
Pada sisi lain, Vernon yang awalnya bertanggung jawab atas penemuan mayat di hutan, kasus pembunuhan Liona dan Jackson tiba-tiba saja di pindah tugaskan oleh atasannya dengan alasan yang tidak jelas dan tidak masuk di akal.
Vernon tentunya tidak akan menerima keputusan dari inspekturnya begitu saja. Vernon tetap bersikeras untuk mempertahankan apa yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan jelas. Atau dia bisa saja menyerah jika mendapat alasan yang masuk akal atas pemindah tugasnya tersebut.
“Pak Inspektur, mengapa anda memindah tugaskan saya begitu saja? Bukankah anda sudah mengetahui bahwa saya ‘lah yang telah menemukan kumpulan mayat di dalam hutan serta kasus pembunuhan Liona dan Jakson,” cecar Vernon yang terus mengikuti atasannya yang bergelar Polisi Jenderal Dua yang bernama Christian Oliver.
“Bukankah aku sudah menjelaskan alasannya! Kau tidak akan bisa menanganinya sendiri, di butuhkan tim khusus untuk melakukan investigasi selanjutnya terlebih ratusan yang kau temukan kebanyakan hanya tersisa tengkoraknya saja,” jelas Inspektur Chris dengan tegasnya.
“Baiklah, jika itu alasannya anda memerintahkan saya melepas tanggung jawab atas kasus penemuan mayat itu. Lalu kenapa anda juga harus memaksa saya untuk melepaskan kasus pembunuhan Liona dan Jakson juga. Bukankah anda tidak memiliki alasan lain lagi?” desak Vernon yang tidak akan pantang menyerah.
“Bukankah sudah sangat jelas alasannya! Kau lalai menjalankan tugasmu, sehingga Jakson terbunuh tepat di depan matamu dan bahkan sampai sekarang kau tidak bisa menemukan identitas pelaku!” seru Inspektur Chris dengan nada tingginya.
“Itu bukan alasan yang tepat untuk anda gunakan, bukan? Karena semua orang juga mengetahuinya bahwa bukan hanya Jakson saja yang di incar saat itu tapi banyak orang yang terlibat. Jadi, anda tidak bisa menggunakan alasan itu untuk memaksa saya melepas tanggung jawab atas kasus pembunuhan Liona dan Jakson.”
Vernon dengan penuh percaya dirinya menimpali perkataan atasannya itu tanpa menunjukan rasa takut sedikitpun. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, Vernon pun memilih pergi meninggalkan atasannya yang terlihat sangat marah kepadanya.
“Sialan! Bajingan bernama Vernon itu memang benar-benar merepotkan. Jika aku lebih mendesaknya, maka dia pasti tidak akan tinggal diam dan melapor pada orang yang posisinya lebih tinggi dariku,” gumam Inspektur Chris yang hanya bisa menatap kepergian Vernon sambil menahan amarahnya.
“Aku harus memikirkan cara lain untuk mengeluarkannya dari kepolisian selamanya,” lanjutnya dengan penuh rasa dendam atas sikap Vernon padanya barusan.
Begitu keluar dari kantor kepolisian tempatnya bertugas, Vernon berjalan masuk ke dalam mobilnya dengan penuh amarah. Beberapa kali dia memukul stir mobilnya sebagai bentuk pelampiasan kemarahannya pada atasan itu.
“Aaakh, …” teriak Vernon melepaskan rasa frustasinya.
“Hay, ada apa? kenapa kau berteriak seperti orang gila saja?” Tiba-tiba sebuah suara dari belakang kursi penumpang mengejutkan dirinya.
“Waaa, … Astaga!”
__ADS_1
Spontan Vernon sedikit menjerit melihat keberadaan hantu Aira yang duduk kursi penumpang di belakangnya.
“Kenapa kau terkejut? Seperti melihat hantu saja,” celetuk hantu Aira yang sesaat tidak sadar akan identitasnya sendiri.
“Kau memang hantu, hanya saja wajahmu tidak menakutkan!” ujar Vernon menyadarkan hantu Aira.
“Hehehee, … Benar juga! Aku hampir lupa bahwa sekarang aku juga hantu,” ucapnya sembari tertawa pelan menyadari kebodohannya sendiri.
