Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kedatangan Farida.


__ADS_3

"Tranplantasi sumsum tulang belakang adalah salah satu metode pengobatan yang cukup ampuh dan tanpa efek samping untuk sebuah penyakit atau kondisi medis tertentu seperti kanker darah atau Leukemia, penyakit yang kini di derita Tari," ucap Intan ketika dirinya dan Sheryl berbicara berdua.


"Biasanya orang yang memiliki kecocokan sumsum tulang belakang adalah anggota keluarga pasien itu sendiri," lanjut Intan.


"Tapi Naina saudara tiri, apakah itu bisa?" tanya Sheryl penasaran.


"Dokter akan mengetahuinya setelah dilakukan tes, tapi kemungkinannya cukup besar, mengingat mereka saudara satu ayah," jawab Intan.


"Para ahli mengatakan jika kecocokan sumsum tulang belakang akan lebih besar antara saudara kandung ketimbang orang tua dan anak, perbandingan kesuksesannya adalah 25% antara saudara kandung dan kecocokan sumsum tulang antara orang tua dan anaknya hanya sekitar 0,5% saja." Tari menjelaskan lebih gamblang.


"Jika dipaksakan menerima donor sumsum yang tidak cocok, misal dari orang tua ke anak, akan menimbulkan resiko dan masalah lainnya yang dapat membahayakan kondisi pasien, misalnya sistem imunnya akan terganggu hingga memperburuk kondisi pasien karena akan mengalami infeksi dan gangguan fungsi tubuh yang lain." lanjut Intan.


Sheryl mengangguk mengerti.


"Biasanya setelah dilakukan prosedur pencangkokan sumsum tulang belakang dan itu berhasil maka kondisi pasien akan berangsur membaik, resiko untuk relapse atau kambuhnya leukimia diyakini sangat kecil bagi pasien tersebut."


"Itu artinya Tari akan sembuh total?" tanya Sheryl.


"Kita tentu saja berharap seperti itu," jawab Intan.


"Lalu bagaimana dengan nasib si pendonor? Bagaimana dengan nasib Naina nanti jika dia telah mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Tari?" tanya Sheryl.


"Mayoritas pendonor sumsum tulang belakang sebanyak lebih dari 98,5% akan kembali pulih dalam beberapa minggu, sisanya yakni 2,4% pendonor akan mengalami komplikasi serius akibat anastesi atau kerusakan tulang saraf, atau otot di daerah pinggul mereka."


"Tapi itu sangat jarang terjadi, hingga persentasenya kecil," tambah Intan.


"Apa ada resiko jangka panjangnya?" tanya Sheryl merasa tidak puas dengan jawaban Intan.


"Tidak ada sama sekali karena jumlah sumsum yang disumbangkan hanya sekitar satu liter. Itu hanya sebagian kecil dari total sumsum seseorang sehingga itu tidak akan melemahkan tubuh di pendonor atau bahkan melemahkan sistem kekebalan tubuhnya karena dalam beberapa minggu, sumsum tulang belakang si pendonor akan secara alami menggantikan dirinya sendiri. Naina akan baik-baik saja," ucap Intan membuat Sheryl lega.


"Syukurlah. Aku takut Naina nanti yang kenapa-napa."


"Yang aku takutkan justru Naina menolak menjadi pendonor," ucap Intan.


Sheryl melihat sahabatnya.


"Tidak mungkin. Kita tahu Naina, dia sangat baik, dia pasti akan mau menolong Tari yang notabenenya adalah kakak tirinya sendiri."


"Benar juga. Tapi apa kamu tidak penasaran apakah yang terjadi sebenarnya? Bagaimana ayahnya Tari bisa menjadi ayah kandung Naina?" tanya Sheryl dengan serius.


"Mungkin karena hubungan terlarang," jawab Intan menduga-duga.

__ADS_1


"Bisa saja seperti itu, tapi aku menjadi kasihan pada Naina, selama ini dia hidup menderita di Panti, padahal ayahnya seorang pengusaha sukses yang kaya raya," ucap Sherly.


"Kamu benar. Tapi aku lebih kasihan padanya jika ternyata sebenarnya Pak Wisnu mencari Naina hanya untuk menolong Tari. Tapi itu hanya dugaanku saja, semoga tidak seperti itu," ucap Intan.


Sheryl terdiam mendengar perkataan sahabatnya, berpikir jika sebenarnya dia juga sempat mempunyai pikiran seperti itu, Naina hanya dicari demi penyembuhan Tari.


***


Keesokan harinya.


Naina menghambur memeluk Ibu Farida yang baru saja turun dari mobil, di pelukan ibunya Naina menangis terisak.


