sebagai permintaan maafnya pada Jayden, tapi jelas terlihat tatapan mata tajamnya kepada Ansel yang kini berada tepat di belakangan Ceo barunya itu.


“Namun, bisakah anda meminta Sekertaris pribadi anda mengembalikan barang saya yang telah dia curi,” sambungnya yang membuat Jayden dan yang lainnya langsung mengalihkan tatapan mereka pada Ansel.


“Ansel, apa kau mencuri barang miliknya di hari pertama kau bekerja?” Langsung saja Jayden menanyakan dan memastikan pada orang yang bersangkutan.


“Yakh, … Jangan asal menuduhku, Pak tua! Apa kau pikir seorang Ansel Brown, putra kesayangan dari pengacara terkenal Justin Den Brown akan mencuri, Hah?” sentak Ansel menepis tuduhan yang di lontarkan Edwin.


Hanya dengan sekali melihatnya, Kai dan Jayden sudah bisa mengetahui bahwa Ansel tengah mengatakan kebohongan. Sebab membawa nama ayahnya merupakan ciri khas Ansel, jika sedang berbohong. Jayden kemudian mengerti maksud perkataan Ansel sebelumnya.

__ADS_1


“Kau dengar sendiri Tuan Edwin? Sekertarisku tidak mencuri apapun darimu dan aku mempercayainya, karena dia temanku sejak masih kecil dan aku juga sangat mengenal keluarganya,” ujar Jayden berusaha menyudutkan Edwin.


“Benar, Ayahnya saja seorang pengacara terkenal! Apakah kau merasa lebih kaya dari keluarganya, sehingga kau menuduhnya mencuri sesuatu darimu.” Kai menambahkan dan tentunya mendukung apa yang Jayden katakan sebelumnya.


“Tapi dia memang telah mencuri barangku yang sangat berharga!” Edwin tetap bersikeras akan tuduhannya.


“Katakan barang seperti apa yang kau maksud?” desak Jayden yang berniat membuat Edwin mengatakan sendiri.


“I-itu, _...” Edwin tampak ragu untuk mengatakannya.


“Ansel, majulah ke depan!” perintah Jayden.


Melihat keraguan Edwin, Jayden segera menyadari bahwa itu adalah barang sangat penting untuk Edwin. Jayden yang sudah merasa sangat penasaran untuk melihat barang itu, langsung saja menyuruh Ansel untuk maju ke depan. Ansel pun menurut, sebelum dia maju dia memberikan giok itu kepada Jayden secara diam-diam.


“Kau boleh memeriksanya sendiri! Jika kau menemukan barang yang kau cari dari tubuhnya, maka saat itu juga aku akan memecatnya. Akan tetapi, jika sebaliknya maka kau sendiri yang aku skors selama satu bulan!” ujar Jayden pada Edwin.


Karena merasa sangat yakin bahwa Ansel yang telah mengambil gioknya, Edwin langsung saja menggeledah tubuh Ansel di saksikan langsung oleh Jayden, Dylan dan Kai di sana.


“Apa kau sudah menemukannya?” Pertanyaan Jayden membuat Edwin menjadi keringat dingin.


“Tu-tuan, … Saya sangat yakin bahwa Sekertaris anda ini yang mengam, _....”


“Sudah cukup! Sekarang sudah terbukti bahwa Sekertarisku yang mengambil barangmu, kau sendiri bahkan yang memeriksa dan kami bertiga sebagai saksinya. Lalu kenapa kau masih menuduhnya?” tukas Jayden penuh penekanan di setiap katanya.


“Ta-tapi, _....”


“Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya! Tuduhanmu pada Sekertarisku tidak terbukti sama sekali, maka kau akan aku skors selama satu bulan! Dan selama itu, Tuan Dylan yang akan menggantikan posisimu untuk sementara.”


Jayden kembali memotong perkataan Edwin dan menyatakan secara resmi dengan skors yang dia katakan.

__ADS_1


“Tu-tuan, … Saya mohon dengarkan penjelasan saya, _....”


“Kai, segera seret keluar Tuan Edwin dari ruanganku dan pastikan dia tidak mendekati perusahaan selama satu bulan dari sekarang!”


Jayden yang tidak ingin mendengar apapun langsung memerintahkan Kai untuk mengurusnya.


“Tentu saja, Boss!” sahut Kai yang akan dengan senang hati mengurusnya.


Setelah itu, Kai langsung menyeret Edwin keluar dari perusahaan dan memperingatkan pada karyawan lainnya bahwa Edwin sedang di skors selama satu bulan lamanya.


Sedangkan Jayden kembali melanjutkan pembicaraan tentang bisnisnya dengan Dylan dan Ansel yang akhirnya ikut bergabung untuk menentukan jadwal harian Jayden nantinya. Sebab mereka tidak mungkin akan membicarakan tentang giok itu di perusahaan.


...****************...


Sementara di sisi lain, Austin Cameron sedang melakukan kegiatan sosialnya sebagai seorang Menteri dengan mengunjungi sebuah panti asuhan terbaik yang ada di kota tersebut.


Namun, balik kegiatan social itu Austin secara langsung memilih anak-anak yang akan dia jadikan korban persembahan.


Austin secara khusus memilih 7 anak yang usianya di bawah lima tahun dengan alasan akan menjadikan mereka sebagai penyambut tamu kedutaan luar negeri.


“Persiapan anak-anak yang tadi aku tunjuk! Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemput mereka malam ini juga,” ujar Austin pada kepala panti asuhan tersebut.


“Tentu saja, Tuan Austin! Kami akan memakaikan pakaian yang anda berikan, semoga acara penyambutannya berjalan lancar. Kami juga akan menyuruh salah satu pengurus panti untuk mengatur anak-anak agar tidak membuat masalah selama acara penyambutannya berlangsung.”


Terang Kepala panti yang terlintas sangat antusias, karena dia tidak mengetahui bahwa anak-anak malang itu akan di jadikan sebagai korban persembahan kepada iblis.


“Terima kasih, sudah mau membantu kami untuk acara penyambutan tamu yang sangat penting kali ini,” ucap Austin dengan senyuman palsunya.


“Seharusnya kami dan anak-anak yang berterima kasih kepada Anda, Tuan Austin! Karena berkat donasi dari anda, maka kebutuhan anak-anak menjadi terpenuhi dengan baik,” balas Kepala panti yang menganggap Austin layaknya dewa penyelamat bagi mereka.

__ADS_1


Bersambung, .....



__ADS_2