Rahim Titipan

Rahim Titipan
Ke Jerman.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Aaric yang masih tertidur kaget mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi, dia segera bangun untuk menghampirinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Aaric yang panik sambil mengusap punggung Naina.


Naina tidak menjawab, dia terus mengeluarkan isi perutnya, dan memberi kode agar Aaric meninggalkannya, takut suaminya itu akan merasa jijik melihat dirinya yang terus muntah.


"Tidak sayang, aku tidak akan kemana-mana, aku akan menemanimu disini."


Aaric terus mengusap punggung dan tengkuk leher Naina, berharap itu akan mengurangi rasa mualnya, tak ada rasa jijik sedikitpun, yang ada dia malah merasa kasihan melihat istrinya yang sepertinya tersiksa karena terus mengeluarkan isi perutnya.


Tak berapa lama, Naina tak lagi muntah, setelah berkumur beberapa kali, Aaric memapah istrinya yang terlihat lemas untuk kembali ke kamar, Aaric mendudukkan istrinya di atas tempat tidur.


"Bagaimana sekarang? Masih mual?" tanya Aaric dengan cemas sambil berjongkok di hadapan istrinya?


"Aku tidak apa-apa," jawab Naina pelan.


"Kamu yakin? Wajahmu pucat sekali," ucap Aaric masih dengan paniknya.


"Iya, muntah di pagi hari normal bagi ibu hamil, kamu tidak usah cemas."


"Benarkah? Apa bukan karena semalam?"


Naina menahan senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tentu saja bukan! Sudah lebih baik sekarang cepatlah mandi, nanti kesiangan, aku akan menyiapkan bajumu," Naina akan berdiri.


"Tidak!" Aaric menahan istrinya untuk bangun.


"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan membatalkan perjalanan bisnisku ke luar negeri."


"Kenapa?" tanya Naina heran.


"Aku mengkhawatirkan keadaanmu, melihatmu muntah seperti tadi membuatku tidak bisa meninggalkanmu," jawab Aaric menatap istrinya.


"Sayang, aku tidak apa-apa, kalau tidak percaya telepon Dokter Dani sekarang dan tanyakan padanya apakah normal bagi ibu hamil muntah-muntah sepertiku tadi?"


"Walaupun itu normal tapi aku tetap mengkhawatirkan keadaanmu, aku tidak akan pergi!"


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? Aku yakin jika bisnis itu sangat penting untuk perusahaan," ucap Naina sambil berdiri.


"Tapi sayang," ucap Aaric sambil ikut berdiri.


Naina tidak menjawab karena dia langsung berjalan menuju walk-in closet, membuat Aaric akhirnya menyerah dan pergi memasuki kamar mandi.


***


"Ke Jerman?' tanya Winda mengerutkan keningnya.


"Iya Bu, ada salah satu perusahaan disana yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kita," jawab Aaric sambil mencium kening ibunya.

__ADS_1


"Aku titip Naina ya, tolong jaga dia dan cucu ibu baik-baik," tambah Aaric sambil tersenyum kepada sang ibu.


"Tentu saja Nak, tak usah kamu minta juga pasti ibu akan menjaga istrimu."


Aaric kemudian menghampiri Nenek untuk berpamitan padanya, setelah itu dengan diantar oleh istrinya Aaric berjalan menuju mobil yang akan mengantarkannya menuju Bandara.


"Aku pergi dulu," ucap Aaric mengecup kening istrinya agak lama.


Naina mengangguk.


"Aku akan sering meneleponmu."


Lagi-lagi Naina hanya mengangguk pelan.


Aaric berjalan memasuki mobil, Naina melambaikan tangan ketika mobil itu mulai berjalan.


***


"Memangnya siapa orang itu? Orang yang tidak jadi menjadi pendonorku?" tanya Tari melihat kedua orangtuanya bergantian.


Dahlia tampak kaget, dia melirik suaminya sekilas.


"Dia hanya orang lain sayang, kamu pasti tahu jika selama ini ayahmu terus berusaha mencari donor yang cocok untukmu, walaupun akan sulit karena sangat jarang menemukan orang lain diluar keluarga mempunyai sumsum tulang belakang yang sama dengan kita, tapi kamu pasti ingat dokter pernah mengatakan jika kemungkinan itu masih ada, termasuk orang itu, di tes pertama dia cocok namun nyatanya di tes kedua tidak," jawab Dahlia panjang lebar.


