
Dahlia mundur beberapa langkah masih dengan mata yang terbelalak melihat Nisa.
Nisa dengan santainya melihat kembali ponsel Dahlia yang masih dia pegang, dia melihat foto Aaric dan Tari dengan seksama, yang kemudian dia tahu jika foto itu akan dikirimkan Dahlia pada Naina.
Nisa menghapus foto itu lalu kembali melihat Dahlia dengan sorot matanya yang tajam.
"Apa maksudmu akan mengirimkan foto ini pada Naina? Kenapa kamu mencoba menyakitinya? Apa kesalahannya hingga kamu juga ingin menyakitinya?" tanya Nisa sambil melangkah mendekati Dahlia lebih dekat.
Bukannya menjawab, Dahlia malah maju selangkah dan kemudian mengambil ponselnya di tangan Nisa dengan cepat, dengan raut wajah yang sedikit ketakutan dia lalu mundur beberapa langkah lagi ke belakang.
Nisa melipat kedua tangannya di depan dada, melihat Dahlia sambil tersenyum sinis.
"Apa kamu takut padaku?"
Dahlia tak menjawab, dia terus menatap Nisa dengan masih tak percaya, Nisa yang ada di hadapannya kini sangat berbeda jauh dengan Nisa seorang gadis kampung lugu yang dia dan suaminya bisa bodohi sembilan belas tahun yang lalu.
"Apa kamu benar-benar Nisa?" tanya Dahlia memastikan.
Nisa tertawa, dia kembali berjalan mendekati Dahlia lebih dekat.
"Aku Nisa. Aku Nisa mantan istri kedua suamimu. Aku Nisa gadis kampung yang sudah kalian bodohi sembilan belas tahun lalu," jawab Nisa dengan lantang.
Jantung Dahlia berdebar kencang, kini dirinya semakin yakin jika wanita di hadapannya itu memanglah Nisa.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu pikir aku mati? Atau kamu pikir aku hidup melarat, menjadi gembel atau gelandangan di pinggir jalan? Sayang sekali jika kenyataannya sekarang aku hidup lebih baik darimu," ucap Nisa lagi.
Dahlia semakin dibuat kaget melihat sikap Nisa yang berani dan penuh kepercayaan diri.
"Mau apa kamu kesini? Kenapa kamu kembali?"
Nisa lagi-lagi tersenyum.
"Aku kembali karena putriku, tak akan kubiarkan kalian membuatnya menderita, seperti apa yang sudah kalian lakukan padaku."
Dahlia terhenyak.
"Bersiap-siaplah. Mulai sekarang kita akan sering bertemu karena sekarang juga saatnya aku membalas dendam atas apa yang sudah kalian lakukan padaku." Nisa tersenyum sinis sambil melangkah mundur.
Setelah Nisa menghilang di ujung koridor, Dahlia langsung menghempaskan tubuhnya pada kursi di belakangnya lalu memegang dadanya yang terasa sesak.
Dahlia mengusap dadanya sambil merenung memikirkan perkataan terakhir Nisa tentang balas dendam, hingga dia tak begitu menghiraukan Aaric yang baru saja keluar dari ruangan Tari dan berpamitan padanya.
***
Nisa memijat kepalanya sambil membaca ulang beberapa kertas yang ada di tangannya.
"Apa dia benar-benar mencintai putriku?" gumam Nisa pelan sambil terus membaca beberapa helai kertas yang rupanya berisi beberapa informasi terkini yang baru didapatkan oleh orang kepercayaannya tentang Naina.
__ADS_1
Nisa terlihat kesal, rasanya hanya tiga bulan saja dia berhenti mengawasi Naina tapi rupanya telah terjadi banyak hal dalam waktu yang menurutnya singkat itu, setelah suaminya meninggal seminggu yang lalu di luar negeri, insting keibuannya menyuruhnya untuk segera kembali ke tanah air karena merasa jika sedang terjadi sesuatu pada putrinya, dan benar saja, dia kaget mendengar kabar jika sebenarnya Naina kini telah menikah, dan yang lebih mengagetkannya adalah keberadaan putrinya itu ternyata telah diketahui oleh Wisnu dan Dahlia, sesuatu yang sangat dia takutkan selama ini akhirnya terjadi, tepat disaat dirinya tidak sedang mengawasi putri kesayangannya.
Seandainya saja Nisa tidak harus menemani suaminya yang sakit selama tiga bulan di luar negeri, maka semua ini pasti tidak akan terjadi, dia tidak akan membiarkan Wisnu dan Dahlia mengetahui keberadaan Naina.
Sudah tentu hal itu membuat Nisa kesal, semua pengorbanannya selama ini yang rela hidup terpisah dari putrinya kini seakan sia-sia saja, Naina tetap bisa ditemukan oleh Wisnu, yang sudah pasti seperti tujuan awal mereka, Naina akan dicari hanya untuk dijadikan penawar penyakit putrinya.
Mengetahui hal itu Nisa sudah tentu sangat marah, namun kemarahannya meredam ketika dia mengetahui sebuah informasi penting jika Naina ternyata kini tengah mengandung, dan secara otomatis dia tidak bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya.
Namun hal lain kini menjadi pikirannya. Nisa merasa ada banyak keganjilan yang terjadi pada pernikahan Naina, selain karena pernikahan mereka yang mendadak, juga tentang bagaimana ceritanya putrinya itu bisa menikahi Aaric Widjaja, yang mana dia tahu persis jika Aaric adalah seorang pengusaha muda yang sukses, pemimpin grup Widjaja yang terkenal dengan beberapa anak perusahaan yang bergerak di beberapa bidang.
Nisa merasa jika nasib dirinya kini terulang pada diri putrinya, mereka sama-sama menikah muda dengan seorang kaya raya, namun bedanya setelah Nisa telusuri Aaric sama sekali belum menikah, tidak seperti dirinya dulu dimana hanya dijadikan istri simpanan saja oleh Wisnu.
Tapi tetap saja hal itu membuat Nisa heran, janggal rasanya seorang pengusaha kaya raya seperti Aaric bisa jatuh cinta pada gadis Panti Asuhan seperti Naina jika bukan karena sesuatu seperti yang terjadi pada dirinya yang hanya akan dimanfaatkan saja oleh Wisnu.
Dan setelah dia telusuri lagi, dia kaget karena rupanya Aaric adalah mantan pacar dari putrinya Wisnu.
"Aku harap ini hanya kebetulan saja," gumam Nisa.
"Aku harap putriku benar-benar dicintai oleh suaminya."
"Karena kalau sampai kenyataannya tidak begitu, maka aku sendiri yang akan memisahkan mereka."
"Tidak akan kubiarkan putriku menderita sama sepertiku dulu."
__ADS_1