
Wisnu tercengang lalu berdiri menatap Naina.
Lain halnya dengan Winda dan Aaric, mereka yang awalnya juga kaget kemudian tersenyum lega.
"A..Apa maksudmu?" tanya Dahlia masih dengan gagap.
Naina berjalan menghampirinya.
"Aku sudah tahu apa yang telah kalian lakukan pada ibuku," jawab Naina menatap Dahlia tajam
"Memangnya apa yang sudah kami lakukan?" tanya Dahlia gugup.
Naina tersenyum.
"Banyak sekali," jawab Naina masih menatap wajah Dahlia dengan tajam.
Nisa yang tak bisa lagi menahan haru terlihat menitikkan air mata, dia yang tadinya pasrah jika putrinya akan membencinya karena lebih mempercayai perkataan Dahlia dibuat tak percaya jika sebenarnya Naina justru telah mengetahui semuanya.
Naina berjalan mengelilingi Dahlia.
"Lakukan perintahku! Minta maaflah pada ibuku sekarang juga. Karena jika kalian menolaknya, aku sendiri yang akan membuat kalian kehilangan kesempatan satu-satunya untuk menyembuhkan putri tersayang kalian."
Dahlia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mungkin melakukan itu, biar bagaimanapun juga Tari adalah kakakmu." Dahlia melihat Naina dengan memelas.
"Aku tahu kamu anak yang baik dan lemah lembut, entah apa yang telah mereka katakan padamu sehingga kamu menjadi seperti ini," ucap Dahlia lagi mencoba merayu Naina.
__ADS_1
Lagi-lagi Naina tersenyum sinis.
"Mengetahui apa yang sudah kalian lakukan pada ibuku yang telah merubahku, jika kalian bisa jahat, kenapa aku tidak? Biar bagaimanapun darahnya mengalir di tubuhku, sifatnya yang kejam pasti menurun padaku," jawab Naina sambil menunjuk Wisnu.
Wisnu terperanjat mendengar perkataan Naina, dia kembali duduk di sofa lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
Semua orang terdiam, hanya Winda yang melihat adegan yang terjadi di depannya sambil terus tersenyum sendiri.
Sedangkan Aaric dibuat tak percaya dengan sikap berani dan tegas istrinya, baru kali ini dia melihat sisi lain sifat Naina yang seperti itu, sangat berbeda jauh dari sikapnya yang penuh kelembutan yang selalu ia tunjukkan selama ini.
"Bagaimana?" tanya Naina lagi melihat Dahlia dan Wisnu bergantian.
"Aku tidak akan meminta maaf karena aku tidak merasa bersalah. Apapun yang kamu dengar tentang kami itu tak sepenuhnya benar. Lagi pula seharusnya kamu bersyukur karena aku mengizinkan ayahmu menikah dengan ibumu sehingga lahirlah kamu ke dunia ini," ucap Dahlia kali ini dengan sangat lantang.
"Dan apa kalian tidak pernah berpikir bagaimana rasanya jika kalian berada di posisiku?" Dahlia melihat semua orang bergantian.
"Perasaanku saat itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi aku ikhlas asal putriku bisa sembuh dan berumur panjang." Dahlia sudah tak bisa menahan air matanya yang kini mulai bercucuran.
"Aku memang mengharapkan kelahiranmu agar kelak bisa membantu penyembuhan putriku, tapi bukan berarti kamu dan ibumu hanya akan dimanfaatkan terus dibuang begitu saja, kamu akan aku anggap seperti anakku sendiri, ibumu juga seandainya tidak kabur, tak akan kubiarkan ayahmu untuk meninggalkannya. Kita akan hidup bersama dengan rukun dan bahagia." Dahlia menutup wajahnya sambil menangis.
"Itu tidak benar! Wisnu berencana menceraikanku setelah Naina lahir, kalian akan mengambil putriku dariku dan memisahkan kami," ucap Nisa membantah perkataan Dahlia.
Dahlia terlihat kaget mendengar perkataan Nisa.
"Aku tidak tahu itu," ucap Dahlia sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku sendiri tak pernah mempunyai niatan seperti itu. Aku sudah ikhlas di poligami seumur hidupku," ucap Dahlia lagi.
__ADS_1
Semua orang langsung melihat Wisnu, memintanya untuk menjelaskan semuanya.
"Semua yang dikatakan istriku benar. Hanya memang ada beberapa kesalahan yang mamang kami lakukan padamu, diantaranya tidak memberitahumu yang sebenarnya tujuan aku menikahimu waktu itu, jadi semuanya seperti aku menjebak dan memanfaatkanmu," kata Wisnu sambil berdiri.
"Kami tidak melakukannya karena kamu pasti akan menolaknya, mana mungkin ada wanita yang mau dinikahi hanya agar anaknya kelak bisa menjadi penawar untuk penyakit orang lain," ucap Dahlia dengan pelan.
Semua orang terdiam sejenak.
"Kamu benar, aku memang berniat menceraikanmu waktu itu setelah putri kita lahir, itu semua aku lakukan karena merasa tidak sanggup lagi menyakiti hati istriku," ucap Wisnu.
"Aku tidak sanggup lagi berpoligami, aku tahu istriku menderita walaupun dia selalu berpura-pura untuk tegar. Aku tidak mau semakin menyakitinya lagi karena waktu itu aku mulai merasa jika aku benar-benar jatuh cinta padamu," tambahnya lagi.
Nisa terkejut, begitu juga dengan Dahlia. Hatinya seakan teriris mengetahui kenyataan jika sebenarnya suaminya ternyata jatuh cinta sungguhan pada Nisa, sesuatu yang tidak pernah dia sangka sama sekali.
Wisnu berjalan mendekati Nisa, menatap wajahnya sejenak lalu tiba-tiba dia melipat kedua kakinya sehingga dia kini berdiri dengan lututnya tepat di hadapan Nisa.
Semua orang terkejut melihat Wisnu berlutut di hadapan Nisa, terlebih Dahlia yang langsung menangis histeris hingga kemudian terduduk lemah di lantai.
"Maafkan aku. Untuk semua kesalahanku, maafkan aku!" Wisnu menundukkan kepalanya sambil kemudian menangis terisak.
"Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan padamu," tambahnya lagi masih dengan terisak.
Nisa menatap Wisnu sambil terus menitikkan air matanya, dia lalu dikejutkan oleh Naina yang berjalan mendekatinya.
Naina berdiri sejenak menatap wajah sang ibu, lalu tiba-tiba dia memeluk Nisa. Keduanya lalu berpelukan erat sambil menangis terisak.
Semua orang yang melihat ikut merasa terharu.
__ADS_1