Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kedua Putri.


__ADS_3

Tari menatap wajah Naina dengan sendu, kedua pelupuk matanya semakin mengeluarkan air mata dengan derasnya.


Dia telah tahu semuanya, tadi pagi ibunya telah menceritakan tentang Naina, istri Aaric yang ternyata adalah adik tirinya. Tentu saja ibunya juga menceritakan kisah dibalik kelahiran Naina, ada rasa iba dalam hatinya mengetahui jika adiknya itu dilahirkan ke dunia hanya untuk menjadi penawar penyakitnya saja.


Dan tentang ayahnya, Tari juga tahu jika ayahnya ditembak demi melindungi Naina, mengetahui hal itu, ada sedikit rasa cemburu karena itu pertanda ayahnya yang selama ini dia pikir hanya miliknya sendiri, ternyata juga menyayangi Naina, anaknya yang lain yang baru saja diketemukannya.


Sementara itu.


Sama halnya seperti Tari, Naina juga menangis terisak melihat Tari, dalam hati kecilnya dia ikut bahagia karena kini kakaknya itu telah sembuh dari penyakitnya.


Keduanya lalu sama-sama mengalihkan pandangannya, Tari menyeka air matanya kemudian meminta Axel untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang ICU.


Axel kembali mendorong Tari, berbelok ke arah kiri.


Sementara Aaric terlihat berjongkok sebentar di hadapan istrinya untuk menanyakan keadaannya.


"Aku baik-baik saja."


"Masih ingin pergi menemui Ayahmu?" tanya Aaric dengan lembut.


Naina menganggukan kepalanya.


Aaric berdiri lalu kembali mendorong sang istri menyusul Tari di depan mereka.


Setibanya di ruang ICU, Tari langsung disambut oleh Dahlia yang sudah ada disana sedari tadi, keduanya saling berpelukan sejenak sambil menangis terisak.


Dahlia kemudian mendorong Tari mendekati jendela kaca agar putrinya itu bisa melihat ayahnya.


Tari kembali menangis sambil meraba kaca di depannya, dia sungguh tidak menyangka akan melihat ayahnya dalam keadaan kritis seperti ini, dengan berbagai macam selang dan alat medis di tubuhnya.


Dahlia dan Tari dibuat kaget ketika menyadari Naina telah ada di samping mereka, tampak oleh keduanya jika Naina juga menangis terisak melihat keadaan ayahnya di sampingnya ada Aaric yang setia menemaninya.


Dahlia mundur perlahan, melihat Naina disana, membuatnya merasa kesal dan marah, karena dalam pikirannya, semua ini terjadi karena Naina. Suaminya tidak akan tertembak jika bukan demi melindunginya.


Sementara Tari tampak tidak menghiraukan keberadaan Naina, dia kembali fokus melihat ayahnya.


Kini kedua kakak beradik itu sama-sama duduk di atas kursi roda sambil melihat ayah mereka yang keadaannya kritis.


Seorang Dokter dan perawat terlihat berjaga di dalam sana untuk terus memantau keadaan Wisnu.


Tak lama terlihat Dokter itu keluar dari sana, Dahlia langsung menghampirinya untuk menanyakan keadaan suaminya.

__ADS_1


"Keadaannya masih kritis, tekanan darahnya rendah dan pasien tidak kunjung sadarkan diri. Kami sudah melakukan yang terbaik, semoga terjadi keajaiban." Dokter itu langsung meninggalkan Dahlia.


Dahlia terlihat sangat sedih mendengar jawaban Dokter, dia langsung mundur dan menyandarkan tubuhnya pada dinding lalu menangis tersedu-sedu.


Tari meminta Axel untuk membantunya mendekati sang ibu, sesampainya disana, Tari langsung memeluk ibunya dan menangis bersamaan.


Sementara Naina terus menatap ayahnya di balik kaca sambil berlinang air mata. Di dalam hatinya tak henti-hentinya dia mendoakan sang ayah agar bisa bertahan dan berumur panjang.


