
“Hantu itu membantumu?” tanya Kai dengan tatapan tidak percaya pada hantu Aira, begitu juga dengan Jayden dan Ansel.
“Benar! Hantu Aira membantu kami semua untuk mengindetifikasi semua mayat itu dengan ingatannya sebagai hantu selama hampir 25 tahun!” Vernon membenarkan.
“Jadi, kau meninggal dunia saat kami baru saja lahir ke dunia ini?” cecar Kai dengan tatapan tidak percaya pada sosok hantu Aira itu.
“Bisa di bilang begitu,” sahut hantu Aira yang tatapan terus terfokuskan pada Jayden.
“Lalu pada usia berapa kau meninggal dunia saat itu? Dan apa yang menjadi penyebab dari kematianmu? Apakah sama seperti para yang kami temukan?”
Kai kembali mencecar hantu Aira dengan berbagai pertanyaan tanpa menyaring pertanyaan itu lebih dulu. Sementara Jayden, Ansel dan Vernon hanya diam menunggu jawaban dari hantu Aira.
Jujur saja, mereka juga merasa penasaran dengan asal usul hantu itu yang tiba-tiba saja mendekati mereka dan membantu dalam segala hal.
“Bisa di katakan nasibku sama seperti para gadis itu, tapi bisa di katakan juga aku lebih beruntung dari mereka. Aku mati karena kehabisan darah pada saat usiaku baru menginjak 17 tahun,” jelas hantu Aira yang terlihat memaksakan diri untuk tersenyum.
“Apa kau juga di jadikan sebagai persembahan untuk sang iblis?” tanya Ansel kembali memastikan tebakannya.
“Ya, bisa di bilang seperti itu,” jawab hantu Aira.
“Lalu kenapa kau tidak ikut pergi bersama para gadis lainnya?” tanya Jayden yang masih penasaran akan hal itu.
“Tubuhku belum kalian temukan? Karena itulah aku tidak bisa ikut pergi bersama mereka, walaupun sangat ingin pergi dari dunia ini,” jawab hantu Aira yang membuat keempat bocah itu terkejut ketika mendengarnya.
“Jangan katakan kalau tubuhmu yang seharusnya dalam peti mati waktu itu?” tanya Ansel memastikan, sebab sampai sekarang dia masih jelas mengingat pada peti mati yang hias dengan bunga yang terlihat masih segar.
“Benar!” jawab hantu Aira lirih.
“Tapi bukankah diriku tidak penting sekarang? Bukankah kalian datang ke sini karena ada urusan yang penting yang perlu di bicarakan dengan Vernon?” sambungnya yang segera mengalihkan pembicaraan.
“Apa sedang mengalihkan perhatian kami? Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari kami? Dan apa tujuanmu mendekati kami?” cecar Jayden dengan tatapan dingin pada hantu Aira.
“A-aku hanya ingin membantu kalian saja! Sungguh!” ujar hantu Aira yang tertunduk sedih ketika melihat tatapan dingin Jayden padanya.
“Jay, sebaiknya biarkan saja dia selama keberadaannya tidak melukai siapapun!”
Vernon memberikan saran agar Jayden, Kai dan Ansel tidak mempermasalahkan keberadaan hantu Aira selama hantu Aira juga tidak melakukan apapun yang merugikan mereka.
__ADS_1
Jayden pun hanya menatap dingin pada sosok hantu Aira, sedangkan Kai dan Ansel hanya menatapnya sekilas.
“Baiklah, terserah kau saja! Asalkan dia jangan mengikuti ku,” ujar Kai.
“Terserah kalian saja!” Vernon tak peduli.
“Lalu ada apa kalian mencariku?” tanya Vernon yang menyadari bahwa tidak mungkin kedatangan Jayden dan kedua temannya itu hanya untuk bermain-main saja di kantor polisi atau sekadar mengganggunya.
“Kami bertiga mendapat petunjuk lagi saat bermimpi!” seru Kai dengan penuh antusias.
