Rahim Titipan

Rahim Titipan
Rujak Panti.


__ADS_3

Dahlia berjalan lunglai mendekati pintu ruangan tempat putrinya dirawat diikuti oleh Wisnu yang juga berjalan dengan setengah merenung.


Tiba-tiba Dahlia menghentikan langkahnya, dia lalu perlahan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya.


"Apa yang akan kita katakan pada Tari sekarang?" tanya Dahlia menatap suaminya dengan sedih.


Wisnu terdiam.


Dahlia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku tidak sanggup mengatakannya," ucap Dahlia sambil menangis.


"Biar aku saja," ucap Wisnu.


Dahlia langsung melihat suaminya.


"Apa yang akan kamu katakan padanya?"


Wisnu menarik napas dalam-dalam.


"Aku akan bilang jika pendonor yang kita katakan waktu itu ternyata tidak cocok dengannya."


Dahlia terdiam, dia lalu menyeka air matanya.


"Katakanlah sekarang pada Tari, aku tidak ingin dia banyak bermimpi lagi," ucap Dahlia sambil terus menghapus air matanya.


"Tapi.."


"Tapi apa?" Dahlia melihat suaminya tajam.


"Lebih baik nanti saja, saat ini aku belum siap mengatakannya."


"Tidak!! Kamu harus mengatakannya sekarang juga. Sebelum daftar apa yang akan dilakukannya jika sembuh nanti bertambah panjang, kamu harus menghentikannya sekarang juga," ucap Dahlia dengan air mata yang ditahannya.


Mendengar itu Wisnu tak kuasa menahan tangisnya, dia mundur beberapa langkah hingga akhirnya bersandar di dinding.


Wisnu memutar badannya menghadap dinding, lalu menangis membelakangi istrinya, walaupun berusaha untuk tak mengeluarkan suara, namun Dahlia masih bisa mendengar dengan jelas suara suaminya yang sesenggukan, membuatnya kembali menitikkan air matanya.


Suasana tampak hening, di koridor area ruangan VVIP yang memang jarang dilalui banyak orang, kedua suami istri itu menangis meluapkan kesedihan hatinya.


Wisnu berpikir jika apa yang dikatakan istrinya benar, mereka harus segera mengatakan pada Tari jika sebenarnya harapannya untuk sembuh kini menjadi tidak mungkin karena sang pendonor yang menjadi harapan satu-satunya kini tak mungkin bisa membantu, yang akibatnya Tari tidak akan mungkin sembuh dari penyakitnya dan mereka tetap harus mengandalkan obat-obatan dan bentuk pengobatan lainnya seperti kemoterapi, yang selama ini telah membantunya untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Satu hal yang membuat Wisnu bersedih hingga menangis adalah istrinya mengingatkannya akan daftar keinginan Tari yang sudah ia tulis jika dia sembuh nanti, selain ingin pergi berlibur dan melanjutkan hobinya, Tari masih memiliki daftar keinginan lainnya yang sempat dia tunjukkan padanya beberapa hari yang lalu, dimana setiap hari daftar itu bertambah panjang.


Maka Wisnu mengerti akan maksud istrinya untuk segera memberitahu Tari, bukan untuk mematahkan semangatnya, akan tetapi alangkah lebih baik jika Tari tahu keadaan yang sebenarnya agar dia tak berharap pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


Wisnu menghapus air matanya, dia membalikkan tubuhnya perlahan lalu melihat istrinya yang sudah bersandar pada dinding di samping pintu.


"Aku akan masuk." Wisnu melihat Dahlia.


Dahlia mengangguk pelan.


Wisnu berjalan perlahan mendekati pintu, lalu dengan yakin dia membukanya dan masuk ke dalam.


Wisnu berjalan mendekati ranjang, dimana rupanya dia melihat putrinya sudah tidur dengan lelap. Wisnu lalu sejenak menatap tubuh kurus sang putri yang kini seolah hanya tinggal tulang berbalut kulit saja, juga kepalanya yang pelontos tak lagi ditumbuhi rambut, membuat hatinya berdesir merasakan sakit.


Karena tak sanggup lagi berlama-lama melihat keadaan putrinya, Wisnu yang juga tak ingin mengganggu Tari yang sedang tidur segera meninggalkan ruangan itu, dia perlahan berjalan menuju pintu, membuka dan kembali menutupnya pelan.


