Rahim Titipan

Rahim Titipan
Farida Dan Nisa.


__ADS_3

Di bawah rindangnya pohon, Naina sedang mengawasi adik-adik Pantinya yang sedang bermain di arena permainan yang baru saja selesai dibangun.


Naina tampak bahagia melihat semua anak-anak bermain dengan riangnya karena mempunyai banyak permainan baru dan modern, yang kesemuanya tentu saja berkat suaminya.


Naina lalu melihat ke arah lapangan dimana suaminya masih bermain bola bersama beberapa anak laki-laki, mereka semua nampak asyik bermain sambil sesekali diselingi oleh suara tertawaan yang riang.


Tiba-tiba Bayu menghampirinya, anak laki-laki berusia tiga tahun itu nampak sedang ingin bermanja-manja dengan Naina, seperti biasanya dia ingin Naina menggendongnya.


Naina menuruti keinginan Bayu, anak yang sedari kecil dia urus dan besarkan seperti adiknya sendiri langsung dia gendong dengan penuh kasih sayang.


Tapi tiba-tiba dia kaget karena Aaric segera menghampirinya sambil berlari, suaminya itu langsung mengambil Bayu dari gendongannya.


"Sayang, biar om saja yang menggendongmu," ucap Aaric sambil tersenyum lalu mendudukkan Bayu di pundaknya


Bayu mengangguk, dia lalu tertawa riang ketika Aaric membawanya berlari memutari arena permainan itu.


Naina tersenyum, dia tahu kenapa suaminya melakukan hal itu, Aaric pasti tak ingin ia menggendong Bayu atau anak lainnya karena menurutnya itu tak baik untuk kandungannya.


Hingga beberapa saat, Aaric yang kelelahan menurunkan Bayu, dia lalu menyuruhnya untuk bermain bersama anak-anak lainnya.


Aaric menghampiri Naina yang duduk di bangku.


"Pasti capek ya?" Naina memberikan botol minuman yang sudah dia buka tutupnya pada Aaric.


Aaric segera menerima lalu meminumnya isinya.


"Tidak," jawab Aaric terengah-engah.


"Bohong," ucap Naina tersenyum sambil mengelap dengan handuk kecil keringat suaminya yang bercucuran.


Aaric tersenyum sambil menatap wajah istrinya.


"Jangan menggendong anak-anak dulu," ucap Aaric dengan lembut penuh perhatian.


"Iya sayang, aku lupa tadi. Maaf ya." Naina terus mengusap keringat Aaric.

__ADS_1


Aaric mengangguk sambil tersenyum.


"Itu karena kamu terlalu menyayangi mereka, aku mengerti," ucap Aaric.


Naina langsung melihat anak-anak di sekeliling mereka.


"Iya. Mereka sama sepertiku yang hidup tanpa limpahan kasih sayang dari orang tuanya, karena itu aku sangat ingin melimpahkan sebesar mungkin kasih sayangku pada mereka semua."


"Aku tahu," Aaric mengangguk.


Naina lalu mengelus perutnya.


"Anakku ini, aku juga tak ingin dia merasakan seperti apa yang aku rasakan," ucap Naina tiba-tiba sambil menunduk dengan wajahnya yang sedih.


Aaric segera memegang tangan istrinya.


"Apa yang kamu pikirkan? Tentu saja anak kita tak akan seperti itu, anak ini memiliki aku dan kamu orang tuanya yang akan sangat menyayanginya."


Naina menatap wajah suaminya.


"Aku harap seperti itu, kita akan selalu bersama untuk membesarkan anak kita," ucap Naina.


Naina mengangguk.


***


Farida melihat Naina dan Aaric yang sedang bermain bersama anak-anak di halaman belakang Panti lewat jendela ruang kerjanya, dia lalu membalikkan tubuhnya, dimana ada seorang wanita yang berdiri tepat di hadapannya.


Seorang wanita cantik berumur empat puluh tahunan yang wajahnya sangat mirip dengan Naina, sehingga membuatnya tidak ragu ketika dia mengaku sebagai ibu kandung Naina ditambah dengan bukti-bukti lain yang ia bawa.