Vernon untuk sesaat hampir terpesona dengan senyuman hantu Aira yang terlihat begitu manis di matanya. Namun, Vernon secepatnya menyadarkan dirinya sendiri bahwa saat ini yang sedang dia kagumi adalah sosok hantu yang memang cantik.
“Hay, kenapa kau terus mengikuti? Bukankah saat itu kau menginginkan untuk mengikuti Jayden?” tanya Vernon yang penasaran mengapa hantu Aira muncul lagi di hadapannya, setelah beberapa waktu tidak menampakan dirinya.
Terlihat hantu Aira menggelengkan kepalanya pelan. Lalu berkata, “Aku berubah pikiran! Anak itu sekarang di kelilingi oleh orang-orang yang memiliki aura jahat! Jika aku berada di dekatnya, maka akan semakin membuatnya dalam bahaya.”
“Lalu kenapa kau mendekat padaku? Kau ingin aku yang berada dalam bahaya menggantikan bocah itu, begitu?” protes Vernon yang secara tidak langsung menyimpulkan perkataan hantu Aira seperti itu.
“Pak Inspektur?” gumam Vernon tak percaya bahwa hantu Aira memang sedang menunjuk pada atasannya yang tadi berdebat dengan dirinya.
“Emm, … Orang itu sangat berbahaya! Ada sesuatu yang buruk yang dia lakukan selama ini,” ujar hantu Aira dengan penuh keyakinan.
Ketika Vernon ingin menanyakan lebih jauh lagi tentang perkataan hantu Aira.
Tiba-tiba ponselnya berdering, menampilkan nama anak buah kepercayaannya yang dia perintahkan untuk mengawasi orang yang bernama Edwin sesuai permintaan Jayden.
“Ada apa?” tanya Vernon langsung begitu dia menerima panggilan tersebut.
“Pak, sepertinya ada yang aneh dnegan orang bernama Edwin Wilbert ini! Dia dan istrinya saat ini mendatangi sebuah bangun tua yang ada di pinggiran desa, letaknya cukup jauh dari pemukiman warga,” jelas anak buah Vernon sepelan mungkin, sebab dia masih bersembunyi untuk mengawasi pergerakan sepasang suami istri itu.
__ADS_1
“Aneh seperti apa yang kau bicarakan?” tanya Vernon yang tidak mengerti akan penjelasan anak buahnya itu.
“Tempat itu tidak hanya di datangi oleh Edwin dan istrinya saja, tetapi ada banyak orang-orang berpengaruh yang juga mengunjungi tempat itu, … Mmmmphhh!”
Belum selesai orang itu menjelaskan apa yang terjadi, tiba-tiba dari arah belakang datang beberapa orang yang langsung membekap mulutnya dan menariknya dengan kasar.
Terdengar suara Vernon yang berkali-kali menanyakan keadaannya, tapi ponsel anak buahnya itu malah di injak hingga hancur oleh pelaku yang berhasil menemukan keberadaan Vernon di sana.
“Yakh, … Apa yang terjadi padamu?” teriak Vernon yang terlihat panik.
“Segera lacak posisi dari nomor telepon yang aku kirimkan padamu!”
Vernon segera menghubungi anak buahnya yang lain untuk melacak posisi terakhir nomor yang tadi menghubunginya.
“Baik, Tuan!” sahut orang di seberang sana.
Dan tak perlu membutuhkan waktu lama, orang yang di perintahkan oleh Vernon berhasil mendapatkan posisi dari orang yang memiliki nomor telepon itu. tanpa buang waktu, Vernon segera menyalakan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Tak lama kemudian, ponsel Vernon kembali berdering. Kali ini menampilkan nama Jayden yang berusaha menghubunginya. Vernon segera menggunakan earphone nya dan menerima panggilan tersebut sembari masih focus dengan jalanan yang ada di depannya.
“Vernon, apa kau sudah menemukan sesuatu?” tanya Jayden begitu sambungan telepon itu terhubung.
Jujur saja, Jayden juga tidak suka berbasa-basi kepada orang lain di tambah dengan firasat buruknya yang terus memenuhi hati serta pikirannya.
Bersambung, .....
__ADS_1