
“Dengar, inilah rencanaku! Aku akan mulai mendekatinya secara langsung mulai dari sekarang, tapi aku akan membutuhkan bantuan dari kalian untuk membereskan orang-orang yang mengusik kehidupanku," ujar Luzark
"Bagaimana? apakah kalian ada yang tidak setuju dengan rencanaku?” tanya Luzark membagi tugas yang sesuai dengan keahlian dan kesenangan yang akan di rasakan Lucas dan Lunar nantinya.
“Tentu saja, kami akan melakukannya dengan senang hati,” jawab Lucas yang juga mewakili Lunar untuk menjawabnya di sertai dengan senyum evil mereka.
“Bagus! Dengan menjadikan kalian sebagai dua pembunuh dengan satu wajah akan membuat permainan ini semakin menarik,” ujar Luzark yang ikut mengeluarkan senyum evilnya.
“Bagaimana dengan John Felix? Bukankah Tuan Lucifer sudah memberikan perintah untuk menyingkirkan dia secepatnya?” tanya Lunar pada Luzark yang sekarang menjadi pemimpinnya, karena titah dari Lucifer.
“Tenang saja! Aku sudah mempunyai rencana yang sangat bagus untuk menyingkirkan orang tua menyebalkan itu dan kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat saja,” jelas Luzark dengan penuh keyakinan bahwa rencananya akan berhasil dengan sempurna.
Mendengar Luzark memang sudah mempunyai rencana untuk melaksanakan perintah tuan mereka, Lucas Dan Lunar hanya mematuhi apapun yang diperintahkan oleh Luzark.
Luzark awalnya hanya manusia biasa, bahkan manusia yang bisa di katakan sangat taat pada apa yang di yakini-nya.
Namun, setelah melakukan perjanjian dengan Lucifer hatinya kini sepenuhnya telah berubah menjadi iblis.
Jika ada manusia yang mengusik dirinya, Luzark tidak akan segan untuk membunuhnya dengan keji dan membuang mayatnya begitu saja atau bahkan memberikannya pada binatang buas yang ada di hutan tanpa ada seorang pun yang bisa menangkapnya.
...****************...
Di samping itu, Jayden bersama temannya Ansel dan Kaison sudah berada di dalam kantor polisi. Yaitu tempat yang sama saat mereka di tangkap ketika menerobos masuk ke apartemen milik korban pembunuhan Carol Liona.
Dan sesuai dugaan mereka tidak ada satu petugas pun yang mempercayai perkataan Jayden, tapi mereka tidak menyerah begitu saja.
“Kenapa kalian bertiga datang ke sini lagi?” tanya salah seorang Polisi yang semalam menginterogasi mereka.
“Kami ingin melaporkan sebuah rencana pembunuhan,” jawab Jayden dengan raut wajahnya yang serius.
“Hah? Apa aku tidak salah dengar barusan!” seru Polisi itu yang tidak percaya sama sekali dengan perkataan Jayden.
“Apa kalian berencana membunuh seseorang?” lanjutnya seakan sedang mengejek Jayden dan kedua temannya.
“Sial! Sudah aku duga ini tidak akan pernah berhasil, Jay! Lebih baik kita lakukan saja sendiri,” umpat Kaison yang merasa sangat kesal dengan sikap polisi itu.
__ADS_1
“Tunggu, Kai!” Namun, Ansel segera menahan Kaison yang ingin pergi dari sana.
Jayden terus bersikeras ingin menemui polisi yang bernama Vernon Antonio yang sebelumnya bertanggung jawab menangani kasus pembunuhan Carol Liona.
Tapi sekarang sudah di pindah tugaskan sebagai pemimpin penyelidikan untuk menangkap pembunuhnya. Sehingga Vernon sibuk ke sana kemari hanya untuk mengumpulkan bukti dan dugaan siapa orang yang menjadi pelakunya.
“Kalau anda tidak percaya, kalau begitu aku ingin bertemu dengan polisi yang bernama Vernon Antonio,” ujar Jayden yang juga merasa kesal dengan sikap polisi tersebut, tapi dia berusaha untuk menahan rasa kesalnya.
“Hahahaa, … Dia sedang sibuk dalam penyelidikan, lebih baik kalian bertiga pergi saja dari tempat ini. Kalau ingin bermain sebaiknya cari tempat lain saja sana!” Polisi itu malah mengusir Jayden dan temannya dengan kasar.
