
“Haaah, … Sepertinya aku harus menyuruh seseorang untuk membereskan pengurus panti yang akan menemani anak-anak ini! menyusahkan saja,” batin Austin menggerutu, tapi wajahnya tersenyum menanggapi perkataan sang kepala panti.
“Jika anda tidak berdonasi di panti asuhan kami, maka anak-anak pasti akan terlantar di jalanan! Terima kasih banyak semua ini berkat anda, Tuan Austin!” ucap Kepala Panti dengan setulus hatinya.
“Jangan sungkan, jika perlu sesuatu segera hubungi Sekertarisku saja!” ujar Austin dengan topengnya yang sempurnanya.
“Terima kasih, Tuan Austin!” ucap Kepala Panti.
“Tentu saja aku harus berdonasi di tempat ini, karena tempat ini juga yang akan menyediakan korban persembahan yang aku butuhkan!” batin Austin dengan niat busuknya.
...****************...
Dengan tujuan yang sama, tapi di tempat yang berbeda lebih tepatnya di sebuah sekolahan ternama yang di pimpin oleh Vicky Leandro. Seperti yang di lakukan Austin, Vicky juga memilih beberapa muridnya sebagai korban persembahan.
Karena persyaratan tujuh gadis yang harus Vicky persiapkan adalah gadis yang masih perawan, maka dia dengan sangat berhati-hati untuk memilihnya. Vicky memilih beberapa siswi yang di kenal baik dan pendiam di sekolah tempatnya memimpin.
Dengan alasan adanya kelas tambahan untuk persiapan lomba antar sekolah internasional, Vicky berhasil memastikan ketujuh siswi tersebut untuk belajar sampai jam delapan malam.
“Aku sudah memilih ke tujuh persembahannya! Tugas kalian hanya perlu menculik dan membawanya ke lokasi ritual akan di laksanakan!” ujar Vicky pada seseorang melalui sambungan telepon.
“Benar, lakukan sesuai apa yang telah kita rencanakan!” lanjutnya.
“Emm, … Sampai bertemu nanti malam saat ritual!” Vicky mengakhiri penggilan tersebut.
“Kalian adalah batu pijakanku untuk meraih kekayaan dan kekuasaan yang aku inginkan selama ini! belajarlah yang rajin, setelah itu jadilah persembahan yang baik,” gumam Vicky dengan seringainya.
Vicky kembali menatap ke dalam kelas yang terdiri dari tujuh siswi terbaik pilihannya itu. Sebuah seringai jahat muncul di sudut bibirnya. Setelah itu dia berjalan kembali ke ruangannya sembari bersenandung ria membayangkan jika ritual persembahan ini berhasil maka dia akan memperoleh lebih banyak lagi kekayaan dan kekuasaan.
...****************...
Beralih pada Jayden yang kini hanya bersama dengan kedua sahabatnya yaitu Kai dan Ansel, setelah cukup lama dia mendiskusikan masalah perusahaan Dylan.
__ADS_1
Awalnya Jayden ingin mempertanyakan soal giok yang berhasil Ansel curi dari Edwin ketika mereka sudah berada di rumah nanti. Namun, setelah makan siang Jayden langsung membuka pembicaraan terkait masalah giok tersebut dengan kedua sahabatnya.
“Ansel, apa kau mencuri ini karena kau melihat aura yang ada di dalamnya?” Jayden mengeluarkan giok merah yang sempat dia sembunyikan di balik saku jasnya.
“Tentu saja, karena aura kegelapan di dalam giok itu yang terus menarik ku untuk mencurinya!” terang Ansel yang secara langsung mengakui dirinya sebagai pencurinya.
“Kau memang sudah ahli dalam hal mencuri seperti ini, Ans!” goda Kai di sertai kekehan kecilnya.
“Berisik kau! Lalu kau sendiri apa yang kau dapatkan dari penyelidikanmu,” ketus Ansel yang menatap Kai dengan kesal.
“Benar, aku hampir lupa mengatakan ini!” Kai berubah menjadi sangat antusias.
“Aku mendengar sendiri dari salah satu karyawan yang dulu sempat menjadi tetangga dari Tuan Edwin sebelum menjawab sebagai Direktur Utama di perusahaanmu.” Kai mulai bercerita.
