
“Kenapa bisa begitu? Apakah kalian tidak tahu apa yang terjadi? Atau mungkin dia anak atau salah satu anggota keluarga dari pemegang saham terbesar di perusahaan ini?”
Kai semakin menambahkan umpan agar memperoleh hasil yang lebih besar lagi.
“Haish, … Itu tidak mungkin, karena sebelumnya dia dan keluarga juga tinggal di daerah yang sama denganku. Kehidupan dia dan keluarganya bahkan lebih miskin dari kehidupan keluargaku,” ujar salah satu pria yang tiba-tiba ikut bergabung.
“Benarkah? Lalu bagaimana bisa dia mendapatkan posisi Direktur Executive, padahal kalau tidak salah dia baru bekerja di perusahaan ini selama dua tahun?”
Karyawan lain tidak percaya, tapi membuat Kai mendapatkan informasi baru lainnya.
“Benar, di bandingkan dengan Tuan Dylan yang bekerja di sini selama tiga tahun lebih serta banyaknya prestasi yang dia dapatkan. Bukankah ini sangat aneh, jika para pemegang saham malah menunjuk Tuan Edwin sebagai Direktur Executive yang tidak tahu apapun.” Karyawan lainnya ikut penasaran dengan gossip itu.
“Aku sempet mendengar pembicaraan Tuan Edwin dengan seseorang yang mengenakan jubah hitam yang menutupi kepala dan wajahnya sebelum dia di angkat menjadi Direktur,” ujar Pria tadi yang mengakui sebagai mantan tetangga Edwin.
“Ouh, … Apa yang kau dengar saat itu?” tanya Kai semakin memprovokasi.
“Pria berjubah itu mengatakan bahwa jika dia dan keluarganya mau bergabung dengan organisasi mereka, maka kemakmuran dan kebahagiaan akan selalu menjadi milik. Dan anehnya, Tuan Edwin langsung menyetujuinya begitu saja.” Pria tadi kembali melanjutkan ceritanya.
“Lalu apa yang terjadi?” Kai tambah penasaran.
“Setelah itu, aku selalu melihat dia dan seluruh keluarganya keluar tengah malam. Mereka akan kembali ketika hari sudah menjelang pagi, hal itu berlangsung selama seminggu. Kemudian yang lebih mengejutkan, salah satu anaknya tiba-tiba di nyatakan meninggal dunia pada hari ke tujuh itu,” jelas pria itu yang terlihat sangat serius ketika menceritakannya.
“Bahkan alasan kematiannya juga tidak masuk akal!” sambungnya.
“Tidak masuk akal bagaimana? Bisakah kau menceritakannya dengan jelas!” tuntut salah satu karyawan yang lain.
“Coba saja kalian pikir sendiri! Banyak orang yang hari itu, melihat anak itu sedang bermain dalam keadaan sehat. Namun, keesokan harinya malah di nyatakan meninggal dunia hanya karena demam tinggi. Bahkan anak itu sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit apa-pun,” jelas pria itu lagi.
“Apakah tidak melakukan otopsi?” tanya Kai memastikan.
“Katanya pihak keluarga menolak keras melakukan itu,” jawab Pria itu lagi.
“Kemudian, satu minggu setelah itu tiba-tiba Tuan Edwin sudah di angkat sebagai Direktur Executive dan keluarga itu langsung pindah rumah setelah,” sambungnya mengakhiri cerita tersebut.
“Emm, … Pria berjubah? … Pengorbanan … dan karir serta kehidupan yang makmur, …” Kai sedang mencoba menghubungkan inti dari cerita tersebut.
“Aaah, … Benar! Pasti ini ada hubungannya dengan para mayat yang waktu itu di temukan di hutan!” batin Kai berseru saat menyadari sesuatu yang seperti itu ada kaitannya dengan kejadian di hutan.
“Aku harus menemui Ansel dan Jayden untuk membicarakan tentang ini,” ucapnya dalam hati.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu, Ansel yang di suruh untuk menghadap Edwin. Kini sudah duduk saling berhadapan satu sama lain, Ansel ingin sekali keluar dari ruangan itu karena merasa mual melihat aura yang begitu gelap.
“Astaga, bagaimana bisa seorang manusia memiliki aura yang sangat pekat dengan kegelapan,” batin Ansel yang berusaha keras menahannya.
“Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari?” tanya Edwin menyadarkan Ansel dari lamunannya.
“Tidak, Pak!” jawab Ansel sekenanya.
“Apakah kau mengenal Tuan Jayden dengan baik?” Edwin kembali bertanya.
“Bisa di bilang bahwa kami tumbuh bersama sejak kecil,” jawab Ansel lagi dengan santainya.
“Jadi, kau tahu alasan mengapa Tuan Jayden lebih memilih Dylan untuk mengajarinya di bandingkan denganku?”
Edwin mencoba menggunakan Ansel untuk mendekati Jayden, selaku Ceo baru di perusahaannya. Jujur saja, rasa ketakutannya memiliki kehidupan sebagai seorang miskin membuatnya merasa gelisah. Ansel dapat merasakan aura kegelapan yang mengelilingi Edwin semakin besar dan kuat.
“Tunggu, apa yang ada di dalam meja itu?” batin Ansel bertanya-tanya.
Hingga tiba-tiba, dia melihat aura kegelapan lain yang muncul di meja kerja Edwin. Ansel pun segera memutar otaknya agar bisa mendekati meja itu dan melihat apa yang tersimpan di dalamnya.
Pada akhirnya, Ansel menggunakan Jayden untuk mengalihkan perhatian Edwin.
Ansel pun mulai mengarang cerita tutorial cara mendekati Jayden dengan mudah. Sambil bercerita Ansel terus berjalan mengitari meja kerja Edwin.
“Ini, _....”
“Hay, apa menurutmu rencana ini akan berhasil untuk mendekati Tuan muda Jayden?” Pertanyaan Edwin seketika menyadarkan Ansel dari keterkejutannya.
“Ouh, … Tentu saja! Aku bisa menjamin bahwa rencana itu pasti berhasil,” jawab Ansel dengan cepat.
“Aku harus segera mengambilnya,” batin Ansel yang diam-diam mengeluarkan sapu tangannya agar kulitnya tidak langsung bersentuhan dengan giok tersebut.
Dengan mudahnya, Ansel mengambil giok itu dan langsung membalutnya dengan sapu tangan miliknya. Kemudian, dengan santainya Ansel memasukan ke dalam saku jas yang saat itu dia kenakan.
Selesai mengambil apa yang dia inginkan, Ansel pun segera keluar dari ruangan Edwin begitu saja membuat sang pemilik ruangan marah.
“Sorry, aku harus pergi sekarang!” ujar Ansel yang langsung pergi begitu saja.
“Hay, kenapa kau tiba-tiba, _....”
“Tunggu dulu! Kenapa laci mejaku terbuka? Jangan-jangan, _....”
__ADS_1
“Aish, … Sialan! Aku tidak boleh kehilangan giok itu!” umpat Edwin yang langsung berlari mengejar Ansel.
Edwin marah bukan hanya di abaikan saja, tetapi dia juga sangat marah karena giok simbul keanggotan komunitasnya menghilang begitu Ansel memasuki ruangannya. Tentu saja, tidak ada orang lain yang akan Edwin curigai kecuali Ansel.
Alhasil, dia pun langsung mengejar Ansel untuk mendapatkan gioknya kembali.
Tanpa buang waktu, Ansel segera berlari menuju ke ruangan Ceo untuk menemui Jayden.
Tepat di tengah jalan, Ansel tidak sengaja bertabrakan dengan Kai yang juga tujuannya sama yaitu untuk menemui Jayden.
BRAKK, …
“Aduh, ...” Kai mengaduh.
“Sshh, … Sakit sekali!” Sedangkan Ansel meringis kesakitan.
“Hay, Ans! Kau kalau jalan pakai mata ‘dong!” ser Kai sembari memposisikan dirinya untuk berdiri lagi.
“Mana ada orang yang kalau jalan pakai mata, semua orang jalan pakai kaki tahu! Bahkan sapi dan ayam saja jalannya pakai kaki, bukan mata,” balas Ansel.
“Cepat bantu aku berdiri!” perintah Ansel sembari mengulurkan tangannya untuk di tarik Kai.
“Aish, … Menyusahkan saja,” gumam Kai sembari menarik tangan Ansel, hingga dia berdiri dan membersihkan tubuhnya yang sedikit kotor akibat terjatuh tadi.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...