Rahim Titipan

Rahim Titipan
Berpapasan.


__ADS_3

Tari menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca besar di depannya


Dia menahan tangis melihat sosok dirinya yang kian hari kian jauh berubah. Tubuhnya semakin kurus, kepalanya yang hampir botak dan wajahnya yang pucat semakin menegaskan jika dirinya memang tengah sakit parah.


Tari kemudian duduk di ranjang rumah sakit, tempat yang kini seakan menjadi rumah kedua baginya dalam lima tahun terakhir ini.


Sambil duduk Tari mengingat kembali tentang pertemuannya dengan Aaric tadi malam, pertemuan pertama mereka setelah lima tahun lamanya, sebuah pertemuan yang sebenarnya sangat dia hindari.


Tari berpikir seharusnya dia mendengar saran Axel untuk tidak datang ke pesta resepsi Aaric tadi malam karena menurutnya itu hanya akan membuatnya semakin sedih saja dan benar saja alih-alih dia akan ikut berbahagia kedatangannya kesana justru semakin membuatnya jatuh terpuruk, Tari tak tahan melihat pria yang dicintainya bersanding dengan wanita lain di pelaminan.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya, buru-buru Tari menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


Seorang wanita paruh baya menghampiri Tari, duduk di sampingnya dan langsung menundukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi tadi malam, kamu bertemu dengan Aaric?"


Tari meremas kedua tangannya, lalu mengangguk pelan.


"Sudah mama bilang jika sebaiknya kamu tidak datang kesana, semuanya hanya akan membuat ku semakin sedih."


"Aku tidak apa-apa ma. Aku baik-baik saja." Tari berusaha untuk tersenyum sambil melihat ibunya.


Dahlia melihat putrinya, menatapnya dengan nanar.


"Seharusnya kamu tak meninggalkannya dulu."


Tari menggelengkan kepalanya.


"Tidak ma. Keputusanku benar dengan membuatnya membenciku. Aku tidak ingin dia melihat keadaanku yang seperti ini."


"Dulu Aaric sangat mencintaimu Nak. Mama yakin jika kamu tak membuatnya salah paham, dia akan setia padamu bagaimanapun keadaanmu."


"Ma..Aku tak bisa membuatnya terus bersamaku, menemaniku yang sakit-sakitan. Apalagi saat itu ayahnya juga baru meninggal, di tengah kesedihannya dia juga harus mengambil tanggung jawab besar mengambil alih perusahaan, aku tak bisa menambah bebannya dengan memberitahunya tentang penyakitku ini."


"Jika aku tetap bersamanya, aku juga tak bisa memenuhi semua impian-impiannya." Tari menyeka air matanya.


"Dia ingin kami segera menikah dan mempunyai anak karena itu keinginan ibu dan neneknya, sementara aku, dengan penyakitku tak bisa memberikannya." Tari mulai terisak.


Dahlia langsung memeluk putrinya.


"Kamu akan sembuh Nak. Mama dan papa janji jika kamu akan sembuh," Dahlia menepuk pundak Tari sambil menahan agar air matanya tidak keluar.


Tari melepaskan diri dari pelukan ibunya.


"Sekarang aku tidak berharap untuk sembuh ma, aku tahu seberapa parah penyakit ini."


Dahlia buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Apa yang terjadi padamu sama seperti apa yang terjadi sama pamanmu dulu. Kamu lihat jika sekarang dia sudah sembuh dan kembali sehat, panjang umur sampai sekarang," ucap Dahlia dengan bersemangat.

__ADS_1


"Mama sudahlah, jangan memberiku harapan." Tari menunduk.


Dahlia memegang kedua pundak putrinya.


"Mama mohon kamu jangan menyerah, semuanya tergantung pada semangatmu untuk sembuh."


Tari kembali melihat ibunya, menatap wanita yang telah melahirkannya, wanita yang selama ini menemaninya tanpa lelah dan menyerah.


"Maafkan aku mah. Aku hanya merasa lelah telah banyak berharap." Tari memeluk ibunya.


"Harapanmu tidak akan sia-sia Nak. Percayalah jika perjuangan kita selama ini akan membuahkan hasil, kamu akan sembuh dan sehat seperti sediakala."


Tari menganggukan kepalanya.


***


Seminggu Kemudian.


