Rahasia 7 Mata Pedang

Rahasia 7 Mata Pedang
Melakukan Penyelidikan


__ADS_3

“Kalau wanita cantik aku sangat jelas melihatnya,” imbuh Kai yang malah mengajak bercanda atau mungkin berkelahi.


“Astaga! Apakah hanya itu yang selalu ada di dalam pikiranmu, Kai?”


Jayden hanya bisa tepuk jidat dengan kelakuan Kai yang tidak berubah sama sekali.


“Hehehee, … Tentu saja tidak! Lagi pula pertanyaanmu tidak jelas, bagaimana kami bisa tahu yang yang sedang kau tanyakan,” kilah Kai dengan santainya.


“Benar, aku juga tidak mengerti apa yang tadi kau tanyakan? Maksudmu melihat apa?” Kali ini Ansel mendukung perkataan Kai.


“Yang aku tanyakan adalah tentang aura kegelapan yang menyelimuti Tuan Edwin. Apakah kalian juga melihatnya?” Jayden memperjelas pertanyaan.


“Tentu saja! Aura itu begitu gelap dan pekat, bagaimana aku tidak melihatnya!” seru Kai langsung menjawabnya.


“Benar, aku juga melihatnya!” Jawaban Ansel juga sama.


Jayden sejenak terdiam sembari memikirkan sesuatu. Lalu berkata, “Dengan melihat dari dari omong kosong yang selalu dia katakan, sepertinya dia mendapatkan posisi Direktur Executive dengan cara yang tidak benar!”


“Bisakah kalian berdua menyelidikinya secara diam-diam?” sambung Jayden yang meminta Kai dan Ansel melakukan penyelidikan.


“Lalu bagaimana denganmu?”


Kai tidak lupa menanyakan apa yang akan Jayden lakukan jika dia melakukan penyelidikan itu.


“Tentu saja bekerja, kau akan tahu nanti bagaimana sibuk dan stresnya menjadi seorang pemimpin dari perusahaan sebesar ini,” jelas Jayden berharap Kai bisa mengerti.


“Jay, apa kau yakin bahwa orang bernama Edwin itu ada hubungannya dengan Lucifer?” tanya Ansel yang merasa ragu.


“Aku juga tidak tahu, maka dari itu kita harus melakukan penyelidikan ini dengan hati-hati. Apalagi mengingat para orang-orang yang berpengaruh yang memiliki aura kegelapan itu,” ujar Jayden.


“Baiklah, kami akan melakukannya!” sahut Kai yang akhirnya setuju.


“Emm, … Aku juga setuju!” imbuh Ansel.


“Selain itu, _....”


Tok, … Tok, … Tok, ….


Perkataan Jayden terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jayden pun menyuruh Kai untuk membukanya.


Begitu pintu terbuka, ketiganya pun terkejut melihat kedatangan Dylan yang kali ini membawa setumpuk dokumen di tangannya. Belum lagi, ada satu karyawan lagi yang juga membawa setumpuk dokumen itu.

__ADS_1


Dylan segera meletakkan semua dokumen itu di atas meja kerja Jayden, di ikuti oleh Karyawan yang satunya. Kemudian, Dylan terlihat sibuk memilah dokumen dan membaginya menjadi beberapa kelompok.


“Wow, … Jadi, inilah maksud perkataan Jayden tadi?” gumam Kai dengan tatapan tak percaya.


“Sepertinya begitu,” sahut Ansel.


“Apa kau yakin Jayden bisa menanganinya dengan baik?” Kai menanyakan pendapat Ansel yang berdiri tepat di sebelahnya.


“Aku tidak yakin, bocah yang selalu tidur setiap kelas sedang berlangsung bisa menyelesaikan semua dokumen itu dalam waktu singkat,” ujar Ansel yang teringat kelakuan Jayden ketika mereka berada di kampus.


“Aish, … Kalian bisa diam tidak!” tuka Jayden yang tidak suka mendengar kejelekannya sendiri.


Sontak saja, Dylan dan karyawan satunya diam-diam menertawakannya. Bagaimana bisa Pengawal dan Sekretarisnya malah bicara tentang kejelekan dari Ceonya sendiri langsung di depan orangnya seperti yang di lakukan oleh Kai dan Ansel. Mungkin dalam sejarah duania kerja hanya Ansel dan Kai yang sanggup melakukan hal itu.


