
Keesokan harinya.
Naina mencari keberadaan Aaric yang tiba-tiba menghilang ketika dia sibuk mencuci piring setelah sarapan pagi, dia mendongakkan kepalanya melihat ke atas tempat kemudi.
Rupanya Aaric memang benar tengah berada disana, tampak sibuk terus mengangkat ponselnya tinggi-tinggi tanda jika dia sedang mencari sinyal yang memang tidak terjangkau dari sana.
Naina menaiki tangga perlahan menghampiri suaminya.
"Cari sinyal ya?" tanya Naina mengagetkan Aaric.
"Iya, aku harus mengirimkan beberapa file ke sekretarisku." Aaric masih sibuk dengan ponselnya.
"Kita pulang saja sekarang." ucap Naina tiba-tiba.
Aaric tampak kaget.
"Kenapa? Apa kamu tidak betah disini?"
Naina menggelengkan kepala.
"Bukan. Aku sangat menikmati kebersamaan kita disini, tapi aku tahu jika pekerjaanmu sangat banyak, kamu tidak bisa meninggalkannya terlalu lama."
Aaric menatap wajah Naina.
"Kamu benar! Pekerjaanku memang banyak tapi itu tidak akan menjadi penghalang buatku untuk terus bersamamu, banyak orang-orang di kantor yang akan meng-handle."
"Tapi kita bisa kembali lagi kesini tiap akhir pekan, ingat masih banyak waktu kita menghabiskan waktu bersama."
Aaric nampak terdiam.
"Apa kamu yakin mau pulang?"
"Iya. Aku juga sangat merindukan ibu dan Nenek."
Aaric menarik Naina ke dalam pelukannya.
"Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang, tapi akhir pekan nanti kita kesini lagi." Aaric mencium kening istrinya.
Naina mengangguk sambil tersenyum.
Akhirnya Aaric memutuskan untuk kembali pulang, pekerjaannya memang sangat banyak hari ini dan beberapa hari ke depan, terutama nanti siang dimana dia harus menemui klien penting yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Sementara Naina nampak senang akan segera kembali bertemu dengan nenek dan ibu Winda karena dia ingin segera meminta maaf pada keduanya atas kejadian minggu lalu.
Kapal mereka telah bersandar kembali di dermaga, Aaric dengan terus memegang erat tangan istrinya berjalan menuju parkiran mobil.
"Naina." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki memanggil dari kejauhan.
Naina dan Aaric menoleh bersamaan.
Lelaki itu menghampiri keduanya semakin dekat.
__ADS_1
"Kamu Naina kan?" tanyanya setelah tepat berdiri di hadapan Naina dan Aaric.
Naina mengangguk pelan, wajahnya nampak masih bingung melihat lelaki di depannya.
"Aku Damar. Kamu masih ingat kan?"
Naina nampak mengerutkan keningnya.
"Damar?"
"Iya. Aku Damar yang dulu tinggal di Panti."
Naina langsung menutup mulutnya.
"Kak Damar?"
Damar mengangguk senang karena nampaknya Naina mulai ingat.
"Iya, aku Damar kakakmu di Panti, sudah hampir 10 tahun kita tak bertemu. Kamu sudah tumbuh besar sekarang, kakak pangling melihatmu." Damar nampak berbinar melihat Naina.
Naina terlihat terharu, refleks dia melepaskan genggaman tangan suaminya, nampak akan menghambur memeluk Damar yang sudah membuka tangannya lebar.
Namun dengan cepat Aaric menarik lengan istrinya, membuat keduanya tidak jadi berpelukan.
Naina kemudian tersadar jika disampingnya ada Aaric suaminya, yang dengan tatapan matanya yang tajam menatap Damar di depannya.
Damar nampak keheranan ditatap sedemikian rupa oleh Aaric, dia lalu menatap balik wajah Aaric.
Aaric menganggukan kepalanya.
"Saya juga suami Naina," ucap Aaric dengan lantang.
"Suami?" tanya Damar tidak percaya melihat Naina.
"Iya kak, ini suami aku," ucap Naina menunjuk suaminya.
Damar nampak bingung melihat Naina dan Aaric bergantian.