Naina sedang memilih baju kerja untuk suaminya, dia sibuk memilih jas yang cocok untuk dipasangkan dengan kemeja yang sudah dia pilih.


Tiba-tiba Aaric memeluknya dari belakang, dengan hanya menggunakan handuk karena baru saja selesai mandi, Aaric menggoda istrinya.


"Lepaskan. Nanti kamu kesiangan."


Aaric melepaskan pelukannya.


Naina membalikkan tubuh menghadap suaminya.


"Tunggu dulu." Aaric menahan tangan istrinya.


"Bagaimana kalau kita pergi bulan madu lagi?"


Naina mengerutkan keningnya.


"Bulan madu lagi? Kemana?"


"Kali ini kita akan keluar negeri, kamu pilih negara mana yang selama ini ingin kamu kunjungi."


Naina nampak sedang berpikir.


"Tidak ada." Naina menggeleng.


"Baiklah. Aku saja yang pilih kalau begitu. Bagaimana kalau kita pergi keliling Benua Eropa saja?"


Naina mengernyitkan dahi.


"Hmm... Bagaimana kalau lain kali saja."


"Kenapa?" tanya Aaric heran.

__ADS_1


"Nenek masih harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit, aku ingin menemaninya. Rencananya juga siang ini aku akan menemaninya ke rumah sakit."


"Ada ibu yang biasa menemaninya kan?"


"Iya. Tapi ibu pasti lelah karena selama ini harus mengurus Nenek, kita biarkan dia sejenak beristirahat mengurus Nenek, bagaimana? boleh kan?"


Aaric tampak mengerti dengan alasan Naina.


"Baiklah. Kalau begitu kita undur saja bulan madunya."


Naina tersenyum.


"Aku ke bawah dulu ya?"


Aaric mengangguk, dia melihat istrinya pergi meninggalkan kamar mereka.


Aaric tersenyum senang, merasa bersyukur karena telah diberikan seorang istri yang menyayangi Nenek dan ibunya dengan tulus.


***


Naina mendorong kursi roda yang dinaiki Nenek menyusuri koridor rumah sakit dengan diikuti oleh dua orang perawat yang biasa merawat Nenek, mereka baru saja selesai melakukan chek-up untuk mengetahui perkembangan kesehatan Nenek.


Mereka terus menyusuri lorong menuju lobby rumah sakit, hingga tak sengaja Naina melihat sosok yang rasanya dia kenal berpapasan dengan mereka.


Naina merasa kalau orang yang baru saja berpapasan dengannya adalah Tari, mantan pacar suaminya, namun dia sedikit ragu karena kali ini dia nampak sangat berbeda, belum lagi dia duduk di atas kursi roda, didorong oleh seseorang yang nampak seperti ibunya.


"Ada apa nak?" tanya Nenek membuyarkan lamunan Naina yang diam mematung.


Naina nampak kaget, dia langsung kembali mendorong kursi roda lagi.


"Tidak nek. Aku hanya merasa mengenal orang yang baru berpapasan dengan kita barusan, tapi sepertinya aku salah orang."


Nenek tersenyum


"Kenapa tidak kamu hampiri untuk memastikannya?"


"Tidak Nek. Aku yakin aku salah orang."


Naina menepis pikirannya jika orang itu adalah Tari, dia yakin kalau mereka hanya mirip saja, lagi pula wanita tadi tampak jauh berbeda dengan Tari yang dia temui waktu itu yang tampil sangat cantik dan menawan.


Wanita tadi justru terlihat lemah tak berdaya duduk di atas kursi roda, wajahnya pucat dan badannya sangat kurus serta kepalanya yang botak membuat Naina yakin jika dia sedang mengidap penyakit yang serius, tak lupa dia juga berdoa semoga wanita tadi segera diberikan kesembuhan, karena jujur saja dia merasa sedikit bersimpati kepadanya.


Naina terus saja mendorong kursi roda Nenek, hingga dia dikagetkan oleh seseorang yang memanggilnya.


"Nona. Tunggu."


Naina langsung menghentikan langkahnya, menengok ke belakang dimana seorang pria paruh baya menghampirinya dengan terengah.


"Ya?" tanya Naina merasa heran.

__ADS_1


Pria itu menatap Naina lekat.


"Maaf. Boleh saya tahu nama ibumu?"


__ADS_2