
Beberapa jam berlalu dan kini Naina telah di tempatkan di ruang perawatan.
Nisa dan juga Aaric dengan setia duduk di samping Naina yang masih belum tersadar akibat dari efek dari obat bius pasca operasi.
Nisa yang kini terlihat sudah sedikit lega, terus memegang tangan Naina dengan erat, tatapannya tak lepas dari wajah sang putri, satu tangannya lagi dia gunakan untuk membelai rambut Naina dengan lembut.
Aaric melakukan hal yang sama, dia memegang tangan kanan Naina dengan kedua tangannya sambil sesekali diangkat untuk diciumnya.
Sementara yang lainnya juga masih setia menunggu di luar karena dokter membatasi jumlah orang yang menunggu di dalam, mereka bertahan disana demi mendengar kabar terbaru dari Naina.
Tak berapa lama, Naina tampak membuka matanya perlahan, melihat itu Nisa dan Aaric terlihat sangat senang.
"Sayang.." Aaric memanggil istrinya.
"Sayang. Kamu sudah bangun Nak?" tanya Nisa terharu, hingga tanpa terasa dia menangis bahagia melihat akhirnya Naina tersadar.
Naina menatap wajah sang ibu dan suaminya bergantian. Sejenak dia terlihat sedikit bingung, namun kemudian dia mengingat semuanya.
Naina langsung memegang perutnya.
"Bayiku? Apa bayiku tidak apa-apa?" tanya Naina dengan panik.
"Tidak sayang. Anak kita tidak apa-apa." Aaric berusaha menenangkan istrinya.
"Anakmu tak apa-apa Nak. Dia baik-baik saja." Nisa melakukan hal yang sama.
Naina terlihat lega, tapi kemudian dia teringat sesuatu.
"Ayah?" Naina melihat suami dan ibunya lagi bergantian.
Nisa dan Aaric saling berpandangan.
"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Naina penasaran.
"Sayang. Ayahmu juga baik-baik saja," jawab Aaric.
Naina langsung melihat ibunya.
"Benarkah? Apa ayah baik-baik saja?" tanya Naina pada Nisa.
Nisa langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya. Ayahmu baik-baik saja. Kamu tidak usah mencemaskannya," jawab Nisa sambil tersenyum.
"Kalian tidak bohong kan?" tanya Naina sedikit curiga.
Aaric dan Nisa kembali saling berpandangan.
__ADS_1
"Begini sayang. Operasi ayahmu berjalan dengan sukses, tapi beliau harus masuk ruang ICU." Aaric memutuskan untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya.
"Tapi dia akan baik-baik saja, dia disana hanya agar bisa dipantau lebih baik lagi oleh para Dokter." Nisa menambahkan.
Naina terlihat sangat sedih, dia mengingat kembali kejadian tadi pagi dimana ayahnya terkena tiga kali tembakan demi menyelamatkan nyawanya.
"Aku ingin melihat keadaannya," ucap Naina sambil menitikkan air matanya melihat suaminya.
"Mama. Aku ingin melihat keadaan ayah." Kali ini Naina melihat ibunya.
"Tapi sayang. Keadaanmu tidak memungkinkan. Kamu juga baru saja menjalani operasi," ucap Aaric.
"Iya. Kamu harus banyak beristirahat sekarang. Setelah kamu sedikit membaik, kita akan melihat keadaan ayahmu," ucap Nisa juga.
Naina semakin terisak. Dia merasa sangat menyesal karena sempat berpikir jika ayahnya tak pernah menyayanginya, padahal kenyataannya adalah ayahnya sangat menyayanginya hingga bersedia berkorban nyawa demi dirinya.
"Jangan menangis. Ayahmu akan baik-baik saja." Aaric berusaha menenangkan istrinya.
Nisa menyeka air mata putrinya.
Tak lama perawat datang untuk memeriksa keadaan Naina, mengetahui jika pasien kini telah sadar, perawat segera memberitahu Dokter.
