Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kritis


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh pulang pergi ke Panti pada tengah malam, belum lagi dengan perjuangannya harus mengambil mangga muda dari pohonnya dengan memanjatnya sendiri, akhirnya Aaric sampai kembali ke rumahnya tepat pukul 4 pagi. Sesampainya di sana Aaric perlahan membangunkan Naina yang tengah tertidur pulas.


Naina langsung terbangun, wajahnya langsung terlihat senang melihat suaminya membawa apa yang dia inginkan.


"Terima kasih sayang," ucap Naina sambil memakan lahap rujak mangga muda.


Aaric tidak menjawab, dia hanya memicingkan mata melihat istrinya terus memakan rujak tanpa sedikitpun terlihat kepedasan.


"Sudah sayang, nanti kami sakit perut." Aaric menjauhkan wadah rujak itu dari Naina.


Naina menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku masih mau." Naina menarik kembali wadah rujak kemudian memakannya lagi.


Aaric menyerah dan membiarkannya, dia lalu teringat pesan ibu Farida dan Ibu Sumi tadi jika keinginan orang yang hamil memang kadang tidak masuk akal, seperti makan rujak malam hari, persis seperti istrinya saat ini.


"Tidurlah sayang. Kamu pasti capek sekali" Naina melihat suaminya yang tampak sangat lelah.


"Tidak. Aku akan menunggumu," jawab Aaric yang bersandar pada sandaran sofa.


Naina menepuk-nepuk pahanya.


"Tidur disini dulu kalau begitu."


Aaric tersenyum lalu menuruti keinginan istrinya, dia membaringkan tubuhnya dengan menggunakan pangkuan sang istri sebagai bantalnya.


"Maaf ya sayang, gara-gara aku kamu pasti kecapaian." Naina mengelus rambut suaminya.


"Tidak apa-apa sayang, asal kamu dan anak kita senang." Aaric menciumi perut istrinya.


Naina tersenyum dan kembali memakan rujak menggunakan sendok, dia nampak berhati-hati takut jika sambalnya akan menetes pada suaminya yang tidur di pangkuannya.


"Apapun akan aku lakukan demi kamu dan ibumu Nak," ucap Aaric sambil terus membelai dan sesekali menciumi perut istrinya.


Naina kembali tersenyum lalu fokus kembali memakan rujak, hingga beberapa saat kemudian dia merasakan jika suaminya sudah tertidur pulas di pangkuannya.


Naina menyimpan wadah rujak yang sudah kosong, dia lalu membelai lembut rambut suaminya yang sudah tertidur nyenyak.


Naina menatap wajah suaminya yang tampak sangat lelah membuatnya tak tega jika harus membangunkannya untuk mengajaknya pindah ke atas kasur.


Naina berniat akan membiarkannya sampai adzan subuh tiba karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi.


***


Jika tak ada rapat penting hari ini, pastinya Aaric memilih untuk tak masuk kerja hari ini karena dirinya yang masih mengantuk berat, juga tubuhnya yang pegal-pegal akibat dari usaha kerasnya untuk memanjat pohon mangga yang tinggi tadi malam.

__ADS_1


Tapi dia tak berniat memberitahu istrinya, dia tak ingin membuat Naina merasa bersalah dan akibatnya nanti istrinya tak mau lagi menyuruhnya untuk melakukan ini dan itu lagi, karena Aaric merasa sebagai suami dan calon ayah dia harus siaga memenuhi semua keinginan istrinya yang mengidam.


Di kantor.


Selesai rapat Aaric segera memasuki ruangannya lalu menghempaskan tubuhnya pada sofa, sambil mengendurkan dasinya dia merogoh saku untuk mengambil ponsel berniat menelepon istrinya.


Aaric tampak berbincang sebentar dengan Naina, mendengar suara istrinya membuat Aaric kembali bersemangat, bahkan membuatnya juga ingin segera pulang ke rumah.


Kehamilan Naina membawa kebahagiaan tersendiri baginya, selain membuatnya semakin mencintai istrinya hingga gampang merindukannya.


"Sudah dulu ya, aku mencintaimu." Aaric menutup teleponnya.


Dia lalu berdiri mendekati meja kerjanya, melihat tumpukan berkas yang harus segera dia periksa.


Tak lama terdengar suara pintu diketuk, Aaric lalu melihat Ryan sahabatnya masuk ke dalam ruangan menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Tari kritis." Ryan menatap wajah sahabatnya.


