Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kritis.


__ADS_3

Aaric menunduk melihat Thomas penuh amarah, tangannya mengepal semakin kuat.


Thomas semakin dibuat ketakutan, dia tahu Aaric begitu sangat marah kepadanya. Bagaimana tidak, dirinya telah menembak Naina tepat di hadapan suaminya sendiri.


Thomas memejamkan matanya, bersiap dengan segala pembalasan yang akan diberikan Aaric padanya.


Tiba-tiba Ryan dan Dani datang, keduanya segera menghampiri Aaric.


"Aaric. Jangan kotori tanganmu sendiri dengan menyentuhnya." Dani memegang pundak sahabatnya.


Ryan berdiri di samping Aaric, ikut menatap tajam Thomas di depannya.


"Untung saja keadaan Naina baik-baik saja, karena jika tidak, orang ini pasti sudah mati di tanganku." Ryan terlihat sangat geram.


Nisa melangkah maju menghampiri menantunya, Dani menggeser badannya sehingga Nisa bisa berdiri di samping Aaric sambil melihat Thomas.


"Temanmu benar. Serahkan dia pada mereka. Biar mereka saja yang urus." Nisa menunjuk orang-orangnya.


Aaric langsung melihat mertuanya.


"Pikirkan Naina yang sedang hamil," ucap Nisa sambil melihat Aaric.


Aaric kembali melihat Thomas lalu menghela napas panjang untuk meredam kemarahannya, kedua telapak tangannya yang sedari tapi mengepal kuat perlahan-lahan terbuka.


"Seandainya aku tidak memikirkan istriku yang sedang hamil, aku pasti sudah menghajarmu habis-habisan."


Thomas mengangkat kepalanya perlahan.


"Maafkan saya." Thomas menatap Aaric.


"Saya khilaf. Kemarahan saya pada Nisa membuat saya gelap mata. Saya berpikir jika menyakiti putrinya adalah satu-satunya cara membalaskan dendam saya pada Nisa. Tapi ternyata saya salah, saya malah hampir membunuh orang yang tidak bersalah. Sekali lagi maafkan saya." Thomas terlihat sangat menyesal.


Aaric kembali mengepalkan tangannya, namun Dani kembali memegang pundak sahabatnya untuk meredam emosi Aaric yang kembali terpancing mendengar perkataan Thomas.


"Sebaiknya bawa dia dari sini secepatnya, sebelum kesabaran kami habis." Ryan melihat orang-orang Nisa.


Nisa menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Ryan.


Dengan cepat beberapa orang menarik Thomas dan memasukkannya ke dalam mobil lalu segera membawanya pergi dari sana.


Setelah Thomas pergi, Leo dan Sam menghampiri Nisa dan Aaric.


"Mereka yang telah menangkap Thomas," ucap Nisa pada Aaric sambil menunjuk kedua anak tirinya.


"Terima kasih." Aaric menyalami keduanya bergantian.


"Justru kami yang ingin meminta maaf pada anda, karena permasalahan keluarga kami, istri anda jadi terbawa-bawa," ucap Leo.


"Itu karena kita satu keluarga sekarang," jawab Aaric.


"Benar sekali." Sam tersenyum sambil merangkul Aaric.


"Kita jadi satu keluarga besar sekarang," ucap Leo juga sambil merangkul Aaric.


Nisa tersenyum senang melihatnya.


***


Sam dan Leo baru saja pergi setelah melihat keadaan Naina, itikad baik keduanya yang tampaknya sangat ingin menjalin hubungan baik dengan putri dari ibu tiri mereka tentu saja disambut dengan baik oleh Nisa juga Naina dan Aaric.


Hari semakin malam, Nisa yang tadinya akan menginap di rumah sakit untuk menemani putrinya, akhirnya pulang karena Naina yang menyuruhnya. Naina sangat tahu jika ibunya sangat kelelahan, karena itu setelah menyakinkan sang ibu jika keadaannya kini sudah jauh lebih baik Naina menyuruhnya untuk pulang sehingga bisa tidur di rumah dengan nyaman.


Kini tinggallah Aaric yang menemani Naina di dalam kamar.


Aaric dengan setia duduk di samping sang istri sambil memegang tangannya erat.

__ADS_1


"Tidurlah sayang, sudah malam."


"Bagaimana keadaan ayahku?"


"Aku belum melihatnya, tapi kata Dani keadaannya sudah stabil dan besok bisa dipindahkan ke ruang perawatan."


"Syukurlah. Aku ingin menemuinya besok," ucap Naina.


Aaric menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Iya sayang. Besok kita akan menemuinya. Sekarang tidurlah."


Naina memegang wajah suaminya.


"Kamu juga harus tidur. Wajahmu kelihatan sangat lelah."


"Iya. Aku juga akan tidur setelah kamu tidur."


Naina menggeser badannya.


