Rahasia 7 Mata Pedang

Rahasia 7 Mata Pedang
Tidak Bisa Tinggal Diam


__ADS_3

Jiwa mereka saling terikat satu sama lain oleh benang hitam seolah harus terkunci di tempat itu selamanya. Bagaimana tidak ada kepedihan dari tatapan anak-anak tidak bersalah itu.


Mereka di janjikan hal yang membahagiakan, tetapi pada akhirnya meraka malah di jadikan sebagai korban persembahan untuk sang raja iblis.


“A-apa yang telah terjadi di sini?” Kai bahkan sampai tergagap saat mengatakannya.


“Kita sudah benar-benar sangat terlambat,” lirih Ansel dengan lelehan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya.


“Ma-maafkan kami,” ucap Jayden penuh penyesalan, dia bahkan bersujud di hadapan para roh anak-anak yang tidak berdosa itu.


Vernon sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata, dia mengalihkan tatapannya dari pandangan roh anak itu yang menatap mereka penuh kesedihan. Andai saja, dia menyadarinya lebih cepat maka semua ini tidak akan terjadi.


Terlebih lagi, kini mata Vernon menangkan roh rekannya yang di perintahkan untuk mengikuti Edwin. Tangis Vernon semakin pecah, berulang kali dia mengucapkan kata maaf kepada roh rekannya itu karena perintahnya dia harus terbunuh di tempat itu.


Tiba-tiba dua sosok yang terasa tidak asing bagi mereka seketika muncul di hadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan sang Malaikat maut dan Tuan Hades yang datang untuk menjemput roh korban persembahan itu.


Jayden mengabaikan keberadaan dua sosok yang sudah jelas akan melakukan tugasnya. Jayden kembali mengeluarkan pedangnya, dia berniat untuk memutuskan tali yang mengingat anak-anak tidak berdosa itu.


“Lakukanlah, setelah itu kami akan langsung membawa mereka,” titah Tuan Hades dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


“Kalian sudah mengetahui bahwa kejadian ini akan terjadi, bukan?” tanya Jayden tanpa menatap dua mahluk yang ada di depannya itu, dia malah memfokuskan tatapannya pada roh anak-anak yang menatapnya penuh kepedihan.


“Tentu saja, karena tugas kami adalah untuk mengatur orang-orang yang akan meninggalkan dunia,” jawab Tuan Hades dengan tenang.


“Kenapa kalian tidak menyelamatkan mereka!”

__ADS_1


Emosi Jayden tak bisa di kendalikan lagi, dia tanpa sadar membentak Tuan Hades dan Malaikat maut.


Bayangkan saja, baru kemarin dia kehilangan sang Kakek tercinta dan hari ini dia harus menyaksikan anak-anak yang tidak berdosa di jadikan korban persembahan untuk membangkitkan mahluk yang menyebabkan kematian Kakeknya.


“Siapapun tidak bisa mengendalikan umur dan kehidupan yang sudah di takdirkan! Tugas kami hanya mengantarkan jiwa-jiwa yang meninggalkan dunia ini ke tempat yang seharusnya,” terang Malaikat maut berharap Jayden dan kawan-kawannya itu bisa mengerti.


“Kami tidak di ijinkan untuk ikut campur dalam takdir hidup yang di miliki manusia! Kami harap kalian bisa mengerti,” imbuh Tuan Hades.


Jayden dan yang lainnya seketika terdiam begitu mendengar penjelasan Taun Hades dan Malaikat Maut yang memang ada benarnya.


Sembari menghapus sisa air matanya, Jayden lalu perlahan mulai mengayunkan pedangnya yang semakin memiliki aura lebih bersinar dari sebelumnya.


Begitu mata pedang Jayden menyentuh tali yang mengikat roh anak-anak tak berdosa itu, seketika tali itu perlahan mulai menghilang dan roh anak-anak itu terbebas. Jayden perlahan mendekati kumpulan roh anak-anak itu dan berlutut di hadapannya.


“Maafkan, Kakak! Karena datang terlambat, sehingga tidak bisa menyelamatkan kalian! Hiks, … Namun, Kakak berjanji! Kalian akan mendapatkan tempat yang lebih baik di sana dan Kakak akan pastikan kalian mendapatkan keadilan di sini,” ucap Jayden dengan nada penuh kesedihan.


