
Aaric yang duduk diatas kap mobilnya tampak termenung dengan sedihnya, akan tetapi tiba-tiba dia melihat dari arah kejauhan seseorang sedang berjalan mendekati gerbang.
Aaric menajamkan mata mencari tahu siapa sosok yang berjalan menghampirinya, dia tersenyum bahagia ketika tahu jika itu adalah Naina, istrinya.
Aaric berjalan menghampiri gerbang dengan wajah yang berseri-seri, menunggu Naina datang menghampirinya lebih dekat.
"Sayang.." Aaric memanggil Naina sambil mengulurkan tangannya.
Naina menghentikan langkahnya, tidak lantas menyambut tangan suaminya.
"Pulanglah," ucap Naina dengan pelan.
"Apa?" Aaric tampak kaget.
"Apa yang kamu lakukan disini? Pulanglah sekarang." Naina berusaha untuk tampak tegar.
Aaric melihat Naina dengan tatapan tak percaya.
"Aku akan pulang jika kamu ikut bersamaku."
Naina menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak bisa ikut denganmu lagi."
"Kenapa?"
"Ceraikan saja aku."
"Apa?" Aaric mengerutkan keningnya.
"Kita tidak akan bisa bersama lagi." Naina menahan tangisnya.
Aaric menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Aaric tak percaya.
Naina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk tidak menangis.
"Kita tak bisa bersama, lupakan aku. Anggap saja aku tidak pernah ada di hidupmu."
Aaric menatap istrinya tajam.
"Ada apa denganmu?"
Naina menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Hanya merasa kalau inilah yang terbaik, kita sebaiknya berpisah!"
Aaric mengepalkan tangannya.
"Apa ibumu yang menyuruhmu?"
"Tidak. Aku hanya berpikir realistis saja, kita tak cocok bersama. Aku tak pantas untuk menjadi istrimu, banyak perbedaan diantara kita."
__ADS_1
"Jangan bicara melantur! Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Aaric memukul gerbang di depannya dengan sangat marah.
Naina tampak kaget melihat suaminya terpancing emosi, dia mundur beberapa langkah.
"Itulah yang sebenarnya terjadi, aku dan kamu tidak bisa bersama." Naina kembali menahan tangisnya.
"Aku tahu pasti ini semua karena ibumu, cepat panggil dia katakan kalau aku ingin bicara dengannya!" Aaric berkata dengan sedikit keras.
Naina menundukkan kepalanya.
"Tidak. Bukan karena ibuku," ucap Naina dengan sangat pelan, air mata telah menetes dari kedua kelopak matanya, membuat Aaric yang melihatnya sedikit merasa menyesal karena telah membuat Naina ketakutan dengan suaranya yang meninggi.
"Maafkan aku." Aaric terdengar menyesal, menatap Naina dengan nanar.
Naina menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sayang. Kumohon jangan menangis. Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Kamu tahu kalau aku tidak akan bisa hidup tanpamu, aku mohon ikutlah pulang bersamaku." Aaric tampak memohon.
Naina kini malah menangis terisak, membuat Aaric semakin merasa sedih.
"Aku tahu jika apa yang kamu katakan tidak sesuai dengan isi hatimu, aku tahu jika sebenarnya kamu ingin kembali padaku."
Naina masih terisak.
"Berhentilah menangis. Aku mohon." Aaric menutup matanya.
Aaric menundukkan kepalanya. Mereka sama-sama terdiam sejenak.
Naina menggelengkan kepalanya.
"Aku tak bisa. Maafkan aku. Sekarang pergilah dari sini, dan sebaiknya tidak usah datang kesini lagi." Naina membalikkan badannya.
Aaric terdiam.
"Baiklah kalau begitu, kamu akan kaget dengan apa yang akan aku lakukan."
Naina tak menghiraukan perkataan Aaric, dia berjalan perlahan meninggalkan suaminya.
Aaric menatap kepergian istrinya dengan sedih.
"Aku akan kembali lagi dan membawamu pergi dari sini."
Aaric juga membalikkan badannya, berjalan mendekati mobil lalu menaikinya, dia segera menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana.