“Kau berani mengusirku sekarang?” ujar Jayden yang sudah berada di ambang batas kesabarannya.
“Beritahu dia untuk segera datang ke sini atau aku akan menghubungi Kakek-ku yang datang ke sini. Sekarang juga!” lanjut Jayden dengan penuh penekan, dia pun mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk menelpon Kakek Jhon.
“Jangan membuat masalah di kantor polisi atau kau akan di tahan, karena mengganggu petugas yang sedang bertugas,” ancam polisi itu balik.
“Benarkah? Kalau begitu kita lihat, kekuatan siapa yang akan menang? Posisimu sebagai anggota polisi atau posisiku sebagai cucu satu-satunya dari Jhon Felix?” tantang Jayden dengan penuh percaya diri.
“Kurang ajar,” umpat polisi itu yang tak bisa melawan perkataan Jayden lagi.
“Kau yang harus menghubunginya sendiri,” ujar Jayden dengan tatapan mengintimidasi.
Sebenarnya polisi-polisi itu tidak ingin meladeni ucapan konyol Jayden dan berniat mengusirnya dari kantor polisi, tapi mengingat nama keluarga Felix yang sangat di hormati di daerah itu membuat para polisi itu terpaksa melayani Jayden sesuai dengan keinginannya.
Polisi tersebut akhirnya menghubungi Vernon sesuai permintaan Jayden untuk secepatnya kembali ke kantor, karena memang Vernon sedang menjalankan tugas luar. Dan tak perlu waktu lama Vernon sudah berada di kantor polisi.
“Apa kalian yang sedang mencariku?” tanya Vernon dengan nafas yang masih terengah-engah, karena harus berlari dari tempat parkir sampai di tempat Jayden dan temannya berada.
“Apa kau polisi yang bernama Vernon Antonio?”
Jayden memastikan bahwa dia tidak salah orang, sebab melihat penampilan Vernon yang sepertinya usia mereka tidak jauh berbeda.
“Iya, benar! Ada apa mencariku?” tanya Vernon yang merasa kesal, karena tidak ada jawaban dari Jayden malah bertanya balik kepadanya.
“Begini, ini soal pelaku yang membunuh Carol Liona! Kemungkinan besar akan ada korban selanjutnya! Apakah kau juga tidak mempercayainya?”
__ADS_1
Jayden langsung mengatakan pada intinya yang tentu saja tidak dapat dipercayai oleh Vernon begitu saja.
“Yahh, … Sudah aku katakan pada kalian, bukan? Kalau tempat ini bukanlah taman bermain bagi kalian. Jadi, jangan pernah membuat laporan yang tidak ada buktinya. Apa kalian masih tidak mengerti apa yang aku katakan ini?” bentak Vernon yang merasa kedatangannya ke kantor dengan cepat hanyalah sia-sia saja.
Melihat Vernon yang terlihat tidak mempercayai ucapannya, Jayden menceritakan semua mimpinya yang menjadi kenyataan dan tentang bagaimana Carol Liona mati terbunuh yang menjadi alasan dirinya memasuki lokasi pembunuhan itu padahal sudah sangat jelas terpasang garis polisi.
“Baiklah, tapi apakah kau juga tidak mempercayai tentang ini juga?” ujar Jayden yang seakan ingin menantang penilaian Vernon.
“Apa maksudmu?” tanya Vernon yang tampak bingung dengan perubahan sikap Jayden.
“Carol Liona, waktunya perkiraan kematiannya adalah pukul 8 malam. Meninggal karena kehabisan banyak darah dan beberapa organ vitalnya sudah tidak bisa berfungsi, akibat lima belas luka tusukan yang dia dapatkan dari sang pembunuh,” jelas Jayden.
“Delapan luka tusukan di temukan di bagian perutnya, dua di dadanya, empat di bagian kedua pahanya dan satu di belakang kepalanya,” lanjut Jayden.
“Tidak ada tanda-tanda pembobolan melalui pintu rumah atau pun jendela, tidak ada kemungkinan adanya perampokan dan matinya semua rekaman cctv pada malam itu. Sehingga sampai sekarang kau sendiri tidak bisa memperkirakan pelakunya, bukan?” sambung Jayden.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...
__ADS_1