“Katanya sebelum seorang pria mendatangi Tuan Edwin untuk bergabung dalam sebuah komunitas yang misterius. Kehidupan Tuan Edwin sangat miskin bersama istri dan beberapa anaknya,"
"Namun, setelah, Tuan Edwin dan istrinya bergabung dalam komunitas tersebut secara tiba-tiba anak-anaknya mati mengenaskan, tapi Tuan Edwin dan istrinya itu malah tidak mengijinkan untuk melakukan otopsi penyebab kematian anak-anaknya,” terang Kai sesuai dengan apa yang dia dengar sebelumnya.
“Bagaimana menurutmu, Ans?”
Setelah mendengar informasi yang di dapatkan oleh Kai, Jayden langsung meminta pendapat Ansel terkait informasi dan giok merah tersebut.
Ketiganya tampak sangat serius membicarakan tentang hubungan kekayaan Edwin dengan adanya giok merah yang terlihat sangat penting bagi Edwin sampai menerobos masuk ke ruangan atasannya.
“Sepertinya giok merah ini ada hubungannya dengan komunitas tersebut,” ujar Ansel hanya sebagai kesimpulan darinya saja.
“Benar, bisa jadi giok merah ini sebagai kunci keanggotan dalam komunitas itu!” seru Kai sekenanya, tapi berhasil membuat Jayden memikirkan kemungkinan yang ada.
“Kalian berdua benar, terutama perkataanmu Kai! Giok merah ini bisa jadi sebagai bentuk keanggotaan komunitas tersebut. Tuan Edwin pasti akan mendatangi komunitasnya untuk membuat pengakuan bahwa dia telah menghilangkan giok merahnya,” ujar Jayden yang terlintas sebuah gambaran jelas di otaknya.
“Jadi, …”
__ADS_1
“Jadi, kita harus menempatkan seseorang untuk mengawasi gerak- geriknya!” Ansel yang menjawab.
“Benar, aku akan menghubungi Vernon terkait masalah ini! Karena aku yakin komunitas tersebut berkaitan dengan Lucifer. Sebab tidak aka nada orang yang kaya secara instan tanpa usaha sedikitpun, di tambah dengan adanya korban meninggal di keluarganya,” terang Jayden mencapai kesimpulan dari pembicaraan mereka.
“Itu keputusan yang bagus, Jay! Apalagi mengingat saat itu kau berhasil melukai Suga atau Luzark, entahlah siapapun nama aslinya yang pasti mereka pasti akan melakukan sesuatu untuk menyembuhkan lukanya itu.” Ansel sangat menyetujui rencana Jayden.
“Jika dia kembali pulih, maka kita yang akan kesusahan sendiri untuk melawannya lagi,” tambah Kai.
“Aku sudah mengirimkan informasi tentang Tuan Edwin pada Vernon agar salah satu anak buahnya mengawasinya! Jadi, mari kita tunggu apa yang akan kita dapatkan kali ini,” ujar Jayden lagi.
Waktu pun dengan cepatnya berlalu, sinar matahari kini sudah di gantikan dengan cahaya rembulan. Tepat pukul 8 malam, Jayden dan kedua sahabatnya akhirnya bisa kembali pulang untuk beristirahat.
Namun, ketika dalam perjalanan pulang Jayden tidak sengaja melihat bulan yang tampak begitu sempurna pada malam itu. Dan anehnya membuat perasaan Jayden merasa tidak nyaman ketika melihatnya.
“Ada apa, Jay?” tanya Kai sembari focus menyetir.
“Tidak apa-apa! Hanya saja bulannya terasa begitu indah, tapi ketika aku melihatnya perasaanku menjadi buruk!” jawab Jayden dengan jujur.
“Aku dengar malam ini akan terjadi gerhana bulan penuh! Sepertinya itu benar melihat betapa sempurnanya bentuk bulan saat ini,” celetuk Ansel sembari memainkan ponselnya.
“Gerhana bulan?” ujar Jayden yang semakin merasakan firasat buruknya.
“Emm, … Bahkan gerhana bulan sempurna!” Ansel kembali membenarkannya.
“Tunggu dulu!”
Tiba-tiba ketiganya mulai menyadari ada sesuatu yang aneh, Ansel dan Jayden seketika saling melontarkan pandangannya begitu juga dengan Kai yang langsung terdiam. Mereka mulai tersadar bahwa gerhana bulan bisa membuat kekuatan Lucifer menjadi berlipat ganda di banding sebelumnya.
Bersambung, ......
__ADS_1