Mendengar suara mobil suaminya pergi, Naina membalikkan badannya, melihat kini suaminya telah benar-benar pergi meninggalkannya.
Hati Naina sakit memikirkan bagaimana jika seandainya suaminya itu benar-benar tidak akan pernah lagi datang menemuinya, melupakan dan tidak akan mencintainya lagi.
Naina menangis tersedu-sedu.
***
Seminggu berlalu.
__ADS_1
Tanpa terasa telah seminggu kejadian malam itu berlalu, dan semenjak itu, Aaric benar-benar tidak pernah lagi datang ke Panti, membuat Naina yakin jika Aaric memang benar-benar telah melupakannya.
Sudah pasti Naina merasa sedih dan merana, walaupun begitu dia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, dia tidak ingin orang-orang merasa khawatir kepadanya, di tengah usahanya untuk melupakan Aaric, Naina menyibukkan diri mengurus anak Panti.
Naina menjalani hari-hari seperti biasanya, walaupun begitu raut kesedihan tetap nampak jelas dari wajahnya, dia tidak seperti Naina yang selalu tampil ceria dan bersemangat ketika sedang mengurus adik-adik Pantinya, seminggu ini dia terlihat lebih banyak diam dan murung.
Ibu Farida dan semua pengurus panti menyadari hal itu, mereka memakluminya dan berpikir jika Naina hanya akan sementara waktu saja seperti itu, seiring berjalannya waktu Farida yakin jika Naina akan kembali seperti biasa.
Hari ini tampak cerah, seperti biasanya Naina duduk di kursi di bawah rindangnya pohon melihat anak-anak Panti yang sedang bermain di lapangan berumput hijau.
Setengah melamun Naina mengingat kembali kebersamaanya mereka yang singkat, dia mengenang kembali saat-saat indah bersama suaminya yang kini hanya tinggal kenangan dan tak akan mungkin terulang kembali.
"Semua orang mempunyai nasib dan takdir yang berbeda." Naina dikejutkan oleh Ibu Sumi, juru masak Panti yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Jalan hidup kamu dan ibu Farida berbeda, tidak akan sama, jadi ibu pikir jika apa yang telah kamu lakukan salah," lanjut Ibu Sumi lagi sambil menatap Naina.
"Maksud ibu?"
"Kalian hanya sama-sama berjodoh dengan orang kaya, tapi belum tentu kalian akan memiliki cerita hidup dan akhir yang sama."
Naina termenung.
"Bukannya ibu menyalahkan ibu Farida, ibu mengerti dia melakukan itu karena sangat menyayangimu, tidak ingin melihat kamu bernasib sama sepertinya, tapi kamu harus tahu jika jalan hidup semua orang tidak akan sama, ibumu seperti itu belum tentu dirimu juga akan sama sepertinya."
"Ikuti kata hatimu Nak. Jangan membohongi perasaanmu sendiri." Sumi mengelus pundak Naina.
"Tidak Bu. Apa yang sudah aku lakukan benar, buktinya dia tidak datang kesini lagi, kalau dia benar-benar mencintaiku maka seharusnya dia tidak akan menyerah semudah itu." Naina berusaha untuk tersenyum.
"Entah mengapa ibu yakin jika suamimu akan segera kembali lagi kesini," ucap Sumi juga sambil tersenyum.
Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh Rani yang menghampiri keduanya dengan tergesa-gesa.
"Kak. Kita kedatangan banyak tamu."
"Siapa?" Naina berdiri.
"Tidak tahu. Ibu menyuruh kakak untuk segera kesana."
Naina segera berjalan menuju ruang tamu, diikuti oleh Rani dan Sumi.
Sesampainya di sana Naina dikejutkan oleh beberapa orang pria berjas rapi yang sudah menunggunya, dia melihat ibunya tengah sibuk membaca beberapa dokumen.
Naina segera menghampiri Farida.
"Siapa mereka Bu?"
Farida menatap Naina.
"Mereka utusan suamimu."
"Apa? Mau apa mereka kemari?"
"Meminta kita segera mengosongkan Panti ini, hari ini juga." Farida nampak bingung dan sedih.
__ADS_1