Rahim Titipan

Rahim Titipan
Jangan Berpisah Lagi.


__ADS_3

Naina yang kaget langsung melihat orang-orang di depannya.


"Tidak mungkin dia tega melakukan itu. Kalian pasti salah." Naina menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu benar. Kalian terpaksa harus meninggalkan tempat ini sekarang juga, itu perintah dari Pak Aaric." Salah seorang menjawab keraguan Naina.


"Kami sudah menyiapkan buldoser diluar, setelah kalian pergi kami akan segera menghancurkan tempat ini."


Naina melihat ke arah luar, nampak sebuah truk besar mengangkut buldoser jug beberapa petugas yang sudah siap, membuatnya yakin jika mereka semua tidak main-main.


"Kecuali.." ucap salah seorang dari mereka.


"Apa?" jawab Naina dan ibunya bersamaan.


"Pak Aaric mengajukan suatu kesepakatan." Orang itu memberikan selembar kertas pada Naina.


Naina segera mengambil dan membacanya.


Naina membelalakkan matanya membaca poin-poin kesepakatan yang tertera di kertas itu.


Farida yang penasaran langsung mengambil kertas di tangan Naina dan membacanya.


Farida tak kalah kaget, dia langsung menatap orang-orang di depannya dengan kesal.


Sedangkan Naina hanya bisa menundukkan kepalanya, nampak bingung dan serba salah.


"Bagaimana? kalian harus secepatnya mengambil keputusan, kami tidak punya banyak waktu." tanya salah seorang dari mereka.


Naina melirik Ibunya yang tampak sangat kesal.


"Berikan kami waktu untuk berpikir," jawab Farida.


"Baiklah! Kami beri kalian waktu setengah jam untuk berdiskusi."


Farida langsung berdiri membawa kertas kesepakatan itu, diikuti oleh Naina dan Sumi di belakangnya.


Mereka berjalan menuju ruangan di sebelahnya.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Farida sesampainya mereka di sana.


"Aku tidak tahu, semuanya aku serahkan pada ibu," jawab Naina pelan.


Farida membaca kembali poin-poin di dalam kertas itu.


"Ini hanya akal-akalan suamimu saja agar kamu kembali padanya."


Sumi yang penasaran mengambil dan membaca isi kertas itu, dia langsung menutup mulut menahan senyum setelah membacanya.


"Nasib kami semua ada di tanganmu." Sumi melihat Naina.

__ADS_1


"Dan tampaknya mereka tidak main-main."


Farida nampak kesal, dia berjalan mondar-mandir.


"Jika kita tak setuju dengan isi kesepakatan itu, maka kita harus pergi dari sini sekarang juga, kemana kita akan pergi dengan membawa puluhan anak-anak panti, ditambah kita tidak mempunyai uang yang cukup," ucap Sumi pada Naina.


"Dan panti ini akan dihancurkan," Sumi tampak melihat sekeliling dengan wajah yang sedih


"Tapi kalau kalian berdua setuju, bukan hanya panti ini yang akan menjadi milik kita sepenuhnya, bahkan mereka akan memberikan fasilitas tambahan, uang bulanan yang cukup juga jaminan kesejahteraan bagi semua anak-anak," lanjut Sumi lagi tapi kali ini dengan bersemangat.


Naina tampak bingung mendengar perkataan Sumi, dia lalu melirik ibunya yang juga tampak tak kalah bingungnya.


"Aku akan serahkan semuanya pada ibu."


Farida menghela napas.


"Ibu tidak menyangka suamimu akan melakukan ini," ucap Farida dengan kesal.


"Apa dia pikir kamu adalah barang yang bisa dijadikan isi sebuah kesepakatan."


Sumi menahan tawa, dia melihat kembali poin-poin kesepakatan yang diinginkan oleh Aaric.


"Disini tidak ada yang merugikan Naina menurutku, Naina hanya harus memenuhi isi kesepakatan diantaranya, Naina harus menemani Aaric seumur hidupnya dalam suka walaupun duka, Naina harus melahirkan anak-anak yang lucu untuknya, Naina harus menjaga dan merawat anak-anak mereka kelak dan Naina harus selalu bahagia selama bersamanya. Kesepakatan ini berlaku seumur hidup dan hanya maut yang bisa membatalkannya." Sumi membaca poin-poin besar yang tertera disana.


