
Kedatangan Naina disambut hangat oleh Ibu Winda dan Nenek, mereka tampak gembira melihat kedatangan Naina
"Akhirnya kamu kembali, ibu senang sekali."
Naina kemudian bersimpuh di hadapan nenek yang duduk di atas kursi roda, dia nampak memohon maaf atas semua yang terjadi selama ini.
"Nenek mengerti kamu terpaksa melakukannya, ibu mertuamu sudah menjelaskannya pada Nenek."
Naina merasa lega karena rupanya Nenek tidak marah dan mengerti akan situasinya saat itu yang harus terpaksa membohonginya dengan mengatakan jika dirinya sedang hamil.
Setelah berbincang sejenak Naina kemudian teringat akan suaminya yang harus segera pergi ke kantor, dia pamit untuk pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar, Naina melihat Aaric nampak tengah bersiap, dia sedang memakai kemeja.
Naina menghampiri suaminya, berdiri tepat di hadapannya untuk membantu mengancingkan bajunya.
"Pulang jam berapa?" tanya Naina.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Aaric sambil berjalan maju mendekati istrinya.
"Tidak apa-apa, hanya bertanya saja." jawab Naina sambil terus mundur karena Aaric yang terus mendorongnya.
Hingga langkah Naina terhenti karena ada tempat tidur di belakangnya, melihat itu Aaric malah mendorong istrinya hingga keduanya jatuh ke atas kasur.
Aaric menindih tubuh Naina.
"Bangunlah, kamu akan telat nanti." Naina mendorong dada Aaric.
"Aku tidak peduli," jawab Aaric sambil membelai wajah istrinya.
Keduanya saling bertatapan mesra.
Aaric lalu mendekatkan wajahnya, nampak akan mencium bibir istrinya yang nampak sudah bersiap dengan memejamkan matanya.
Hampir saja bibir mereka bersentuhan, tapi tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berbunyi nyaring.
Keduanya terperanjat, dengan kesalnya Aaric lalu beranjak duduk untuk mengambil ponselnya yang disimpan di atas meja di samping tempat tidur, dan segera mengangkat panggilan yang masuk.
"Sebentar lagi saya sampai." Aaric menutup telepon dengan wajahnya yang masam.
Tiba tiba Naina memeluknya dari belakang, menyimpan kepalanya di bahu sang suami.
"Pergilah," bisik Naina.
Aaric memegang tangan Naina yang melingkar di pinggangnya.
"Kamu malah membuatku semakin tidak mau pergi."
Naina buru-buru melepaskan pelukannya, menuruni tempat tidur lalu manarik badan Aaric agar berdiri, dia lalu kembali mengancingkan baju suaminya, dilanjutkan dengan memakaikannya jas dan mengambilkan sepatu untuknya.
Aaric nampak sudah siap, dia mengecup kening istrinya untuk berpamitan
***
"Kita bertemu lagi." Damar berdiri menyambut kedatangan Aaric yang baru saja sampai ke tempat pertemuan.
__ADS_1
Aaric sedikit kaget melihat kehadiran Damar disana, namun kemudian dia baru teringat jika memang perusahaan mereka akan kembali melakukan kerjasama.
"Iya. Saya hampir lupa perusahaan kita akan kembali bekerja sama."
Damar tersenyum.
"Sebenarnya aku akan mengatakan hal itu ketika tadi kita tidak sengaja bertemu di dermaga. Tapi anda dan Naina sepertinya tadi sangat tergesa-gesa."
Raut wajah Aaric berubah seketika mendengar nama Naina disebutkan, dia langsung menatap Damar.
"Maaf. Maksud saya Nyonya Naina, istri anda." Damar mengklarifikasi.
Aaric tersenyum kecil kemudian duduk di kursi yang tak jauh dari sana, Damar mengikutinya, duduk di kursi di sebelah Aaric.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Damar nampak serius.
"Silahkan."
"Dimana kalian bertemu?" tanya Damar terlihat sangat penasaran.
Aaric dengan jelas memperlihatkan wajah tidak sukanya mendengar pertanyaan Damar mengenai hubungannya dengan Naina.
"Aku rasa kita tak terlalu dekat untuk membicarakan masalah pribadiku," jawab Aaric agak sinis.
Damar tersenyum santai.
