
“Yaa, … Datanglah ke lokasi yang aku kirimkan padamu! Anak buahku sepertinya dalam masalah ketika mengikuti orang yang kau curigai itu,” terang Vernon yang terdengar sangat serius ketika mengatakannya.
“Baiklah! Kita akan bertemu di sana!” ujar Jayden yang semakin yakin akan firasat buruknya.
Setelah itu, keduanya pun langsung memutuskan sambungan teleponnya masing-masing. Vernon semakin menambahkan kecepatan laju mobilnya dan bahkan kini hantu Aira sudah duduk di kursi penumpang di sampingnya.
Sementara, Jayden segera menyuruh Kai untuk secepatnya pergi menuju lokasi yang di kirimkan Vernon kepadanya.
...****************...
Di tempat lain, tepatnya di sebuah bangun yang berada di pinggiran desa. Terlihat beberapa orang dengan berpakaian mewah mulai memasuki bangunan tersebut. Jika yang terlihat dari luar adalah sebuah bangunan tua, maka berbeda ketika memasuki di dalamnya. Dimana bangunan itu di penuhi oleh cahaya lilin yang berjumlah ratusan.
Di antara cahaya lilin yang nampak sangat indah itu terdapat sebuah peti mati yang berukiran emas. Siapa sangka di dalam peti tersebut terlihat seseorang tengah berbaring di dalamnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Siapa lagi kalau bukan sosok Luzark yang akan mereka bangkitkan kembali dari kematian.
Tepat di atas peti mati itu terlihat sebuah cawan besar yang terbuat dari emas.
Sedangkan lantai sekitar peti tersebut terdapat beberapa mantra aneh yang sepertinya di tuliskan dengan menggunakan darah manusia.
Meski pakaian yang mereka kenakan sangat mewah, tetapi mereka tetap mengenakan sebuah jubah besar yang berhasil menutupi wajah penggunanya. Semua atribut ritual tersebut serba berwarna merah darah, bahkan ratusan lilin yang ada di sana.
Semua orang langsung berkumpul mengelilingi peti mati tersebut, begitu mendengar suara lonceng yang di bunyikan sebanyak tujuh kali. Pertanda bahwa bulan purnama akan segera tiba dan ritual pembangkitan Luzark akan segera di mulai.
“Bawa persembahannya!” perintah seorang pria yang kini berdiri tepat di depan cawan emas di atas peti masti tersebut.
Tanpa ada jawaban beberapa orang berjalan masuk dengan menyeret korban persembahkan yang memang sudah di persiapkan sejak awal.
__ADS_1
Tujuh gadis perawan yang di janjikan mengikuti sebuah kejuaraan internasional, malah harus menjadi korban persembahan oleh kepala sekolahnya sendiri.
Tujuh anak panti asuhan yang berharap mendapat perlindungan dari sosok sang pemimpin tempat kelahirannya malah harus terpaksa menerima kenyataan mereka harus di jadikan batu loncatan demi meraih kekayaan dan kekuasaan.
Terlihat jelas ketakutan dan kesedihan melalui air mata yang meleleh deras, ketika para orang berjubah itu menempatkan mereka di tengah altar ritual. Namun, tidak ada satu pun yang peduli akan rasa takut dan pemintaan tolong dari anak-anak malang itu.
Bertepatan dengan di mulainya gerhana bulan, dinginnya mata pisau perlahan mengoyak urat nadi ketujuh gadis perawan dan ketujuh anak panti itu. Darah segar mengalir dari luka sayatan itu seolah mengiringi tangisan kesakitan mereka.
Dan lagi-lagi tidak ada yang peduli sama sekali, mereka semua telah di butakan dengan yang namanya kekayaan dan kekuasaan dunia. Mereka bahwa hanya mengumpulkan darah korban pada sebuah cawan kecil, setelah terisi penuh mereka membiarkan tubuh anak-anak tak berdosa itu tergeletak begitu saja.
“Kalian majulah dan isi cawan ini dengan apa yang kalian pegang saat ini!” perintah pria yang berdiri depan cawan besar.
