
Vernon pun akhirnya duduk tepatnya di samping hantu Aira, hingga membuat Vernon merasa bahwa dirinya bersama dengan hantu Aira seperti pasangan yang tengah di sidang oleh keluarga. Apalagi di tambah raut wajah Jayden yang tampak sangat serius menatap keduanya.
“Hay, apa yang terjadi?” tanya Vernon yang semakin tampak kebingungan.
Bukannya menjawab Jayden malah balik bertanya, “Apa kau sudah mengetahuinya sejak awal?”
“Aaa, … Soal itu, aku baru mengetahuinya pagi ini bahwa ketujuh anak perempuan itu berasal dari sebuah sekolah elit yang sama. Begitu juga dengan ketujuh anak yang berusia 7 tahun itu, mereka bersalah dari panti asuhan yang sama,”
“Namun, untuk lebih detailnya aku tidak bisa menemukan kepastian karena kemungkinan besar ada pihak dalam yang mencegah informasi ini di bocorkan pada pihak lain,” terang Vernon yang salah paham dan akhirnya malah menceritakan tentang informasi kasus pembunuhan semalam di Gedung tua itu.
“Bagaimana bisa seperti itu?”
Namun, penjelasan dari Vernon malah berhasil mengalihkan perhatian Jayden dan Ansel begitu juga dengan Kai. Apa yang di katakan Vernon tentunya sebuah kejutan besar bagi mereka yang belum menemuka informasi apapun sejak semalam kecuali munculnya ribuan hantu yang seperti di depan kediaman Felix.
“Aku juga tidak begitu mengetahuinya! Tapi selain itu aku juga berhasil menangkap dan menyekap orang yang saat itu kau perintahkan untuk mengawasinya, _....”
“Kau juga berhasil menangkap Tuan Edwin!” potong Ansel dengan cepat.
“Waah, … Kau memang polisi yang paling hebat yang aku kenal sejauh ini,” puji Kai.
“Hay, bukankah hanya dia saja polisi yang kau kenal sejauh ini?” celetuk Ansel.
“Aish, … Diamlah! Kau membuat pujianku seolah tidak ada artinya lagi,” sentak Kai yang tidak suka Ansel terus mengganggunya seperti ini.
“Hay, Kalian berdua bisa serius tidak!” seru Jayden yang menjadi kesal sendiri akan ulah kedua sahabatnya yang selalu saja menghancurkan suasana.
Sontak, Ansel dan Kai seketika terdiam. Apalagi ketika mereka sudah mengetahui sejak semalam suasana hari Jayden yang tidak bersahabat kepada siapapun.
__ADS_1
Dimana para hantu itu tiba-tiba datang dan menyebutnya sebagai Tuan muda Yang Agung, Jayden berusaha menuntut penjelasan dari hantu Aira tapi malah tidak mendapatkan jawaban apapun.
“Kalau begitu, ayo kita segera pergi kekantor polisi untuk menanyakan siapa saja yang terlibat dalam ritual membangkitkan sosok Luzark itu!” seru Ansel yang sadar harus mengalihkan perhatian Jayden kepada pembicaraan lainnya.
“Tidak! Aku tidak menahannya di sana, tapi di suatu tempat dengan orang-orang yang lebih aku percayai,” terang Vernon yang membuat ketiga sahabat itu kebingungan, begitu juga dengan sosok hantu Aira yang sejak tadi diam.
“Apa maksudmu? Kau menahan seseorang secara ilegal!” tuduh Kai tak percaya.
“Mau bagaimana lagi! Tidak ada yang bisa aku percaya di dalam kantor polisi yang di kenal sebagai penegak keadilan di dunia ini,” jawab Vernon sekenanya seolah dia bukan salah satu polisi.
“Dengar! Dari pengakuan Edwin aku mendapatkan beberapa nama yang terlibat dengan insiden pembangkitan sosok Luzark dengan mengorbankan anak-anak yang tidak berdosa itu. Pertama kepala sekolah dari ketujuh gadis remaja itu, Vicky Leandro. Lalu Menteri Keuangan negara ini yaitu Tuan Austin Cameron,” jelas Vernon.
“APA!”
