Rahim Titipan

Rahim Titipan
Nasihat Winda.


__ADS_3

Naina duduk termenung di ayunan depan kolam renang di halaman belakang rumah, sambil mengelus perutnya dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Sudah tentu Naina memikirkan semua perkataan Dahlia padanya di rumah sakit tadi, mengenai kakaknya yang ternyata masih mencintai suaminya juga tentang kehamilannya yang menurut ibu tirinya itu menjadi penyebab Tari tidak bisa sembuh dari penyakitnya sehingga membuat keadaannya semakin parah.


Mendengar Dahlia berbicara seperti itu, sudah pasti membuat Naina merasa sedih, terutama tentang kehamilannya yang disalahkan karena seakan menjadi penghalang bagi kesembuhan kakaknya.


"Apa yang kamu pikirkan Nak?" tanya Winda yang rupanya sudah memperhatikan Naina sedari tadi, dia duduk di samping menantu kesayangannya.


"Tidak Bu," jawab Naina sambil tersenyum.


Winda tersenyum.


"Kamu pasti tahu jika wanita hamil tidak boleh banyak pikiran," ucap Winda dengan lembut.


Naina hanya mengangguk pelan.


"Ibu sudah bisa menebak apa yang dikatakan Ibu Dahlia padamu di Rumah Sakit tadi," ucap Winda lagi.


Naina langsung menundukkan kepalanya.


"Sayang, lihat ibu!" Winda memegang tangan Naina.


Naina menatap wajah ibu mertuanya.


"Apapun yang dikatakannya padamu, kamu tidak usah memikirkannya, bagaimanapun juga keadaan kakakmu, itu juga bukan kesalahanmu, kita cukup mendoakan yang terbaik untuknya. Ibu minta agar kamu fokus saja pada kehamilanmu ini, jangan memikirkan yang lainnya."


Naina mengangguk.


"Mungkin ini terdengar jahat, tapi ibu ingin kamu tidak usah datang lagi ke Rumah Sakit untuk melihat kakakmu, karena itu hanya akan membuatmu sedih saja, belum lagi ibu tahu jika ibu tirimu pasti akan terus mengatakan sesuatu yang membuatmu tertekan saja."


Naina terdiam, dia kembali menundukkan kepalanya.


"Jika kamu terus merasa sedih dan tertekan, itu bisa berpengaruh pada kehamilanmu, kamu tentunya tak ingin kan kehilangan bayimu?"


Naina langsung melihat Winda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Karena itu dengarkan nasihat ibu, ingat sayang, kelahiran anakmu ini sangat dinantikan, terutama oleh Nenek,"


"Iya Bu. Aku akan mendengar semua nasihat ibu, ibu benar, tidak ada hal lain yang lebih penting sekarang selain anak ini." Naina memegang perutnya.


Winda tersenyum sambil mengusap pundak menantunya.


***

__ADS_1


Aaric membuka pintu kamar perlahan, dia lalu berjalan mendekati istrinya yang sudah terlelap tidur di atas kasur.


Aaric menyimpan jasnya, sambil membuka dasi dan kancing kemejanya dia terus menatap wajah istrinya yang terlelap dengan penuh cinta.


Setelah membuka kemejanya, dia lalu duduk di tepi tempat tidur untuk membuka sepatu dan kaos kakinya, setelah itu dia mendekati istrinya lalu menciumi kening dan pipi Naina perlahan.


Naina rupanya terusik hingga membuatnya terbangun dari tidurnya, dia membuka mata dan tersenyum melihat suaminya.


"Sayang, kamu sudah pulang? Jam berapa ini?" tanya Naina sambil membelai pipi sang suami


"Maaf sayang sudah membuatmu terbangun, sekarang jam setengah sebelas," jawab Aaric sambil memegang tangan Naina yang membelai wajahnya lalu menciuminya.


"Malam sekali pulangnya," jawab Naina kembali membelai wajah suaminya.


"Pekerjaan di kantor lagi banyak sekali, maaf ya."


"Pasti capek ya, sudah makan?" tanya Naina.


"Sudah. Kamu sendiri?"


Naina mengangguk.


Aaric kembali mengecup kening istrinya


"Aku mandi dulu ya," bisiknya lembut sambil kemudian akan beranjak dari tempat tidur.


"Ini sudah malam, jangan mandi, nanti sakit."


"Tapi sayang, badanku berkeringat."


"Tidak apa-apa, aku suka bau keringatmu," jawab Naina sambil menyimpan kepalanya di atas dada bidang sang suami yang polos lalu memeluk tubuh Aaric dengan erat.


Aaric tersenyum sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Sayang."


"Hmm," jawab Naina sambil terpejam.


"Besok aku harus pergi. Ada urusan pekerjaan."


"Kemana?"


"Ke Jerman."

__ADS_1


Naina yang kaget langsung mengangkat kepalanya, menatap wajah suaminya lekat.


"Berapa lama?"


"Paling lama seminggu," jawab Aaric juga menatap wajah istrinya.


"Lama sekali," ucap Naina terdengar sedih.


"Sayang maafkan aku, seandainya bisa diwakilkan, aku akan menyuruh orang lain untuk pergi, tapi kali ini aku sendiri yang harus datang kesana."


"Apa tidak bisa lebih cepat? Tiga hari misalnya?"


"Akan aku usahakan sayang, aku juga tak tenang meninggalkanmu lama-lama."


"Iya, cepatlah pulang, nanti anakmu merindukanmu," ucap Naina dengan manja.


Aaric tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya, hingga Naina kini berada di bawahnya.


Aaric mengusap perut istrinya sambil menatap wajah Naina dengan lekat.


"Kamu atau anakku yang akan merindukanku?"


"Aku juga pasti merindukanmu," jawab Naina malu-malu.


Aaric tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya.


Keduanya saling bertatapan sejenak.


"Aku menginginkanmu," bisik Aaric penuh hasrat.


Wajah Naina merona, dia hanya tersenyum kecil mendengar perkataan suaminya.


"Aku akan melakukannya dengan perlahan, tidak akan menyakiti anak kita," bisik Aaric lagi.


Naina mengangguk pelan. Rupanya semenjak Aaric tahu jika Naina hamil, dia tak berani memaksakan kehendaknya menggauli istrinya walaupun sebenarnya dia sangat ingin, Aaric berpikiran di kehamilan muda seperti istrinya saat ini yang masih sangat rentan, berhubungan intim bisa saja membahayakannya, akan tetapi setelah dia berkonsultasi dengan Dokter Dani yang mengatakan jika tidak apa-apa melakukannya asal pelan dan hati-hati, maka malam ini Aaric tak bisa menahan lagi hasratnya apalagi besok dia akan pergi ke luar negeri.


Aaric mulai melancarkan aksinya, mengecup hingga menciumi bibir istrinya dengan penuh gairah, Naina mengikuti semua permainan suaminya, hingga keduanya larut dalam perasaannya masing-masing untuk saling memuaskan hasrat dan Aaric menepati ucapannya untuk melakukannya dengan pelan dan penuh kelembutan.


"Aku mencintaimu," bisik Aaric di akhir pergumulan panas mereka.


"Aku juga," jawab Naina.


"Aku sangat mencintaimu dan anak kita," ucap Aaric lagi.

__ADS_1


"Jaga anak kita baik-baik selama aku pergi nanti," tambah Aaric sambil mencium perut istrinya.


Naina mengangguk.


__ADS_2