
"Ha..hamil?" tanya Dahlia dengan gagap melihat Winda.
"Iya! Kita akan punya cucu," jawab Winda masih dengan sumringah.
Dahlia kembali melihat suaminya yang hanya bisa terdiam merenung.
"Aku tahu kalian pasti terlalu bahagia hingga tak bisa mengatakan apapun." Winda tersenyum melihat Dahlia dan suaminya yang nampak masih syok.
Sementara Aaric yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum getir saat melihat reaksi keduanya ketika diberi tahu jika Naina sedang mengandung, alih-alih bahagia dan senang karena akan segera mendapatkan cucu, keduanya justru menunjukkan wajah yang sangat kecewa, membuat Aaric semakin yakin jika memang keduanya tidak memiliki perasaan yang tulus kepada istrinya.
Sementara Naina hanya bisa menundukkan kepalanya, hatinya sangat sakit dan kecewa karena sama halnya seperti suaminya, dia juga bisa melihat jika ayahnya sama sekali tidak menunjukkan wajah bahagia ketika diberitahu jika dirinya sedang mengandung cucunya.
"Hamil?" gumam Dahlia lagi namun kali ini seperti orang yang linglung, dia menarik-narik rambutnya sendiri dengan air mata yang mulai bercucuran, membuat semua orang keheranan.
Wisnu segera memegang tangan istrinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Wisnu berusaha menenangkan istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Winda pura-pura tidak mengerti karena sebenarnya dia tahu jika Dahlia kini tengah sangat kecewa karena Naina tidak bisa menolong putrinya.
"Kenapa anda menangis? Seharusnya anda senang karena Naina putri yang baru saja kalian temukan kini sedang mengandung cucu kalian? Kenapa anda malah bersedih?" tanya Winda pada Dahlia yang terus terisak.
"Putriku akan mati. Aku sedih karena tak ada lagi harapan putriku bisa sembuh." Dahlia terus menangis terisak sambil memeluk suaminya, seakan kini dia tidak peduli dengan orang di sekitarnya.
"Percuma kita menemukan putrimu karena dia tak bisa menolong Tari sekarang," ucap Dahlia lagi sambil menangis, membuat semua orang yang mendengarnya merasa geram dan kesal.
Wisnu terus mencoba menenangkannya, hingga tak sengaja dia beradu pandang dengan Naina yang ternyata sedang melihatnya dengan tatapan sedih dan penuh kekecewaan.
Deg. Jantung Wisnu berdebar kencang seolah bisa mengartikan arti tatapan putrinya yang seperti ingin mengatakan jika dirinya sangat kecewa padanya, kecewa karena rupanya wacana tentang dia yang hanya akan dimanfaatkan ternyata kini memang benar adanya, selain itu ada kesedihan dimana kini Naina juga yakin jika sikap baik dan rasa sayang yang Wisnu dan istrinya tunjukkan padanya hanyalah akting semata.
Naina kemudian menundukkan wajahnya karena bulir-bulir air mata mulai menetes, dia juga bersedih karena rupanya kabar kehamilannya justru menjadi suatu berita yang menyedihkan bagi mereka.
__ADS_1
Aaric yang mengerti akan perasaan istrinya langsung memegang tangan Naina untuk menguatkannya.
"Bagaimana ini? Putri kita akan mati karena Naina tidak bisa menolongnya?" Dahlia merengek kepada Wisnu sambil menangis.
Winda dan Nenek saling berpandangan.
"Jadi benar jika kalian mencari Naina hanya karena ingin kalian manfaatkan agar bisa menolong putri kalian yang sedang sakit?" tanya Nenek tiba-tiba.
"Jika benar demikian sungguh kalian orang yang tidak mempunyai perasaan, terutama kamu ayahnya, alih-alih merasa bersalah karena Naina telah hidup tanpa curahan kasih sayang dan perhatianmu, kamu mencarinya hanya ingin memanfaatkannya saja," ucap Nenek lagi.
