
"Ibu?" tanya Naina merasa heran.
"Iya. Maaf kalau saya lancang, tapi kamu mirip sekali dengan seseorang yang aku kenal." pria itu nampak terus menatap Naina dengan cermat.
Nenek yang penasaran memutar kursi rodanya, hingga bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.
"Ibu saya?" tanya Naina sekali lagi.
Pria itu mengangguk cepat.
"Maaf. Tapi ada apa ya?" ucap Nenek.
Pria itu langsung melihat Nenek.
"Maafkan saya. Sekali lagi maafkan saya, saya sudah lancang. Saya hanya merasa kalau nona ini sangat mirip sekali dengan seseorang yang saya cari selama ini."
Nenek melihat Naina yang masih nampak kebingungan, lalu kembali melihat pria paruh baya itu.
"Memangnya anda sedang mencari siapa?" tanya Nenek penasaran.
Pria itu tampak ragu menjawab pertanyaan Nenek.
"Saya..saya sedang mencari istri saya yang kabur membawa anak kami."
Nenek dan Naina tampak kaget mendengar jawaban pria itu.
"Istri saya pergi meninggalkan saya 19 tahun yang lalu, dia membawa putri kami."
Naina tersentak, begitu juga dengan Nenek.
"Sembilan belas tahun yang lalu," ucap Naina pelan, dia lalu menatap wajah pria di depannya dengan seksama, banyak hal yang dipikirkannya saat itu, berandai-andai jikalau dirinya memang adalah orang yang dia maksud.
Nenek tak kalah kagetnya, apa yang dipikirkannya sama persis dengan apa yang dipikirkan Naina.
"Istri anda kabur?" tanya Nenek.
Pria itu mengangguk cepat.
"Iya, dia kabur membawa putri kami yang baru saja dia lahirkan."
Naina meremas kedua tangannya, jantungnya semakin berdegup kencang memikirkan jika seandainya apa yang dia pikirkan adalah kenyataan.
"Maaf, apa nona ini cucu kandung anda?" tanya pria itu kepada Nenek.
"Bukan. Dia istri dari cucu saya."
Pria itu kembali melihat Naina.
"Maaf. Boleh saya tahu nama ibumu?" tanya pria itu lagi.
Naina terdiam.
"Maaf, saya tidak sopan terus bertanya sambil berdiri seperti ini, kalau berkenan bisakah kita duduk disana sebentar?" Pria itu menunjuk kursi kosong di lobby Rumah Sakit.
Naina langsung melihat Nenek.
"Baiklah," jawab Nenek.
__ADS_1
Naina lalu mendorong kembali kursi roda nenek mendekati kursi, diikuti oleh pria itu dan beberapa orang yang nampak seperti asisten pribadinya.
Mereka sampai di kursi, Naina lalu duduk di samping kursi roda Nenek.
"Perkenalkan nama saya Wisnu."
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena telah mengganggu waktu anda." Wisnu memperkenalkan diri pada Nenek.
"Tidak apa-apa," jawab Nenek.
"Tadi saya tak sengaja bertemu dengan cucu anda, seperti yang saya katakan tadi, saya merasa kalau dia sangat mirip dengan seseorang yang saya cari selama ini."
"Maaf kalau saya kembali menanyakan hal ini, kalau boleh tahu siapa nama ibumu dan dimana kamu tinggal selama ini?"
Naina nampak bingung, dia terlihat berpikir dengan keras untuk menjawabnya.
"Nama ibu saya Farida," jawab Naina tiba-tiba.
"Farida?" tanya Wisnu kaget.
"Iya. Sepertinya anda salah orang." Naina berdiri.
"Kami permisi dulu." Naina berpamitan dan langsung pergi meninggalkan Wisnu yang keheranan, dia terus menatap kepergian Naina sampai Keluar.
Wisnu memanggil kedua orang di belakangnya.
"Ikuti wanita itu dan cari tahu tentangnya, saya yakin jika dia adalah orang yang kita cari selama ini."
Keduanya langsung mengangguk dan pergi untuk melaksanakan perintah bosnya.
***
"Nenek tahu bagaimana perasaanmu saat ini." Nenek memegang tangan Naina.
Naina langsung melihat Nenek di sampingnya.
