
"Sayang. Nanti kita bertemu di Rumah Sakit, aku akan ke kantor dulu sebentar untuk menandatangani beberapa berkas setelah itu aku akan menyusulmu kesana," ucap Aaric sambil memeluk dan menciumi istrinya untuk berpamitan.
"Kalau kamu sibuk, kamu tidak usah datang ke Rumah Sakit, ada ibu yang menemaniku," jawab Naina pelan sambil mendekati tempat tidur untuk merapikannya
"Tidak mungkin sayang. Aku ingin menemanimu, aku ingin tahu kamu sakit apa, coba lihat wajahmu sekarang, kamu pucat sekali," ucap Aaric di belakang istrinya.
"Aku baik-baik saja, sebenarnya cukup istirahat saja hari ini aku pasti akan segera pulih, tidak harus berobat ke Rumah Sakit." Naina mulai membereskan tempat tidur.
"Kamu harus periksakan diri ke dokter, aku tidak mau sakitmu bertambah parah nanti jika diidamkan."
"Baiklah, aku akan pergi bersama ibu, tapi kamu tidak usah menyusul kami, nanti aku telepon saja untuk memberitahu apa kata dokter," ucap Naina sambil terus menyibukkan diri membereskan tempat tidur.
"Baiklah kalau begitu sayang. Aku pergi dulu." Aaric mencium pipi istrinya lagi sambil memeluk dari arah belakang kemudian pergi meninggalkan kamar mereka.
Mendengar pintu tertutup, Naina lalu menghentikan merapihkan tempat tidur, dia lalu membalikkan badannya dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Sikap yang dia tunjukkan pada suaminya barusan sebenarnya terpaksa dia lakukan, sebagai bentuk rasa kecewanya karena suaminya yang pintar berakting di depannya seakan sangat mencintainya padahal yang sebenarnya dia tahu jika suaminya tengah sangat bimbang akan perasaannya terlihat dari tadi malam dia yang memergoki suaminya melamun sendirian di Balkon.
Naina sebenarnya tidak mengharapkan sikap kepura-puraan, dia ingin agar suaminya itu jujur akan perasaannya yang sebenarnya baik itu pada dirinya atau Tari.
***
Naina berjalan dengan gontai, tampak lesu dan lemah membuat ibu mertuanya yang melihat sedikit khawatir.
"Kamu baik-baik saja Nak?" Winda memegang pundak menantunya.
Naina tampak kaget, dia yang ternyata berjalan setengah melamun langsung melihat Winda.
"Aku baik-baik saja bu," ucap Naina sambil berusaha untuk memberikan senyumannya.
"Kamu benar-benar sakit Nak, wajahmu pucat sekali." Winda menarik Naina agar duduk di kursi yang tak jauh dari sana.
Naina hanya tersenyum, sebenarnya dia memang merasakan tubuhnya semakin lesu dan lemas.
"Mana Aaric, kenapa dia belum datang juga." Winda terus melihat ke arah pintu masuk.
"Aku menyuruhnya untuk tidak usah kesini, aku tahu jika pekerjaannya banyak," jawab Naina melihat Winda.
"Itu dia!" Winda menunjuk pintu masuk, membuat Naina kaget melihat suaminya ternyata masih datang walaupun sudah dia larang.
Aaric menghampiri istri dan ibunya.
__ADS_1
"Kata Naina kamu tidak akan kesini?" tanya Winda sambil tersenyum menyambut putranya.
"Aku sangat mengkhawatirkan Naina bu. Aku juga tidak bisa berkonsentrasi bekerja jika pikiranku hanya memikirkan istriku yang sakit ini." Aaric duduk di samping Naina lalu mengusap kepala istrinya kemudian menciumnya.
Winda tersenyum senang.
"Kapan akan diperiksa?" tanya Aaric.
"Sebentar lagi, ibu sudah menelepon Dokter Dani memberitahu jika kita sudah sampai di Rumah Sakit."
Aaric mengangguk, lalu melihat istrinya yang sedari tadi hanya terdiam saja.
***
"Proses inseminasi buatanmu berhasil. Selamat! Naina sedang hamil," ucap Dokter Dani sambil tersenyum lebar melihat Aaric.
Semua orang kaget, terlebih ibunya yang langsung menutup mulutnya dengan tangan dengan mata yang terbuka lebar.