“Tuan, bisakah kita mulai sekarang?” Dylan menanyakan kesiapan Jayden untuk memulai pekerjaannya.


“Tentu,” jawab Jayden yang langsung mendekat pada Dylan.


“Silahkan anda duduk di tempat anda.”


Dylan mempersilahkan Jayden untuk menduduki kursi Ceo dan Jayden hanya menurut. Sedangkan dirinya mengambil tempat duduk lain.


Dan memposisikan dirinya duduk di samping Jayden agar mempermudah dirinya menjelaskan semua terkait dokumen di hadapannya itu.


“Ouh, … Baiklah!” sahut Kai dan Ansel bersamaan.


“Jay, Fighting!” seru Kai kepada Jayden sebelum dia meninggalkan ruangan Ceo.


Sepeninggal Kai dan yang lainnya, Dylan langsung saja menyerahkan setumpuk dokumen pertama.


Tidak lupa Dylan menjelaskan secara singkat isi di dalamnya serta betapa penting dokumen itu, sedangkan Jayden mendengarkan sambil memeriksanya secara langsung.


Sementara itu, Kai yang masih belum memiliki pekerjaan karena ini merupakan hari pertama Jayden memimpin perusahaan. Kai pun hanya di ajak berkenalan secara langsung kepada para karyawan yang lainnya.


Awalnya Ansel juga begitu, tetapi tiba-tiba Ansel malah di suruh untuk menghadap Edwin. Meski merasa sedikit kesal, namun Ansel tidak lupa memanfaat kesempatan itu untuk menyelidiki Edwin secara langsung.


“Karena ini hari pertama Tuan Jayden mengambil alih, maka tidak ada yang bisa kalian berdua lakukan sekarang! Sebaiknya gunakan kesempatan ini untuk mengenal karyawan senior lainnya di sini,” ujar Zea pada Kai dan Ansel.


“Baiklah, perusahaan ini memang yang terbaik bahkan karyawannya juga cantik-cantik!” ujar Kai yang secara tidak langsung juga menggoda Zea hingga tersipu malu.


“Ma-maaf, Nona Zea! Tapi Tuan Ansel di minta untuk ke ruangan Tuan Edwin sekarang juga!” Tiba-tiba datang seorang karyawan pria yang menyampaikan perintah itu.

__ADS_1


“Baiklah! Tolong tunjukan ruangan Tuan Edwin padanya,” pinta Zea.


“Tuan Ansel, silahkan ikuti dia!” ujar Zea yang beralih pada Ansel.


“Emm, … Baiklah!” sahut Ansel yang tidak bisa menolaknya.


Kemudian, Ansel langsung mengikuti karyawan pria itu menuju ke ruangan Direktur Executive. Sedangkan Kai mengikuti Zea untuk memperkenalkan dirinya secara pribadi.


Mengingat kepribadian Kai yang ceria dan mudah bergaul, dia pun dengan mudah dekat dengan semua karyawan di sana.


Hingga secara tidak langsung, Kai memulai penyelidikannya dengan bergosip ria. Manusia jaman sekarang kalau tidak ada gossip, maka dunia akan merasa hampa. Kai hanya satu kali umpan untuk memulai bergosip, siapa sangka hasilnya di luar dugaannya.


“Emm, … Kakak-kakak senior yang cantik! Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Kai yang berpura-pura minta ijin dulu sebelum bertanya, itu adalah rencana pertamanya.


“Tentu, silahkan tanyakan apapun pada kami! Jika kami masih bisa menjawabnya, maka kami akan menjawabnya,” jawab salah satu karyawan cantik itu.


“Begini aku hanya merasa heran! Mengapa bukan Taun Edwin selaku Direktur Executive di perusahaan ini yang mengenalkan perusahaan ini pada Ceo baru kita, tapi malah Tuan Dylan yang melakukannya? Seolah dia tidak pernah melakukan pekerjaannya dengan baik,” ujar Kai dengan nada berbisik.


“Hay, mendekatlah!” perintah salah satu senior di sana dan Kai langsung melakukannya.


“Ini hanya untuk pengetahuan mu saja, mengerti?” sambungnya.


“Emm, … Memang apa yang terjadi?” tanya Kai yang sudah sangat penasaran.


“Sebenarnya kami semua juga merasa heran, mengapa orang tua dungu seperti Tuan Edwin yang terpilih sebagai Direktur Executive oleh para pemegang saham dan bukan Tuan Dylan,” ujar sang Senior.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2