Aaric langsung berdiri, menatap wajah Ryan dengan tidak percaya.


"Sheryl baru saja memberitahuku jika keadaan Tari tiba-tiba kritis, kami janjian akan ke rumah sakit sekarang, apa kamu mau ikut?"


Aaric langsung menundukkan kepalanya untuk berpikir, wajahnya tampak sangat bingung.


"Kamu harus menemuinya, kata ibunya Tari terus memanggil namamu," ucap Ryan pelan.


"Maaf, aku tidak bisa,"


"Kenapa?"


"Aku harus menjaga perasaan Naina, apalagi dia sedang hamil. Aku tak ingin menyakitinya," jawab Aaric.


"Melihatnya tak akan menyakiti Naina, aku yakin dia akan mengerti jika kamu melihatnya hanya sebagai sahabat saja, tidak lebih."


Aaric terlihat bimbang.


"Atau rahasiakan saja darinya jika kamu menemui Tari,"


Aaric menggelengkan kepalanya.


"Maaf aku tidak bisa." Aaric duduk kembali di kursinya.


"Bukannya aku tidak bersimpati kepadanya, tapi jika aku menemuinya tanpa sepengetahuan Naina, aku merasa aku sedang mengkhianatinya."


Ryan mendesah.

__ADS_1


"Kalau begitu katakan padanya dan ajaklah dia pergi bersamamu melihat Tari, biar bagaimanapun Tari juga adalah kakaknya, aku yakin jika Naina sebenarnya juga ingin melihat keadaan saudaranya."


Aaric terdiam sejenak.


"Akan aku pikirkan dulu."


"Sebaiknya jangan lama, jangan sampai kamu menyesal, ingat keadaannya yang kritis."


Aaric mengangguk.


Ryan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu, sementara nampak Aaric masih berpikir keras.


***


Dahlia menangis sesenggukan di dalam pelukan Intan, ada Sheryl yang mencoba menenangkannya, sementara Dani dan Ryan duduk termenung di kursi, dan Wisnu berjalan mondar-mandir dengan cemas.


Mereka semua menunggu para dokter yang sedang melakukan pemeriksaan pada Tari yang kondisinya tiba-tiba menurun seusai Wisnu dan Dahlia mengatakan jika dirinya tak jadi mendapatkan pendonor.


Tak lama beberapa orang dokter dan perawat keluar ruangan, mereka semua langsung menyerbu dan menanyakan keadaan Tari.


"Tekanan darahnya tiba-tiba menurun, itu yang mengakibatkan keadaan pasien tadi sempat menurun, tapi kini sudah stabil, kami memberinya obat tidur agar dia bisa beristirahat," ucap salah seorang dokter kemudian pamit untuk pergi.


Dahlia dan Wisnu tampak lega, begitu juga dengan yang lainnya.


"Terima kasih kalian sudah mau datang kesini ketika Tante telepon tadi," ucap Dahlia melihat Intan dan Sheryl bergantian.


"Iya Tante, Tari adalah sahabat kami, sudah tentu kami juga sangat mengkhawatirkannya," jawab Sheryl.


"Tante tahu, karena itu Tante langsung teringat kalian ketika keadaan Tari kritis tadi, oh iya kalian tidak memberitahu Aaric?" Dahlia melihat Ryan dan Dani.


Dani dan Ryan saling berpandangan lalu tampak bingung menjawab pertanyaan Dahlia.


"Tante mengerti, Aaric pasti tidak mau datang kesini," ucap Dahlia dengan sedih.


"Aaric mungkin akan kesini Tante, dengan istrinya," ucap Ryan.


Dahlia nampak kaget.


"Kalau dengan istrinya sebaiknya tidak usah, karena itu pasti akan sangat menyakiti Tari dan malah akan memperparah keadaannya saja," jawab Dahlia.


Semua orang tampak kaget ketika tiba-tiba Aaric muncul bersama dengan Naina, dan sudah pasti keduanya mendengar perkataan Dahlia.


Naina langsung terlihat serba salah, namun Aaric segera memegang tangan istrinya untuk melangkah mendekati mereka semua.


Dahlia yang melihat kedatangan Aaric dengan segera menghambur memeluknya sambil menangis tanpa memperdulikan Naina yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Tante tahu jika kamu masih sangat peduli pada Tari, kamu tidak akan melupakan Tari begitu saja," ucap Dahlia sambil terus menangis.


Naina terlihat semakin serba salah.


__ADS_2