Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kapal Pesiar.


__ADS_3

Aaric menyetir dengan salah satu tangannya terus memegang tangan istrinya, bahkan dengan sesekali menciuminya.


"Kita akan kemana?" tanya Naina heran menyadari arah yang mereka tuju bukan menuju rumah suaminya.


"Kita akan melanjutkan bulan madu kita yang terganggu."


"Tapi aku ingin bertemu dengan Ibu dan Nenek dulu."


"Nanti saja, yang terpenting mereka sudah tahu jika kita sudah bersama."


"Terus kita akan kemana?"


"Ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang akan menggangu kita."


"Kemana?"


"Kamu akan tahu sendiri nanti."


"Tapi aku tidak membawa apapun."


"Kita tak membutuhkan apapun disana sayang." Aaric mencium tangan istrinya.


Wajah Naina merona menahan malu, dia lalu terdiam dan tak banyak bertanya lagi.


Beberapa saat kemudian, Naina baru menyadari jika Aaric membawanya ke daerah pesisir pantai, dan dia nampak menikmati pemandangan yang mereka lewati, mata Naina berbinar melihat hamparan laut yang luas bak permadani hijau yang bersinar terkena sinar matahari sore.


"Kamu senang?" tanya Aaric tiba-tiba.


Naina mengangguk sambil terus melihat laut yang indah.


"Apa kita akan menginap di hotel itu?" Naina menunjuk gedung hotel yang nampak dari kejauhan.


"Tidak," jawab Aaric sambil tersenyum.


"Apa di sana?" Naina lalu menunjuk hotel yang lainnya.


"Tidak sayang?" jawab Aaric lagi.


"Lalu?" Naina melihat suaminya.


"Kita akan tidur di tengah laut." Aaric melihat suaminya.


Naina mengerutkan keningnya, kemudian mulai mengerti ketika mobil yang mereka kendarai memasuki wilayah dermaga, Naina lalu melihat begitu banyak kapal pesiar kecil yang mewah berlabuh disana.


Aaric lalu menghentikan mobilnya, dia lalu menatap wajah Naina yang sedikit kebingungan.


"Ayo kita turun."


"Apa kita akan menaiki salah satu dari kapal itu?"


Aaric mengangguk.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"


"Bukan! Bukan tidak suka, aku hanya tidak pernah menaiki kapal."


Aaric tersenyum.


"Tidak apa-apa, ayo kita turun." Aaric membuka pintu mobil, begitu juga dengan Naina, mereka sama sama berjalan ke depan mobil, Aaric kembali memegang tangan istrinya.


"Itu kapal kita" Aaric menunjuk salah satu kapal.


Naina langsung memperhatikan kapal yang dimaksud, nampak ada dua orang yang keluar kapal itu, kemudian menghampiri mereka.


"Pak, kapalnya sudah siap."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih." Aaric menarik tangan Naina untuk mengikutinya berjalan menuju kapal.


Aaric memapah istrinya menaiki kapal, setelah pasangan suami istri itu telah berada di atasnya, dia lalu memberi kode pada dua orang tadi untuk membantunya melepaskan tali pengikat.


Aaric menarik tangan Naina untuk menaiki dek atas menuju kemudi, dia akan bersiap membawa kapal ke tengah lautan.


Naina memperhatikan Aaric yang nampak lihai mengemudikan kapal, seolah sudah terbiasa, suaminya bahkan nampak tak kesulitan sama sekali, secara perlahan kapal yang mereka naiki meninggalkan dermaga.


Naina dibuat terpana, kapal mereka melaju menuju lautan lepas dibawah sinar matahari sore berwarna keemasan, yang memantul pada hamparan air laut yang terpampang luas di hadapan mereka.


Aaric menarik tangan Naina, memintanya agar mendekati dirinya.


"Kamu suka?" tanya Aaric berbisik dengan sebelah tangan merangkul pinggang istrinya.


Naina mengangguk senang.


"Terima kasih." Naina melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.


Aaric mengecup kening istrinya.


Mereka berpelukan cukup lama sambil menikmati pemandangan di depannya


"Sebentar lagi sunset, pasti indah sekali," ucap Naina tiba-tiba.


"Kita turun ke bawah, duduk disana sambil menikmatinya." Aaric menunjuk kursi santai di bawah mereka.


Naina mengangguk. Aaric mematikan mesin kapal, jarak mereka yang sudah cukup jauh dari bibir pantai membuat Aaric merasa cukup untuk melabuhkan kapalnya disana.


Aaric lalu berjalan mendekati tangga, dia turun duluan kemudian memegang tangan istrinya menuruni tangga.


Sesampainya di bawah Naina dibuat terkesima melihat isi dalam kapal nampak terlihat jelas dari luar yang sangat mewah, membuatnya merasa sedang di hotel berbintang lima.


