Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kedatangan Seorang Wanita.


__ADS_3

"Tapi sebelumnya, bagaimana kabarmu?" tanya Aaric melihat Tari.


"Aku baik-baik saja," jawab Tari pelan, masih tak berani melihat Aaric, dia menjawab seperti itu karena tak ingin Aaric mengasihaninya.


Aaric menarik napas dalam-dalam.


"Kamu sakit. Aku tidak menyangka jika sebenarnya kamu sakit."


Tari meremas kedua tangannya.


"Jujur saja aku kaget mengetahui semuanya. Terutama tentang penyakitmu yang menjadi alasanmu meninggalkanku."


"Tapi entah apapun alasanmu waktu itu, apa yang kamu dan Axel lakukan padaku salah, kamu sudah membuat kita sama-sama menderita selama lima tahun ini."


Tari terus terdiam dengan terus memalingkan wajahnya.


Aaric menghela napas.


"Kita sama-sama tersiksa, terlebih aku yang terus berpikiran jika sahabat dan kekasihku mengkhianatiku. Kamu tahu jika rasanya sangat menyakitkan hidup dengan bayang-bayang seperti itu selama lima tahun ini, hingga semuanya berakhir saat Naina masuk dalam hidupku."


"Dia memulihkan hatiku yang terluka, dia membuatku kembali merasakan apa itu bahagia."


Tari hanya bisa terdiam mendengarkan Aaric yang sedang meluapkan isi hatinya.


"Maafkan aku mengatakan ini, tapi aku ingin kamu tahu jika berkatnya aku bisa melupakanmu, aku sangat mencintainya hingga ketika mendengar kenyataan tentangmu saja tetap tak bisa membuatku berpaling darinya."


"Maafkan aku," lirih Aaric.


Tari langsung memalingkan wajahnya melihat Aaric.


"Tidak apa-apa. Memang itu yang aku harapkan selama ini, kamu melupakanku dan hidup bahagia dengan wanita yang kamu cintai," jawab Tari sambil berusaha untuk tersenyum.


Aaric menatap wajah Tari lekat.


"Terima kasih." Aaric tak percaya dengan jawaban Tari, dia senang karena ternyata Tari berbesar hati.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu juga harus sembuh dan hidup bahagia."


Tari menganggukan kepalanya.


"Aku pasti akan sembuh dan hidup bahagia sepertimu," jawab Tari dengan yakin sambil menahan air matanya.


"Bersama Axel. Karena dia sangat mencintaimu," ucap Aaric.


Tari mengerutkan keningnya.


"Axel? Kamu salah. Kami hanya berteman saja," jawab Tari.


"Tidak. Kamu yang salah. Axel sangat mencintaimu. Tiga tahun ini dia berusaha mencarikan pendonor untukmu, dan akhirnya dia berhasil,"


Tari semakin tidak mengerti.


"Pendonor dari Jerman itu, Axel yang berhasil menemukannya, bukan aku."


"Aku tidak mengerti," jawab Tari kebingungan.


"Axel mencintaiku?" tanya Tari tak percaya.


"Iya. Dia sendiri yang mengatakannya padaku."


"Tapi kenapa dia tidak ingin aku tahu?"


"Aku tidak tahu alasan tepatnya, tapi kurasa dia terlalu takut mengungkapkan perasaannya padamu, mungkin dia takut kamu menolaknya."


Tari terdiam.


"Aku yakin jika komunikasi diantara kalian berjalan lancar, jika dia meneleponmu, katakan saja jika sekarang kamu sudah tahu semuanya."


"Mengenai perasaanmu sekarang aku tidak tahu, tapi aku harap kamu menerima cintanya, karena aku yakin perasaannya padamu sangat tulus. Ingat jika Axel yang telah menemanimu selama ini, dia yang terus memberimu dukungan dan semangat agar kamu terus berjuang melawan penyakitmu."


Tari terus terdiam, dia berpikir jika apa yang dikatakan oleh Aaric memang benar adanya, hanya Axel satu-satunya orang setelah kedua orangtuanya yang selalu setia menemani menyemangatinya selama ini.

__ADS_1


Namun Tari terlihat bingung, dia tak menyangka jika ternyata Axel jatuh cinta padanya, dia yang hanya menganggap hubungan diantara mereka hanya sebatas sahabat saja, kaget karena rupanya Axel menyimpan perasaan padanya, sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali.


Seketika hatinya berdebar mengingat semua kenangan yang sudah mereka lalui berdua selama lima tahun terakhir ini, kini dia baru menyadari jika sikap manis Axel padanya selama ini adalah wujud dari rasa cinta yang dia pendam.


"Hanya itu yang ingin aku sampaikan, oh iya tolong katakan juga pada ibumu, aku rasa beliau salah paham mengenai pendonor itu."


Tari mengangguk.


"Aku mengerti, pasti kamu ingin menjaga perasaan istrimu."


"Terima kasih sudah mengerti keadaanku."


"Jika dia tetap salah paham, ajak dia kesini, aku akan membantumu menjelaskan padanya. Aku juga ingin mengenalnya lebih dekat. Dia pasti wanita yang istimewa karena telah membuatmu jatuh cinta."


Aaric tersenyum.


"Tentu saja aku akan mengenalkannya padamu, tapi sebelum itu fokuslah untuk kesembuhanmu dulu, karena kami semua menunggumu. Terutama Axel." Aaric menatap Tari memberi semangat


Tari mengangguk.


"Aku pasti akan sembuh dan aku juga akan hidup bahagia sepertimu," jawabnya sambil tersenyum.


Sementara itu Dahlia yang sedari tadi mengintip dari balik pintu menunggu momentum yang tepat segera memotret keduanya tak ingin menyia-nyiakan momen dimana Aaric dan Tari saling bertatapan sambil tersenyum.


Dahlia tampak sangat puas dengan hasil fotonya, hatinya berbunga-bunga karena baru kali ini melihat putrinya tersenyum seperti itu, dia yang sebenarnya tidak tahu apa yang dibicarakan antara Aaric dan Tari karena keduanya berbicara dengan suara yang pelan berpikiran jika keduanya sedang kembali mengenang cinta lama mereka yang kini bersemi kembali.


Dahlia terus menatap layar ponsel di tangannya, berniat mengirimkannya pada Naina, hingga dia tak menyadari jika seorang wanita sedang berdiri di depannya.


Wanita itu berjalan mendekati Dahlia kemudian merebut kasar ponselnya, melihat layar ponsel sejenak lalu menatap Dahlia dengan tajam.


Dahlia yang tadinya akan marah langsung membelalakkan mata mengenali sosok wanita di depannya.


"Ni..Nisa?"


"Apa tidak cukup kamu menghancurkan hidupku hingga kamu juga ingin menghancurkan rumah tangga putriku"

__ADS_1


__ADS_2