"Aku hanya bingung Nek."
"Nenek tahu Nak."
"Aku tahu sebenarnya tadi adalah kesempatanku untuk mengulik asal usulku, tapi aku memutuskan untuk tidak mau tahu."
"Kenapa?"
"Asal usulku biarlah menjadi rahasia hidupku, aku tidak ingin tahu, aku sangat bahagia dengan hidupku selama ini."
Nenek tersenyum kecil.
"Semuanya terserah padamu saja. Pokoknya Nenek akan selalu mendukungmu."
***
Aaric baru saja keluar dari ruang rapat, dia berjalan menuju ruangannya dengan diikuti oleh Julian dan Rety.
Semua karyawan diam-diam memperhatikan langkah bos mereka yang nampak gagah berwibawa, terutama karyawati yang mengagumi ketampanan bos mereka, rupanya status Aaric yang sudah menikah tidak menjadi halangan bagi kaum hawa untuk tetap mengaguminya.
"Beruntung sekali istrinya." ucap salah seorang karyawati terpesona oleh ketampanan Aaric yang baru saja lewat.
__ADS_1
"Iya. Aku iri sekali."
"Apa kamu dengar kalau kata gosip yang beredar jika istri bos kita adalah seorang gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan."
"Oh ya? Tidak mungkin!"
"Itu benar. Salah satu buktinya adalah ketika resepsi pernikahan, pendamping dari pihak wanita adalah seorang Kepala Panti, beberapa orang mengenalinya karena dia cukup aktif di organisasi sosial."
"Oh ya, beruntung sekali wanita itu, selain mendapatkan suami yang tampan dan kaya raya, dia juga telah diangkat derajatnya menjadi wanita terhormat sekarang,"
"Aku salut pada Pak Aaric dan keluarganya yang mau menerima wanita itu dan tidak membedakan status sosial."
"Wajar saja, istrinya juga cantik dan sepertinya juga baik, aku pikir keduanya adalah pasangan yang serasi terlepas dari status sosial keduanya yang sangat jauh berbeda."
Kurang lebih itulah percakapan antara karyawati di kantor, rupanya pesona Aaric tetap bersinar walaupun sudah menikah, hingga karyawannya masih saja tetap membicarakannya.
***
Malam Hari.
Naina melamun di balkon kamarnya, melihat kolam renang yang terletak di bawahnya memantulkan cahaya lampu hingga nampak berkilauan.
Naina terus memikirkan pertemuannya tadi dengan Wisnu, pria paruh baya yang mengaku sedang mencari istri dan putrinya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Aaric yang rupanya sudah pulang mengagetkan Naina karena suaminya itu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kamu sudah pulang? Maaf aku tidak tahu."
"Bagaimana kamu tahu jika kamu melamun. Katakan padaku apa yang kamu pikirkan?" Aaric memutar badan istrinya agar menghadapnya.
"Tidak ada. Aku hanya merindukanmu sayang," jawab Naina sambil tersenyum.
Aaric menarik Naina ke pelukannya.
"Kamu sedang menggodaku ya?"
Naina tersenyum geli, dia lalu mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
"Iya." Naina mengecup bibir suaminya.
Aaric tersenyum bahagia, dia lalu menggendong Naina memasuki kamar mereka.
***
Beberapa Hari Kemudian.
"Namanya Naina, umurnya 19 tahun dan selama ini dia tinggal di panti asuhan."
Wisnu membaca dengan serius kertas laporan hasil penyelidikan tentang Naina yang baru diberikan oleh dua orang kepercayaannya.
"Dia istri Aaric Widjaja?" Wisnu tampak tak percaya dengan apa yang dibacanya.
Kedua orang itu mengangguk.
"Lakukan tes DNA, aku ingin memastikan semuanya dengan cepat." Wisnu nampak kesal.
"Sudah kami lakukan pak, saat kami mengikutinya saat dia sedang berbelanja di supermarket, kami berhasil mengambil sehelai rambutnya. Hasil tes akan keluar beberapa hari lagi."
__ADS_1
Wisnu menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Semoga dia benar adalah putriku, tapi kalau memang benar begitu, masalah baru akan muncul karena dia adalah istri dari Aaric Widjaja."