"Aku pikir suaminya terpaksa melakukan ini karena dia sangat mencintai Naina." Sumi melihat Farida.


Farida tampak terdiam sejenak mendengar perkataan Sumi, dia lalu menghampiri Naina.


"Bagaimana denganmu? Apa kamu mau kembali padanya?"


"Sebenarnya aku juga masih mencintainya ibu," jawab Naina pelan.


Farida menghela napas.


"Sekarang ibu hanya bisa berharap jika apa yang dikatakan ibu Sumi benar, suamimu sangat mencintaimu dan tak akan menyia-nyiakan dirimu, ibu juga salah telah menyamakan nasib kita yang belum tentu sama, sehingga menyuruhmu untuk berpisah dengan suamimu sendiri."


"Ibu hanya sangat menyayangiku, itu saja," jawab Naina


"Baiklah, kita akan menandatangani kesepakatan itu, semoga keputusan kita benar."


***


Naina dan Ibu Farida menandatangani kertas kesepakatan itu, disaksikan oleh Farhan yang langsung datang setelah di hubungi oleh Farida.


Farhan tak bisa berbuat banyak karena tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mengikuti syarat yang diajukan Aaric agar para penghuni Panti tidak digusur, selain itu Farhan juga tak bisa melakukan apapun karena mengetahui jika Naina juga mencintai suaminya.


Selain menandatangani kesepakatan, Naina juga diminta menandatangani Buku Nikah mereka yang telah jadi, sehingga kini pernikahan dirinya dan Aaric telah terdaftar secara resmi, membuat ibunya merasa lega dan yakin jika Aaric serius akan hubungannya dengan Naina.


"Sekarang Nyonya Aaric harus ikut bersama kami," ucap salah seorang wanita diantara mereka.

__ADS_1


Naina melirik Ibunya.


"Pergilah Nak," Farida memeluk Naina.


"Maafkan ibu karena telah membuatmu berpisah dengan suamimu,"


Naina menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Bu. Aku mengerti kenapa ibu melakukannya."


Farida meneteskan air matanya.


"Berbahagialah karena ibu yakin sekarang jika suamimu akan membahagiakanmu."


Naina mengangguk.


Setelah berpamitan dengan pengurus panti dan adik-adiknya, Naina menaiki salah satu mobil, kemudian satu persatu mobil meninggalkan panti, melaju dengan beriringan.


Tiba-tiba di tengah perjalanan, di pinggir hutan Pinus yang rimbun, mobil yang dinaikinya berhenti, wanita yang menyetir membalikkan badannya melihat Naina yang duduk di kursi belakang.


"Nyonya, suami Anda ada di mobil itu." Wanita itu menunjuk sebuah mobil di depan mereka.


Naina yang bingung perlahan turun dari mobil lalu melihat mobil di depannya


"Aku pergi dulu." Wanita itu pamit lalu melajukan kembali mobilnya


Naina nampak berdiri terpaku, melihat mobil yang tidak dia kenal di depannya, membuatnya ragu untuk menghampirinya.


Tiba-tiba pintu mobil itu terbuka, Aaric keluar dari sana dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Jantung Naina berdegup kencang melihat suami yang amat dirindukannya berjalan menghampirinya.


Aaric berjalan semakin mendekati istrinya.


Tanpa basa basi, dia langsung menarik Naina ke dalam pelukannya, Aaric memeluk Naina dengan sangat erat.


"Aku merindukanmu," ucap Aaric pelan.


"Aku juga," jawab Naina sambil melingkarkan tangan di pinggang suaminya.


Mereka saling berpelukan beberapa saat.


Aaric lalu melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya dengan lekat, dia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, kemudian mengecup bibir Naina dengan lembut.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku lagi," ucap Aaric memohon.


Naina menggelengkan kepalanya.


"Tidak akan pernah."

__ADS_1


__ADS_2