“Bukan hanya Jayden yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi, tapi kalian berdua juga?” tanya Vernon dengan tatapan tidak percaya pada Kai dan Ansel.
“Benar! Entah apa yang terjadi, tapi mereka berdua juga ikut terseret di dalam mimpiku,” jawab Jayden membenarkan apa yang di katakan Kai.
“Duduklah, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang cukup panjang,” ujar Vernon yang mempersilahkan Jayden dan kedua temannya untuk duduk di kursi yang ada.
Setelah itu, Vernon keluar sebentar untuk menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengantarkan minuman dan camilan yang mereka miliki di dapur kantor polisi itu.
Tak lama kemudian, anak buahnya muncul dengan membawa nampan berisi empat cangkir kopi hitam dan sepiring kue kering.
“Letakkan saja di sini, setelah itu kau boleh kembali melakukan pekerjaanmu,” perintah Vernon pada anak buahnya.
Selepas kepergian anak buahnya itu, Vernon yang memang masih sangat mengantuk akhirnya meminum sedikit kopi yang masih sedikit panas itu agar rasa kantuknya bisa berkurang.
Jayden, KaI dan Ansel yang sejak kecil tidak pernah minum kopi seperti itu hanya diam memperhatikan Vernon saja.
“Kalian tidak minum kopinya? Atau kalian memang tidak menyukai kopi seperti ini?” tanya Vernon yang menyadari reaksi ketiga bocah itu.
“Tidak! Kami tidak biasa meminum yang seperti itu,” jelas Kai.
“Mau aku buatkan minuman yang lain?” Vernon mencoba menawarkan.
“Tidak perlu! Aku akan langsung saja menceritakan apa yang kami mimpikan semalam.”
Jayden menolaknya secara halus dan segera menceritakan apa yang mereka alami dalam mimpinya semalam.
Tentu saja di bantu oleh Kai dan Ansel yang ikut menjelaskan apa yang terjadi. Sedangkan Vernon dan hantu Aira terus mendengarkan dengan seksama atas mimpi yang di alami ketiga pemuda itu.
__ADS_1
“Jadi, mereka masih menargetkan Arsuga Lee?” gumam Vernon yang menyimpulkan cerita Jayden dan kedua temannya itu.
“Sepertinya tidak sesederhana itu! Ada banyak makna yang tersirat dari perkataannya terutamanya yang di tunjukan oleh Jayden,” ujar hantu Aira yang ikut menyarakan pendapatnya setelah mendengar cerita ketiga bocah itu.
“Benar! Apa yang di katakan oleh hantu Aira memang ada benarnya! Kita tidak boleh gegabah seperti yang sebelumnya! Kita harus menghentikan agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan lagi seperti dalam kasusnya Jackson kemarin,” ujar Ansel yang sependapat dengan hantu Aira.
“Apa kau tahu dimana jalan yang ada di dalam mimpi kalian itu?” tanya Vernon yang menanyakan lokasinya sembari mempertimbangkan apa yang Ansel dan hantu Aira katakan.
“Sepertinya aku mengetahui dimana lokasi jalan ittu,” ujar Jayden.
“Benarkah? Bukankah itu dua jalan yang berbeda?” tanya Kai yang penasaran.
“Tidak! Jalan itu hanya ada satu jalur yaitu jalan yang melintahi hutan tempat kita menemukan mayat para gadis malang itu,” jelas Jayden yang kini teringat dengan jalan yang pernah di laluinya itu.
Kenapa harus hutan itu lagi, bahkan penyelidikan TKP di hutan itu juga belum selesai,” ujar Vernon.
“Kau benar, Jay! Itu satu jalan dan mengapa jalan yang sepi itu tiba-tiba ramai, karena banyak orang atau wartawan yang ingin membahas soal penemuan mayat itu.”
Ansel langsung berhasil menangkap benang merahnya dari teka teki dalam mimpi mereka semalam. Disisi lain, Kai diam-diam juga mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Begitu juga dengan rumah di tengah hutan itu!” seru Kai yang membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...