Rahim Titipan

Rahim Titipan
Senam Hamil.


__ADS_3

Tari memiringkan kepalanya melihat Axel yang terus saja menatap dirinya di balik kaca, kedua mata mereka saling beradu pandang, Axel mengatakan semua yang ingin dia katakan pada Tari lewat tatapan matanya, sambil mengepalkan tangan Axel seolah memberi isyarat pada Tari jika dia tetap harus terus semangat dan tidak menyerah.


Tari meresponnya dengan mengangguk pelan sambil tersenyum, membuat Axel merasa senang karena Tari masih bersemangat untuk sembuh setelah melewati proses pengobatan penyakitnya yang panjang dan pastinya sangat melelahkan baginya.


Tari masih harus berada di ruang isolasi walaupun proses transplantasi sumsum tulang belakang telah selesai dilakukan, para dokter masih harus melihat reaksi tubuh terhadap sel darah yang baru apakah sel itu bisa berkembang biak dan mulai membuat sel induk darah baru yang sehat.


Selama proses itu Tari masih harus ditempatkan di ruangan itu karena tubuhnya masih rentan terkena bakteri yang bisa menghambat proses penyembuhan.


"Apa kamu mencintai Tari?" tanya Dahlia tiba-tiba yang tanpa Axel sadari telah berada di belakangnya.


Axel yang kaget hanya bisa tersenyum dengan kikuk.


"Apa kamu melakukan semua ini karena kamu mencintainya?" tanya Dahlia lagi.


Axel langsung paham akan maksud dari ucapan Dahlia, yang pastinya sedang membicarakan masalah pendonor itu.


"Aku memang mencintai Tari, Tante." Axel mengucapkannya dengan mantap.


Dahlia menatap wajah Axel.


"Apa kamu tidak tahu jika Tari masih mencintai Aaric?"


"Saya tahu."


"Lalu? Apa kamu tidak takut jika cintamu tidak akan dibalas oleh Tari?"


Axel tersenyum.


"Tentu saja tidak Tante, perasaanku ini pada Tari, aku tidak mengharapkan balasannya, melihat Tari sembuh dan bahagia saja sudah cukup bagiku, tidak masalah dia tidak membalas cintaku."


Dahlia terus menatap wajah Axel.


"Cintamu sangat tulus pada Tari, membuat Tante sangat bahagia," ucap Dahlia penuh haru.


Dahlia menyeka air mata yang baru saja menetes.


"Kenapa Tante menangis?"


"Tante terlalu bahagia. Mengetahui ada seseorang yang sangat mencintai putri Tante seperti kamu membuat Tante sangat bahagia."


Axel tersenyum.


"Setelah Tari sembuh nanti, buatlah dia berpaling dari perasaannya mencintai Aaric, buatlah dia mencintaimu. Tante mendukungmu." Dahlia menepuk-nepuk lengan Axel sambil tersenyum memberi semangat.


Axel langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terima kasih Tante."

__ADS_1


***


Aaric terus melihat jam di tangannya, dia terlihat sedikit panik, sehingga membuatnya tidak fokus melihat presentasi di hadapannya.


"Bagaimana menurut bapak?" tanya salah seorang karyawannya meminta pendapat Aaric tentang presentasi yang baru saja di bawakannya.


"Lumayan bagus," jawab Aaric asal sambil kemudian melihat jam tangannya lagi.


Semua orang terlihat heran dengan jawaban Aaric.


"Maaf pak maksud saya apa bapak setuju dengan ide saya tadi?"


"Ide?" tanya Aaric heran, semakin membuat semua orang yang hadir pada rapat itu keheranan.


Melihat bosnya tampak tidak nyambung, sang asisten buru-buru menghampiri Aaric dan membisikkan sesuatu padanya.


Aaric langsung mengangguk.


"Rencana yang bagus, saya suka," ucapnya pada karyawan tadi.


Aaric kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Maaf saya harus pergi. Ada urusan yang sangat penting sekali, rapat ini lanjutkan saja, nanti hasilnya asisten saya yang akan melaporkannya pada saya."


Aaric kemudian berjalan meninggalkan ruang rapat dengan terburu-buru, membuat semua orang semakin keheranan karena tidak biasanya bos mereka meninggalkan rapat di tengah jalan seperti ini.


