
"Carikan saya seorang arsitek yang handal dan ternama secepatnya, suruh dia membuat desain sebuah Panti Asuhan yang bagus dan modern." Aaric menelepon Julian sambil berbisik-bisik.
"Nelpon siapa?" tanya Naina yang tiba-tiba muncul mengagetkan Aaric.
Aaric yang kaget langsung menutup teleponnya.
"Julian, Asistenku," jawab Aaric.
"Kenapa berbisik? Aneh sekali," ucap Naina.
"Tidak juga, hanya pelan saja karena tidak mau mengganggu anak-anak yang sedang belajar." Aaric menunjuk anak-anak di hadapan mereka yang sedang belajar bersama.
"Oh.." Naina mengangguk.
"Apa Damar sudah pulang?" tanya Aaric.
"Iya, baru saja! Kak Damar titip salam untukmu."
Aaric menatap wajah istrinya sedikit kesal.
"Kenapa?" tanya Naina heran.
"Ada satu hal yang tidak kusukai dari Damar."
"Apa?" tanya Naina semakin heran.
"Karena kamu memanggilnya kakak, tapi kepadaku, kamu tak punya panggilan khusus," jawab Aaric terdengar kecewa.
Naina terlihat serba salah.
"Aku harus panggil kamu apa?"
Aaric mendekati istrinya.
"Aku mau panggilan yang romantis," ucap Aaric sambil tersenyum.
Naina mundur sambil melihat sekeliling.
"Jangan begini, nanti anak-anak melihat."
Aaric tersenyum sedikit lebar.
"Baiklah, tapi pikirkan panggilan khusus untukku, ingat aku ingin yang romantis!"
Naina buru-buru pergi meninggalkan Aaric dan menghampiri anak-anak.
__ADS_1
***
"Jadi kalian memutuskan untuk program kehamilan?" tanya Intan pada Sheryl dan Romi.
Sheryl mengangguk cepat.
"Kami pikir sudah saatnya kami memiliki seorang anak, sudah cukup rasanya kami menundanya selama setahun ini."
Intan tersenyum.
"Ide bagus. Aku dukung! Nanti akan aku kenalkan pada Dr. Johan, beliau dokter spesialis Kandungan, kalian bisa berkonsultasi dengannya."
"Baiklah, terima kasih ya," ucap Sherly dengan senang.
"Kalian sendiri bagaimana? Apa masih berencana untuk menunda mempunyai anak?" tanya Ryan pada Dani dan Intan.
Intan langsung melirik suaminya.
"Sepertinya seperti itu. Aku ingin fokus pada karier kedokteranku dulu, seperti yang kalian tahu jika aku baru saja lulus program spesialis," jawab Intan sambil melihat suaminya.
Dani tak merespon, dia hanya terdiam mendengar jawaban istrinya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama! Aku ingin jika kita punya anak, umur mereka tidak berjauhan, jadi anak-anak kita akan tumbuh besar bersama." Sheryl terlihat sedang mengkhayal.
Intan tersenyum, lain halnya dengan Dani yang sedari tadi hanya terdiam saja.
"Kalian tahu, aku penasaran dengan apa yang akan dikatakan Axel tempo hari pada Aaric, sepertinya sesuatu yang penting sekali. Apa kalian juga seperti itu?" ucap Ryan.
Dani langsung mengangkat kepalanya melihat Ryan, begitu juga dengan Intan yang langsung melihat suaminya.
"Aku tahu kalian berdua mengetahui sesuatu, kalian mungkin bisa membodohi Aaric tapi tidak dengan kami! Katakan apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Ryan lagi dengan tegas menatap Dani.
Dani nampak menghela napas panjang, melirik Intan sejenak kemudian kembali melihat Ryan di depannya..
"Kamu benar, memang ada sesuatu yang juga baru kami ketahui dan aku rasa kalian berdua juga harus tahu." Dani melihat Ryan dan Sheryl bergantian.
"Ada apa?" tanya Sheryl penasaran.
"Tentang Tari."
"Ada apa dengannya?" tanya Sheryl lagi.
"Dia sakit parah," jawab Dani cepat.
Ryan dan Sheryl nampak kaget.