"Saya juga kenal anda, kalau tidak salah anda adalah Pak Damar pemimpin PT Pacific Media, perusahaan kita ada beberapa kali pernah bekerja sama," ucap Aaric.
Damar mengangguk pelan.
"Jadi anda suami Naina? Maaf kalau saya mengatakan ini tapi kapan kalian menikah? Saya tidak pernah mendengar jika anda sudah menikah"
Aaric melirik Naina.
"Kami sudah menikah sebulan yang lalu, memang belum di publikasikan tapi kami akan segera melakukannya. Iya kan sayang?" Aaric melihat istrinya sambil menggenggam kembali tangannya.
Naina langsung mengangguk.
"Iya." Naina tersenyum melihat Damar.
__ADS_1
Damar tersenyum kecil.
"Syukurlah. Selamat kalau begitu." Damar mengulurkan tangannya.
Aaric segera menyambut menyalami Damar, akan tetapi dia tidak melepaskan tangan kanan Naina yang juga hendak menyalami Damar.
"Kalau begitu kami permisi." Aaric menarik Naina untuk kembali berjalan memasuki mobil.
Naina mengikuti suaminya, namun nampak tidak enak hati meninggalkan Damar yang nampak keheranan melihat tingkah Aaric seperti itu.
Damar merasa kalau sikap Aaric sedikit berlebihan.
Di perjalanan.
Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama terdiam, Aaric merasa cemburu dan marah bila mengingat kejadian tadi dimana istrinya nampak akan memeluk pria yang baru saja ditemuinya, sedangkan Naina juga merasa kesal karena suaminya bahkan tidak mengizinkannya menyalami Damar, padahal mereka baru saja bertemu setelah hampir sepuluh tahun berpisah.
"Siapa tadi?" tanya Aaric akhirnya membuka percakapan.
"Kak Damar," jawab Naina singkat.
"Aku tahu kalau namanya Damar. Maksud aku apa dia sama seperti Farhan, lelaki yang sudah kamu anggap seperti kakakmu sendiri."
Naina langsung melirik suaminya.
"Memang seperti itu, Kak Damar dan Kak Farhan sama saja, mereka kakak-kakakku. Kami tumbuh bersama di Panti."
"Jadi setiap lelaki di panti yang umurnya di atasmu kamu anggap mereka semua kakak? Sehingga kamu bebas memeluk dan memegangnya."
Naina mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" Naina menatap wajah suaminya yang menyetir
"Kalau saja tadi aku tidak menahanmu, kamu dan kak Damarmu itu pasti sudah berpelukan," jawab Aaric dengan marah.
Naina mulai menciut melihat suaminya yang marah, dia baru sadar jika Aaric tengah cemburu.
"Itu karena kami sudah lama tidak bertemu, aku tanpa sadar akan melakukan itu," jawab Naina pelan.
"Jangan pernah lakukan itu lagi di depanku. Maksudku di belakangku juga jangan karena aku tidak suka, aku tidak suka ada pria lain yang menyentuhmu, siapapun itu termasuk 'kakak-kakakmu' yang entah ada berapa banyak." Aaric masih sangat kesal.
Naina nampak ingin tertawa mendengar perkataan Aaric yang tengah cemburu.
"Baiklah. Maafkan aku," ucap Naina memegang tangan suaminya.
Aaric nampak luluh, dia lalu menggenggam tangan Naina dengan erat.
"Maafkan aku juga." Aaric mencium punggung tangan istrinya.
"Tadi aku lupa jika aku telah telah dewasa dan menikah, sesaat tadi aku merasa kembali ke masa lalu dimana Kak Damar sering menggendong dan mengasuhku ketika aku masih kecil, dia begitu amat sangat menyayangiku, tapi tiba-tiba disaat umurku 9 tahun, Kak Damar pergi karena ada yang mengadopsinya, dan sejak saat itu kami tak pernah bertemu lagi, tapi kata ibu dia sering meneleponnya dan mengirim uang." Naina menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Setahuku dia tinggal di luar negeri, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali disana, baru beberapa bulan yang lalu dia kembali karena orang tuanya meninggal sehingga dia harus menggantikan ayahnya memimpin perusahaan." Aaric mengecup kening istrinya.
__ADS_1
Naina tampak mengerti.