Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kejujuran Axel.


__ADS_3

Naina dengan was-was melihat kalender di ponselnya.


"Besok biasanya aku mendapatkan tamu bulananku," gumam Naina pelan.


"Bagaimana kalau bulan ini aku tidak hamil?" tambahnya lagi terdengar pesimis.


Naina lalu mengelus perutnya perlahan, berharap jika di dalamnya telah hadir buah cinta antara dirinya dan suaminya, karena dia tahu jika semua orang terutama Nenek sangat mengharapkan agar dirinya segera mengandung dan melahirkan penerus keluarga ini, dia tahu jika semua orang akan sangat merasa kecewa jika bulan ini dia masih tidak juga memberi kabar kehamilannya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aaric yang tiba-tiba muncul mengagetkan Naina yang sedang melamun sambil duduk di atas sofa.


"Tidak," jawab Naina sambil menyimpan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Aaric yang kini sudah duduk di samping istrinya merasa heran melihat wajah Naina yang sedih.


"Tidak ada," jawab Naina sambil berusaha untuk tersenyum.


"Bohong, aku tahu jika kamu sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu sedih." Aaric menarik wajah istrinya untuk melihat ke arahnya.


"Katakan padaku ada apa? Apa kamu merindukan Panti? Kita bisa kesana sekarang kalau kamu mau." ucap Aaric lagi.


Naina menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku tidak apa-apa."


"Aku tahu kamu bohong." ucap Aaric dengan mesranya, menatap sambil membelai wajah istrinya.


"Katakan ada apa?" pinta Aaric sekali lagi."


Naina kembali menatap wajah suaminya.


"Bagaimana jika bulan ini aku tidak hamil juga?" tanya Naina pelan.


Aaric tersenyum.


"Rupanya itu yang kamu pikirkan."


Naina mengangguk.


"Aku takut ibu dan Nenek kecewa," tambah Naina lagi dengan sedih.


"Aku yakin jika mereka akan mengerti sayang." Aaric menarik Naina ke dalam pelukannya.


"Lagi pula siapa yang tahu, mungkin saja di dalam sini sudah ada anak kita." Aaric melepaskan pelukannya, langsung memegang perut Naina.


Naina tersenyum.

__ADS_1


"Iya semoga saja, semoga besok atau lusa aku tidak mendapatkan tamu bulananku," ucap Naina penuh harap.


"Apa? tamu bulanan?" tanya Aaric kaget.


"Iya. Biasanya jadwalnya besok atau lusa," jawab Naina.


Wajah Aaric nampak kecewa.


"Kalau kamu mendapatkan tamu bulananmu apa artinya aku harus libur lama?" tanyanya lagi.


Naina awalnya tidak mengerti namun kemudian dia tersenyum malu ketika mengerti akan maksud suaminya.


"Iya." jawabnya malu-malu.


Aaric nampak semakin kecewa, namun kemudian dia tersenyum nakal, lalu menggendong Naina dengan tiba-tiba dan membawanya ke tempat tidur.


"Kalau begitu malam ini kita akan melakukanya sampai puas." bisik Aaric ketika keduanya sudah sampai di tempat tidur.


***


Kesehatan Nenek semakin membaik walaupun masih harus mengenakan kursi roda, namun dibandingkan dengan sebelum kedatangan Naina ke rumah ini, kini nenek jauh lebih bersemangat untuk sehat dan sembuh serta panjang umur.


Bulan ini rupanya apa yang dikawatirkan oleh Naina menjadi kenyataan, dia mendapatkan tamu bulanannya menandakan jika dirinya belum bisa memenuhi keinginan sang Nenek untuk menimang seorang cicit.


Untungnya Nenek nampak mengerti dan bahkan tidak menunjukkan raut wajah kecewanya sama sekali, begitu juga dengan sang mertua yang kali ini juga terlihat santai mengenai masalah kehamilannya


Aaric setuju akan rencana ibu dan neneknya, dan dia menyerahkan semua urusan pesta pada ibunya, dia tahu jika Winda akan melakukan hal terbaik untuk dirinya dan Naina.