"Dia sudah tidur," ucap Wisnu pada istrinya di luar kamar.


Dahlia lalu melihat jam tangannya, dimana waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


"Kamu pulang saja, aku akan tidur disini menemani Tari," ucap Dahlia sambil membuka pintu kamar putrinya.


Dahlia tahu jika putrinya tidur nyenyak akibat efek obat tidur yang diberikan oleh dokter padanya, karena jika tidak seperti itu, maka Tari tidak akan bisa tidur sama sekali.


Dahlia lalu beranjak, dia berniat akan pergi ke kamar mandi, sebelum itu dia membenarkan selimut Tari, namun tak sengaja dia melihat sesuatu di bawah bantal putrinya, membuat Dahlia penasaran dan mengambilnya perlahan.


Dahlia terkejut mengetahui jika itu adalah foto Aaric, membuat dirinya menghempaskan tubuhnya kembali pada kursi sambil terus menatap foto itu, hingga akhirnya dia yakin akan sesuatu hal. Tari masih sangat mencintai Aaric dan tak akan pernah bisa melupakannya, terbukti dari foto ini yang diam-diam masih disimpan putrinya.


"Sayang, kamu sudah sangat menderita, selain karena penyakitmu, kamu juga pasti menderita karena tidak bisa bersama dengan lelaki yang kamu cintai," gumam Dahlia di dalam hatinya sambil menatap wajah putrinya, dia lalu kembali menyimpan foto itu ke asalnya.


"Sayang, jika Aaric adalah kebahagiaanmu, maka mama akan membuatnya kembali bersamamu, mama tak peduli jika dia telah menjadi milik orang lain, asal kamu bahagia, mama akan melakukan apapun agar dia bisa kembali menjadi milikmu." Dahlia bertekad di dalam hatinya.


***


"Kamu belum tidur?" tanya Aaric sambil memeluk istrinya yang berbaring dari arah belakang.


Naina menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa karena memikirkan kejadian tadi? Sudah aku katakan jika kamu tidak usah memikirkannya," ucap Aaric.


"Tidak. Aku sudah melupakan kejadian tadi. Aku berusaha tidak mengingatnya karena tahu itu tidak baik untuk kandunganku," jawab Naina pelan.

__ADS_1


"Baguslah sayang, aku senang kamu memikirkan anak kita. Lalu apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Aaric lagi.


"Aku ingin makan rujak mangga," jawab Naina tiba-tiba.


"Apa?" Aaric mengangkat tubuhnya.


Naina membalikkan badan menghadap suaminya.


"Aku ingin makan rujak mangga sekarang," ucap Naina setengah merengek.


Aaric kemudian duduk, dia menatap istrinya.


"Apa ini yang disebut mengidam?"


"Aku tidak tahu," jawab Naina juga duduk.


"Tunggu dulu, kalau tidak salah, tadi aku tidak sengaja mendengar jika ibu sudah menyiapkan mangga muda untukmu, tunggulah disini, aku panggil ibu dulu." Aaric bersiap akan turun ke lantai.


"Aku tahu. Tapi bukan mangga muda itu." Naina menahan suaminya untuk tidak turun dari tempat tidur.


"Lalu?"


"Aku ingin mangga muda yang ada di Panti," ucap Naina pelan.


"Apa??!" Aaric terbelalak.


"Iya, yang pohonnya di depan lapangan, pohon mangga itu buahnya lebat, dan mangga mudanya rasanya enak sekali kalau buat merujak," ucap Naina sambil menelan ludah.


"Jadi aku harus kesana sekarang? dan memanjat pohon mangga itu malam-malam?" tanya Aaric sambil melihat jam dinding dimana sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


Naina mengangguk pelan.


"Ini maunya anak kamu," jawab Naina sambil mengusap perutnya.


Aaric menepuk keningnya.


"Baiklah, aku siap-siap dulu." Aaric turun dari tempat tidur.


"Oh iya, sambal rujaknya aku ingin bi Sumi yang buat."


Aaric kembali dibuat terperangah, membayangkan jika dia juga harus membangunkan bi Sumi tengah malam hanya untuk memintanya membuatkan sambal rujak.

__ADS_1


__ADS_2