Rahasia 7 Mata Pedang

Rahasia 7 Mata Pedang
Melakukan Penyelidikan


__ADS_3

“Sepertinya komunitas sesat ini bukan hanya melibatkan orang-orang dari kalangan biasa saja, tapi ada beberapa orang dari kalangan atas yang turut serta di dalamnya,” celetuk Ansel mencapai sebuah kesimpulan.


“Sebaiknya kita bahas hal ini nanti! Kalian cepatlah pergi dari tempat ini, karena dalam beberapa menit lagi tim kepolisian akan tiba di tempat ini,” ujar Vernon yang tidak ingin melibatkan Jayden dan kedua temannya karena akan berakhir cukup merepotkan.


“Baiklah, jika terjadi sesuatu segera hubungi kami!”


Jayden pun tidak mau berdebat dan hanya bisa mempercayakan semua mayat anak-anak itu kepada Vernon dan pihak kepolisian. Vernon hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Jayden dan kedua temannya segera kembali ke mobil mereka.


Setibanya di mobil, Jayden dan kedua temannya menatap cukup lama sosok hantu Aira yang belum sadarkan diri. Perlahan tangan Jayden terulur untuk menyentuh tubuh hantu Aira untuk memastikan sesuatu.


Dan benar saja dugaan Jayden, kini dia bisa menyentuh sosok hantu Aira layaknya hantu itu sudah berubah menjadi manusia.


“Ans, _...”


“Kita bicarakan nanti di rumah,” potong Ansel yang teringat dengan perkataan Vernon bahwa pihak kepolisian akan segera tiba di lokasi itu.


“Kau benar! Cepat masuk ke dalam mobil, biar aku yang menyetir,” perintah Kai yang merasa tidak memiliki banyak waktu.


Tanpa buang waktu lagi, Ansel langsung mendorong Jayden untuk sekalian masuk dan duduk di kursi penumpang yang ada di belakang.


Dimana Jayden terpaksa harus duduk berdampingan dengan sosok hantu Aira yang sekan sudah berubah menjadi manusia seperti dirinya. Sedangkan Kai langsung mengambil kemudi dengan Ansel yang duduk di sampingnya.


Benar saja, tak berselang lama setelah mobil Kai memasuki jalan utama yang cukup ramai. Beberapa mobil polisi terlihat memasuki Kawasan Gedung tua itu.


Jayden sempat memperhatikan mobil polisi tersebut dan kemudian tatapannya beralih pada sosok hantu Aira yang masih menutup kedua matanya.


“Siapa kau sebenarnya? Kenapa pedang milikku beraksi dengan aura yang kau miliki,” batin Jayden yang menatap sosok hantu Aira penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Kita gunakan saja kekuasaan yang saat ini kau miliki, Jay!” ujar Ansel membuka pembicaraan.


“Benar, kita sewa beberapa orang yang bisa di percayai untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam!” Kai menambahkan.


“Kita tidak bisa melakukan penyelidikan sendiri mengingat kau baru saja mengambil alih perusahaan!” terang Ansel.


“Tidak! Harus kita sendiri yang menyelidiki dengan komunitas itu. Kita tidak boleh melibatkan manusia biasa dalam hal ini, jika tidak ingin terjadi korban jiwa lagi,” tolak Jayden dengan tegas, sebab dia sadar bahwa bukan manusia biasa melainkan raja iblis dan pasukan iblisnya.


“Jay, apa kau lupa kalau aku juga manusia biasa! Bagaimana bisa kau setega itu melibatkan manusia bias ani dalam pertarungan dengan iblis,” celetuk Kai yang berusaha mencairkan situasi di dalam mobil tersebut yang sedikit terasa begitu tegang.


“Hay, kau tidak sadar diri ‘yah! Bukan Jay yang menarik mu dalam pertarungan ini, tapi kau sendiri yang memaksa masuk ke dalam masalah!” ketus Ansel menatap sahabatnya itu tak percaya.


“Aku bahkan sekarang menjadi ragu, apa kau memang manusia biasa atau malah manusia jadi-jadian!” ejek Ansel dengan sengaja.