Tak berapa lama Dokter datang, ada juga Dani yang ikut memeriksa keadaan Naina, sementara Aaric dan Nisa diminta untuk menunggu diluar.
Semua orang terlihat senang mengetahui jika Naina kini telah sadar terlebih dengan Intan dan Sheryl yang terlihat sangat lega, sementara Aaric sibuk menelepon ibunya yang tadi pamit pulang duluan karena mengkhawatirkan keadaan Nenek karena menurut pegawai rumahnya Nenek sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu di ruang tunggu ICU.
Dahlia berdiri memandangi sang suami di balik kaca, wajahnya yang sembab menjadi pertanda jika dirinya telah banyak menangis sedari tadi.
Dahlia dibuat kaget dengan kedatangan Axel yang tiba-tiba telah berdiri di sampingnya.
"Aku baru saja berbicara dengan dokternya. Operasinya berjalan lancar, jika sampai besok keadaannya tetap stabil seperti ini, om akan bisa dipindahkan ke ruang perawatan." ucap Axel sambil melihat Dahlia.
Dahlia menyeka air matanya sambil mengangguk pelan.
"Semoga keadaannya tetap stabil seperti ini," ucap Dahlia.
Axel menganggukan kepalanya.
"Besok Tari akan keluar dari ruang operasi." ucap Dahlia dengan lirih.
Axel terdiam.
"Seharusnya besok akan menjadi hari yang membahagiakan bagi keluarga kami, karena akhirnya Tari bisa sembuh setelah sekian dia menderita karena penyakitnya."
"Seharusnya kami merayakannya bersama. Tapi kenyataannya justru kali ini giliran ayahnya yang terbaring seperti ini." Dahlia kembali menangis terisak.
__ADS_1
"Dan besok Tari pasti akan menanyakan ayahnya, apa yang harus aku katakan padanya?" Dahlia semakin terisak.
Intan dan Sheryl yang baru saja datang dan mendengar semua perkataan Dahlia langsung menghampirinya.
Keduanya langsung memeluk Dahlia dan berusaha menenangkannya.
Dahlia yang sedih menangis di pelukan Intan.
"Om akan baik-baik saja Tante," ucap Intan.
"Iya. Aku yakin jika sekarang om sedang berjuang untuk segera sembuh, dia juga pasti ingat besok hari yang penting untuk Tari," ucap Sheryl.
Dahlia langsung menghapus air matanya.
"Kamu benar. Suamiku pasti akan bertahan dan berjuang untuk segera sembuh, aku tahu jika dia pasti tak ingin mengecewakan Tari."
***
Malam Hari.
Di Parkiran Rumah Sakit.
Nisa melihat Thomas di depannya dengan penuh amarah.
"Terima kasih sudah mengantarkannya padaku." Nisa melihat Sam dan Leo bergantian.
Sam menekuk lutut Thomas dengan kakinya sehingga kini pamannya itu berlutut tepat di hadapan Nisa.
Terlihat badan Thomas gemetar dengan hebatnya, wajahnya yang pucat dan berkeringat dingin semakin menunjukkan jika kini dirinya sedang sangat ketakutan, terlebih melihat orang-orang bertubuh kekar di belakang Nisa.
"Jadi kamu ingin menghabisi anakku?" tanya Nisa dengan santainya.
Thomas tidak menjawab, dia terus menunduk ketakutan.
Nisa tersenyum sinis.
Dia lalu melirik orang-orang di belakangnya.
"Bawa dia ke kantor polisi, tapi sebelum itu beri dia pelajaran terlebih dahulu, buat dia menyesal atas perbuatannya pada anakku" ucap Nisa kepada semuanya.
"Tunggu."
Semua dikagetkan oleh kedatangan Aaric yang tiba-tiba.
"Dia menjadi urusanku sekarang." Aaric menghampiri Thomas dengan geram, kedua tangannya mengepal dengan kuat.
"Jadi orang ini yang telah berusaha membunuh istri dan anakku."
__ADS_1