Satu persatu orang yang membawa cawan kecil berisi darah itu berjalan maju dan menuangkan isinya ke dalam cawan besar berlapis emas.
Terdengar dari suara, pria itu adalah Lunar yang memimpin ritual persembahan untuk kebangkitan Luzark. Sedangkan Lucas berdiri tidak jauh di belakangnya seakan sedang menunggu kedatangan sesuatu.
Mulut semua orang mulai tergerak mengucapkan matra pembangkit. Bersamaan dengan cahaya bulan yang mulai tertutupi oleh gerhana. Perlahan langit semakin terlihat gelap, tetapi tidak dengan peti mati dimana Luzark terbaring di dalamnya.
Cahaya hitam dan merah darah bercampur dengan sempurna, Lunar pun perlahan mengangkat cawan berisi darah persembahan tersebut dan mulai menyiramkan darah tersebut pada tubuh Luzark.
Tubuh Luzark menyerap setiap tetes darah yang mengenai tubuhnya. Di susul kedatangan sosok agung yang di puja oleh orang-orang yang gila akan kekayaan dan kekuasaan yang menghadiri ritual itu.
Sosok Lucifer menunjukan dirinya, tetapi tidak ada satupun dari manusia di depannya berani untuk menegakkan kepalanya. Mereka terus menunduk dan membungkuk, ketika sosok Lucifer menghampiri peti mati Luzark dan sedikit mencicipi darah yang masih tersisa di dalam cawan.
“Waktunya kembali, Luzark! Dan singkirkan para bajingan tengik yang selalu menggangguku akhir-akhir ini!” ucap Lucifer sembari meletakan tangannya pada wajah Luzark yang masih terpejam.
Seketika angin berhembus dengan sangat kencang, badai tiba-tiba datang dan petir saling menyambar satu sama lain. Kekuatan Lucifer benar-benar berlipat ganda, hingga sekali hembusan napasnya semua cahaya lilin mati menyisakan cahaya hitam dan merah darah yang menyeruak dari sosok Lucifer.
__ADS_1
Detik berikutnya, Luzark kembali membuka kedua matanya. Dia segera bangkit dan keluar dari peti matinya, lalu segera bersujud di hadapan Tuan yang selama ini dia layani.
Luzark berkata, “Terima kasih, Yang mulia! Karena telah bersedia membangkitkan hamba kembali dari kematian!”
“Bangkitlah! Lakukan tugasmu seperti sebelumnya,” ujar Lucifer yang seketika langsung berbalik badan dan menghilang.
“Tentu, Yang mulia! Hama tidak akan mengecewakan anda untuk kedua kalinya!” gumam Luzark disertai seringai jahatnya.
Meski sosok Lucifer sudah menghilang entah kemana, tetapi badai angin, hujan dan petir dan ada tanda untuk kunjung mereka. Perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba itu langsung di rasakan oleh Jayden dan teman-temannya yang hampir tiba di lokasi yang di kirimkan oleh Vernon.
“Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba terjadi badai?” tanya Kai yang kesulitan mengemudikan mobilnya karena besarnya angin yang menerpa mobil mereka, di tambah dengan air hujan yang mengurangi jarak pandangnya dan gerhana bulan yang sedang berlangsung.
“Sepertinya kita terlambat!” seru Jayden membuat keheningan.
“Apa maksudmu?” tanya Ansel yang tidak mengerti.
“Aku yakin sesuatu yang buruk sudah terjadi di sana!” jawab Jayden dengan raut wajah paniknya.
“Jay! Ansel, apakah itu tempatnya!” seru Kai yang melihat sebuah bangunan tua tepat di depan sana.
“Ans, aura ini?”
Jayden semakin tercengang ketika merasakan aura kejahatan yang begitu pekat dan sangat besar melebihi apa yang sudah mereka rasakan sejauh ini. Jayden dan Ansel seketika saling memandang, hingga tiba-tiba Kai melakukan rem mendadak pada mobil yang mereka naiki.
“Apa yang terjadi, Kai?” tanya Ansel, tapi sebelum Kai menjawabnya pintu jendela mereka di ketuk oleh seseorang.
Bersambung, .....
__ADS_1