"Aku rasa ini bukan saatnya Naina tahu jika anda adalah ibunya," ucap Farida pada Nisa.


"Kenapa?" tanya Nisa heran.


"Naina sedang hamil muda, saya takut jika mengetahui kebenaran ini akan membuatnya shock hingga berakibat buruk pada kandungannya," jawab Farida melihat Nisa.

__ADS_1


Nisa terdiam sejenak.


"Tapi saya tidak bisa menunggu lagi, saya sudah tidak sabar berkumpul dengan putri saya," ucap Nisa sambil berjalan mendekati sofa lalu menghempaskan tubuhnya sambil menutup wajahnya.


Farida duduk di sofa di hadapan Nisa.


"Saya mengerti perasaan Anda, tapi ini semua demi kebaikan Naina."


Nisa membuka tangannya.


"Saya sudah menunggu momen ini cukup lama, momen dimana saya bisa mengatakan pada Naina bahwa saya adalah ibu kandungnya, saya juga sudah tidak tahan untuk memeluk dan menciuminya," ucap Nisa tidak bisa lagi menahan air matanya.


Farida terdiam seakan mengerti perasaan Nisa, namun kemudian dia teringat sesuatu.


"Dari semua yang anda ceritakan pada saya tadi, ada satu hal yang saya tidak mengerti, boleh saya tahu kenapa anda tidak ingin suami anda tahu jika anda ternyata mempunyai seorang anak, jika tujuan anda menitipkan Naina disini karena agar tidak diketahui oleh ayah kandungnya, anda bisa saja membawanya bersama Naina kecil pergi ke luar negeri dan menyembunyikannya disana."


Nisa melihat Farida.


"Saya terlanjur mengatakan pada suami saya sejak pertama kali kami bertemu bahwa saya tidak mempunyai anak, semua itu saya lakukan karena saya tahu kedua anak tiri saya tidak menyukai saya, jika mereka tahu jika ternyata saya mempunyai anak, saya takut mereka akan menyakiti Naina,"


"Karena itu selama ini saya mengawasi Naina secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang mengetahuinya, baik itu suami saya atau anak-anaknya karena jika sampai mereka tahu, terutama jika suami saya tahu, maka dia pasti akan kecewa karena saya telah membohonginya, dan jika dia kecewa maka dia pasti tidak jadi menjadikan saya sebagai pemilik saham terbesar di perusahaannya jika dia meninggal, padahal saya menikahinya selama ini demi hartanya agar saya bisa membalas dendam pada ayah kandung Naina dan istrinya."


Farida terdiam mendengar penuturan Nisa.


"Saya cukup mengerti kenapa anda mempunyai dendam yang begitu besar pada ayah kandung Naina dan istrinya, mereka memang sudah sangat keterlaluan mencoba memanfaatkan anda dan Naina hanya agar bisa mengobati putrinya yang sakit," ucap Farida.


"Tapi sekarang keadaannya sudah lebih baik, Naina sudah bertemu dengan ayah kandungnya tapi dia tidak mendonorkan sumsum tulang belakangnya, Naina juga sudah hidup sangat bahagia sekarang, seperti yang kamu tahu jika dia sudah menikah, suaminya sangat mencintainya dan sekarang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka," tambah Farida lagi.


"Apa anda yakin jika suaminya sangat mencintainya?" tanya Nisa tidak yakin.


"Saya sangat yakin, anda tak perlu meragukannya, Aaric sangat mencintai Naina. Saya tidak pernah melihat seorang suami begitu mencintai istrinya seperti Aaric mencintai Naina."


Nisa terdiam. Dia terlihat bingung karena Farida meyakinkannya jika Aaric sangat mencintai putrinya, sementara dia mendapatkan informasi yang membuatnya ragu


"Lebih baik anda melupakan balas dendam itu, saya yakin jika Naina tahu dia juga tak ingin anda melakukannya," ucap Farida lagi menasihati.

__ADS_1


"Jika aku tahu apa Bu?" tanya Naina yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu yang tidak tertutup rapat dari tadi.


Farida dan Nisa langsung berdiri karena kaget melihat Naina yang tiba-tiba muncul.


__ADS_2