Hal itu sontak membuat Jayden dan teman-temannya semakin menangis terisak karena rasa bersalahnya tidak bisa menyelamatkan mereka.


“Kakak jangan menangis dan merasa bersalah! Seperti yang Kakak katakan kami akan pergi ke tempat yang lebih baik berkat Kakak! Dan kami percaya Kakak akan memberi keadilan untuk kematian kami,"


"Terima kasih banyak sudah datang untuk menyelamatkan kami dan membawa kami ke tempat yang lebih baik,” ucap salah satu roh anak perempuan yang mewakili yang lainnya.


“Tentu, … Hiks! Kakak akan pastikan menghukum mereka semua yang melakukan hal keji ini pada kalian! Hiks, … Berbahagialah di sana,” ujar Jayden di sela isak tangisnya yang semakin terdengar pilu.


Lalu tanpa Jayden sadari ada satu roh seorang pria dewasa mulai bergabung dengan roh anak-anak itu. Kali ini bukan Jayden yang menangis terisak, tetapi Vernon yang seketika bersujud di hadapan roh pria itu.

__ADS_1


“Hiks, … Maafkan aku! Seharusnya aku tidak memintamu untuk mengikuti bajingan itu,” ucap Vernon penuh penyesalan, tapi perkataan itu membuat Jayden dan kedua temannya menjadi sadar bahwa pria itu adalah orang yang di perintahkan untuk mengikuti Edwin sebelumnya.


Roh pria itu menggeleng dan berkata, “Jangan merasa bersalah! Berkat tugas yang anda berikan, kita bisa menemukan jasad anak-anak malang ini! Aku juga tidak menyesalinya, aku malah bersyukur karena berkat pengorbananku jenazah mereka tidak di tinggalkan begitu saja dan akan mendapatkan pemakaman yang layak.”


Tangis Vernon pun semakin pilu, sungguh dia tidak bisa menatap wajah bawahannya lagi. Meski dia tahu bahwa sudah pasti itu adalah pertemuan terakhir mereka. Baik Jayden dan yang lainnya bisa memahami perasaan Vernon saat itu.


“Terima kasih! Jasamu pasti akan selalu di kenang oleh semua orang,” ucap Jayden dengan penuh ketulusan.


Dia memberikan hormat layaknya seorang polisi, di ikuti Kai dan Ansel yang di balas oleh roh pria yang ternyata rekan kerja Vernon itu. Dan dengan terpaksa Vernon pun bangkit dan ikut memberikan hormat ala militer kepolisian pada rekannya yang rela berkorban itu.


“Kami harus membawa mereka pergi sekarang!” ujar Tuan Hades sebelum menghilang bersama roh itu dan di anggukan oleh Jayden dan teman-temannya.


Dalam sekejap mata, Tuan Hades dan Malaikat maut beserta para roh itu menghilang dari tatapan matanya. Vernon dan yang lainnya langsung menghapus sisa air matanya dan bersiap untuk memberikan keadilan pada anak-anak tidak berdosa itu.


“Kita tidak bisa tinggal diam lagi!” ujar Jayden membuka pembicaraan.


“Tentu saja, harga nyawa anak-anak ini dan rekanku harus di bayar dengan malah oleh orang-orang penyembah iblis itu!” sahut Vernon yang segera memanggil bantuan untuk mengurus semua mayat itu termasuk rekannya.


“Mari kita mulai berburu!” seru Ansel.


“Benar! Mereka semua memang bukan manusia tapi iblis yang harus segera di kirim kembali ke neraka,” geram Kai yang tidak tahan lagi dengan semua ini.


“Aku akan mengurus semua mayat anak-anak itu dan akan selalu mengirim informasi yang aku dapatkan setelah melakukan penyelidikan,” ujar Vernon begitu kembali setelah menghubungi anggota kepolisian lainnya.


“Baiklah, kami akan mengurus orang bernama Edwin lebih dulu!” ujar Jayden menegaskan.

__ADS_1


Bersambung, .....



__ADS_2