"Kita masuk dulu." Winda mengajak keduanya untuk masuk ke dalam.


Sesampainya di ruang keluarga, Naina kembali memeluk ibunya, Ibu Farida yang sudah tahu apa yang terjadi dari Ibu Winda, mengusap lembut punggung putrinya.


"Apa yang membuatmu sedih? Seharusnya kamu senang karena bertemu dengan ayahmu," ucap Farida sambil tersenyum.


Naina menyeka air matanya.


"Ibu. Beritahu aku bagaimana caranya aku bisa tinggal di Panti? Sebenarnya aku tidak pernah ingin tahu, karena itu aku tidak pernah sekalipun menanyakannya pada Ibu. Tapi kali ini aku ingin tahu semuanya. Ibu apa aku diberikan oleh ibuku langsung? Seperti Bayu, Ni'ma, Feri dan masih banyak anak Panti lainnya yang diantarkan oleh ibunya langsung karena berbagai alasan," tanya Naina penasaran.


"Tidak Nak. Kamu tidak sama seperti mereka. Ibu menemukanmu di gerbang Panti, seseorang meninggalkanmu disana beberapa saat sebelum ibu menemukanmu."


"Kira-kira berapa usiaku saat itu?"


"Sepertinya dua atau tiga hari setelah dilahirkan,"


Mendengar jawaban Farida membuat Naina terisak, membuat Farida dan Winda merasa sedih, begitu juga dengan Nenek yang menghampiri mereka.


"Kenapa ibuku tega meninggalkan aku disana? Apa aku dianggap beban untuknya sehingga dia tidak mau merawat aku anak kandungnya sendiri." Naina semakin terisak.


"Kita tidak tahu alasan yang sebenarnya, mungkin tidak seperti itu Nak. Kamu jangan mengambil kesimpulan seperti itu." Winda memeluk menantunya.


"Tapi ibu dengar sendiri jika ibuku hanya istri kedua, atau mungkin saja sebenarnya ayah dan ibuku tidak menikah dan aku hanya anak hasil perselingkuhan."


"Naina. Jangan bicara seperti itu Nak," ucap Farida cepat.


"Bagaimana cara kamu dilahirkan, seorang anak tetaplah makhluk yang suci dan bersih, apapun yang dilakukan oleh orang tuanya, anak tidak akan ikut menanggung dosa keduanya." Giliran Farida memeluk Naina.


"Apa yang dikatakan ibumu benar Nak, kamu tidak usah memikirkan apa yang sudah dilakukan kedua orang tuamu, bagaimanapun caranya kamu lahir, kamu tetap anak yang terlahir dengan suci." Winda mengusap pundak menantunya.

__ADS_1


Naina menyeka air matanya.


"Maafkan aku. Aku hanya merasa rendah diri, aku malu karena perlakuan orang tuaku, terutama Ibuku yang sudah menjadi orang ketiga."


"Jangan berpikir macam-macam, tidak ada yang menganggapmu rendah, kamu adalah menantu tersayang kami. Kami semua sangat menyayangimu." ucap Nenek sambil tersenyum.


Semua orang ikut tersenyum.


***


Keesokan harinya.


Aaric dan kedua sahabatnya makan siang bersama.


"Bagaimana keadaan istrimu sekarang?" tanya Ryan melihat Aaric.


Aaric menghela napas.


"Sepertinya kedatangan ibu Panti kemarin yang menasihatinya membuat Naina mulai menerima Pak Wisnu sebagai ayahnya, bahkan dia baru saja meneleponku meminta izin untuk pergi ke rumah ayahnya karena Ibu Dahlia menjemputnya."


Ryan dan Dani berpandangan.


"Apakah dia tahu jika dia adik dari Tari mantan pacarmu?"


"Tentu saja. Tapi dia tak banyak bicara soal itu."


"Kamu sendiri? Bagaimana perasaanmu sekarang mengetahui jika Tari adalah kakak iparmu?" tanya Dani


Aaric tersenyum.


"Biasa saja. Hubungan kami sudah lama selesai, semuanya tidak akan membuatku risih atau tidak nyaman, perasaanku sudah mantap pada Naina."


"Apa kamu yakin? Perasaanmu pada Naina tidak akan berubah apapun yang terjadi?" tanya Ryan serius.


"Aku yakin."


"Baguslah, mungkin sebaiknya kita mengatakannya sekarang padamu." Dani menatap wajah Aaric dengan serius.


"Mengatakan apa?" tanya Aaric heran.


Dani melihat Ryan, kemudian kembali melihat Aaric.

__ADS_1


"Tari sedang sakit parah dan hanya istrimu yang bisa menyembuhkannya."


"Apa?" tanya Aaric kaget.


__ADS_2