Tari langsung menunduk sedih.


"Papa tidak usah melakukan itu lagi."


"Melakukan apa nak?" tanya Wisnu mendekati putrinya.


"Sayang.." Dahlia memeluk putrinya.


"Aku takut jika kejadian kemarin akan terulang, aku sudah sangat yakin jika aku akan sembuh, tapi pada kenyataannya..." Tari menangis.


Dahlia mengeratkan pelukannya.


"Papa tidak akan menyerah, sampai kapanpun papa tidak akan menyerah!" ucap Wisnu dengan tegas.


Tari semakin terisak.


"Kamu akan sembuh Nak," ucap Dahlia dengan berbisik sambil terus memeluk putrinya erat.


***


"Maaf kami baru sempat kesini," Sheryl memeluk Naina.


"Tidak apa-apa," jawab Naina sambil tersenyum.


"Selamat ya atas kehamilanmu." Kali ini Intan yang memeluk Naina.


"Terima kasih."

__ADS_1


Mereka bertiga duduk di sofa.


"Bagaimana rasanya?" tanya Sheryl dengan antusias.


"Rasanya hamil?" tanya Naina.


"Iya! Apa kamu pusing, mual, muntah dan mengidam?" tanya Sheryl lagi.


Intan dan Naina tersenyum.


"Baru tadi pagi aku muntah, pusing tidak."


"Mengidam?" tanya Sheryl lagi.


"Baru sekali, aku ingin rujak mangga malam-malam," jawab Naina sambil menahan senyum.


"Apa Aaric mencarikannya untukmu?" kali ini Intan yang terlihat penasaran.


Naina mengangguk.


"Karena aku ingin rujak mangga dari Panti, malam itu juga dia pulang pergi ke Panti."


Sheryl dan Intan membelalakkan matanya tidak percaya kemudian tertawa geli.


"Wah, kayaknya menyenangkan sekali ya hamil, kita bisa mengerjai suami kita seperti itu," ucap Sherly sambil tersenyum.


Ketiganya terus bercengkrama dengan hangat, sampai akhirnya Naina bertanya mengenai keadaan Tari.


"Aku tahu kalian bertiga bersahabat, pasti kalian merasa sedih melihat keadaannya."


Sheryl dan Intan saling berpandangan.


"Itu benar. Kami sudah pasti sedih melihat keadaannya seperti itu," jawab Sheryl pelan..


"Kalian juga pasti kecewa padaku karena aku tidak bisa menolongnya?" tanya Naina ragu-ragu.


Sheryl dan Intan langsung melihat Naina.


"Kami memang sedih karena dia tidak jadi mendapatkan pendonor, tapi untuk kecewa padamu sudah tentu tidak, kehamilanmu juga anugerah yang harus disyukuri." Intan memegang tangan Naina.


"Sudah. Lebih baik kamu tidak usah memikirkannya, tidak baik untuk kehamilanmu, kamu doakan saja semoga dia bisa sembuh dengan cara lain," tambah Intan.


"Itu benar. Semua orang pasti sedih melihat keadaan Tari seperti itu, apalagi kami yang sudah bersahabat lama dengannya, tapi bukan berarti kami harus menyalahkanmu karena tidak bisa menolongnya, kamu juga sahabat kami, dan tentunya kami ingin melihat kamu juga bahagia," ucap Sherly juga memegang tangan Naina.


***


Aaric telah sampai di Jerman, setelah tiba di hotel tempat dia akan menginap bersama beberapa orang asisten dan bawahannya di kantor, dia menyempatkan diri untuk menelepon Naina dan mengabari bahwa dirinya telah sampai dengan selamat.


Aaric sepertinya tak ingin membuang waktu, dia berusaha untuk menyelesaikan urusan bisnisnya dengan cepat disana, semua itu tak lebih agar dia segera bisa kembali pulang secepatnya.


Keesokan harinya dia langsung mengadakan pertemuan untuk membahas rencana kerjasama dengan salah satu perusahaan disana, namun dia terkejut mendapati Axel ada diantara calon relasi bisnisnya.

__ADS_1


"Apa kabar?" tanya Axel sambil menyalami Aaric.


"Baik. Apa yang kamu lakukan disini?"


__ADS_2