
“Tidak! Semua yang terjadi hari ini merupakan salah satu bagian dari takdir yang harus aku alami. Ini semua bukan salah kalian dan Kakek juga sudah menerima takdir ini,” jelas Kakek Jhon yang tidak ingin Vernon dan kedua sahabat Jayden menjadi mnyalahkan dirinya sendiri.
“Tapi Jayden tidak akan pernah menerimanya Kakek! Hiks, …” Jayden segera menyanggah ucpan dari Kakeknya.
“Jayden, setiap manusia pasti akan mati dan meninggalkan dunia ini. Entah kemarin, besok ataupun sekarang pasti kematian akan tetap datang pada setiap mahluk yang bernyawa sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.”
Kakek john mencoba memberi penjelasan pada Jayden agar cucunya itu bisa mengerti dan mengikhlaskan kepergiannya.
Sementara itu, terlihat jelas bahwa Tuan Hades dan Malaikat maut sudah cukup memberikan waktu untuk perpisahan Kakek dan cucunya itu.
“Jayden, apa yang di katakan oleh Kakekmu memang benar! Kehidupan seseorang sejak lahir memang telah di tentukan. Setiap orang memang bisa mengubah takdirnya sendiri dengan berusaha kerasdari yang miskin jadi kaya atau yang jelek menjadi cantik, tapi tidak dengan sebuah kematian!”
Tuan Hades ikut membantu memberikan penjelasan dan pengertian kepada Jayden.
“Benar! Jika memang sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan dengan Kakekmu, maka aku akan membawanya pergi sekarang!” ujar Malaikat maut yang berjalan mendekati roh Kakek Jhon untuk membimbingnya ke alam selanjutnya setelah kematian.
“Berhenti!” seru Jayden yang kembali mengeluarkan pedangnya untuk mengancam malaikat maut.
“Jayden, _....”
“Tolong biarkan aku mengantar Kakek!” potong Jayden yang tidak membiarkan Kakeknya mencegah keinginannya.
“Maaf, tapi jiwa yang masih hidup tidak boleh memasuki alam kami! Dan lagi pula, bukankah kau masih harus melakukan hal yang lebih penting sebagai seorang cucu sekaligus keluarga Felix satu-satunya.”
Malaikat maut menolak permintaan Jayden secara halus, sekaligus mengingatkan Jayden mengenai cucu dan satu-satunya keluarga Kakek Jhon.
Vernon, Ansel dan Kaison pun membenarkan perkataan Malaikat maut dan berusaha ikut membujuk Jayden untuk melepaskan Kakek Jhon sampai di sini saja.
“Jay, perkataannya memang benar! Kau adalah keluarga yang tersisa dari Tuan Jhon, maka hanya kau yang berhak mengurus pemakamannya,” ujar Vernon.
Jayden kembali terdiam, dia menatap roh dan jasad sang Kakek secara bergantian. Kakek Jhon pun menyadari kebingungan dan kebimbangan hati dari cucunya itu. Perlahan Kakek Jhon membelai wajah Jayden yang sudah basah dengan air mata.
“Jayden! Maaf, Kakek harus pergi sekarang,” ucap Kakek Jhon dengan tatapan mata penuh kelembutan.
“Tidak Kek, _....”
“Terima kasih karena sudah menjadi cucuku selama ini. Bila memang ada kehidupan selanjutnya, maka Kakek berharap bisa memilikimu sebagai cucu Kakek lagi,” potong Kakek Jhon yang mencoba membujuk Jayden untuk merelakan kepergiannya.
“Kakek! Hiks, ….”
__ADS_1
“Kakek sangat menyayangi dirimu, selamanya akan tetap seperti itu. Meski Kakek sudah tidak ada di sampingmu lagi, kau harus tetap menjalani takdir. Selesaikan apa yang menjadi tujuan hidupmu! Dan percayalah kau tidak akan pernah sendirian,” ujar Kakek Jhon menyakinkan Jayden.
“Hiks, … Kakek! Hiks, …”
Tangisan Jayden pecah ketika Kakek Jhon perlahan berjalan mundur mendekati sang Malaikat maut.
Dimana sang Malaikat maut sudah mempersiapkan sebuah portal untuk membawa pergi roh Kakek Jhon ke dunia yang selanjutnya setelah kematian.