“Aish, … Mulutmu itu ingin sekali aku jahit rasanya,” gerutu Kai yang sekilas melontarkan tatapan kesalnya pada sahabatnya itu.


...****************...


“Sudah aku katakan dengan jelas sebelumnya, kau harus melepaskan kasus yang kau tangani dan juga termasuk kasus ini,” bentak Inspektur Chris pada Vernon.


“Tidak akan pernah! Bukankah aku juga sudah menegaskan sebelumnya,” tukas Vernon tanpa rasa takut sedikit.


Dia malah merasa curiga bahwa atasannya itu terlibat dengan komunitas sesat yang membuat rekannya terbunuh dan mengorbankan anak-anak yang tidak bersalah.


“Jika kau memang ingin aku mundur, maka berikan alasan yang jelas seperti yang aku katakan sebelumnya!” imbuh Vernon menekankan setiap kata yang dia ucapkan.


“Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali pada rekanmu yang tewas, karena sikap keras kepalamu itu, Hah!”

__ADS_1


Insepektur Chris kembali membentak Vernon dengan membawa salah satu anak buahnya yang menjadi korban atas perintah Vernon.


“Itu bukan urusan anda! Yang perlu anda ketahui, aku tidak pernah menyesal memberinya perintah untuk membuntuti seseorang sehingga aku bisa menemukan anak-anak yang tidak bersalah malah menjadi korban atas keserakahan sekelompok orang, _...” Vernon tampak menjeda perkataannya.


“Entah mengapa aku malah merasa bahwa anda juga terlibat dalam semua kasus yang sedang saya tangani, terutama kasus pembunuhan anak-anak itu,” lanjut Vernon yang mengatakan itu tepat di telinga atasannya.


Entah mengapa Vernon teringat akan perkataan hantu Aira sebelumnya yang mengatakan bahwa Inspekturnya itu orang yang berbahaya yang diam-diam melakukan sesuatu yang buruk di balik sikap bijaknya selama ini.


Dan melihat reaksinya yang seketika menjadi terdiam, Vernon pun semakin yakin bahwa atasannya itu terlibat dalam setiap kasus yang dia tangani saat ini.


“Sepertinya memang benar anda terlibat, _....”


“Omong kosong! Apa sekarang kau berani melawan pada Atasanmu, Hah!” teriak Inspektur Chris sampai berhasil mengalihkan pandangan orang lain ke arah mereka.


Vernon hanya tersenyum sinis menanggapi teriakan dari atasannya itu. Kini dia benar-benar merasa sudah yakin bahwa alasan Inspektur Chris memaksanya untuk melepas semua kasus yang ada memang ada kaitan dengan atasannya itu.


“Hehehee, … Kita tunggu saja! Siapa yang lebih dulu menyingkirkan siapa dalam kasus ini. Namun yang pasti aku akan memberikan keadilan yang setimpal untuk para korban dan juga rekanku,” bisik Vernon sebelum dia pergi meninggalkan atasannya itu dann bergabung dengan yang lainnya untuk melakukan investigasi.


“Bajingan sialan! Mari kita lihat, siapa yang akan di tendang dari kepolisian!” umpat Inspektur Chris menatap kepergian Vernon dengan penuh rasa dendam.


Namun, Vernon sebenarnya tidak benar-benar melakukan investigasi di san. Karena dia sudah tahu hasilnya akan di kuasai oleh Inspektur Chris.


Sehingga Vernon lebih memilih untuk menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mencari tahu keberadaan Edwin, karena pria itulah yang akan menjadi kunci besar dalam penyelidikan yang akan dia lakukan secara diam-diam.


“Cari tahu dimana keberadaan pria yang bernama Edwin! Tangkap dia dan tahan di tempat yang biasanya,” perintah Vernon melalui sambungan telepon.


“Baik, Tuan!” sahut orang di seberang sana, setelah itu Vernon langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak dan menghela napasnya cukup panjang.

__ADS_1


Bersambung, ......



__ADS_2