
“Yaakh, … Mulutmu lemes sekali jadi pria, Kai!” sentak Ansel tidak terima.
“Bagaimana kalau kita mencurinya saja?” celetuk Jayden tiba-tiba hingga berhasil mengalihkan perhatian semua orang padanya.
“Kau ingin kita merampok rumah yang sudah pasti keamanannya sangat ketat, begitu!” seru Vernon tak percaya.
“Benar, sebelum kita mendapatkan semua buktinya! Kita semua yang akan masuk penjara terlebih dahulu, apalagi target perampokan kita adalah orang-orang yang paling berpengaruh,” ujar Kai menambahkan alasannya.
“Apa kau sudah memiliki sebuah rencana, Jay?” tanya Ansel yang menyadari sesuatu.
“Tentu! Bagaimana kalau kita gunakan ini sebagai jalan keluarnya,” jawab Jayden sembari menunjukan sebuah portal yang di buat dengan kekuatan dari pedangnya.
“Woaaah, … Bagaimana bisa kau melakukan hal hebat seperti ini, Jay?” Kai seketika menatap takjub dengan kemampuan terbaru Jayden.
“Aku juga tidak tahu yang pasti ketika aku memikirkan sebuah lokasi, kemudian sedikit menyalurkan aura dalam pedangku maka seketika portal ini muncul begitu saja,” terang Jayden yang segera menutup portalnya, karena tidak dia gunakan saat itu.
“Sejak kapan kau bisa melakukan ini?” tanya Vernon yang masih takjub dengan kemampuan baru Jayden.
“Sejak darahnya menyentuh pedang ini,” jawab Jayden sembari melontarkan pandangannya pada hantu Aira.
“Sebenarnya kau siapa? Kenapa darahmu bisa sangat berpengaruh untuk membangkitkan kekuatan pedang ini?”
Jayden kembali mencecar hantu Aira yang ketika menundukkan pandangannya untuk menghindari tatapan tajam dari Jayden.
“Jay, tenanglah! Mungkin hantu Aira belum siapa untuk menceritakan yang sebenarnya. Kita focus saja untuk menegakan keadilan dari anak-anak yang menjadi korban sekte sesaat itu,” bujuk Ansel berusaha mengalihkan perhatian Jayden pada hantu Aira pada masalah lain.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Vernon yang mulai penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi sejak dia datang ke kediaman Felix.
__ADS_1
“Kau ingin tahu?” ujar Kai yang membuat Vernon semakin di buat penasaran.
“Tentu saja!” sahut Vernon dengan cepat, sedangkan Ansel masih berusaha menenangkan Jayden agar untuk sesaat mereka melupakan tentang siapa sosok hantu Aira yang sebenarnya.
“Semalam para hantu di luar sana menyebut Hantu Aira dan Jayden sebagai Nyonya dan Tuan muda yang Agung. Ketika kami berusaha menuntut penjelasan darinya, dia malah diam dan hanya menunduk seperti itu,” terang Kai dengan berbisik takut Jayden mendengarnya dan malah semakin bertambah kesal.
“Wiih, … Benarkah?” Vernon cukup terkejut.
“Yakh, …Kau pikir aku tidak bisa mendengarnya, meski kau sudah berbisik seperti itu, Hah!” sentak Jayden menatap tajam pada Kai dan Vernon.
“Sudah hentikan! Bukankah kita mau bersiap merampok sekarang. Semakin menundanya, maka akan semakin meluangkan kesempatan untuk para bajingan itu memindahkan informasi yang seharusnya kita dapatkan sekarang!” seru Ansel yang tidak tahan lagi dengan sikap teman-temannya.
“Benar, apa yang di katakan Ansel. Sebaiknya kita memang focus lebih dulu yang lebih penting saat ini.” Vernon segera membenarkan.
“Meski kita menggunakan portal itu untuk langsung ke lokasi dimana mereka menyimpan bukti penggelapan dana yang mereka lakukan! Atau lebih jelasnya keita berhasil para keamanan yang ada di sana, tetapi kita tidak bisa menghindari untuk tidak terlihat di cctv yang ada,” ujar Kai menyadarkan teman-temannya tentang benda penting yang sudah pasti ada di tempat orang-orang kaya.
