
Naina menatap suaminya yang tertegun dan terlihat bimbang, tatapannya lalu jatuh pada tangan suaminya yang sedari tadi menggenggamnya erat kini mulai mengendur.
Melihat itu hati Naina seakan teriris, Aaric sepertinya terpengaruh akan perkataan Dahlia, walaupun dia belum mengerti benar apa yang sebenarnya kini terjadi tapi mendengar ucapan ibu tirinya membuat Naina tahu akan satu hal jika Tari, kakak tirinya masih mencintai suaminya.
Naina yang sedih mulai menitikkan air mata, dia berinisiatif melepas genggaman tangan suaminya, perlahan dia mencoba melepaskan diri dari tangan Aaric, namun tanpa disangka suaminya kembali memegang tangannya erat, membuat Naina kaget hingga kembali menatap wajah suaminya yang kini tampak dengan yakin melihat Dahlia.
"Aku memang mencintai Tari, tapi itu dulu, terlepas apapun alasannya dulu meninggalkanku, perasaanku telah berubah sekarang dan sekarang aku hanya bisa bersimpati kepadanya. Kini aku hanya mencintai Naina, tak ingin melihatnya terluka dan tersakiti, aku akan melindunginya dari orang-orang yang berniat buruk padanya, termasuk kalian berdua."
Wisnu dan Dahlia tampak kaget mendengar jawaban Aaric.
"Kamu salah paham, siapa yang ingin menyakiti istrimu? Menjadi pendonor Tari tidak akan membuatnya menderita, tidak akan menyakitinya sama sekali," ucap Dahlia masih dengan terisak.
"Istri saya benar. Sebagai ayah, tentu saja juga tidak ingin melihat Naina menderita, terluka ataupun tersakiti, karena saya tahu mendonorkan sumsum tulang belakang tidak akan menyakitinya sama sekali maka saya ingin agar Naina menolong kakaknya yang sudah menderita karena penyakitnya selama ini." Wisnu menambahkan.
Mendengar itu Naina sedikit mengerti apa yang sedang terjadi, dia menundukkan kepala dengan air mata yang terus menetes.
"Lalu bagaimana dengan Naina yang sudah menderita selama 19 tahun ini? Apa anda memikirkannya?" tanya Aaric tegas.
Wisnu kembali terlihat gelagapan.
"Sudah kami katakan jika kami sudah mencarinya selama ini dan penderitaannya di Panti bukan salah kami, ibunya yang membuat dia harus hidup disana." Dahlia menjawab dengan sedikit emosi.
"Hanya kebetulan saja kami menemukannya bertepatan dengan kondisi Tari yang menurun dan harus segera dilakukan operasi pendonoran sumsum tulang belakang, jadi kami sangat berharap jika Naina mau menolong kakaknya." Kali ini Dahlia mengatakan dengan penuh harap sambil memandang Naina.
Naina sedikit merasa kasihan mendengar Dahlia yang seakan memohon padanya, dia lalu menatap wajah suaminya.
"Aku tetap tidak akan membiarkannya," ucap Aaric sambil menggeleng.
Dahlia dan Wisnu kembali kaget. Begitu juga dengan Naina yang abru kali ini melihat suaminya yang keras kepala.
"Kalau saja Tari tidak sakit dan tidak membutuhkan Naina, aku yakin jika kalian belum tentu akan mencari keberadaannya, walaupun kalian menemukannya, aku juga yakin jika sikap anda tak akan semanis ini pada istri saya, alih-alih menerimanya anda mungkin saja malah akan membencinya karena dia anak hasil perselingkuhan suami anda. Karena itu aku meragukan sikap tulus kalian ini, kalian hanya akan memanfaatkanya saja dan caranya yang seperti itu yang aku tidak suka " ucap Aaric.
"Sayang. Ayo kita pergi dari sini." Aaric sepertinya tak ingin lagi berlama-lama disana, dia langsung berjalan sambil menarik tangan Naina.
Wisnu dan Dahlia tidak bisa mencegahnya lagi, mereka menatap kepergian keduanya dengan perasaan campur aduk, terutama dengan perkataan terakhir Aaric barusan.
Dahlia menghempaskan tubuhnya pada sofa, dia kembali menangis dengan sedihnya, Wisnu yang melihat hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
***
Sepanjang perjalanan Aaric nampak begitu emosi, dia terus fokus menyetir dengan wajahnya yang geram.
Sama halnya seperti suaminya, Naina yang sedari tadi hanya bisa terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun tampak melamun, sambil menatap jalanan melalui jendela di sampingnya, dia sedang mencoba mencerna dan mengambil kesimpulan dari apa yang baru saja terjadi.
