
"Apa maksudmu? Naina berhak tahu siapa ayah kandungnya."
"Maafkan saya. Saya hanya mempunyai firasat jika mengetahui kebenarannya hanya akan membuat istri saya tersakiti, jika demikian maka keadaan seperti ini mungkin yang terbaik. Kepalang saja dia tidak mengetahui asal usulnya, karena percuma saja dia tahu jika akhirnya hanya akan membuatnya terluka."
Wisnu terdiam sejenak untuk berpikir.
"Membuatnya terluka," gumam Wisnu pelan.
"Iya. Mengetahui semuanya hanya akan membuatnya semakin penasaran akan beberapa hal. Seperti apa yang sebenarnya terjadi hingga dia bisa dititipkan di Panti Asuhan, apa juga yang terjadi antara anda dan ibunya? Dimana ibu kandungnya sekarang? Kenapa ibunya sampai harus kabur membawanya dari Anda, pasti dia merasa ada sesuatu dibalik itu semua. Apa anda sudah siap dengan semua pertanyaan itu?" tanya Aaric panjang lebar.
Wisnu tampak semakin bingung.
"Aku sangat mencintai Naina, tidak ingin melihatnya terluka dan menderita, dan aku bertekad selama dia di sisiku aku akan membuatnya bahagia karena sudah cukup baginya hidup menderita selama tinggal di Panti, hidup sebagai anak yatim piatu tanpa limpahan kasih sayang dari orang tua kandungnya, hidup dengan hanya mengharapkan belas kasih dan sumbangan orang lain, hidup kekurangan namun tetap harus saling berbagi dengan sesama penghuni Panti lainnya."
"Sudah cukup. Jangan dilanjutkan lagi, Saya sudah tahu mengenai hal itu," Wisnu memotong perkataan Aaric, dia nampak tak sanggup lagi mendengar tentang Naina dan penderitaannya selama ini.
Keduanya terdiam beberapa saat.
"Kamu benar, ada suatu cerita di balik kelahirannya, dan jika dia mengetahuinya pasti akan membuatnya sangat terluka," ucap Wisnu tiba-tiba.
"Dan anda masih ingin mengatakannya?" tanya Aaric penasaran.
"Saya tetap harus mengatakannya, karena sesuatu hal, " jawab Wisnu pelan.
"Walaupun itu berarti anda tahu jika itu akan menyakitinya? Alih-alih membahagiakannya sebagai penebus atas segala penderitaannya selama ini anda malah akan membuatnya kembali menderita?"
"Sudah saya katakan ada sesuatu hal sehingga saya tetap harus mengatakannya walaupun itu akan membuatnya menderita."
"Saya tidak tahu jika anda sangat egois," ucap Aaric.
Wisnu terdiam menerima perkataan Aaric karena faktanya memang seperti itu, dia sangat egois dan tak memperdulikan perasaan Naina m
"Saya tak akan membiarkan kalian bertemu." tanya Aaric seolah mengancam.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu akan menyesal karena nyawa seseorang sedang dipertaruhkan disini." jawab Wisnu.
Aaric terdiam tak mengerti.
***
Aaric berjalan bolak-balik di ruangannya setelah Wisnu pergi dari sana beberapa saat yang lalu, dia nampak cemas dan bingung dengan ucapan terakhir Wisnu yang mengatakan tetap ingin memberitahu Naina kenyataan yang sebenarnya.
Sebenarnya Aaric masih sedikit kaget dengan kenyataan jika Naina adalah putri kandung dari Pak Wisnu, dan secara tidak langsung mengatakan jika Naina dan Tari, mantan pacarnya adalah kakak beradik, rasa-rasanya dunia ini menjadi tempat yang sempit sekali, bisa-bisanya dia secara kebetulan mencintai wanita yang ternyata adalah kakak beradik.
Namun bukan hal itu yang menjadi masalahnya sekarang, namun ucapan Wisnu yang mengatakan jika nyawa seseorang sedang dipertaruhkan disini jika dirinya menghalangi pertemuan antara Wisnu dan Naina.
"Ada apa ini?" tanya Aaric berpikir sangat keras.
***
Wisnu berdiri tepat di depan pintu dimana Tari sedang dirawat, dia terlihat ragu untuk memasuki ruangan itu terlebih dia mendengar jika istri dan putrinya tengah mengobrol dengan asyiknya, mereka tengah membicarakan kemana mereka akan berlibur panjang nanti setelah Tari sembuh total dari penyakitnya.
"Tapi siapa orang itu Bu?" terdengar Tari tiba-tiba menanyakan hal itu pada ibunya.
Wisnu yang masih berdiri di luar, tak mendengar suara istrinya menjawab pertanyaan putri mereka, dia tahu jika Dahlia pasti bingung harus menjawab apa.
Wisnu segera membuka pintu, kedatangannya disambut gembira oleh istri dan Tari.
Wisnu menghampiri Tari yang membuka tangannya lebar tanda ingin memeluknya.
"Bagaimana kabarmu hari ini sayang?" tanya Wisnu sambil mengecup kening putrinya.
"Sangat baik Pa. Hari ini aku sangat senang karena mama bilang papa sudah menemukan seseorang yang sumsum tulang belakangnya cocok denganku," ucap Tari dengan berseri.
"Mama kamu benar sayang. Sebentar lagi kamu akan sembuh." Wisnu mengelus rambut Tari.
"Tapi pah. Siapa orang itu?"
__ADS_1
Wisnu melihat Dahlia.
"Apa dia masih keluarga kita? Karena kalau tidak salah dokter pernah mengatakan jika hanya orang yang mempunyai hubungan darah yang bisa melakukannya."
"Kamu salah nak. Sebenarnya siapa saja bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya selama itu cocok."
"Benarkah seperti itu?" tanya Tari ragu.
"Sudah. Siapa saja orang itu, tidak usah kamu pikirkan. Sekarang yang terpenting adalah kamu akan sembuh, dan mama sangat senang. Rasanya ini semua seperti mimpi saja." Dahlia memeluk Tari dengan erat, ada genangan air mata di kelopak matanya.
Wisnu terdiam mendengar ucapan Dahlia.
***
Malam Hari.
"Ada apa?" Naina menggeser tubuhnya mendekati Aaric yang berbaring di sampingnya, dia lalu menyimpan kepalanya di atas dada sang suami yang semenjak kepulangannya dari kantor tadi tampak terus terdiam, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
"Tidak apa-apa sayang." Aaric mengelus rambut istrinya sambil mengecup pucuk kepalanya.
"Hari ini aku lelah sekali." Naina menguap sambil kemudian memejamkan matanya.
"Memangnya apa yang kamu lakukan seharian ini?"
"Menemani ibu berbelanja membeli baju dan kebutuhan lainnya untuk semua anak-anak di Panti. Apa kamu lupa? Tadi kan aku menelepon untuk meminta izin pergi ke pusat perbelanjaan," ucap Naina yang mengantuk sambil terpejam.
"Oh iya. Maaf aku lupa," jawab Aaric sambil tersenyum.
Keduanya terdiam beberapa saat.
"Sayang. Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Aaric.
"Sayang. Bagaimana jika seandainya orang tua kandungmu datang sekarang. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menerimanya atau justru akan membenci mereka?"
__ADS_1