Aaric menariknya menuju kursi di dekat sana, dia menyuruh Naina untuk duduk, sedangkan dirinya berjongkok di hadapannya.


Aaric menatap wajah istrinya, kemudian merapihkan rambut istrinya yang bertiup terbawa angin.


"Iya, kita akan menginap disini tiga malam."


Naina nampak kaget.


"Kenapa lama sekali?"


"Apa kamu tidak mau?"


"Bukan begitu. Tapi aku ingin segera bertemu dengan ibu dan Nenek."


"Kamu merindukan mereka? Apa tidak merindukanku?"


Naina tersenyum, dia membelai pipi suaminya.


"Tentu saja aku merindukanmu."


Aaric memegang tangan Naina yang membelainya.


"Seminggu kemarin adalah minggu terburuk dalam hidupku." Aaric mencium tangan istrinya.


"Maafkan aku.." Naina tampak menyesal.


"Kamu tidak salah, aku mengerti kenapa kamu melakukannya dan yang terpenting sekarang kita kembali bersama."


"Kamu tahu, aku sempat berpikir jika kamu memang benar-benar melupakanku, kamu tidak kembali ke Panti."


Aaric beranjak lalu duduk di samping istrinya.


"Aku menunggu buku nikah kita selesai diurus, dengan begitu Ibumu tidak bisa memisahkan kita lagi, karena sekarang aku mempunyai kekuatan hukum dan berhak atas dirimu."

__ADS_1


"Maafkan ibuku, jika kamu tahu alasan kenapa dia melakukannya." Naina memegang suaminya.


"Beliau pasti takut aku menyia-nyiakanmu."


Naina mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu Aaric


"Kamu tahu itu tidak akan terjadi." bisik Aaric.


"Aku tahu itu." jawab Naina pelan.


Kedua terdiam beberapa saat.


"Lihat, matahari sudah mulai tenggelam." Naina menunjuk sunset di hadapan mereka dengan senang.


Aaric tersenyum melihat istrinya nampak bahagia, terlihat jelas dari matanya yang berbinar, Naina tak melepaskan pandangannya dari sunset di depannya.


"Sayang." Aaric menatap wajah istrinya.


"Indah sekali. Coba kamu lihat." Naina menunjuk sunset dengan tangannya, wajahnya terus mengukirkan senyuman


"Tidak indah menurutku," jawab Aaric cepat.


Naina kaget, dia langsung melihat Aaric Yanga sedari tadi menatapnya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka sunset?"


Aaric menggelengkan kepalanya


"Tidak!" jawabnya singkat.


"Kenapa?" Naina bertanya dengan serius.


"Karena ada kamu mengalahkan keindahannya."


Lagi-lagi wajah Naina merona.


"Aku mencintaimu." Aaric membelai lembut pipi istrinya.


Naina terdiam saat Aaric mendekatkan wajah lalu mengecup bibirnya.


Naina memejamkan matanya, membuat Aaric kembali mengecup lalu ******* bibir tipis istrinya.


Di bawah sinar matahari yang akan tenggelam, keduanya berciuman dengan mesra.


***


Malam Hari.


Aaric menyajikan makan malam yang hanya tinggal dihangatkan di microwave, dia lalu menatanya di atas meja makan disana, sembari menunggu Naina yang sedang mandi.


Tak lama Naina keluar, Aaric yang sedang minum dibuat tersedak melihat baju yang dikenakan istrinya, membuat Naina nampak semakin malu karena mengenakan baju tidur yang hampir transparan.


"Baju yang ada di lemari semuanya seperti ini," ucap Naina segera duduk di kursi agar Aaric tak melihat baju yang sangat pendek itu hingga pahanya terlihat jelas.


"Aku menyuruh asistenku yang menyiapkannya, aku tidak tahu jika dia akan menyiapkan baju seperti itu. Sepertinya aku harus memberinya bonus." Aaric duduk di kursi di depan istrinya.


"Apa kamu yakin ini asistenmu yang menyiapkannya? Apa bukan salah satu mantanmu atau wanita yang sering kamu ajak kesini?" tanya Naina menelisik.


"Tentu saja bukan! Aku tidak pernah membawa seorangpun wanita kesini. Aku bersumpah." Aaric nampak bersungguh-sungguh.


Naina tersenyum.


"Aku percaya sayang." ucap Naina dengan manja.


Aaric langsung terlihat bahagia mendengar Naina baru kali ini memanggilnya sayang, dia tersenyum lebar.

__ADS_1


"Makan yang banyak sayang, kita butuh banyak energi untuk malam ini," ucap Aaric sambil tersenyum nakal.


Naina tampak salah tingkah.


__ADS_2