"Jadi mereka hanya ingin memanfaatkanku?" tanya Naina tiba-tiba.
Aaric tak segera menjawab, dia hanya langsung menarik napas dalam.
"Tidak usah kamu pikirkan, mulai sekarang kita tak akan berhubungan lagi dengan mereka," jawab Aaric lembut sambil memegang tangan istrinya.
Naina melihat suaminya.
"Tapi dia mantan pacarmu, apa kamu tega membiarkannya meninggal sementara dia masih sangat mencintaimu," ucap Naina pelan.
"Masih banyak cara lain agar dia bisa sembuh. Terlepas dia mantan pacarku atau bukan, aku tidak peduli, yang aku pedulikan hanyalah kamu, aku tak akan mengizinkannmu menjadi pendonornya."
Naina menarik napas panjang sambil kembali menatap jalan di depannya.
"Kalau begitu terlepas mereka keluargaku atau bukan, ayah kandungku atau bukan, kakak tiriku atau bukan, tulus padaku atau tidak, memanfaatkanku atau tidak, aku memutuskan ingin menolongnya!" ucap Naina mantap sambil melihat suaminya.
"Ini hanya tentang rasa kemanusiaan. Jika dia meninggal karena aku tidak mendonorkan sumsum tulang belakangku padahal aku bisa, aku akan menjalani hari-hariku dengan penuh rasa bersalah, tak mungkin lagi menjalani hari-hariku dengan normal, bayangan tentang diriku yang kejam dan egois akan membayangiku seumur hidupku, sama saja aku sudah membunuh seseorang," ucap Naina lagi kini sambil menatap wajah suaminya.
"Aku tidak akan pernah setuju, kita belum tahu apa resikonya untuk kesehatanmu." Aaric tetap menentangnya.
Naina menurunkan pandangannya.
"Asal aku tidak mati, tidak masalah buatku."
"Sayang. Tidak, Kumohon!" Aaric memegang dagu istrinya agar kembali melihat wajahnya.
"Aku hanya minta satu hal saja darimu, jika mantan pacarmu sembuh nanti, tolong jaga hatimu ini baik-baik, mantapkan perasaanmu hanya untukku, jangan tergoda lagi olehnya," ucap Naina sambil berlinang.
"Sayang." Aaric menyeka air mata istrinya.
"Tak ada yang bisa mengalihkan perasaanku ini darimu. Siapapun itu termasuk Tari."
__ADS_1
"Syukurlah." Naina tersenyum.
Aaric mengecup kening istrinya.
"Tapi aku tetap tak ingin kamu jadi pendonor," ucap Aaric.
Naina terdiam.
***
Malam Hari.
Winda terus saja bersungut-sungut, berjalan mondar-mandir dengan wajahnya yang kesal.
Sementara Nenek dan Aaric yang duduk di sofa nampak lebih tenang walaupun sebenarnya keduanya sama kesalnya dengan Winda.
"Pokoknya ibu tak akan mengizinkan Naina mendonorkan sumsum tulang belakangnya," ucap Winda yang entah sudah berapa kali dia ucapkan.
"Pantas saja waktu itu merasa ada yang aneh dengan sikap suami istri itu, rupa-rupanya mereka hanya mau memanfaatkan Naina saja. Kurang ajar sekali," ucap Winda sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Katakan pada istrimu jika ibu dan Nenek tidak setuju jika dia berniat mendonorkan sumsum tulang belakangnya, awas saja kalau dia tetap bersikeras ibu akan sangat marah padanya." Winda melihat Aaric.
Aaric hanya bisa mengangguk.
"Nenek hanya takut jika malah kesehatan Naina nanti yang akan terganggu," ucap Nenek dengan sedih.
Winda yang terus berjalan mondar-mandir di bawah tangga kaget ketika berpapasan dengan ART yang akan naik ke tangga dengan membawa satu botol minyak angin.
"Apa itu? Untuk siapa?"
"Nyonya Naina memintaku membawa ini ke kamarnya, katanya dia masuk angin karena muntah-muntah terus dari tadi," jawab ART itu.
"Owh.." Winda mengangguk sambil mengizinkan pembantu itu untuk naik.
"Eits.. tunggu dulu!" Tiba-tiba Winda teringat akan sesuatu, dia langsung melihat Aaric.
"NAINA HAMIL." Winda bersorak dan meloncat-loncat kegirangan.
__ADS_1
Aaric dan nenek saling berpandangan.