"Kamu benar! Kita tahu pak Aaric, dia orang yang sangat bertanggung jawab, jika tidak terjadi sesuatu yang sangat penting dia tidak akan meninggalkan rapat ini." ucap salah seorang lagi.


"Apapun itu kita doakan saja semoga urusannya lancar."


Semua orang mengamini dan kemudian melanjutkan rapat kembali.


Farhan, Asisten Aaric terlihat mesem sendiri mendengar percakapan mereka.


***


Aaric mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, dia tahu jika dirinya sudah sangat terlambat dan pasti akan membuat Naina marah.


Aaric akhirnya tiba di sebuah tempat, segera memarkirkan mobilnya, lalu turun dari dalam mobil kemudian dengan setengah berlari menuju ke dalam bangunan yang tak jauh dari sana.


Di dalam sana, Aaric langsung celingukan mencari keberadaan Naina, hingga akhirnya dia melihat Naina sedang duduk bersama Nisa.


Aaric segera menghampirinya.


"Maaf sayang. Aku terlambat."


Naina berdiri sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kelasnya juga belum dimulai."


Aaric mengeluarkan napas merasa sangat lega, padahal sebelumnya dia berpikir jika kali ini dirinya akan membuat Naina marah lagi.


"Syukurlah," ucap Aaric sambil mencium kening istrinya dan mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


Aaric lalu menyapa ibu mertuanya sambil membantu Naina untuk duduk kembali, setelah itu dia ikut duduk di samping istrinya sambil terus memegang tangan Naina erat.


Aaric melihat sekeliling dimana banyak ibu hamil dan suami-suami mereka.


Aaric tak percaya jika dirinya terpaksa harus meninggalkan rapat penting demi menemani istrinya senam hamil. Dimana ini sesi pertama baginya harus ikut serta.


"Apa kamu malu?" tanya Naina sedikit berbisik.


"Tidak," jawab Aaric sambil menggelengkan kepalanya cepat.


Naina tersenyum.


"Tapi kamu salah kostum," ucap Naina sambil menahan tawanya.


Aaric langsung melihat sekeliling dimana banyak ibu hamil dan suami mereka yang mengenakan baju olah raga, Aaric lalu melihat baju yang dikenakannya dimana dia masih mengenakan setelan kemeja lengkap dengan jasnya.


Aaric kemudian terlihat bingung, mana mungkin dia akan mengikuti kelas senam kehamilan mengenakan baju seperti itu.


"Terus aku harus bagaimana?" tanya Aaric panik.


"Sudah tidak apa-apa, lagi pula tidak ada waktu untuk ganti baju, lihat kelas akan dimulai." Nisa menunjuk ruangan yang baru saja dibuka.


---


Dengan lengan baju kemeja yang dia gulung, Aaric terlihat cekatan memegang tubuh Naina yang sedang meliuk kesana kemari mengikuti instruksi instruktur senam.


Hingga akhirnya tiba di sesi untuk melatih pernapasan, para suami diharuskan membantu istrinya yang sedang berlatih mengolah pernapasan dengan menghitungnya dari satu sampai delapan, begitu juga dengan Aaric, dia duduk di belakang Naina yang bersandar padanya sambil menarik dan mengeluarkan napas panjang berkali-kali.


Aaric mengelus perut Naina lembut sambil terus memberi aba-aba istrinya untuk menarik dan mengeluarkan napas.


"Aku mencintaimu," bisik Aaric lembut menggoda istrinya di sela-sela latihannya.


Naina memukul pelan kaki suaminya agar fokus menghitung.


"Aku mencintaimu sayang," ucap Aaric lagi dengan lembut.


"Istri anda juga pasti mencintai Anda, perutnya yang buncit itu buktinya. Fokus ya Pak, bantu istri Anda untuk menghitung dengan benar," ucap seseorang di belakang Aaric sambil tersenyum.


Aaric dibuat kaget sekaligus malu karena tanpa dia sadari instruktur yang sedari tadi berkeliling mendengar perkataannya.


Semua orang melihatnya sambil menahan tawa.

__ADS_1


__ADS_2