Tiba-tiba hantu Aira mulai ikut bersuara dan menawarkan sebuah bantuan yang tentunya langsung di sambut dengan baik oleh yang lainnya kecuali Jayden.
“Tidak perlu seisi rumah itu, cukup satu ruangan yang akan kita masuki. Bisakah kau melakukannya?”
Vernon memperjelas tugas hantu Aira dan kembali memastikan kesanggupannya yang langsung di anggukkan kepala oleh sosok hantu Aira.
“Bagus! Bagaimana kalau kita mulai sekarang!” ujar Vernon pada yang lainnya.
“Jayden yang akan membuka portalnya, hantu Aira yang akan menangani cctv. Sedangkan aku dan Kai yang akan masuk rumah itu, sementara Ansel yang akan menerima di sini,” jelas Vernon membagi tugas masing-masing.
“Okay, aku akan membukanya sekarang!” ucap Jayden dan tak lama kemudian kembali muncul portal yang langsung mengarah ke dalam kamar pribadi Austin.
__ADS_1
Tanpa buang waktu, Vernon dan Kai segera melewati portal tersebut. mereka langsung mengarah pada lemari rahasia yang sebelumnya di ceritakan oleh hantu yang mengawasi Austin beberapa jam lalu.
Tanpa melihat isi dokumennya, Vernon langsung saja memasukan semua dokumen yang ada di dalam lemari itu ke dalam tas besar yang dia bawa.
Dan segera melemparkannya kepada Ansel tanpa adanya aba-aba, hingga Ansel cukup terkejut. Beruntung dia bisa menangkapnya dengan cepat.
“Tunggu sebentar! Aku hanya ingin sedikit meretas laptop dan komputernya! Kai, bisa kau hancurkan saja cctv yang mengarah ke tempat ini,” perintah Vernon yang langsung saja di laksanakan oleh Kai tanpa memberi jawaban lagi.
Tanpa buang waktu, Vernon segera menyalakan komputer dan laptop yang terdapat di dalam kamar itu. Dan langsung saja menanamkan sebuah alat peretas yang selalu dia bawa ketika melakukan penyelidikan dalam setiap kasus.
“Sudah selesai! Kita harus berpindah ke tempat lain secepatnya!”
Vernon dan Kai yang langsung keluar dari sana melewati portal yang memang masih terbuka. Setelah itu, mereka berpindah pada ruang kepala sekolah bernama Vicky dan mengambil semua dokumen yang ada. Vernon dan Kai melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan di ruangan pribadi Austin.
Kini akhirnya mereka menemukan bukti untuk menegakkan keadilan atas kematian anak-anak yang tidak berdosa itu. Namun siapa sangka kalau bukan hanya bukti penggelapan dana dan transaksi ilegal yang yang di lakukan oleh orang-orang itu yang mereka dapatkan.
Secara diam-diam Kai ternyata menemukan giok dengan lambang sama seperti milik Tuan Edwin yang sebelumnya Ansel curi. Disaat Jayden dan Ansel sibuk memeriksa dokumen yang mereka dapatkan, sedangkan Vernon sibuk meretas semua yang bisa dia akses.
Sedangkan sosok hantu Aira entah berada di mana setelah itu, sebab dia tidak ingin mengganggu Jayden dan teman-temannya yang tengah sibuk mengumpulkan bukti. Tiba-tiba Kai menunjukan dua giok merah yang dia ambil secara diam-diam.
“Hay, aku tidak sengaja menemukan dua giok ini di ruangan pribadi Austin dan kantor kepala sekolah itu. Bukankah ini giok yang sama dengan milik Tuan Edwin,” ujar Kai sembari meletakan dua giok merah yang sedari tadi di dalam saku jasnya.
“Ouh, … Kau benar! Ternyata mereka dalam komunitas sesat yang sama.” Ansel pun segera mengeluarkan giok yang berhasil dia curi dari Tuan Edwin sebelumnya.
“Eeeh, … Giok ini sepertinya aku pernah melihatnya!” seru Vernon yang merasa sangat tidak asing dengan giok merah tersebut.
Bersambung, ....
__ADS_1