
"Jadi kamu sudah menemukan anak itu?" tanya Dahlia dengan bersemangat.
"Belum pasti, kita harus menunggu hasil tes DNA keluar beberapa hari lagi."
Dahlia mendekati suaminya.
"Mudah-mudahan dia anakmu," ucapnya penuh harap.
"Iya, dan aku sangat yakin jika dia memang adalah anakku, wajahnya sangat mirip dengan Nisa."
Dahlia kembali menunjukkan wajah bahagianya.
"Akhirnya Tuhan mengabulkan semua doa-doa kita selama ini, akhirnya Tari akan sembuh."
"Iya, putri kita akan sembuh." Wisnu tersenyum melihat istrinya yang bahagia.
"Bagaimana dengan Nisa? Apa kamu menemukannya juga?"
"Tidak. Dia masih menghilang bak ditelan bumi, tidak ada yang tahu keberadaannya saat ini."
Dahlia menghela napas panjang.
"Aku mengerti jika dia kecewa pada kita."
Wisnu terdiam. Dia mengingat kembali kejadian 20 tahun lalu.
Saat itu usia Tari masih 10 tahun, disaat dia memutuskan untuk menikahi Nisa, pembantu yang selama ini bekerja dengannya.
Bukan tanpa alasan dia tiba-tiba menikahi pembantunya sendiri, semuanya dia lakukan demi putrinya Tari yang mengidap penyakit Anemia Aplastik, penyakit bawaan lahir yang membuatnya harus ketergantungan pada obat demi bertahan hidup.
__ADS_1
Dokter beberapa kali menyarankan agar Wisnu dan Dahlia harus kembali mempunyai anak, agar kelak adik Tari bisa membantu kesembuhan penyakit kakaknya karena satu obat yang paling bisa membuatnya sembuh total adalah dengan transplantasi sumsum tulang belakang dari saudara kandung.
Namun malang, Dahlia tak kunjung hamil walaupun segala upaya telah banyak di lakukan dan hasilnya tetap nihil hingga usia Tari menginjak sepuluh tahun.
Wisnu dan Tari sudah berputus asa, hingga suatu hari Dahlia mempunyai sebuah ide agar Wisnu menikahi wanita lain demi kesembuhan anak mereka. Wisnu yang awalnya menolak akhirnya menyanggupi demi kesembuhan Tari.
Wisnu bersedia menikah lagi.
Sebenarnya bukan menikah, anggap saja Dahlia menyuruh suaminya agar Wisnu menitipkan benihnya pada wanita lain, agar kelak anak itu bisa menjadi obat untuk penyakit putri mereka.
Dan akhirnya Nisa, pembantu mereka yang baru bekerja dua bulan menjadi wanita yang dipilih untuk menjadi wanita yang rahimnya di titipi benih Wisnu.
Tentu saja Nisa tidak mengetahuinya, dia yang seorang gadis lugu dari kampung tidak tahu menahu jika dirinya sedang di manfaatkan, bahkan ketika Wisnu berpura-pura jatuh cinta padanya. Nisa yang masih polos terbuai akan rayuan dan kata-kata manis Wisnu hingga akhirnya ketika Wisnu mengajaknya untuk menikah dia segera menyanggupinya, tanpa berpikir jika Wisnu adalah suami orang lain.
Wisnu akhirnya menikahi Nisa, membawanya pergi dari rumah itu dan membelikannya rumah baru untuk tempat tinggalnya, tentu saja semuanya Dahlia yang mengaturnya secara diam-diam, karena setahu Nisa jika Dahlia tidak mengetahui pernikahan mereka.
Tak butuh waktu lama, apa yang diharapkan akhirnya terjadi, Nisa hamil. Mendengar kabar ini Wisnu dan Dahlia senang bukan kepalang, mereka berpikir jika putri kesayangan mereka akhirnya akan sembuh dari penyakitnya.
Tanpa sengaja dia mendengar Wisnu berbicara melalui telepon kepada orang tuanya yang marah karena mengetahui jika Wisnu ternyata telah menikah lagi dengan wanita lain.
Nisa mendengar dengan jelas semua alasan kenapa Wisnu menikah dengannya, dia kaget karena dia hanya dimanfaatkan saja oleh Wisnu dan istrinya demi kesembuhan anak mereka. Bahkan dia mendengar juga jika Wisnu berniat menceraikannya setelah dia melahirkan nanti, dan akan mengambil anak mereka.
Nisa yang marah lalu kabur dari rumahnya, dia pergi dan tak ingin ditemukan lagi, dia juga tak ingin anaknya kelak bisa ditemukan oleh Wisnu, dia tak ingin anaknya dilahirkan ke dunia hanya untuk dijadikan obat demi kesembuhan anak mereka, orang-orang yang telah menipunya.
***
Tari kaget melihat dua orang wanita memasuki kamarnya, dia lalu buru-buru menutupi kepalanya yang botak dengan kerudung di sampingnya.
"Tari." Sheryl berjalan mendekati ranjang Tari.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Tari dengan nada tidak suka.
"Kami ingin melihatmu," jawab Intan.
"Aku tidak ingin kalian lihat, pergilah." Tari berbicara dengan terus menundukkan kepalanya.
"Kami tidak akan pergi." Sheryl menitikkan air mata, dia memaklumi kenapa Tari bersikap seperti itu.
"Pergilah. Aku tidak ingin kalian kasihani." Tari kembali mengusir kedua sahabatnya.
Intan malah mendekati Tari semakin dekat.
"Kami menyayangimu, bukan mengasihanimu." Intan duduk di depan sahabatnya.
Sheryl berdiri di samping Intan, tampak terus menyeka air mata yang terus keluar.
"Kenapa kamu merahasiakan hal ini dari kami?" tanya Sheryl.
Tari terus menunduk, dia tak ingin kedua sahabatnya melihat wajahnya dengan jelas.
"Pergilah. Aku mohon."
Intan malah memeluknya erat.
"Aku tidak akan pergi, mulai sekarang aku akan menemanimu."
Tari akhirnya tak kuasa menahan tangisnya, dia terisak di pelukan Intan.
"Aku sangat merindukan kalian." ucap Tari sesenggukan.
__ADS_1
"Kami juga." Sheryl kini menangis terisak.