Sontak, semua yang mendengarnya sangat terkejut begitu mengetahui fakta yang lebih mengejutkan di bandingkan Jayden dan Ayana yang di panggil dengan sebutan Tuan muda dan Nyonya yang agung oleh sekumpulan para hantu yang masih setia menunggu di depan kediaman.
Memang manusia mana yang bisa mempercayai apa yang Vernon katakan. Kepala sekolah yang harusnya melindungi para muridnya, malah menjadikan mereka sebagai korban.
Yang lebih tidak masuk akal adalah seorang Menteri yang di percaya oleh semua orang yang harusnya menjamin kehidupan anak-anak yang di terlantarkan oleh orang tuanya.
Tapi malah menyalahgunakan kekuasaannya dan menjadi anak-anak malang sejak lahir menjadi batu pijakan untuk memperoleh kekuasaan yang lebih banyak lagi.
“Aku tidak yakin, maka dari itu aku datang kesini untuk mengajak kalian bekerja sama dan membuktikannya!” ujar Vernon yang mengutarakan maksud kedatangannya menemui ketiga sahabat itu.
“Apa yang bisa kita lakukan berempat seperti ini!” gumam Kai yang tidak memiliki rencana apapun di otaknya.
“Kita bukan hanya berempat, tapi berlima! Dan kita berlima sudah cukup untuk mencari bukti keterlibatan mereka tentang korban persembahan pada anak-anak itu,” ujar Ansel yang seketika memiliki banyak ide di kepalanya.
__ADS_1
“Jay, lupakan saja dulu tentang Aira yang masih tidak mau mengungkapkan siapa dia sebenarnya dan hubungan yang terjalin di antara kalin berdua!” sambung Ansel yang kini berusaha membujuk Jayden.
“Kita membutuhkan bantuan para hantu di luar sana untuk menemukan buktinya. Bukankah kita semua sudah berjanji akan memberikan keadilan atas kematian mereka,” imbuh Ansel mengatasnamakan anak-anak yang menjadi korban persembahan pada malam itu.
“Baiklah, apa rencanamu sebenarnya!” Jayden akhirnya menyerah, apalagi kalau nama anak-anak malang itu juga terlibat di dalamnya.
Tanpa buang waktu lagi, Ansel pun mengutarakan rencananya. Dimana mereka akan menempatkan beberapa hantu yang masih berada di depan kediaman Felix untuk mengikuti nama-nama orang yang disebutkan oleh Edwin.
Semua orang pun setuju akan rencana tersebut, hingga tanpa buang waktu sosok hantu Aira segera memerintahkan para hantu untuk segera melakukan pekerjaannya.
Dalam hitungan beberapa jam, ada beberapa hantu yang datang melaporkan kepada mereka tentang hasil pengawasan mereka.
Dan benar saja, kekuasaan dan kekayaan orang-orang tersebut bukan berasal hasil kerja kerasnya sendiri melainkan hak orang lain yang mereka rampas secara diam-diam. Namun, Jayden masih merasa tidak tenang karena hanya informasi saja yang mereka dapatkan bukan buktinya.
“Kita sudah sudah mengetahui informasi yang kita perlukan untuk mengungkap kejahatan mereka, tapi tidak adanya bukti secara nyata maka semua ini hanya akan berakhir sebagai omong kosong,” ujar Vernon yang sudah tida sabar untuk menjebloskan para koruptor itu.
“Kau seorang polisi bagaimana kau tidak bisa mengeluarkan surat penggeledahan!” seru Ansel yang terus mendesak Vernon untuk menggunakan statusnya.
“Sudah aku katakan sejak awal! Bahwa salah satu atasanku kemungkinan besar juga terlibat dalam pembunuhan anak-anak itu. Bukannya mendapat surat penggeladahan yang ada posisiku semakin terdepak dari kepolisian,” terang Vernon sedikit meninggikan suaranya.
“Bukan hanya suarat penggeledahan yang tidak bisa aku keluarkan, bahkan aku tidak bisa menggunakan borgol untuk menangkap mereka di masa depan jika bersikap gegabah seperti yang kau ajarkan,” sambungnya kesal.
“Jangan dengarkan lagi! Ajaran Ansel memang kadang menyesatkan,” gumam Kai dengan santainya menanggapi perdebatan Vernon dan Ansel sejak tadi.
Bersambung, ....
__ADS_1