__ADS_1
Dani kemudian menceritakan keadaan yang sebenarnya, mengenai kondisi Tari saat ini dan juga tentang perselingkuhannya dengan Axel yang ternyata hanya sebuah rekayasa semata.
"Separah apa penyakitnya?" tanya Sheryl menahan tangis.
"Dia menderita penyakit yang langka, namanya Anemia Aplastik suatu keadaan dimana tubuh berhenti memproduksi sel darah, baik itu sel darah merah atau sel darah putih begitupun dengan trombosit," kali ini Intan yang bersuara.
"Sejak kapan dan apa bisa diobati?" tanya Sheryl lagi dengan cemas.
"Anemia Aplastik yang dialami Tari termasuk jenis Inherited, yaitu suatu kelainan genetik yang diwariskan dari garis keturunan, biasanya kondisi ini diturunkan dari orang tua yang juga mengalami Anemia Aplastik atau menderita penyakit lain yang dapat mengarah pada Anemia Aplastik." jelas Dani.
"Jadi kemungkinan penyakitnya sudah terdeteksi selagi dia masih kecil?" tanya Ryan.
"Sepertinya seperti itu dan Tari tidak diberi tahu, padahal seharusnya dia curiga karena semenjak kecil dia harus banyak meminum banyak obat-obatan, agar bisa bertahan hidup," jawab Dani.
"Kalau dia bisa bertahan selama itu, apa yang bahaya dari penyakit yang dideritanya, kalau obat-obatan bisa membuatnya bertahan hidup kenapa dia harus pergi meninggalkan Aaric saat itu?"
"Karena kemungkinan besar Tari mulai mengetahui penyakitnya saat dia sudah bersama Aaric, dan dia tahu penyakit yang dideritanya sangat parah, obat-obatan tidak selamanya membantunya bertahan hidup."
Ryan dan Sheryl nampak syok.
"Aku pikir Tari putus asa akan penyakitnya apalagi ketika dia mengetahui jika kemungkinan besar jenis Anemia Aplastik yang dideritanya lebih beresiko mengalami kanker darah atau Leukimia." Intan menambahkan.
"Dan sekarang itu benar-benar terjadi, setahun terakhir Tari menderita Leukemia atau kanker darah," ucap Dani.
Sheryl dan Ryan nampak lebih syok.
"Karena itu Tari melakukan sandiwara perselingkuhan dengan Axel, agar Aaric membencinya karena dia tidak ingin Aaric menderita kalau dia tidak berumur panjang, kurang lebih itu kesimpulan yang aku ambil." Intan nampak sedih mengatakannya.
"Hal itu yang ingin Axel katakan pada Aaric kemarin, tapi aku berhasil mencegahnya," ucap Dani.
Ryan menganggukan kepalanya.
"Jika Aaric sampai mengetahui hal ini, sudah pasti dia akan terpuruk, dia akan sangat menyesal karena sudah menghabiskan lima tahun terakhir dengan sangat membenci Tari, padahal Tari melakukan ini semua untuk kebaikan Aaric agar tak menderita nantinya," ucap Ryan sedih.
"Selain Aaric ada juga Naina yang akan menderita," Sheryl menambahkan.
"Rumah tangga mereka berdua akan hancur, bahkan Aaric bisa saja kembali pada Tari dan mencampakkan Naina," ucap Dani.
"Aaric tidak seperti itu, dia sangat mencintai Naina, baginya Tari hanya masa lalunya, aku yakin apapun yang terjadi Aaric tidak akan pernah mencampakkannya." Ryan menyanggah pendapat Dani.
"Aku harap seperti itu, karena Naina tidak pantas diperlakukan seperti itu, dia wanita yang baik, karenanya juga Aaric bisa move-on dari bayang-bayang Tari dan membuatnya bahagia."
"Tapi jangan lupa jika Tari juga sangat menderita, selain karena penyakitnya, juga karena lelaki yang dicintainya telah mencintai wanita lain." Sheryl menahan tangisnya.
"Aku pikir Tari juga berhak bahagia, apalagi di saat-saat terakhir hidupnya. Maafkan aku mengatakan hal ini, bukannya aku tidak bersimpati pada Naina," tambah Sheryl lagi.
__ADS_1
Semuanya terdiam.