“Aku titip Jayden pada kalian!” pinta Kakek Jhon pada Vernon, Ansel dan Kaison yang juga menangis sampai sesegukan hingga ketiganya hanya bisa menganggukan kepala pelan sebagai jawaban dari permintaan Kakek Jhon.
“Selamat tinggal cucuku sayang!”
Itulah perkataan terakhir Kakek Jhon kepada Jayden sebelum rohnya benar-benar menghilang.
Perlahan roh Kakek Jhon mulai menghilang ketika melewati portal tersebut bersama dengan Malaikat maut. Tuan Hades pun ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya pembatas sihir yang dia pasang.
Di saat itu juga perasaan Jayden hancur sehancur hancurnya, tangisannya semakin pecah diiringi dengan tangisan Vernon dan kedua sahabatnya.
“KAKEK!! Hiks, … Hiks, ….” Teriak Jayden frustasi.
“Kakek, … Hiks, …”
Beberapa polisi segera mengamankan mobil Kakek Jhon. Dan tak lama kemudian, tim evakuasi beserta ambulance tiba di sana. Salah satu anak buah Vernon menghampirinya untuk meminta arahan dalam proses evakuasinya.
“Pak, ambulance sudah datang! Dan korban sepertinya meninggal di tempat. Bolehkah kami mengevakuasi jenazah korban sekarang?” ujar salah satu anak buah Vernon.
“Lakukan dengan hati-hati dalam prosesnya! Aku akan mengawasi kalian secara langsung,” perintah Vernon pada anak buanya itu sembari menghapus sisa air mata yang berada di pipinya.
“Siap! Laksanakan, Pak!” sahut anak buah tersebut seraya memberi hormat pada Vernon sebelum pergi.
Setelah kepergian anak buahnya, Vernon pun mendekati Jayden dan kedua temannya. Hanya dengan melihat situasinya saja, Vernon sudah bisa memastikan bahwa Jayden tidak bisa di ajak bicara saat ini.
Sehingga dia lebih memilih untuk bicara dengan Ansel saja yang masih bisa bersikap lebih tenang dari Jayden.
“Ans, kami akan segera mengevakuasi jenazahnya dan akan membawanya ke rumah sakit. Mungkin akan di lakukan beberapa otopsi. Tapi jika pihak keluarga korban tidak setuju, maka kami akan segera membawanya ke rumah duka setelah jenazah telah di bersihkan,” jelas Vernon yang sedikit menjelaskan prosesnya.
“Jangan lakukan otopsi, langsung bawa saja ke rumah duka. Aku yang akan mengurus upacara pemakaman Kakek Jhon,” sahut Ansel memutuskan, dia tahu bahwa Jayden tidak akan mau kalau tubuh Kakeknya harus kembali di sayat oleh pisau bedah.
“Baiklah, aku akan selalu mengabarimu tentang perkembangannya,” ujar Vernon.
__ADS_1
“Sementara itu, kalian tolong tenangkan dia! Jangan membuatnya merasa sendirian di saat seperti ini.”
Vernon menekankan kepada Ansel dan Kai untuk menjaga Jayden dengan sebaik mungkin selama masa berkabungnya.
“Tentu saja!” sahut Ansel, sedangkan Kai hanya melirik Vernon sekilas.
“Sebaiknya kalian pulang sekarang! Biar aku yang mengurus semuanya,” ujar Vernon yang tidak ingin Jayden menjadi tonton orang-orang yang berada di sana.
“Baiklah,” sahut Ansel.
“Aku akan ikut denganmu,” ujar Jayden secara tiba-tiba ketika Ansel dan Kai ingin membawanya pulang.
“Tapi Jay, ….”
“Aku tidak apa-apa! Aku hanya ingin menemani Kakek dengan waktu yang tersisa ini,” potong Jayden menyakinkan kedua sahabatnya itu.
“Baiklah, kalau itu memang yang kau inginkan!”
Vernon pada akhirnya menyetujuinya, sementara Ansel dan Kai hanya bisa pasrah dengan keputussan Jayden. Mendengar alasan Jayden, ketiganya pun tidak bisa menolaknya sama sekali.
Akan tetapi, Ansel dan Kai akhirnya harus menjaga ketat Jayden dan selalu menanyakan kondisi mental, fisik dan jiwanya.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...