Sementara Aaric langsung tersenyum, dia lalu melihat Naina.
"Kamu hamil sayang." Aaric menarik tubuh Naina ke dalam pelukannya.
Naina tersenyum bahagia di pelukan suaminya.
"Iya!! Kamu hamil sayang. Aku akan menjadi Nenek." Winda berteriak kegirangan.
Semua orang tertawa melihatnya.
"Kandungannya masih sangat kecil, harus dijaga baik-baik karena masih rentan keguguran," ucap Dokter Johan yang turut memeriksa Naina.
"Tentu saja Dok," jawab Aaric dengan berseri-seri.
Dokter Dani dan Dokter Johan terus memberikan beberapa informasi dan nasihat untuk kehamilan Naina, mereka juga meresepkan beberapa obat dan vitamin untuknya.
Setelah selesai, mereka lalu pamit untuk pulang, karena Aaric membawa mobil sendiri, dia meminta agar Naina ikut bersamanya, sementara Winda pulang dengan supir.
Sepanjang perjalanan Aaric tak kunjung berhenti mengucapkan rasa syukurnya, sambil terus tersenyum dia terus menerus mengusap perut Naina.
"Aku tidak percaya di perut ini ada anak kita," ucap Aaric sambil tersenyum bahagia.
Naina ikut tersenyum, dia lalu memegang tangan suaminya yang mengelus perutnya.
__ADS_1
"Anak ini, aku harap bisa memperkuat hubungan diantara kita," ucap Naina pelan.
"Tentu saja sayang. Kehadiran anak ini juga akan menambah kebahagiaan kita, kamu tahu aku sangat bahagia sekarang," jawab Aaric dengan bersemangat.
"Apa kehamilanku juga akan membuatmu tidak bimbang lagi akan perasaanmu?" tanya Naina hati-hati.
"Apa maksudmu?" tanya Aaric tak mengerti.
Naina terdiam sejenak sambil menunduk.
"Jujur saja aku sangat takut kamu berpaling dariku karena sebenarnya aku tahu jika kamu sekarang sedang bingung akan perasaanmu, antara aku dan mantan pacarmu."
"Apa maksudmu?" Aaric segera menepikan mobilnya, lalu menghentikannya dan segera melihat Naina.
Naina melihat wajah suaminya.
"Aku tahu kamu tidak tidur semalaman, pasti karena sedang memikirkannya," ucap Naina pelan
Aaric nampak kaget, dia tak menyangka jika sebenarnya Naina tahu jika semalaman dia tidak tidur.
"Kamu benar, aku memang tidak tidur semalaman."
"Apa karena memikirkan mantan pacarmu?" Naina memotong perkataan suaminya.
"Kamu salah, aku memang memikirkannya, tapi bukan berpikir jika aku akan kembali padanya, aku hanya sedang...."
"Dugaanku benar jika kamu memang sedang memikirkannya." Naina lagi-lagi memotong perkataan suaminya sambil tersenyum sinis.
"Sayang dengarkan aku dulu, bukan itu maksudku." Aaric nampak kesal karena perkataannya terus saja dipotong.
"Tidak perlu, semuanya sudah jelas buatku, kamu memikirkannya hingga membuatmu tidak bisa tidur." Naina menahan tangisnya.
"Sayang..." Aaric memegang wajah istrinya, membuatnya agar menatap wajahnya.
"Kamu salah, pikiranmu itu salah sayang. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, aku sudah pernah mengatakannya padamu jika aku tak akan pernah berpaling darimu karena apapun ataupun siapapun termasuk itu Tari. Aku berjanji demi anak kita sayang," ucap Aaric dengan lembut dan bersungguh-sungguh.
"Benarkah?" tanya Naina memastikan sambil berlinang air mata
"Iya, sayang, hilangkan keraguanmu itu, percayalah padaku." Aaric memeluk istrinya.
Naina melingkarkan tangannya pada tubuh sang suami.
__ADS_1
"Maafkan aku," bisik Naina terisak.
"Tidak apa-apa," jawab Aaric sambil tersenyum, dia lalu ingat perkataan dokter Johan jika hormon kehamilan akan membuat wanita menjadi sangat sensitif, dan itu terjadi pada istrinya sekarang, sehingga membuatnya harus lebih bersabar karena ini hanya permulaan, masih ada sisa delapan bulan lagi.