"Maaf. Tapi Naina sudah seperti adik bagi saya. Maafkan jika saya ingin tahu lebih banyak mengenai hubungan kalian."
"Tidak ada yang perlu anda ketahui lebih banyak tentang hubungan kami, yang perlu anda tahu hanyalah jika aku dan Naina saling mencintai, itu sudah cukup kan?"
"Tentu saja aku lihat jika anda memang sangat mencintai Naina, aku bisa lihat dari sikap anda yang posesif padanya. Tapi aku hanya heran bagaimana cara kalian bertemu, mengingat anda yang seorang CEO dan Naina yang hanya gadis panti."
"Apa status sosial kami menjadi masalah buat anda?"
"Tentu saja. Kebanyakan pengusaha muda, tampan dan sudah pasti kaya raya seperti anda tidak akan jatuh cinta semudah itu dengan wanita yatim piatu seperti Naina. "
"Buktinya sekarang adalah jika kami saling mencintai, saya tidak mempermasalahkan apapun yang ada pada diri Naina begitupun sebaliknya."
Damar tersenyum.
"Aku lega mendengarnya. Tolong bahagiakan dia."
***
Sementara di tempat lain.
Dr. Dani memijat keningnya melihat rekam medis seseorang di tangannya, dia nampak syok dan bingung, berkali-kali dia membaca ulang laporan kesehatan itu untuk memastikan jika apa yang ditulis disana adalah benar.
Seseorang mengetuk pintu, Intan masuk dan langsung menghampiri suaminya.
"Ada apa?" tanya Intan penasaran karena Dani yang memintanya untuk segera datang ke ruangannya.
"Kamu harus tahu ini." Dani memberikan kertas itu pada istrinya.
Intan segera menerimanya dan membaca dengan seksama, tak butuh waktu lama raut wajah Intan berubah seketika, nampak lebih syok dibandingkan suaminya.
__ADS_1
"Ini?" Intan melihat suaminya.
Dani mengangguk.
"Dari mana kamu dapat ini?"
"Dr. Gabriel. Sudah lama dia membicarakan kasus pasiennya ini padaku, tapi aku tidak tahu jika pasiennya adalah orang yang kita kenal."
Intan menghempaskan tubuhnya pada kursi di depan suaminya.
"Kenapa dia menyembunyikannya dari kita?" gumam Intan dengan pelan.
"Dia tak ingin Aaric mengetahuinya."
"Dan perselingkuhan itu?"
"Aku rasa itu hanya sandiwaranya saja, dia sengaja membuat dirinya seakan berselingkuh agar Aaric membencinya karena tahu jika umurnya tak akan lama."
Intan menutup wajahnya mendengar jawaban Dani.
"Dan kita sudah sangat membencinya karena itu, padahal dia sedang berjuang melawan penyakitnya," ucap Intan terdengar menahan tangis
Dani terdiam.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Haruskah kita memberitahu Aaric?"
Dani menggelengkan kepalanya.
"Aaric baru saja merasakan kebahagiaannya bersama Naina, jika kita memberitahunya, maka kita akan merusak kebahagiaan mereka."
Intan mengangguk.
"Kamu benar." jawabnya.
"Kita akan menyembunyikan ini." Dani melihat istrinya.
Intan dan Dani saling bertatapan.
"Tapi." Intan menggelengkan kepalanya.
"Jangan biarkan Aaric tahu, aku yakin jika itu juga yang di inginkan oleh Tari, karena itu selama lima tahun ini dia menyembunyikan penyakitnya dari kita. Dan yang paling penting adalah, jika Aaric tahu, dia bisa saja meninggalkan Naina."
Intan nampak bingung.
"Tidak. Jangan biarkan Aaric meninggalkan Naina," ucap Intan.
"Iya, karena itu kita akan merahasiakan hal ini."
Intan mengangguk.
"Baiklah, kita tak akan memberitahu siapapun, termasuk Ryan dan Sheryl juga."
***
Tari meneteskan air mata melihat foto Aaric dan Naina yang akan menaiki kapal pesiar, juga beberapa foto lainnya yang memperlihatkan kemesraan diantara keduanya.
__ADS_1
"Aku senang akhirnya kamu bisa melupakan aku dan menemukan penggantiku dan merasakan kembali kebahagiaan. Semoga kalian berdua akan bahagia selamanya."