Tiba-tiba Dahlia menghentikan tangisnya, dia lalu mendekati Naina dengan sangat marah.


"Ini semua gara-gara kamu." Dahlia membentak Naina. Membuat semua orang kaget, terlebih Naina sendiri.


Winda dengan segera menghampiri Dahlia.


"Kamu yang membuat suami saya seperti ini," ucap Dahlia lagi kali ini dengan pelan tapi dengan nada penuh kemarahan.


"Tante!" Aaric yang tak terima istrinya dibentak mencoba menghentikan Dahlia.


"Berani kamu membentak menantuku?" Winda memegang tangan Dahlia.


Dahlia melihat Winda dengan geram.


"Bawa menantumu pergi dari sini." Dahlia menunjuk Naina.


Dahlia membalikkan badannya, melihat Nisa dengan marah.


"Mau apa kamu kesini?"


Bukannya menjawab Nisa malah mendekati Naina untuk melihat keadaan putrinya.


Nisa memeluk Naina yang sedang menangis dengan erat.


"Kalian berdua. Pergilah dari sini!" Dahlia mengusir Naina dan Ibunya.


Dahlia kaget karena tiba-tiba Tari memegang tangannya, putrinya itu tampak tidak setuju dengan apa yang telah dia lakukan.


"Hentikan Ma." Tari menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali dengan berderai air mata.


Dahlia terdiam, dia seakan disadarkan oleh sang putri bahwa apa yang telah dia lakukan adalah salah, dia mundur seketika hingga terduduk lemas di kursi yang berada tak jauh dari sana.


Suasana hening seketika.

__ADS_1


Namun beberapa saat kemudian, mereka dikagetkan oleh perawat yang terlihat sibuk di dalam ruangan sana, beberapa orang Dokter datang sambil berlari lalu masuk ke dalam ruangan itu.


Semuanya terlihat panik melihat Dokter tengah sibuk memberikan pengobatan bagi Wisnu yang tiba-tiba kondisinya semakin turun.


Hingga akhirnya keadaan kembali terkendali dan Dokter keluar dari sana sambil menarik napas panjang.


"Kondisi pasien terus menurun." Dokter berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


Dahlia dan Tari kembali menangis sambil berpegangan tangan.


Begitu juga dengan Naina sambil memeluk pinggang ibunya.


"Aku ingin masuk ke dalam," ucap Tari tiba-tiba.


Dokter termenung sejenak.


"Aku juga," ucap Naina juga.


Dokter melihat keduanya bergantian.


"Baiklah, tapi hanya sebentar saja, hanya kalian berdua yang boleh masuk."


---


Naina dan Tari telah berada di dalam ruangan itu, keduanya berada di sisi yang saling berseberangan, dan sama-sama memegang tangan ayah mereka.


"Papa.." Tari memanggil Wisnu dengan air mata yang ditahan.


Sementara Naina menggenggam erat tangan ayahnya, dia tak mengatakan apapun kecuali terus menundukkan kepalanya sambil menangis.


Tiba-tiba.


"Tari." Wisnu membuka matanya perlahan lalu tersenyum kecil melihat putrinya.


Tari terpana, melihat ayahnya telah sadar, begitu juga dengan Naina yang langsung mengangkat kepalanya.


"Naina." Wisnu menoleh melihat Naina di samping kirinya juga sambil tersenyum.


Naina terlihat senang, dia balik tersenyum pada sang ayah sambil menghapus air mata di pipinya.


Wisnu menggenggam balik kedua tangan putrinya sambil melihatnya bergantian.

__ADS_1


"Papa akan sembuh, demi kalian berdua papa akan sembuh," ucap Wisnu dengan pelan, namun sebenarnya dia sangat bersemangat, hingga ia belum ingin mati sebelum merasakan hidup bahagia bersama kedua putrinya.


Dokter yang berada di luar ruangan bersama yang lainnya tersenyum melihat tekanan darah pasien di layar komputer bergerak menuju normal.


__ADS_2