"Naiklah. Aku ingin tidur bersamamu."


"Tapi sayang.."


"Aku tidak akan tidur jika kamu tidak memelukku."


Aaric tersenyum. Dia berdiri lalu menaiki ranjang dengan perlahan kemudian membaringkan tubuhnya.


Aaric memiringkan tubuhnya menghadap Naina, tangannya melingkar di atas perut sang istri.


"Sekarang tidurlah sayang, aku sudah memelukmu." Bisik Aaric lembut di telinga Naina.


Naina tersenyum, dia hendak memiringkan tubuhnya juga tapi kemudian dia menjerit kesakitan.


"Sayang kenapa?" Aaric yang kaget mengangkat kepalanya.


"Seharusnya kamu jangan bergerak dulu." Aaric akan turun dari ranjang.


"Jangan turun, tidurlah lagi disini."


"Tapi nanti kamu kesakitan."


"Tidak. Lukaku sebelah sini, kamu tidak akan mengenainya."


Aaric menyerah, dia kembali tidur di samping sang istri.


"Cepatlah sembuh sayang, aku tidak tahan melihatmu kesakitan." Aaric menciumi pipi istrinya.


***


Keesokan harinya.


Tari didorong keluar dari kamar isolasi oleh dua orang perawat, sesampainya di luar dia disambut oleh Dahlia dan Axel.


Dahlia langsung menghambur memeluk putrinya.


"Akhirnya.. akhirnya kamu sehat Nak." Dahlia menangis terisak di pelukan sang putri.


Tari ikut menitikkan air matanya.


Dahlia melepaskan pelukannya, membiarkan Axel menyapa putrinya.


Axel menatap Tari sambil tersenyum, keduanya terlihat saling berpandangan kemudian tersipu malu-malu.


"Terima kasih," ucap Tari pelan.

__ADS_1


Axel menganggukan kepalanya.


"Mana papa?" tanya Tari tiba-tiba.


Dahlia dan Axel saling berpandangan.


"Sebaiknya kita ke kamarmu dulu." Dahlia meminta perawat mendorong putrinya menuju kamar.


Sesampainya di kamar, beberapa Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Tari.


"Kita harus bersyukur karena proses pendonoran sumsum tulang belakang ini bisa dikatakan berhasil." Dokter melihat Dahlia.


Dahlia terlihat sangat senang, begitu juga dengan Axel.


"Terima kasih banyak dokter. Ini semua berkat kerja keras Dokter semuanya yang tanpa menyerah merawat dan mengobati putri saya selama ini," ucap Dahlia dengan terharu.


Para Dokter menganggukan kepalanya.


Setelah selesai menjelaskan kondisi kesehatan Tari, para Dokter itupun kemudian meninggalkan ruangan itu disusul oleh para perawat.


"Mama. Mana papa?" tanya Tari lagi yang seketika meredupkan senyuman di bibir Dahlia.


Dahlia berpikir mungkin inilah saatnya dia mengatakan yang sebenarnya pada Tari mengenai keadaan ayahnya.


"Sayang. Mama tak bisa menyembunyikan ini darimu. Kamu harus tahu keadaan ayahmu."


"Menyembunyikan apa Ma? Papa kenapa?"


"Ayahmu sedang dirawat di ruang ICU Nak," ucap Dahlia dengan hati-hati sambil duduk di samping putrinya.


"Apa?" tanya Tari kaget.


Dahlia menganggukan kepalanya.


"Kenapa?"


"Ayahmu terkena tembakan."


Tari tersentak kaget.


***


Sore hari.


Aaric tersentak mendengar berita yang baru saja disampaikan Dani lewat telepon, dia langsung melihat sang istri yang sedang mengobrol dengan ibu dan nenek yang datang mengunjunginya.


"Ada apa?" tanya Naina heran karena Aaric terlihat bingung.


Winda dan Nenek ikut dibuat terheran-heran.


Aaric menghampiri istrinya.


"Sayang. Sebenarnya aku tidak ingin kamu tahu, tapi tidak benar jika aku menyembunyikan hal ini darimu."


"Ada apa?" Naina semakin dibuat penasaran.


"Ayahmu. Keadaannya tiba-tiba kritis."


Naina terhenyak, begitu juga dengan Winda dan Nenek.


 


Aaric mendorong kursi roda dimana Naina duduk diatasnya, dengan ditemani oleh seorang perawat dan Winda yang mengikuti di belakangnya, semuanya berjalan menuju ruang ICU.


Namun tiba-tiba Aaric menghentikan langkahnya, karena tanpa disangka mereka berpapasan dengan Tari yang juga menggunakan kursi roda didorong oleh Axel di belakangnya.

__ADS_1


Tari dan Naina saling bertatapan, dengan kedua mata mereka yang sudah basah karena sedari tadi menangis, keduanya saling menatap lekat.


__ADS_2