"Apa ibu tidak malu jika nanti orang-orang mengetahui jika aku hanya seorang gadis Panti yang miskin?" tanya Naina memberanikan diri melihat mertuanya yang tengah sibuk menyusun daftar undangan.


Winda langsung melihat Naina di depannya.


"Kenapa harus malu, bagi ibu semua orang sama saja, malah ibu bangga mempunyai menantu sepertimu. Ibu diam-diam sudah menyukaimu sejak lama, ibu melihat jika hatimu sangat baik, menyayangi anak panti dengan tulus, kekaguman ibu padamu semakin bertambah ketika kamu bahkan bersedia berkorban demi anak-anak panti," jawab Winda panjang lebar.


"Terima kasih ibu. Aku tidak menyangka jika dengan mudahnya ibu menerimaku sebagai menantu ibu." Naina tampak terharu.


Winda tersenyum.


"Kamu gadis yang baik, siapa saja akan bangga jika kamu menjadi menantunya."


"Dan aku beruntung mendapatkan mertua seperti ibu." Naina memeluk Winda, keduanya terlihat menahan haru dan air mata.


Aaric yang tidak sengaja melihat adegan itu nampak tersenyum, dia merasa bahagia melihat ibu dan istrinya saling menyayangi.


***

__ADS_1


"Aku tidak sabar menghadiri pesta resepsi kalian," ucap Ryan.


"Aku yakin jika semua wanita yang selama ini mengincarmu akan patah hati melihat kamu bersanding dengan Naina di pelaminan." Ryan terlihat bersemangat.


"Iya, terlebih dengan Tari yang pasti menyesal telah meninggalkanmu." Sheryl juga tak kalah bersemangatnya.


Intan langsung melihat Dani suaminya, keduanya nampak tidak nyaman mendengar nama Tari dibawa-bawa.


Aaric hanya tersenyum mendengar ocehan sepasang suami istri itu.


"Oh iya, omong-omong kenapa istrimu tidak pernah mau kalau kita ajak makan siang seperti ini?" tanya Sheryl heran.


"Dia lebih suka berada di rumah dan menemani Nenek dan ibu, aku sudah mencoba mengajaknya beberapa kali tapi dia tidak mau." jawab Aaric.


"Sudah pasti, kamu beruntung sekali mendapatkannya, jarang sekali ada wanita rumahan seperti Naina sekarang," ucap Ryan.


Semuanya nampak mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Ryan.


Kelimanya kembali mengobrol hangat di tengah jam istirahat makan siang.


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh kedatangan seorang pria yang amat sangat mereka kenal namun sudah lama tak bertemu dengannya.


Aaric yang awalnya kaget lalu melihat pria itu dengan penuh kemarahan.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Aaric berdiri dengan sangat marah.


"Aku ingin berbicara denganmu, ini penting!"


"Aku tidak mau," jawab Aaric tegas.


"Kumohon, ini tentang Tari."


Aaric tersenyum. Berbeda halnya dengan Intan dan Dani yang tampak sangat kaget.


"Apa yang ingin kamu katakan? Kamu ingin pamer jika sekarang kalian sudah hidup bahagia setelah mengkhianatiku?" jawab Aaric dengan nada menyindir.


"Aaric. Kumohon dengarlah penjelasan aku dulu. Semuanya tidak seperti itu."


"Pergilah." Tiba-tiba Dani mendorong Axel agar secepatnya pergi karena dia tahu apa yang ingin disampaikan Axel pada Aaric.


"Tidak. Aku harus menyampaikan hal ini, sebelum terlambat." Axel kembali mendekati Aaric, tidak peduli dengan Dani yang terus mendorongnya


Dani ketakutan melihat Axel yang tetap ngotot ingin membicarakan tentang Tari pada Aaric, kini dia dibantu oleh Ryan yang juga mendorong Axel untuk pergi dari sana.


"Aaric kamu harus tahu jika aku dan Tari tidak punya hubungan apapun, semuanya hanya sandiwara agar kamu membencinya."

__ADS_1


Aaric nampak kaget, dia menatap wajah Axel. Begitu juga dengan semua orang yang tak kalah kaget mendengar perkataan Axel barusan.


"Sandiwara?"


__ADS_2