"Kalian berdua memang manusia tak bermoral," ucap Winda dengan sinis, sambil melipat tangannya di depan dada.
Mendengar itu Dahlia mencoba menghentikan tangisnya, dia melihat Winda dengan kesal.
"Itu memang benar, kami mencarinya selama ini karena hanya dia yang bisa mengobati putri kami, tapi kami bukan manusia tak bermoral, kami hanya orang tua yang akan melakukan apapun agar putri kami bisa sembuh," jawab Dahlia setengah berteriak.
Semua orang langsung kaget mendengar pengakuan jujur Dahlia, terlebih dengan Naina hingga membuatnya kembali berderai air mata.
"Begitu ya? Maaf karena membuat anda kecewa karena sayangnya menantuku kini sedang hamil jadi tak bisa menolong putri anda. Dan sebenarnya kalaupun dia tidak sedang hamilpun, kami juga tetap tak akan mengizinkannya untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya," jawab Winda setengah tersenyum sinis.
Lagi-lagi perkataan Dahlia membuat semua orang kaget hingga ikut berdiri, terutama Wisnu yang langsung memegang tangan istrinya
"Hentikan! Jangan bicara lagi. Sebaiknya kita pergi dari sini." Wisnu menarik tangan istrinya sambil melangkah.
"Tunggu dulu! Apa maksud perkataannya tadi?" Naina berdiri menahan ayahnya untuk pergi.
Dahlia dan Wisnu membalikkan badannya melihat Naina.
"Bukan apa-apa, dia hanya asal bicara." jawab Wisnu.
"Aku tidak asal bicara!" Dahlia melepaskan tangan suaminya.
__ADS_1
"Kamu harus tahu sesuatu!" Dahlia berjalan mendekati Naina lebih dekat.
Aaric yang merasa jika Dahlia akan mengatakan sesuatu yang menyakiti istrinya langsung menghadang Dahlia.
"Pergilah, jangan mengatakan apa-apa lagi. Sudah cukup kalian menyakiti istri saya." Aaric mengusir Dahlia.
Dahlia melotot melihat Aaric.
"Menyakiti? Justru kalian yang menyakiti putriku, kalian tidak tahu jika putriku kini sedang kesakitan dan sekarat sementara kalian disini bersenang-senang merayakan kehamilannya."
"Dan gara-gara sekarang kamu hamil putriku bisa saja meninggal." Dahlia menunjuk Naina yang berada di belakang Aaric.
Wisnu menarik kembali tangan istrinya.
"Sudah cukup! Kita pergi dari sini," ucap Wisnu.
"Apa salahku?" tanya Naina dengan suaranya yang serak membuat Wisnu kembali menghentikan langkahnya.
Semua orang melihat Naina yang menangis.
"Apa salahku hingga kalian memperlakukanku seperti ini? Apa salah anakku hingga anda menyalahkan kehadirannya? Bukan salah kami jika putri kalian sakit," Naina terisak.
Aaric langsung memeluk istrinya, begitu juga dengan Winda yang juga langsung mendekati Naina lebih dekat lalu mengusap punggungnya.
Perkataan Naina membuat Dahlia tertegun, sementara Wisnu perlahan membalikkan tubuhnya melihat Naina.
"Kamu tidak salah apa-apa, kamilah yang salah, maafkan ayah Nak, selamat atas kehamilanmu, jaga dirimu dan bayimu baik-baik. Kamu tahu jika sebenarnya ayah senang mendengar kehamilanmu, rasanya seperti mimpi jika sebentar lagi ayah akan menjadi seorang kakek," ucap Wisnu dengan suara bergetar menahan tangis.
Naina melepaskan diri dari pelukan suaminya, dia menatap wajah ayahnya yang ternyata telah basah kerena air mata.
"Ayah permisi dulu," ucap Wisnu menatap wajah putrinya.
__ADS_1
Naina mengangguk pelan.
Wisnu kembali melangkahkan kakinya sembari menarik tangan Dahlia, keduanya berjalan meninggalkan Naina yang kembali memeluk suaminya.